Watcha! Menjadi Kungfu Wushu

Mengenal Wushu

Kehadiran seorang anak di sebuah keluarga merupakan berkat yang harus selalu disyukuri, dijaga dan talentanya sebaiknya dikembangkan sehingga ia bisa memiliki pengalaman hidup yang luar biasa,  bisa jadi berbeda dengan kedua orang tuanya.

Saya beruntung bisa mengenalkan Wushu lebih dini kepada si kecil, dimulai pada saat ia berumur 4 tahun.

Wushu, awalnya saya hanya mengenal istilah ini ketika pada beberapa tahun lalu ada cabang pertandingan Wushu di SEA GAMES.

Tidak disangka, percakapan mengenai Wushu akhirnya membawa si kecil yang baru duduk di kelas TK A ke salah satu pusat pelatihan Wushu dan melakukan latihan rutin beberapa hari dalam seminggu.

Di Kota Bogor yang sejuk, ternyata terdapat sanggar (sebut saja dojo ya..) wushu yang jaraknya dari rumah tidak terlalu jauh dan memiliki pelatih passionate dan penuh integritas, Gogi Gora Wushu Kids! Bagi saya, Wushu sepertinya keren! maka mulailah kami mendaftarkan si kecil di kelas wushu tiap hari minggu.

Apa itu Wushu ?

Definisi Wushu itu sendiri ternyata tergantung dari sudut pandang yang diambil. Meliputi Wushu dari aspek historis sebagai salah satu seni bela diri dari China dan Wushu sebagai salah satu cabang olahraga.

Secara historis, pada sekitar tahun 1960an pemerintah China mengumpulkan berbagai Master Kungfu untuk mensintesakan berbagai  jurus yang mereka miliki menjadi sebuah satu buah jurus yang seragam,  yang pada jaman modern ini kita kenal dengan nama Wushu.

Pada awalnya Wushu adalah seni bertempur atau bela diri yang aktifitasnya mencakup latihan fisik, pernafasan dan juga melibatkan pikiran. Saat ini, melalui Federasi Wushu Internasional, seni beladiri Wushu telah menjadi cabang olahraga modern yang dipertandingkan dalam berbagai kategori.

Sebenarnya terdapat ‘kebingungan’ akan istilah yang campur aduk antara ‘Kungfu‘ dan ‘Wushu‘.

Secara harifiah Wushu artinya seni bertempur atau bela diri, sedangkan dalam Bahasa Canton (Cantonese) Kungfu adalah kerja keras.

Tapi ya sudahlah…, bila anda masih menganggap bahwa seni bela diri itu Kungfu dan Wushu hanya sebuah cabang olahraga, coba sesekali ingat-ingat  atau tengok sejarahnya.

Dojo Wushu

Penyebutan Dojo sebenarnya kurang tepat, karena biasanya digunakan untuk menunjuk pada tempat latihan olah raga bela diri dari Jepang seperti Karate, Aikido dan Judo. Harusnya lebih tepat sih dengan istilah ‘sanggar’, tetapi karena lebih merujuk pada kegiatan seni, saya gunakan Dojo saja.

Dojo Wushu Gogi Gora Wushu Kids terletak di tengah kota Bogor, tepatnya di Jalan Gede 21, Padjajaran, Kota Bogor.

Lokasinya berdekatan dengan deretan Factory Outlet (FO) dan rumah makan cepat saji McDonald dan Papa Ron Pizza.

Mudah ditemukan karena memiliki papan nama besar dan selalu ramai akan aktifitas anak muda yang sering terlihat membawa toya, pedang , golok dan perlengkapan bela diri lainnya.

Kungfu Wushu

Aktifitas latihannya berbagai macam, tapi terbagi menjadi dua aktifitas besar, yaitu atifitas fisik dan aktifitas jurus tangan kosong atau dengan alat.

Dari pengamatan saya memperhatikan si kecil latihan, satu jurus biasanya diselesaikan dalam berbagai seri latihan, tidak sekali selesai.

IMG_5404 (1024x683)

Bagi orang dewasa mungkin menjemukan, tetapi bagi anak kecil latihan tersebut sangat bagus untuk melatih kedisiplinan dan persistensi. Porsi latihan fisiknyapun lumayan intens, scout jump 50x merupakan makanan sehari-hari.

Beberapa anak yang berbakat biasanya akan memeliki kesempatan untuk menjadi atlet daerah yang bisa memiliki kiprah di tingkat nasional maupun internasional, ya internasional!

Dojo ini banyak melahirkan atlet-atlet yang berprestasi.

Atlet Wushu Indonesia

Memilih aktifitas untuk dijadikan sebuah hobi seringkali membutuhkan figur atau tokoh yang bisa dijadikan idola. Lalu sebenarnya siapa saja sih atlet wushu Indonesia yang bisa dijadikan panutan atau idola ?

Jangan kaget loh! ternyata ada beberapa atlet wushu Indonesia yang berprestasi di dunia internasional.

Lindswell Kwok
Foto Lindswell Kwok di ambil dari Kompas.Com

Lindswell Kwok

Perempuan kelahiran Medan, 24 September 1991 ini adalah seorang atlet wushu indonesia yang berasal dari Medan , Sumatera Utara.

Namanya mulai terkenal semenjak berita kemenangannya di nomor Taiqijuan SEA Games XXVIII (2015) menjadi Headline utama Harian Kompas.

Bila ingin lebih tahu mengenail Lindswell silahkan ikuti aktfitasnya di facebook atau instagram.

Gora dan Gogi Nebula

Mereka adalah kakak adik dengan selisih empat(4) tahun. Sejak umur 6 tahun Gora dan Gogi dilatih berbagai olahraga bela diri cukup keras oleh ayahnya.

Pada masa remaja kedua kakak beradik ini sudah menjadi atlet wushu nasional yang memliki prestasi di dunia internasional.

Berikut beberapa prestasi mereka diturnamen kelas dunia (internasional)

  • Gora, Gold World Champiion in Taiji Quan Dong Yue World Championship, Xi An China 2007
  • Gogi, Bronze Asiah Wushu Championshipin Sword, Macau 2008
  • Gogi, Gold World Wushu Championship in Sword, Beijing 2007
  • ..

Saat ini, presetasi mereka sepertinya akan diteruska oleh anak-anak mereka. Lihat saja si kecil Zoura! Prestasinya sudah mendunia di usia dini, juara 5 pada “World Wushu Junior Championship 2014 yang diselenggarakan di Turki.

juara 5 world wushu championship 2014, turki
juara 5 world wushu championship 2014, turki

Siap untuk menjadi Kungfu Wushu ?

End

Referensi

Wiki Kungfu Wushu (Id)
Wiki Kungfu Wushu (En)
Gogi and Gora Wushu Team
Is Wushu The Same as Kungfu ?

Mt.Rinjani ‘Zen’ Moment

Masa Sekolah, 16 tahun

Bermodal izin orangtua dan bekal Rp 300.000,- di saku , sekitar 19 tahun lalu saya memulai petualangan yang mengubah hidup saya selamanya, ‘menghilang’ selama 2 minggu bersama teman-teman SMA Kolese Gonzaga untuk mendaki gunung Semeru dan Rinjani dalam sekali perjalanan pada liburan kenaikan kelas.

Mendapatkan ijin naik gunung pada tahun 1996 bukanlah perkara mudah. Saat itu belum ada telepon pintar yang dapat memberi kabar dengan mudah atau budget hotel yang bisa digunakan untuk menginap dengan biaya murah.

Telepon ke Jakarta hanya bisa dilakkan melalui sambungan interlokal yang dilakukan di Wartel (Warung Telepon). Apa itu Warter ? Well … cari sendiri di wikipedia ya.. dan menginap dengan biaya murah dilakukan di warung atau rumah penduduk lokal.

Mungkin satu-satunya kalimat yang bisa ‘menenangkan’ orangtua saya adalah kalimat pamungkas berikut ini

” Pak, Bu ..bila tidak ada kabar dari polisi atau pihak SAR, anggap saja saya masih baik-baik di perjalanan ” ujarku untuk menyakinkan mereka.

Mengelana bersembilan untuk mendaki Gunung Semeru (3.676 m dpl) dan berlima mendaki Gunung Rinjani (3.726 m dpl) ketika umur belum genap mencapai 17 tahun pastilah memberi pangalaman yang sangat membekas.

Mulai dari usaha mencapai puncak, penyesuaian dengan teman perjalanan,  dan juga suka duka lainnya  di perjalanan seperti kehabisan ongkos dan bertemu orang-orang baru yang menawarkan ‘pengalaman’ baru.

Dalam perjalanan tersebut, saya juga mengenal istilah ‘mushroom‘ di sebuah pantai di Pulau Lombok. Kata penjual ‘mushroom‘, bila bahan tersebut dicampur dengan omelet dan dikonsumsi, Gunung Agung yang terlihat jelas di seberang pulau Lombok akan terlihat ‘berjalan sendiri’.. wkkkk…..

Sedikit cerita tentang ‘mushroom‘, ternyata bahan halusinogen ini didapatkan dari jamur yang terdapat di kotoran sapi atau kerbau.!!! Yaiks!!!

Masa Berkarya, 36 tahun

Sewaktu kuliah, saya jarang ikut aktifitas mahasiswa, mungkin sebutan teman sejati itu ditemukan ketika kita SMA memang benar adanya. Pada saat kuliah saya lebih banyak mengikuti diskusi antar kampus karena bersamaan dengan era Reformasi 1998.

Pada saat bekerja, saya mulai mencoba aktifitas dan jatuh cinta pada sepeda gunung ( Mountain Bike), mungkin saya harus sudah sadar bahwa aktiftas saya tidak jauh-jauh dari kata ‘gunung’.

Semenjak jarang menyentuh sepeda gunung dan mendapat kepercayaan untuk mengelola sebuah departemen baru, dunia kerja pada akhirnya menuntut saya untuk lebih mencurahkan konsentrasi dan energi pada rutinitas yang pada akhirnya membuat saya worn out.

Menjadi ‘usang’ tenggelam dalam rutinitas pekerjaan.

Situasi mulai berubah ketika saya bertemu kembali dengan salah satu teman naik gunung semasa SMA dulu, Budiono Darmawan.

Perbincangan untuk kembali naik gunung kembali bergulir dengan intens. Ternyata Budi masih rutin naik gunung, apalagi sewaktu bekerja di Hard Rock Cafe Bali, beberapa kali ia masih mengunjungi Gunung Rinjani karena lokasinya hanya di pulau sebelah.

Karakter dan ‘jiwa’ asli seseorang memang tidak bisa hilang begitu saja. Semenjak SMA sebenarnya karakter seseorang akan terbentuk dan terlihat dengan jelas. Menurut penelitian, sebenarnya seorang anak harus dikenalkan dengan berbagai aktifitas dan peluang karena pada umur 14 tahun ia akan mengetahui minat sebenarnya yang sesuai dengan karakter dirinya.

Pada saat umur 16 tahun, sebenarnya saya sudah mengetahui dan mengenal karakter diri saya sendiri, rebellious, adventurist dan sering kali membutuhkan aktivitas yang memacu adrenalin.

Saya tidak begitu menyukai kemapanan, mungkin juga itu sebabnya saya suka menggunakan motor, transportasi umum, menyukai tantangan project baru di tempat kerja dan juga menyukai aktifitas outdoor yang penuh ketidakpastian.

Thanks to my parents for all those trust and opportunity back on my teenage day.

Mount Rinjani Adventure Trip

Mendaki Gunung bagi saya bukan hanya sebuah perjalanan atau liburan biasa. Di dalam petualangan tersebut banyak pengalaman, makna hidup dan situasi kontemplatif yang bisa didapatkan.

Mungkin, kebanyakan orang, sarana liburan ke pulau, pantai,  pergi ke mall, bar dan aktiftas santai lainnya merupakan cara untuk mendapatkan waktu untuk lebih santai dan menenangkan diri, sebut saja zen moment.

Bagi saya petualangan adalah sarana untuk mendapatkan zen moment tersebut

Petualangan mendaki Gunung Rinjani merupakan sarana zen yang menurut saya ‘sempurna’. Gunung Rinjani merupakan salah sau gunung dengan jalur trekking dan pemandangan terbaik di dunia. Pengalaman yang pastinya ingin diulang kembali terus menerus.

Setelah 19 tahun, pada tanggal 14 – 19 Agustus 2015 akhirnya saya dan beberapa teman-teman SMA Gonzaga angkatan 6,7 dan 8 akhirnya melakukan perjalanan mendaki Gunung Rinjani. Seperti biasanya, saya adalah anggota team termuda, angkatan 8.

Budiono Darmawan, Ade Irawan, Marella Diding, Ruth Simamora dan Shinta Putri.

Mereka adalah teman-teman terbaik dalam petualangan di Pulau Lombok.

Entah kenapa saya selalu nyaman untuk melakukan pendakian bersama para senior dan sangat jarang melakukannya dengan sesama angkatan saya sendiri. Termasuk pada saat SMA mendaki gunung Rinjani , saya melakukannya dengan para senior.

Saya tidak bisa bercerita banyak mengenai pengalaman mendaki / trekking Gunung Rinjani, karena bagi saya pengalaman naik gunung itu sifatnya personal, sulit dungkapkan dengan kata-kata atau tulisan.

Bila ada pertanyaan “Ngapain sih naik gunung capek doang nanti turun lagi?” Jawabannya masih sama semenjak 19 tahu lalau.., “Yah.. karena gunung ada di sana ..” begitu jawabku standar.

Mungkin foto-foto berikut bisa memberi gambaran mengapa kami (saya dan teman-teman) mau mendaki gunung Rinjani.

foto lengkapnya disini :
https://www.flickr.com/photos/diditho/albums/72157657082495020

Persiapan Pendakian 3.726

Bulan agustus 2015 ini bulan yang paling saya nantikan semenjak November 2014. Pendakian Gunung Gede tahu lalu sebenarnya usaha untuk menyakinkan diri saya untuk kembali mendaki gunung paling tinggi di Jawa, Bali dan Lombok.

Gunung Rinjani merupakan salah satu gunung dengan pemandangan paling indah. Lokasinya yang berada di timur Indonesia menghadirkan jalur pendakian savana yang tiada akhir, terbuka tanpa dilindungi pepohonan besar.

Terik matahari yang selalu menemani langkah-langkah kecil pendakian seakan memberi candu untuk selalu melangkah menuju puncak dan  ‘menemukan’ danau dengan pemandangan ‘anak’ rinjani di tengahnya.

Sepanjang mata memandang menuju puncak ketinggian 3.726 meter dpl, terbentang ‘pengalaman jiwa’ yang dibatasi oleh garis pantai yang mengelilingi pulau Lombok.

Ingatan pendakian 19 tahun lalu masih membekas dengan jelas dan tajam.

Persiapan pendakian sebenarnya telah saya rintis dari tahun lalu. Berdasar pengalaman hiking beberapa gunung, mental atau psikis adalah faktor penentu utama dalam tiap pendakian gunung, fisik masuk diurutan berikutnya.

Sebenarnya tanggal 16 Agustus 2015 ini ada acara kantor yang cukup penting, Family Gathering. Bersamaan dengan jadwal pendakian 14 – 19 Agustus 2015.

Perasaan galau, campur-aduk sempat menghantui keputusan pengambilan cuti untuk perjalanan pendakian kali ini. Sampai saya ‘curhat kecil’ disela-sela obrolan kantor  ke Helman Taofani, ” Gimana ya Man, tanggal 16 itu ada project di Sentul dan tabrakan dengan jadwal naik gunung gue, nggak enak gue ninggalin tanggung jawab, sepertinya gue batal naik gunung”.

Satu bulan mendekati hari H, ditengah kegalauan dan bayangan tidak jadi menikmati petualangan di salah satu gunung berapi aktif paling indah di dunia,  akhirnya saya mengambil keputusan  untuk ‘melepas’ / ‘meninggalkan’ tanggung jawab acara kantor tersebut.

Kesempatan untuk melakukan pendakin Gunung Rinjani tidak datang setiap hari.

Selama 11 tahun saya telah mengeluarkan yang terbaik untuk kantor dan beberapa kali cuti saya hampir ‘hangus’ karena jarang saya ambil. Apa salahnya saya meninggalkan satu project

Pada satu sesi rapat dengan staff di departemen saya juga memberi isyarat kemungkinan tidak akan ada di proyek playtest Board Game yang akan diselengarakan di Family Gathering tanggal 16 Agustus nanti.

Dan …, akhirnya saya menghadap atasan untuk ijin cuti …, saya berusaha memastikan bahwa sebelum berangkat semua persiapan untuk acara kantor tersebut sudah dilakukan dengan baik

Selama sebulan ini, saya berusaha melengkapi peralatan dan logistik pendakian. Beruntung teman-teman memiliki check list yang lengkap dan mudah dipahami. Bahkan kami juga menyempatkan diri untuk melakukan rapat koordinasi, yang walaupun berkakhir ‘tragis’ dengan ‘asupan pembuka’ minuman dari Meksiko bernama ‘Tequila‘ dan penutup ala De Hooi.. “Brainwash“.

Thanks untuk Yoan atas traktiran ulang tahunnya …

Untungnya mulai agak sadar ketika harus belanja kebutuhan team dengan melakukan kunjungan ke supermarket terdekat …

Walaupun saya tidak ikut, tetapi belanja kelompok sepertiya berjalan dengan baik.

Untuk membantu kalian-kalian yang ingin melakukan petualangan serupa, silahkan gunakan cek list berikut ini sebagai acuan, silahkan unduh berkasnya.

[download#14]

*Disclaimer
List diatas murni pengalaman dan tanggungjawab pribadi penulis dan teman-teman penulis, akibat yang ditimbulkan dalam mengikuti list tersebut diluar tanggungjawab penulis.

————————————–
“Bring nothing but health”
“Take Nothing but pictures”
“Kill nothing but times”
“Leave nothing but foot-print”
————————————–

The Climb: 4 Reasons Hikers Are The Best People You’ll Ever Meet

If you can surround yourself with anyone, surround yourself with hikers. They are the most down to earth, adventurous badasses you’ll ever meet. They are the definition of pure, good vibes.

Ever since I started my adventures in New Zealand, I have come to absolutely adore my weekend trips hiking, mainly because of the people.

They’re all different, but they all have similar characteristics that make them simply irresistible. If you don’t hike, you should strongly reconsider. Here’s why:

They’re optimistic, yet prepared for anything

Every hiker needs to have a plan before he or she starts: how many hours to hike a day, which campsites to stay at, how much food is necessary and so on.

But, even on the warmest of weekends, every hiker will have thermals and a rain jacket, just in case.

They know their plans are not set in stone, so changing their route last minute does not cause any worries or drama; every detour is an adventure to them.

Their love for the mountains keeps them going; it doesn’t really matter whether they stick to the path or not.

A little rain simply means better waterfalls and maybe even a rainbow or two. What’s not great about that?


They’re minimalists

They can be whomever they want to be during the week, but during those weekends, they are low-maintenance, selfless, nature-loving explorers.

They can survive without brushing their teeth or having toilet paper without a single complaint.

Their only requirement for dinner is that it’s a warm meal — and even that’s a luxury.

They carry everything they need on their backs and they require very little. Most of their motivation comes from the view from the top and the climb up.

They get high off their surroundings and simply marvel at the world around them while others are too busy to even realize the significance of such beauty.


They’re incredibly encouraging

Meeting people at campsites and in huts is an experience everyone should have.

There’s a feeling of haziness from the exhausting day, but also a sense of accomplishment for coming so far.

You’ll have at least one person offer you some hot chocolate before you leave, along with a story or two about a memorable trip.

They are so willing to share their lives with you, all the while encouraging you to keep going and see the amazing landscape that awaits you.

I once met a family of two little boys and a younger girl hiking with their parents in one of the first huts I stayed in.

Although we only talked for about 10 minutes, I ended up running into them at the very end of my trip and they easily remembered me.

They said they were thinking of us when a bad storm hit the day before, hoping we made it over the crossing okay. It was such a genuinely caring thought, and I couldn’t help but be in awe of such humanity.


They’re carefree and bold

Hikers do crazy things. They feel adrenaline of climbing mountains and volcanoes, knowing if they stand too high, they might just get blown right off.

The climb is always worth the view for them, and hardly anything will get in their way.

They don’t sit on their phones all day and they don’t worry about the lives of everyone else. Their task is simple: Get to the top and to the other side.

They don’t spoil their thoughts with the mindless, ever-changing drama most of us do. They pack light, both physically and mentally.

They simply live in the moment and shouldn’t we all be striving for that?

Once the hike is completed, they’re left with feelings of pure euphoria and accomplishment.

Although those feelings fade, they’re exactly what gets them onto the next track and the next adventure.

Surround yourself with those who do not fear the unknown, but yearn to see it.

Surround yourself with those who care more about fulfilling their souls than they do about keeping up with the latest trends and drama. Surround yourself with hikers.

Or, at the very least, become one.

Source : Elite Daily

By Vica Bugrimenko

Fomo, Meninggalkan Aplikasi Mobile Facebook, Twitter dan Path

Pernah terpikir berapa banyak waktu yang kamu habiskan dalam menggunakan aplikasi media sosial di perangkat bergerak kamu ?

Beberapa waktu lalu, saya menghadiri sesi meditasi Adjie Silarus, yah… kelas meditasi basic lah, karena saya sebenarnya bukan tipe yang mudah untuk melakukan aktifitas meditasi, hening.
Saat itu bersamaan juga dengan fase dalam hidup saya untuk melakukan ‘pilihan’ kedepan dengan tidak mengakses Path untuk waktu yang mungkin cukup panjang, sebut saja hibernasi.

Telepon atau Orang Pintar ?

Memiliki smartphone pada akhirnya tidak menjadikan saya lebih produktif, lebih pintar! atau lebih aware dengan kehadiran saya di dunia ini. Setiap menit dan jengkal tanah yang saya lalui setiap hari sebagian besar dilalui dengan menggenggam kotak kecil dengan sebidang layar berpendar yang selalu menampilkan informasi terakhir di seluruh belahan dunia ini.

Pada satu sesi di WAN-IFRA DMA Asia di Kuala Lumpur, salah seorang pelaku industri media di Jepang mengeluarkan paparan data bahwa penetrasi smartphone di Jepang sangat kecil. Lalu pertanyaan besarnya kenapa ? Jepang kan salah satu negara paling maju di dunia ? Ia  menjawab singkat dan cukup menohok..

“Kami tidak memerlukan telepon pintar, karena kami sudah pintar” begitu ujar sang pembicara sambil tersenyum lebar.

Mari kembali ke sebuah aktifitas kehidupan kecil di suatu tempat di Kota Bogor. Pada saat bangun tidur jam 04:00 pagi, sebuah smartphone dengan setia mengeluarkan ‘nyayian’ bangun pagi dengan ‘tarian’ kelap-kelip cahaya yang memaksa segenap pikiran dan raga untuk bangun menuju kamar mandi.

Ritual pagi buta tersebut dimulai dengan mengecek berbagai macam pesan dan kabar terakhir para sahabat melalui aplikasi jejaring sosial.
Setelah bersiap keluar rumah, tangan secara otomatis akan menggenggam smartphone yang akan digunakan untuk mengisi waktu luang di sepanjang perjalanan ke kantor. Menggunakan transportasi umum di Jabodetabek sangatlah menyita waktu, pilihannya tidur atau melakukan akses dengan telepon genggam.

Indikator baterai yang menunjukkan kapasitas penuh seakan menjadi ‘tarian’ penggoda agar mata dan jari selalu menatap dan memainkan layar yang secara konstan dan dengan intensitas tinggi memancarkan informasi tiada henti disepanjang perjalanan.

Perjalanan yang pastinya sangat panjang dari sisi jarak dan waktu di dalam bus kadang terasa sangat cepat berlalu. Pikiran, rasa dan raga seperti hilang tertelan dalam keasyikan jari dan kepala yang menunduk menghamba pada layar kecil di telapak tangan.

WhatsApp, Email, Short Message, Path, Facebook, Twitter, Instagram dan Browser, sebut saja semua.. silih berganti menampilkan informasi tiada henti.

Diawali dengan kondisi gelap gulita di terminal bus, sampai dengan terik pagi hari di lokasi kantor, benda kecil di tangan tersebut tiada henti mengeluarkan sihirnya.

Bahkan pada saat sampai di depan lobi kantor dan memasuki lift, ia tetap setia di genggaman tangan menemani sampai di ruangan kantor.

Fear Of Missing Out

Pada saat sesi meditasi dengan Adjie Silarus pada acara Yoga Festival 2015 di Taman Menteng, Jakarta, terlontar kata-kata Fear Of Missing Out (FOMO). Sebenanya pada saat itu bukan materi FOMO yang dibahas, tetapi lebih pada penggambaran kondisi depresi yang bisa dialami seseorang dan cara ‘rebound’ yang harus dilakukan.

Nah, mengenai depresi ini hal lainnya, saya tidak akan membahasnya, saya hanya ingin membahas mengenai FOMO karena terkait dengan konsep ‘being presence’. Konsep ‘hadir di saat ini”, tetapi seringkali hanya secara fisik, secara pikiran tidak hadir sama sekali.

Pikiran bisa jadi ada di masa lalu atau kecemasan di masa depan. Oh iya, dan ini adalah salah satu indikator’depresi’.

Setelah pulang kerumah saya mulai mencari dan membaca mengenai FOMO, ternyata ini topik yang nggak baru-baru amat tapi juga nggak lama-lama amat. Beberapa situs online besar memuatnya dalam artikel berlapis yang sangat berbobot.

Lalu apa itu FOMO ? Fear Of Missing Out adalah sebuah kondisi kecemasan sosial, ketakutan yang menjalar pada seseorang bahwa orang lain memiliki pengalaman lebih berharga dibanding yang ia sendiri dapatkan.

Kondisi ini ditandai dengan keinginan seseorang tersebut untuk selalu terkoneksi terus menerus dengan apa yang orang lain lakukan.

Beberapa artikel mengenai Fomo, bisa didapatkan di Huffington Post, New York Times, Forbes, Inc, BBC, Telegraph dan juga Life Hacker

Apakah saya dalam kondisi FOMO ? bisa iya , bisa juga tidak. Ketika saya mengakses Facebook atau Twitter sebagian karena saya ingin mengetahui update dari teman, tetapi sebagian  karena saya ingin mendapatkan update berita.

Path? nah ini unik, platform yang hanya ada di mobile apps tersebut entah kenapa sangat cocok dengan orang Indonesia. Dengan Path diakui jujur atau tidak, kita secara terang benderang menginginkan respon terhadap konten yang di posting atau komentar / feedback yang kita berikan terhadap konten orang lain.

Dengan Path anda dapat mengetahui posting atau komentar anda sudah terbaca oleh teman anda atau tidak, oh iya bahkan oleh teman dari teman anda.

Letih dan Tidak Produktif

Tanpa sadar, eh.. sebenarnya sih juga sadar energi yang digunakan untuk selalu terkoneksi dengan jejaring media sosial sangatlah besar. Saya termasuk yang percaya konsep energi, dan saya merasakan betapa lelahnya untuk selalu terhubung dan hadir untuk orang lain.

Dengan media sosial saya merasa tidak hadir untuk diri sendiri, tetapi hanya hadir untuk orang lain.

Permasalahan makin menjadi-jadi ketika saya mulai melakukan perhitungan dan evaluasi waktu yang saya gunakan untuk produktif menghasilkan sesuatu. Mulai dari pekerjaan, waktu untuk keluarga, waktu untuk teman dan juga waktu untuk sendiri.

Perbandingannya sangatlah mengenaskan, saya bahkan tidak bisa menghabiskan sebuah buku 300 halaman! buku itu hanya tersimpan rapi di dalam tas saya selama berminggu-minggu.

Pernah terbayang nggak sih, ketika rapat, bertemu teman di kafe, makan siang, menunggu bus atau kereta kita selalu konstan terhubung dengan media sosial di smartphone. Betapa besar energi yang dicurahkan untuk aktifitas yang dilakukan pararel tersebut.

Bukankah ketika bertemu di kafe harusnya kita saling bertukar cerita ? Makna siang harusnya menikmati dan mensyukuri berkat hari ini bersama rekan kerja ? Menunggu bus, teman diisi dengan membaca buku atau mengamati linkungan sekitar ?

Menghapus Aplikasi Path, Facebook dan Twitter

Tindakan drastis harus segera diambil!

Dimulai dengan menghapus aplikasi Path, Facebook dan Twitter dari perangkat telepon genggam yang juga sering kita sebut dengan dengan smartphone alias ‘telepon pintar’.

Sebenarnya tidak terlalu ekstrim, karena saya masih bisa mengakses jejaring sosial tersebut melalui browser di desktop / laptop maupun browser di smartphone.

Apakah tindakan menghapus aplikasi jejaring sosial membantu ? Ya, membantu!

Dalam moment keseharian, saat ini saya tidak merasa perlu secara terus-menerus terhubung. Pada akhirnya, waktu senggang atau menunggu saya habiskan untuk browsing menggunakan google atau menonton berbagai video di Youtube.

Beberapa kali saya masih tergoda untuk terhubung ke jejaring sosial menggunakan browser smartphone, ya sudahlah, yang penting intensitasnya berkurang drastis. Berkurangnya intensitas sepertinya karena ketidaknyamanan menggunakan browser dibandingkan aplikasi mobile. Beberapa kali akses juga harus saya lakukan karena sebagian besar rekan kerja dan partner menggunakan jejaring sosial untuk melakukan komunikasi pekerjaan

Selain browsing dan Youtube, waktu jeda juga saya gunakan untuk lebih aware dengan diri sendiri dan lingkungan sekitar.

Saya mulai bisa kembali membaca buku, menenangkan pikiran (meditasi kecil) dan pastinya juga menulis blog ini!

Paling terasa adalah ketika pada akhirnya si kecil Constantine mulai terbiasa tidak memegang dan menggunakan handphone saya, hal ini karena saya juga sering terlihat tidak membawa perangkat tersebut.

Untuk Christina Happyninatyas, kami seringkali saling mengingatkan dengan memberi sindiran ringan.

Board Game, Project Paling Inspiring.

Perkenalan dengan Board Game

Sudah sepuluh tahun lebih sedikit saya bekerja di Harian Kompas dan hari ini saya tidak menduga pada semester ini menemukan pengalaman yang memberi kesan mendalam.

Satu dekade bisa membuat kita jadi ‘baal’ (mati rasa) akan rutinitas yang kita jalani, tetapi awal tahun ini saya beruntung. Berada di tengah-tengah orang yang penuh semangat akan value sebuah aktifitas bernama board game.

Semua berawal ketika saya diperkenalkan dengan Mas Eko Nugroho pada suatu sesi sharing mengenai cara mendesain game yang baik. Saat itu, sekitar tahun 2012, Harian Kompas sedang memulai merancang permainan Teka-Teki Silang (TTS) di platform digital.

Yah, lumayanlah, saat ini Harian Kompas memiliki aplikasi TTS di tiga platform mobile, Windows Phone, iOS dan Android. Bahkan saat ini Kompas TTS bisa dinikmati di Blackberry 10 yang menggunakan OS Linux QNX melalui Kompas TTS Blackberry Amazon App Store.

Pertama kali ketemu dengan Mas Eko Nugroho, saya cukup kaget juga  akan ‘mimpi’ dan segala usaha dan upaya  yang ia lakukan dalam memperkenalkan aktifitas board game (sebut saja aktifitas ya) di Indonesia.

Dari beberapa kali brainstorming, sangat terlihat ia sangat menguasai seluk beluk aktifitas board game dan segala nilai (value) kebaikan yang ada di dalamnya. Bingung dengan isitilah board game ? jangan khawatir awalnya saya juga bingung … , bila mengacu ke permainan seperti monopoli, catur atau remi sih bisa saja, tapi sebenarnya pengertia board game lebih luas dari itu

Silahkan simak di Wikipedia, Board Game adalah…

Berbeda antara orang yang hanya mampu untuk omong kosong untuk kepentingannya saja dan orang yang benar-benar memiliki passion, concern, attitude dan semangat pengembangan dan kerjasama yang positif. Mas Eko ini juga memiliki perusahaan game (board game) design dengan nana Kummara

Intinya sih passion itu tidak hanya hanya diucapkan semata di seminar-seminar atau talkshow, tetapi juga harus terlihat dari tindakan dan hasil

Walk the Talk!

Ia selalu menceritakan bagaimana masyarakat di eropa, khususnya Jerman (karena dia pernah cukup lama bermukim dan berlajar di Jerman),  memiliki kultur aktifitas board game yang luar biasa dashyat, masif dan membumi di tiap keluarga/rumah di Jerman.

Keluarga di Jerman, biasanya memiliki beberapa board game yang digunakan sebagai pengisi waktu atau usaha untuk mencairkan suasana ketika sebuah keluarga sedang menjamu tamu.

Digunakan untuk mencairkan suasana antara host dan tamu.

Jadi, board game merupakan suatu aktifitas yang sudah mengakar di eropa, khususnya Jerman. Tidak heran bila Jerman memiliki event tahunan board game yang menjadi barometer industri board game dunia. Nama event tersebut adalah SPIEL yang diadakan di Kota Essen, Jerman.

Awal Kerjasama

mare nostrum
Mare Nostrum Empire. Salah satu board game dari pendanaan KickStarter

Setelah melakukan sharing di kantor Harian Kompas di sekitar tahun 2012, tidak terpikir oleh saya bila kami akan bertemu kembali. Hal ini karena saya dan rekan-rekan kantor langsung fokus mengembangkan aplikasi Kompas TTS bersama partner kami, Radyalabs.

Tiga tahun kemudian (2015) , tiba-tiba saya dipanggil oleh Direktur Bisnis Kompas. Agak bingung juga, karena biasanya ada sesi rapat rutin terjadwal, hampir (jarang) tidak pernah dipanggil langsung.

Beberapa langkah memasuki ruang direktur, saat itu juga saya langsung mengenali sosok tamu yang sedang duduk, Ya! Mas Eko Nugroho yang beberapa tahun sebelumnya memberi materi sharing bagaimana merancang game yang baik.

Mulai saat itu, bergulirlah berbagai perbicangan mengenai game! Macam-macam perbincangan, mulai dari industri game, game digital, kondisi indonesia dan pastinya juga mengenai board game itu sendiri.

Merancang dan Membuat Game Yang Baik

Memang butuh waktu dalam hitungan tahun, untuk ‘mempertemukan’ Harian Kompas dan Kummara untuk ikut serta dalam membangun industri board game di Indonesia.

Faktor utama kerjasama ini bisa terjadi terutama karena Harian Kompas dan Kummara memiliki  visi dan value yang serupa mengenai board game. Sebagai surat kabar dengan oplah dan readership (pembaca) terbesar di Asia Tenggara serta dengan tingkat kredibilitas yang sudah tidak diragukan lagi, partnership bisa terjalin baik bila ada kesamaan nilai-nilai (value) tersebut.

Lalu apa value itu ?

Well, board game pastinya  memiliki karakteristik yang sangat berbeda dengan game digital yang saat ini kita kenal melalui perangkat mobile maupun desktop. Walupun sama-sama game (permainan), tetapi yang satu analog (retro) yang satunya lagi digital (maya)

Karakteristik utama board game, selain bentuk fisiknya adalah cara atau pola interaksi (aktifitas) yang ditawarkan oleh board game itu sendiri. Permainan board game mengharuskan adanya aktifitas fisik, dan kompetisi / kerjasama secara kolektif antara pemain sehingga menghasilkan interaksi fisik yang nyata dan tangible.

Sering kali aktifitas board game mengharuskan dimainkan oleh tiga  (3) sampai delapan (8) orang!

Jadi, apakah board game bisa disebut sebagai  sebuah bentuk aktiftas yang baik dan positif?  Anda bisa dengan mudah membandingkannya dengan pilihan model permainan yang tersedia saat ini.

Mulai dari game desktop dengan fitur kekerasan ala Grand Theft Auto (GTA) dan Duke Nukem,  lalu dengan tingkat kecanduan seperti Clash of Clans sampai dengan Candy Crash yang  mungkin juga anda mainkan di perangkat mobile.

Bila memang menurut anda game tersebut masih memiliki nilai positif karena semua memiliki preferensi masing-masing saya juga menamini hal tersebut, tetapi ada satu hal ‘berharga’ yang tidak bisa didapatkan di interaksi digital dan hanya di dapatkan di board game.

Kehadiran fisik dan emosi bermain boardgame bersama teman atau anggota keluarga.

Teknologi digital memang sudah berhasil menghubungkan (connected) dan mendekatkan kita sekaligus juga menjauhkan hubungan / interaksi kita sebagai mahluk sosial dalam bentuk fisik.

Paradigma Merancang Game

Prototype Design
Proses Merancang Prototype Board Game di event Board Game Challenge Indonesia 2015

Dengan tuntutan interaksi yang begitu nyata dan intens, rancangan (design) board game yang baik dan menyenangkan pastinya memperhatikan faktor ide (tema), logika permainan (mekanik) dan visualisasi ke tingkat yang sangat serius, penting dan kritis.

Pertemuan dengan Harian Kompas menjadi menarik ketika Mas Eko Nugroho dan teamnya mampu menjelaskan, mempraktekkan dan mengajarkan konsep mendesain game yang baik kepada orang biasa.

Paradigma dasar yang diubah adalah, membuat game bukan monopoli atau hanya urusan programmer game saja. Sebelum sampai ke tangan programmer ada proses inti dan penting yang harus dilalui yaitu menrancang permainan itu sendiri, game design!

Mulai dari ide dasar, konsep, aturan dan juga rule of the game, dan ini bukan urusan programmer, sekali lagi bukan urusan programmer!

Memainkan Prototype dan Menjadi Juri Board Game

Gembira Memainkan Pagelaran Yogyakarta
Seorang anak, pengunjung event Board Game Challenge 2015 6 – 7 Juli 2015 di Mall Bintaro XChange tertawa gembira saat memainkan “Pagelaran Yogyakarta”

Pada bulan Februari 2015, Harian Kompas dan Kummara sepakat untuk memulai sebuah aktiftas workshop dan juga kompetisi untuk menghasilkan board game ‘khas’ Indonesia yang bisa dikomersialisasi, artinya bisa dikonsumsi atau dimainkan oleh khalayak ramai.

Departemen Inovasi dibawah koordinasi  General Manager Strategic Management Office Harian Kompas memulai merancang kampanye dengan nama Board Game Challenge 2015.

Dengan bantuan teman-teman dari Kummara yang mengisi workshop dan kerjasama dengan perwakilan Harian Kompas di lima (5) kota, akhirnya sampai dengan bulan Mei 2015 workshop dapat terlaksana dan menghasilkan kurang lebih seratus  (100) prototype board game. yang berasal dari Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta dan Surabaya.

Dari seratus yang dihasilkan, akhirnya dipilih lima (5) board game perkota yang akan mengikuti kompetisi akhir Grand Final di Mall Bintaro XChange , 6-7 Juni 2015.

Selama bulan Februari – Juni 2015 tersebut saya beruntung sekali dapat ikut merancang dan mengalami proses event Board Game Challenge dari awal hingga akhir. Mulai dari mengikuti materi workshop board game design yang dibawakan oleh teman-teman dari  Kummara sampai dengan menjadi juri untuk tiap kota dan pada acara grand final.

Mulai dari memahami sejarah board game, konsep merancang prototype, konsep balancing, game psychology sampai dengan merancang mekanik game. Semuanya saya simak dan nikmati selama acara workshop berlangsung, bedanya saya tidak ikut membuat prototype bersama para peserta …. wkkkkk….

Pada event yang berlangsung selama empat (4) bulan itu saya juga mendapat teman-teman baru yang hebat-hebat, bukan hanya teman main atau nongkrong, tapi mereka adalah para designer berbakat dan pelaku industri board game yang mencintai dan memiki kepercayaan dengan apa yang mereka lakukan..

Pastinya mereka adalah teman-teman peserta Board Game Challenge 2015 yang tidak bisa saya ketik satu persatu, dan juga tim dari Kummara, mulai dari

Andre Dubari, Brendan Satria, Rio Fredericco juga Isza.

Oh iya, yang puncak kesenangan pastinya ketika memiliki kesempatan memainkan 24 board game di acara grand final dan melakukan penjurian. Saya harus berterimakasih kepada semua finalis, karena tema, mekanik permainan dan tampilan board game yang dihasilkan sungguh ke pengunjung luar biasa keren!! diluar bayangan awal saya.

Interaksi Keluarga yang Sehat dan Berkualitas

IMG_6704 (1024x683)
Ibu dan Anak sedang memainkan board game “Waroong Wars” pada event Final Board Game Challenge 2015

Setelah event workshop pertama bulan februari 2015 di Kota Yogyakarta, akhirnya saya membeli satu buat board game Indonesia dengan judul Mat Goceng, yang itung-itung buat nambah penghasilan ke desainernya, Brendan Satria!

Kebetulan Mat Goceng adalah salah satu referensi workshop yang harus dimainkan

Setelah mengingat-ingat aturan permainannya dan menonton ulang tutorialnya di youtube, akhirnya saya membuka box permainan tersebut bersama dengan si kecil Constantine Barindra. Dengan agak penasaran dan sedikit memaksa ia meminta agar tumpukan kartu tersebut segera dimainkan. Untungnya Mat Goceng adalah jenis permainan yang tidak terlalu rumit. Tetapi ada sedikit masalah.. eng..ing..eng..

CB belum genap 7 tahun, Mat goceng minimal untuk 10 tahun

Awalnya agak ragu, tapi sudahlah , toh si kecil sudah pintar main catur dan kartu remi ‘cangkulan’. Karena permainan Mat Goceng membutuhkan minimal tiga (3) orang, akhirnya saya juga mengajak serta Mommanya si kecil, Christina Happyninatyas.

Sejak saat itu kami sekeluarga seperti ‘tenggelam’ dalam tiap sesi permainan Mat Goceng, saling ketawa, penasaran dan sering kali si kecil ngambek karena kalah… wkkkk…. Beberapa kali kami harus menenangkan si kecil agar mau menerima kekalahan dan menjelaskan bahwa kalah itu tidak apa-apa, “Tidak selamanya orang itu menang” jelas kami berulang kali.

Toko – tokoh di permainan Mat Goceng memang unik dalam karakter,  objective game dan lucu dalam penamaan, dan si kecil sering kali membuat bahan berncandaan tokoh-tokoh tersebut

“Nyi Kencleng… Nyi Kencleng…” ujar si kecil beberapa kali sebelum tidur

Semenjak saat itu, seringkali saya harus membawa satu set board game Mat Goceng di acara makan malam keluarga. Bedanya dengan sebelum kehadiran board game, dulu kami bisa saja main smartphone sendiri-sendiri, sekarang sehabis makan, kami membersihkan meja makan kami lalu membuka dan memainkan Mat Goceng.

Beberapa kali juga saya membawa papan catur kecil dan kartu remi agar bisa dimainkan di waku luang ketika kami berjalan-jalan. Saat ini semuanya benar-benar berubah saya dan si kecil punya aktifitas baru yang lebih sehat dan mudah dieksekusi… hehehe …

Digital Detox

Ya, mungkin ini namanya digital detox! Saat ini paling tidak saya lebih tenang, karena si kecil tidak selalu merengek minta main Marvel Champion di smartphone saya. Saya sadar, sebagai karyawan , waktu berkualitas saya dengan si kecil memang ‘sempit’ dan board game menolong saya untuk bisa berinteraksi dengan si kecil! tidak lagi hanya memandang layar digital kecil di tangan.

Mungkin sekarang kekhawatiran saya bergeser, sekarang jadi sering gesek kartu kredit untuk membeli / funding tabletop game di Kick Starter. Saya sedang menunggu pengiriman ‘One Hit Kill‘, Hip Hops The Beer Card Game, Mare Nostrum Empires dan ‘Dragon Punch‘.

Apa berikutnya dari Board Game Challenge Indonesia 2015 ?

Apakah semua berakhir begitu saja di acara grand final and exhibition 6 -7 Juni 2015 kemarin ?

Pastinya Tidak!

Berdasarkan feedback dan observasi yang kami dapatkan selama beberapa bulan terakhir. Saat ini beberapa rekan yang tergabung dalam sebuh tim khusus … ciee… tim khusus… sedang dalam upaya sangat keras dan serius untuk mewujudkan kehadiran board game yang tidak hanya dinikmati segelintir pengunjung Mall Bintaro Xchange saja, tetapi bisa dinikmati masyarakat umum.

Sampai disini dulu ceritanya ya… nantikan kejutan berikutnya yang lahir dari event Board Game Challenge 2015!

Juara Board Game Challenge 2015
Para Pemenang Event Final Board Game Challenge 2015. “Waroong Wars”, “Pagelaran Yogyakarta”, “Jomblo” dan “Monas”.

Terimakasih juga untuk rekan-rekan kantor yang ikut serta mewujudkan aktifitas ini ..

Eko Wustuk, Dikdik Herdiana, Monica Advenia (rekan departemen inovasi) , Helman Taofani , Fellycia Novka Kuaranita (penyedia space dan penulis di klasika), Novi Eastiyanto, Dimas Rahutomo (menghadirkan Bintaro Xchange!!), Diana Eka P, Awank (membuka peluand dengan SNS Serpong), Muhammad Rizki Qitri (promosi dan komunikasi) , Pipin Purnawan, Aswito (koordinator event), Adi Murtyanto, Angel (komunitas) , Erwan Saswito (payment gateway), Fitri Listiyana, Paula Krisna, Ina Gayanti, Ardani Hendarta (business representative), dll sori kalo ada yang belum kesebut ..

Melindungi Ide dengan NDA

Pada sebuah posting di jejaring sosial Facebook (fb), tiba-tiba ada sebuah percakapan yang menurut saya cukup manarik, percakapan mengenai pencurian sebuah ide. Semoga yang punya status fb tidak berkeberatan dengan blog post ini. Bila keberatan pastinya akan saya take down kutipannya …

Tahun lalu, Saya memiliki sebuah ide, yg mungkin sudah pernah saya share sebelumnya bernama J***** B** fest***l (red:senosr), sebuah festival makan dengan content makanan panggang / bbq.

Ide yg menarik ini kemudian dipresentasikan kepada pihak lain dari grup besar – sebuah venue, untuk mencoba mengelola bersama, namun… ide yg blum berwujud ini seperti disepelekan.

Diberi waktu yg tidak ideal, di penghujung tahun-bulan Desember, ketika Hujan pasti turun membahasahi venue outdoor tersebut yg tentunya menghantui rasa aman para calon sponsor acara. Musim banjir, akhir tahun budget sponsor habis, acara tidak berjalan.

Lalu kemudian, tidak ada kabar dari si partner venue hingga tiba-tiba…

*… link ke sebuah situs …* (red:sensor)

Ini adalah tipikal sebuah management yg tidak menghargai kreatifitas seseorang.
Apakah sebagai sebuah venue besar kemudian bisa bertindak seperti itu?
Mungkin harus disentil dulu agar sadar bahwa IDE ITU MAHAL !

Pada kutipan tersebut, si pemilik ide , sebut saja ‘A’ sebenarnya sedang curhat dengan kesal karena ide yang ditawarkan (dipresentasikan) ke salah satu partner atau investor potensial sebut saja perusahaan ‘P’  pada awalnya tidak disambut dengan baik. Pihak yang dipresentasi tidak segera menanggapi atau mengeksekusi ide tersebut.

Pada bulan-bulan berikutnya tiba-tiba perusahaan ‘P’ tersebut membuat suat event atau aktifitas yang secara ide atau konsep sama persis dengan yang ditawarkan atau dipresentasikan oleh si ‘A’.

Maka meradanglah ‘A’

Kasus di atas mungkin saja pernah anda alami, apalagi bila anda mencari nafkah di industri kreatif dan sering menjajaki kerjasama (partnership) dengan pihak lain.

Apakah si perusahaan ‘P’ benar-benar melakukan pencurian ‘Ide’? bisa jadi ya dan tidak, karena saya nggak tahu cerita aslinya sih … 🙂 , tetapi kita asumsikan saja memang benar telah terjadi pencurian ide. Mengutip pepatah terkenal dari Pablo Picasso.

Great artists copy, great artists steal

Sebenarnya pencurian ide bisa diantisipasi dengan atau sering juga disebut dengan Non-Disclosure Agreement (NDA) . NDA sering juga disebut dengan Confidentiality Agreement (CA),  confidential disclosure agreement (CDA), proprietary information agreement (PIA), atau secrecy agreement (SA).

Beberapa referensi Bahasa Indonesia menyebutnya dengan Perjanjian Non Pengungkapan atau Perjanjian Kerahasiaan.

Untuk memudahkan, kita sebut saja dengan NDA, NDA adalah sebuah perjanjian legal antara dua pihak atau lebih yang menekankan atau menjamin mengenai kerahasiaan materi, informasi teknologi atau bentuk informasi lainnya yang sifatnya harus dibatasi tidak boleh diketahui oleh pihak ketiga.

NDA biasa dilakukan bila ada kerjasama yang akan dilakukan antara para pihak, mencakup perusahaan atau individu yang akan melakukan kerjasama.

Lalu bagaimana NDA bisa melindungi sebuah ide dari salah satu pihak?

Ada berbagai macam bentuk NDA, yang intinya sebenarnya bisa menjamin kedua pihak , tetapi bisa juga ditujukan untuk menjamin kerahasiaan materi salah satu pihak saja, itu sah-sah saja.

Pada saat mengembangkan aplikasi Kompas TTS di Windows phone, juga mensyaratkan adanya dokumen NDA yang ditandangani dengan pihak Nokia di Finlandia.

Pengalaman saya beberapa bulan kemarin, kebetulan perusahaan tempat saya bekerja ingin melakukan diskusi dengan sebuah entitas bisnis yang bergerak di pengembang aplikasi game. Pada saat  merencanakan pertemuan tersebut, respon pertama yang dilakukan perusahaan game tersebut adalah mensyaratkan sebelum pertemuan pertama dilakukan, harus ada NDA yang ditandatangani.

Wow, cukup mengejutkan juga!

Sebelum bertatap muka, saya dituntut untuk menandatangani dokumen kerahasiaan. Walapun rapat itu tidak pernah terjadi dan tempat saya bekerja sangat menghargai kekayaan intelektual serta mengedepankan partnership yang sehat (mutual), tetapi saya mengapresiasi usaha yang dilakukan entitas tersebut untuk melindungi kekayaan intelektual mereka.

Yah.. mungkin bagi mereka, walaupun masih tahap brainstorming tapi sepertinya bisa jadi ‘sesuatu’ juga kan ?

Nah, bagi para jiwa-jiwa kreatif pemilik ide cemerlang di luar sana….silahkan  melakukan tindakan pencegahan dengan dokumen NDA bila memang ingin melindungi ide , konsep maupu  proposal proyek.

The Daily Life of SMO

Tahun lalu, saya membuat video ini untuk kebutuhan Kompas Saba Kampus 2014. Video singkat mengenai kehidupan di divisi Strategic Management Office (SMO) Harian Kompas.

Membuatnya hanya menggunakan smartphone dengan aplikasi iMovie.

Divisi Strategic Management Office (SMO) terdiri dari tiga departemen, Research, Planning dan Innovation.

Bagi yang ingin tahu kegiataan sehari-hari divisi paling anyar di Kompas (terutama para freshgraduate yang kebetulan melamar di perusahaan ini, silahkan simak videonya ya..

20 Plugin Gratis Terbaik WordPress

Pada saat ini, membuat sebuah situs merupakan pekerjaan yang sebenarnya tidak begitu sulit. Dengan sedikit usaha mencari, anda dengan mudah membuat suatu situs dengan menggunakan WordPress (WP).

Penggunaan WP bermacam-macam, mulai dari blog pribadi, sampai dengan situs berita besar macam NYT, TIME , CNN, dll.

Dalam membangun sebuah situs dengan WP, Themes dan Plugins adalah dua aspek paling penting agar situs anda dapat berfungsi dengan baik dari sisi desain, fungsionalitas maupun keamanan.

Plugin gratis (bebas penggunaan) untuk wordress sangatlah banyak, sekitar 320 ribu plugin dengan lebih dari 600 juta download tersedia di repository Plugin WP. Dari daftar plugin tersebut, berikut daftar 20 Plugin gratis yang sebaiknya anda coba atau gunakan agar hari-hari anda dalam mengelola situs atau blog menjadi lebih menyenangkan.

1. Akismet

Spam merupakan sebuah aktifitas dunia internet yang paling menimbulkan masalah sampai saat ini. Spam ibarat ‘anak kandung’ internet, ia lahir hampir semenjak mail server terkoneksi dengan jaringan internet. Plugin Akismet sampai saat ini masih merupakan plugin terbaik untuk melakukan filtering spam comment dan trackback.

2.Jetpack

Merupakan plugin yang dibuat oleh Automattic, pembuat WordPress dan pengelola WordPress.Com. Fitur pada plugin ini merupakan ‘porting‘ dari fitur yang ada di WordPress.Com. Mulai dari statistik, sharing ke media sosial, sampa koneksi ke Path, disediakan oleh Plugin ini.

3.Yet Another Related Post PlugIn (YARPP)

Untuk meningkatkan keterbacaan konten dan memudahkan pengunjung situs, pengembang mengaktifkan fitur ‘Related Post’ YARPP. Related Post adalah sebuah kumpulan konten yang diolah menggunakan algoritma relasi dan ditampilkan di bagian bawah sebuah halaman. Algoritma fitur ini diciptakan oleh seorang mahasiswa bernama Michael Yoshitaka Erlewine  yang sedang mengambil PhD MIT dan mendalami bidang linguistik

4.WP Super Cache

Cache dalam Bahasa Indonesia artinya tembolok. Pada sebuah situs, fitur cache biasanya berguna untuk menyimpan berkas dalam bentuk statis html sehingga tidak terjadi proses pembacaan berulang-ulang ke database. Hal ini berguna bila sebuah situs tiba-tiba mendapat lonjakan traffic. Berkas statis akan membuat sumber daya server tidak akan terkuras. WordPress menyimpan hampir semua informasi dinamis ke dalam tabel di database, sehingga penggunaan cache seharusnya menjadi wajib.

5. Wordfence Security

Satu hal yang saya sukai dari WordPress adalah Plugin. Fitur ini tidak hanya menambah fungsionalitas dari aspek user experience, tetapi Plugin juga dapat menjalankan fungsi peningkatan keamanan (security hardening) sebuah situs. Banyak Plugin keamanan (security) yang bisa anda dapatkan secara gratis, salah satunya adalah Wordfence Security.

6. WP Maintenance Mode.

WordPress merupakan aplikasi blog yang paling mudah dikonfiugurasi dan hanya membutuhkan satu kali pengaturan awal. Kenyataannya, kemudahan tersebut seringkali membuat pengelola blog untuk menambahkan fitur melalui plugin maupun themes. Nah, aktifitas tersebut kadang mengharuskan kita untuk menyembunyikan tampilan blog dari para pengunjung karena tampilannya yang belum sempurna akibat utak-atik. Plugin ini secara mudah dapat menampilkan halaman ‘Under Construction’ kepada para pengunjung dengan tetap memberikan akses kepada pengelola blog. Anda juga dapat menambahkan coutdown counter kepada pengunjung blog anda.

7. Flickr Justified Gallery

Saat ini, foto sepertinya menjadi satu bagian yang terpisahkan dari kehidupan kita. Apalagi semenjak era smartphone yang dilengkap kamera dengan resolusi megapixel, seringkali kita menjadi bingung dengan pengelolaan foto yang masif tersebut. Untuk saat ini, menurut saya Flickr merupakan salah penyedia layanan penyimpanan foto online terbaik. Untuk menampilkan foto dari Flickr ke WordPress, tersedia banyak sekali Plugin. Dan berdasar pengalaman, Plugin Flickr Justified Gallerymerupakan tools yang paling mudah dikonfigurasi dan paling smooth dalam mengalirkan foto dari Flickr ke WordPress.

8. Most Commented Widget

Salah satu hal yang menyenangkan dalam mengelola sebuah blog adalah tanggapan berupa komentar pengunjung terhadap tulisan yang kita publikasikan. Plugin ini menampilkan urutan tulisan di blog berdasarkan jumlah komentar terbanyak, sehingga kita dapat menginformasikan kepada pengunjung blog mengenai tulisan yang paling populer berdasarkan jumlam komentar.

9.  Google Analytics Dashboard for WP

Banyak sekali Plugin yang mengakomodasi tracking statistik Google Analytics. Bedanya, plugin ini menampilkan data angka dan grafik Google Analytics  langsung pada Dashboard Administrasi Anda. Tampilan datanya meliputi   jumlah kunjungan, jumlah pengunjung, tingkat bouncing, pencarian organik, halaman per kunjungan.

Dalam menampilkan data dan grafi  tersebu, plugin ini melakukannya dengan cara yang cepat dan aman karena Dashboard Google Analytics menggunakan protokol OAuth2 dan API Google Analytics.

10.Broken Link Checker.

Dalam membuat suatu artikel di blog, sering kali  kita memberi tautan (hyperlink) sebuah kata atau kalimat yang merujuk ke alamat uri situs lain. Kesalahan dalam melakukan input atau kondisi dimana alamay tautan itu sudah tidak aktif juga memungkinkan terjadi.

Plugin Broken Link Checker akan membantu memantu mana saja tautan yang tidak berkerja dengan baik dan memberitahukannya secara berkala kepada pengelola blog.

Sebuah blog post yang memiliki tingkat validasi tautan yang baij akan membantu ranking mesin pencari (seo) dan juga membuat nyaman pembaca,

11.TablePress

TablePress adalah plugin WordPress (WP)  gratis yang memungkinkan anda untuk membuat dan mengelola tabel di situs WP. Untuk membuat suatu tabel di sebuah halaman situs tidak membutuhkan pengetahuan HTML. Antarmuka yang nyaman dan intuitif memungkinkan anda sebagai pengguna biasa untuk dengan mudah mengedit data dalam bentuk tabel.

Tabel anda dapat berisi berbagai jenis data, bahkan dalam bentuk formula sekalipun. Selain itu, plugin ini juga memiliku fitur sort, pagination, filter, dan lebih untuk pengunjung situs. dll

Pengembang Plugin ini adalah Tobias Bäthge, mahasiswa PhD di bidang “Teknik Cybernetics” dari Magdeburg, Jerman. Dia mencintai bisbol dan suka bekerja dengan WordPress.

12.Revision Control

Post dan Page adalah fitur menu utama pada WP, digunakan untuk menampung konten dalam bentuk teks, script gambar, audio, video, dll. Secara default, ketika kita membuat suatu tulisan baru pada post dan page, melakukan beberapa kali proses editing, maka wordpress akan menyimpan versi editing tersebut. Penyimpanan versi editing tersebut dinamakan versioning.

Seringkali, orang yang melakukan editing melakukan editing dan menyimpannya berulang kali, bayangkan saja ketika anda menulisi di berkas word, berapa kali proses save, yang anda lakukan ?

Nah, perilaku tersebut seringkali menghasilkan jumlah berkas versioning yang fantastis, bisa 10, 20 atau lebih… dan membuat database menjadi ‘kotor’ karena menyimpan sesuatu yang tidak digunakan dan bisa menurunkan performa aplikasi.

Plugin Revison Control berfungsi untuk membatasi jumlah berkas versioning tersebut, biasanya saya hanya membatasi maksimal 3 berkas versioning saja.

13.Google XML Sitemaps

Pada repository WP ada beberapa beberapa plugin yang khusus untuk menghasilkan berkas XML navigasi situs (sitemaps). Berkas ini fungsinya mirip peta, digunakan untuk memudahkan mesin pencari seperti Google, Bing, Yahoo, dll dalam mengindeks suatu situs.

Menurut saya, generator berkas XML Sitemaps yang paling mudah diimplementasikan adalah dari pengembang bernama Arne Brachhold.

14.Contact Form 7

Form atau formulir merupakan fitur yang biasanya hadir di semua website. Mulai dari formulir untuk kontak, komplain sampai dengan registrasi ke situs tersebut. Seringkali juga para pemilik situs membutuhkan form yang memiliki fungsi khusus, seperti pendaftaran untuk ikut lomba, mengunggah berkas sampai dengan jenis kebuthan submit data lainnya.

Dari beberapa pilihan plugin untuk membuat form, Contact Form 7 merupakan plugin yang paling fleksibel untuk memenuhi berbagai keperluan. Beberapa extensi plugin ini juga cukup banyak dibuat pembuat plugin lain, seperti Contact Form DB dan Contact Form 7 Date Picker.

15.WordPress SEO by Yoast

Sebenarnya, aplikasi wordpress itu sendiri sudah sangat baik dalam menerapkan prinsip-prinsip Search Engine Optimation (SEO) yang baik. Apa itu SEO ? penjelasann singkatnya, SEO adalah sebuh teknik agar situs yang kita buat dapa dikenali dan diindex dengan baik oleh berbagai macam mesin pencari seperti Google, Yahoo, Bing dan lain-lain.

Plugin ini meningkatkan SEO sebuah situs dengan menambahkan fitur yang akan membantu mesin mencari untuk mengindeks situs kita dengan lebih baik. Fitur utamanya adalah memastikan  penggunaan dan penempatan focus keyword terimplementasi dengan baik dengan memastikan focus keyword tersebut ada di badan tulisan.

16.Shortcode Ultimate

Dengan plugin ini, anda dapat dengan mudah membuat berbagai fitur website seperti tab, button, box, slider, video responsif dan banyak lagi. Dengan mengatifkan fitur-fitur tersebut, situs yang awalnya hanya tampil biasa-biasa saja dengan themes standart , sekarang bisa sejajar dengan themes premium.

17.Buddypress

Komunitas merupakan sesuatu yang berharga di kehidupan sehari-hari kita. Dengan komunitas kita mendapatkan teman-teman dengan minat dan kepentingan yang sama. Seringkali komunitas saling melakukan interaksi di dunia maya, mulai dari mailing-list, facebook, group chat maupun forum serperti kaskus.

Buddypress merupakan plugin yang sangat mudah dan fleksibel dalam pengaturan dan penggunaan untuk menciptakan  sebuah situs yang memiliki / berciri social network/ jejaring pertemanan. Hanya dengan beberapa klik saja, anda sudah mendapatkan sistem yang ditujukan untuk komunitas. Mulai dari fitur profiles, groups, activity streams, notifications, friendship, private messaging , dll semua tersedia secara default.

18.WooCommerce

Ingin menjual produk melalui website ? Walaupun saat ini banyak yang berjualan melalui instagram dan jejaring media sosial lainnya, website yang dirancang khusus untuk berjualan tetap merupakan pilihan akhir yang diimpikan banyak orang yang berjualan secara online atau sering disebut eCommerce.

Nah, dengan menggunakan plugin WooCommerce, kamu dapat dengan mudah dan sekejap mengubah sebuah situs menjadi situs eCommerce. Berdasarkan pengalaman, WooCommerce sangat mudah dikonfigurasi dan mudah dalam pengelolaan. Pilihan module / addon untuk menambah fungsi juga tersedia sangat beragam.

19.Google Adsense

Siapa yang tidak kenal Google Adsense ? Salah satu layanan dari mesin pencari Google yang dapat memberikan keuntungan finansial bagi pemilik situs-situs dengan traffic yang besar. Pemilik situs atau blog hanya perlu memiliki akun Google dan memasang script / kode kecil pada situ yang akan menampilkan iklan yang relevan bagi pengunjung situs tersebut.

Bagi pengguna WordPress, saat ini tidak perlu direpotkan lagi dengan proses pembuatan dan pemasangan script yang memakan waktu dan tenaga. Plugin Google Adsense yang merupakan plugin official dari Google akan membantu pemilik situs dapat mengelola tampilam iklan dengan lebih baik dengan berbagai format (teks, gambar, teks dengan gambar atau link), ukuran, warna elemen di blok iklan, bentuk melengkung sudut materi iklan dan posisi penempatan di situs.

20.Updraft Plus Backup and Restoration

Memiliki cadangan (backup) adalah suatu keharusan. Sebaiknya selalu menyiapkan backup untuk segala sesuatu yang berbentuk digital, mulai dari foto, video maupun berkas kerja (file) di personal computer (PC). Bencana datang tanpa bisa diketahui (tiba-tiba), siapkan backup sedini mungkin dan pastikan backup tersebut bekerja dengan baik

Untuk sebuah situs blog, pastikan anda memiliki mekanisme backup yang dapat dengan segera mengembalikan (restore) berkas yang diinginkan. Updraft Plus Backup and Restoration merupakan salah satu plugin terbaik dalam melakukan pekerjaan backup. Memiliki berbagai kemudahan fitur dan terpenting, tujuan backupnya bermacam-macam, mulai dari FTP, Amazon S3, Dropbox Google Drive , dll

 

Penting! Saran penggunaan Plugin

1.  Deactivate (matikan) plugin yang tidak anda gunakan. Hal ini karena sistem ‘hook’ dan ‘filter’ wp agan ‘memanggil’ fungsi plugin yang aktif tersebut walaupun tidak digunakan.

2. Bila ada kebutuhan plugin lain, pastikan plugin tersebut banyak digunakan dan sederhana. Popularitas plugin dapat dilihat dari jumlah download sedangkan kesederhanaan dapat dilihat dari fungsi plugin yang fokus pada kebutuhan.

3. Bila ada plugin lain yang lebih baik, segera ganti plugin lama anda. Pada masa depan hal ini akan memudahkan pekerjaan dan meningkatkan kemanan situs anda.

4.Update plugin anda, segera setelah versi stabil plugin tersebut diluncurkan.

5. Bila ada permasalahan di situs anda yang terjadi akibat konflik pada sebuah atau beberapa plugin, matikan plugin tersebut. Bila tidak terdeteksi mana plugin penyebab permasalah tersebut, matikan semua plugin dan nyalakan satu-satu sehingga anda tahu permasalahannya.

Sekian, semoga hari anda menyenangkan…

Skeptis, Mencegah Kultus Individu

Kultus individu atau dalam bahasa inggris disebut Cult of personality adalah kondisi dimana seseorang menciptakan figur ideal atau pahlawan dengan melakukan pujian yang berlebihan.

Biasanya praktek kultus individu sering ditemui pada negara dengan sistem diktator, seperti Jerman pada era Adolf Hitler, Kuba pada era Fidel Castro, Che Guevara di Kolombia sampai dengan Kim-Jong-Il di Korea Utara.

So, why I Concern ?

Pada saat ini kondisi tersebut muncul pada skala yang lebih kecil tapi membawa dampak sangat signifikan. Menurut pendapat saya, amplifikasi terjadi karena medium yang digunakan lebih luas spektrumnya.

Seperti penggunaan media masa dan media social digital yang bisa dilakukan siapa saja dengan mudah. Mulai dari pengkultusan sekte, aliran, tokoh politik, inventor, pemuka agama hingga tokoh masyarakat biasa yang biasa kita temui dalam keseharian.

Salah satu ‘produk’ dari kultus individu adalah terciptanya person atau grup yang antikritik dan tidak bisa diajak berpikir lurus. Jika orang yang dikultuskan atau diidolakan mengatakan ‘A’ maka ‘A’ adalah suatu kebenaran mutlak.

Melihat Kebelakang

Pada masa kuliah di tahun 1998 – 2003 (dimasa saya kuliah…), konsep kultus individu dikritisi dengan cara selalu mengajak setiap mahasiswa/i untuk berpikir kritis dan skeptis melalui berbagai diskusi kelompok di kampus maupun antar kampus.

Skeptis adalah pola pikir dimana seseorang selalu meragukan, mencurigai segala sesuatunya atau memandang segala sesuatu dengan tidak pasti.

Pada era kuliah tersebut, akses ke informasi dengan tingkat kebenaran tinggi masih sangat terbatas pada beberapa media mainstream saja dan juga media bawah tanah (underground) yang beredar dengan sistem distribusi yang sangat tertutup. Akses dunia digital (internet) juga masih sangat terbatas dengan hanya mengandalkan modem dial-up dengan kecepatan maksimal 14Kbps.

Menyeduh kopi adalah hal biasa saat menunggu halaman pertama sebuah situs untuk tampil dengan sempurna!

Dengan kondisi dan interaksi yang sangat terbatas tersebut, pertemuan tatap muka menjadi metode yang intens digunakan untuk membangun wacana  kritis dan juga pola pikir skeptis di kalangan mahasiswa/i.

Bukannya skeptis itu buruk ?

Banyak orang , termasuk teman-teman saya menilai bahwa skeptis itu buruk.

“Skeptis banget sih lo, optimis dong!”

Begitu kira-kira ucapan yang sering terlontar. Sebenarnya pola pikir skeptis  tidak selalu berkonotasi negatif. Bila digunakan dengan benar, pola pikir skeptis bisa menjadi alat yang baik untuk menyaring informasi mengenai kebenaran, mencegah tindakan gegabah lainnya seperti over confidence dan pastinya juga mempertanyakan ide atau gagasan seseorang.

Lalu bagaimana pola pikir skeptis sebaiknya digunakan ?

Untuk membangun wacana diskusi yang baik, biasanya sebuah kelompok diskusi menggunakan materi buku atau artikel tertentu sehingga pembahasan bisa menjadi lebih objektif, tajam dan tidak menghasilkan debat kusir. Diksusi dengan menggunakan materi buku sebagai topik biasanya disebut dengan bedah buku dan masih lumrah dilakukan sampai hari ini, tetapi saya yakin intensitas dan kedalaman diskusinya berkurang.. hehehe..

Pada saat bedah buku, pastinya tiap peserta harus sudah membaca buku tersebut, setelah itu dimulailah tahapan yang lebih seru lagi, brainstorming! alias diskusi. Pada saat diskusi tadi gunakanlah ‘pisau’ pola pikir skeptis untuk mempertanyakan opini atau pendapat orang lain, sehingga akan tercipta sebuah diskusi yang ‘berlapis’ dan penuh dengan iterasi.

A: Saya pikir X adalah seorang penulis hebat, kalo bisa dibilang seorang sastrawan!

B: Ah yang bener ? saya rasa nggak juga, banyak ide dalam bab itu yang mirip dengan penulis Z.

Bila memiliki topik yang fokus , misalnya dengan buku,  pola pikir skeptis bisa jadi alat kontrol yang baik karena yang menjadi bahan diskusi adalah kontennya dan pastinya bukan personnya.

Menggunakan pola pikir skeptis pastinya membutuhkan kondisi tertentu,  argumen yang digunakan sebaiknya juga menggunakan literatur yang tepat dan dapat dipertanggungjawabkan.

Dengan selalu mempertanyakan dan menantang segala sesuatunya, saya rasa / pikir akan mengurangi cult of personality karena gagasan atau ide seseorang bisa diruntuhkan dalam debat wacana yang sehat.