Keluar dari Korporasi, Kesadaran dan Keberanian

Pada bulan November 2019, tepat enam tahun yang lalu, saya akhirnya benar-benar melangkah keluar dari gerbang sebuah perusahaan besar yang sudah menjadi bagian hidup saya selama hampir separuh usia produktif.

Sebuah perusahaan media, anak dari kelompok korporasi raksasa yang mempekerjakan ribuan orang. Di unit tempat saya bekerja saat itu saja, ada sekitar enam ratus jiwa yang setiap hari berlari di roda besar bernama industri media.

Bagi banyak orang di sekeliling saya, keputusan itu tampak nekat, bahkan sedikit gila. Saya mengundurkan diri di tengah pandemi, ketika ketidakpastian sedang menjadi udara yang dihirup semua orang.

Dan yang paling aneh, saya belum punya tempat baru untuk bekerja.

Tidak ada janji posisi lain, tidak ada tawaran yang menunggu di meja. Hanya keyakinan kecil di dalam hati bahwa ini waktunya berhenti.

Biasanya orang keluar dari pekerjaannya karena sudah menemukan pengganti. Sudah ada jembatan yang siap dilewati. Tapi saya memilih berjalan tanpa tahu ujung jalan.

Keputusan itu mungkin tampak mendadak bagi sebagian rekan, padahal sebenarnya tidak.

Bertahun-tahun sebelumnya, saya sudah menyiapkannya dalam diam. Semua langkah sudah direncanakan, dengan sabar, dengan penuh pertimbangan yang tak banyak orang tahu.

Pandemi datang sebagai topan yang justru membuka jalan. Aturan kerja berubah, pertemuan dibatasi, semua jadi berjarak. Itu membuat saya bisa keluar tanpa harus berpamitan tatap muka, tanpa perpisahan penuh air mata di ruang rapat yang dingin.

Mungkin itu pertolongan kecil dari semesta. Karena sejujurnya, kalau harus menatap mereka satu per satu, saya tidak yakin sanggup menahan mata yang basah.

Mbrebes mili, seperti kata orang Jawa.

Sebagai seseorang yang masih suka menulis, saya tahu saya akan menuliskan cerita ini suatu hari nanti, kisah tentang keberanian yang tidak terasa heroik, tentang keputusan yang tidak diambil dalam semalam.

Hari ini, enam tahun setelahnya, saya akhirnya dapat duduk tenang menulis bagian akhir cerita ini di sebuah blog. Dengan jarak, dengan kesadaran, dan dengan rasa syukur yang perlahan-lahan menjadi bening.

Ketika Data Berkata Jujur

Saya bergabung di perusahaan itu sebagai staf peneliti bisnis. Tugas saya sederhana di atas kertas, belajar riset dari awal, membantu membuat sistem informasi berbasis data, mengamati perilaku pembaca, sirkulasi, dan distribusi koran.

Tapi di balik tugas itu ada sesuatu yang lebih besar.

Saya diberi akses pada data-data yang tidak semua orang boleh lihat. Angka penjualan, laporan oplah, tren iklan, grafik penurunan. Di antara deretan angka itu, saya melihat masa depan yang tidak seindah masa lalu.

Sebagai peneliti muda, saya tahu kenapa data itu dijaga rapat. Bukan karena rahasia dagang semata, tapi karena data punya kuasa. Ia bisa menyingkap kenyataan yang tidak semua orang siap terima.

Dan kenyataan itu adalah, industri surat kabar sedang menua.

Tahun 2004, era “big data” belum populer. Tapi kami di divisi riset sudah bereksperimen dengan apa yang sekarang disebut “vector database”.

Kami membuat sistem analisis menggunakan OLAP, MDX, dan datamart kecil yang menjadi semacam mesin waktu, memperlihatkan tren yang mungkin tidak ingin dilihat siapa pun.

Sebagai orang yang mencintai data, saya tahu grafik-grafik itu bukan sekadar angka. Mereka bercerita tentang sebuah industri yang perlahan kehilangan napas.

Saya ingat satu sore ketika saya memandangi laporan sirkulasi dari Pew Research tentang industri koran di Amerika, garisnya terus turun tahun demi tahun.

Tidak butuh banyak tafsir untuk mengerti ke mana arah dunia bergerak. Kalau industri di negara maju saja menurun, bagaimana nasib media cetak di negeri yang sedang sekarat seperti Indonesia?

Tapi saya tetap bertahan, bukan karena menutup mata, melainkan karena rasa suka dan keterikatan. Karena di balik semua grafik penurunan itu, ada nilai-nilai yang membuat saya bangga, integritas, ketulusan, dan manusia-manusia yang jujur bekerja di perusahaan tersebut.

Saya tahu saya tidak sedang bertahan demi korporasi. Saya bertahan karena menghargai arti pekerjaan itu sendiri.

Ketika Surga Tidak Lagi Abadi

Bagi banyak orang, bekerja di sana adalah surga dunia. Fasilitas lengkap, tunjangan besar, pinjaman rumah bunga nol persen, dana pensiun seperti Pegawai Negeri Sipil (PNS), bonus tahunan yang membuat banyak keluarga tersenyum.

Orang-orang menyesuaikan hidup mereka dengan perusahaan, mencari rumah di sekitar kantor, menikah dengan rekan kerja, menua bersama rutinitas yang teratur.

Tapi dari ruang kecil tempat saya menganalisis data, saya tahu surga ini punya tanggal kedaluwarsa. Angka-angka tersebut tidak bisa berbohong.

Saya melihat bagaimana industri kamera film runtuh dalam sepuluh tahun semenjak lahirnya kamera digital. Kalau teknologi bisa menghapus sesuatu sekuat itu, apa yang bisa menahan kertas dan tinta?

Saya sering berbincang santai dengan teman-teman di divisi riset, memprediksi kapan “tipping point” itu akan datang. Saat di mana jumlah pembaca sudah tidak lagi membuat bisnis ini masuk akal.

Kami bercanda, tapi di dalamnya ada kesedihan yang samar. Seperti melihat kapal megah yang perlahan bocor air di lambungnya.

Tipping point adalah istilah yang dipopulerkan pleh Malcolm Gladwell, bukan sekadar teori. Ia adalah kenyataan yang sedang berjalan di depan mata. Dan penolakan untuk melihat dan mengakuinya, hanya menunda rasa sakit.

Industri media cetak sedang menuju senja. Menyangkal hanya akan memperlambat proses penerimaan kenyataan.

Belajar Berdiri di Kaki Sendiri

Dari kesadaran itulah saya mulai menyiapkan diri. Saya tidak ingin hidup saya sepenuhnya ditopang oleh sesuatu yang sedang perlahan rapuh. Maka saya mulai membuat keputusan-keputusan kecil yang waktu itu mungkin terlihat aneh.

Tidak menggunakan fasilitas pinjaman rumah kantor, misalnya. Saya lebih memilih membeli rumah sendiri lewat KPR di Bank Mandiri, di tahun kedua saya bekerja. Gaji saya waktu itu hanya tiga juta rupiah, standar karyawan Management Trainee (MT) dan sepertiganya langsung terpotong untuk cicilan ke Bank Mandiri.

Tapi saya tetap maju.

Uang muka untuk pembelian rumahpun saya pinjam dari kekasih saya, yang sekarang jadi istri saya. Rasanya konyol, tapi juga indah dan juga sedikit ‘memalukan’.

Kami tahu apa yang kami perjuangkan. Tahun 2019, rumah itu akhirnya lunas. Lima belas tahun terikat dengan bank, tapi pada akhirnya bebas.

Lunasnya rumah itu menjadi simbol kecil kemerdekaan batin. Saya tidak lagi terikat fasilitas pinjaman apapun. Ketika hari itu saya memutuskan dan membulatkan niat berhenti bekerja, tidak ada yang bisa menahan saya, rasanya sangat ringan.

Banyak orang menertawakan keputusan saya waktu itu.

“Bodoh,” kata mereka.

“Kenapa nggak sabar sedikit? Nanti juga bisa pinjam tanpa bunga.” Tapi saya tahu apa yang saya lakukan. Hidup saya harus bisa berdiri di kakinya sendiri.

Saya melihat bagaimana orang-orang yang terikat cicilan perusahaan atau cicilan konsumtif lainnya sering terjebak dalam permainan yang sama, mempertahankan posisi bukan karena cinta pekerjaan, tapi karena takut kehilangan fasilitas dan sumber pendapatan.

Dari kondisi tersebut lahir banyak politik kantor, banyak kompromi yang perlahan mematikan integritas.

Saya dan istri bersepakat untuk hidup sederhana, anak satu cukup karena dunia sudah penuh.

Kami bercanda seperti itu, tapi di baliknya ada kesadaran yang tenang dan bulat. Kami bukan orang kaya, tapi kami berusaha hidup dengan kepala tegak.

Membangun Masa Depan dari Ruang Kecil

Saya tetap bekerja di sana selama enam belas tahun. Panjang, tapi tidak terasa. Setiap tiga atau empat tahun, saya diberi peran baru, pindah divisi, memimpin proyek baru, menghadapi tantangan baru. Saya tumbuh, perusahaan pun berubah.

Gaji naik otomatis setiap tahun mengikuti inflasi, suasana kerja hangat, rekan-rekan seperti keluarga.

Tidak ada yang kurang.

Puncaknya adalah keterlibatan saya di proyek Kompas.id, sebuah upaya besar membawa koran ke dunia digital berbayar.

Waktu itu tidak semua percaya orang mau membayar berita online. Tapi kami berani mencoba. Di ruang kerja kecil yang bahkan tidak layak disebut “kantor”, kami membangun sesuatu yang baru.

Saya memimpin tim teknologi dan inovasi, anak-anak muda yang awalnya terbiasa dengan lingkungan Microsoft dan SAP, sekarang harus belajar Linux, sumber kode terbuka, dan bahasa pemrograman yang belum pernah mereka dengar sebelumnya.

Itu masa yang luar biasa. Kami belajar banyak, jatuh bangun, tapi saya tahu kami sedang melakukan hal yang benar.

Sampai hari ini, Kompas.id masih berdiri, sebagian besar di atas infrastruktur Azure, menggunakan open source, dan tetap relevan.

Setidaknya ada satu hal yang bisa saya banggakan, keputusan teknologi yang dulu kami pertahankan dengan keras kepala ternyata tidak salah.

Tahu Kapan Harus Pergi

Tapi semua hal baik punya akhirnya. Ketika perusahaan memutuskan melakukan restrukturisasi, menggabungkan unit teknologi, data, dan produk menjadi satu divisi besar, saya tahu arah anginnya sudah berbeda.

Secara manajerial mungkin efisien, tapi secara manusia saya tahu itu akan menekan kreativitas, membuat tim kehilangan fokus dan tuntutan ke saya juga bisa jadi tidak masuk akal.

Saya sudah terlalu lama di sana untuk tidak mengerti tanda-tanda.

Saat itulah semua persiapan bertahun-tahun terasa masuk akal. Semua simulasi mental, semua tabungan, semua perhitungan, semuanya membawa saya ke satu titik ini, waktunya pergi.

Saya keluar bukan karena kecewa, tapi karena tahu kapan harus berhenti. Kadang pergi adalah cara lain untuk menghormati tempat yang pernah kita cintai.

Tahun 2019 juga adalah tahun di mana rumah saya lunas. Setelah lima belas tahun, bank akhirnya melepaskan haknya, dan saya menerima surat roya dengan tangan bergetar.

Rasanya aneh, saat orang lain sibuk menumpuk aset dan mempertahankan status quo, saya justru ingin melepaskan. Mungkin karena saya sudah cukup lelah menahan ketidaknyamanan perubahan organisasi dan bagaimana orang-orang diperlakukan oleh perubahan.

Dan ketika pandemi datang, saya seperti sudah disiapkan.

Saya berbicara dengan istri lebih dulu. Dia tidak kaget, bahkan berkata, “Akhirnya.”

Bertahun-tahun sebelumnya dia sudah merasa ini akan terjadi. Kami tertawa bersama, tapi di dalam hati saya tahu dia benar, doa istri punya kekuatan sendiri.

Anak saya waktu itu masih SD. Saat saya bilang, “Poppa berhenti kerja,” dia menatap saya polos, “Poppa nanti jualan cireng aja, ya?”

Kami tertawa lagi, kadang kejujuran anak adalah hiburan terbaik bagi orang dewasa yang sedang gugup dan gagap.

Saya memberi tahu bagian HR lebih dulu. Saya minta kabar ini tidak disampaikan dulu ke atasan saya, Direktur Bisnis saat itu, karena beliau akan pensiun di tanggal yang sama.

Tidak etis rasanya menambah beban pikiran pimpinan dan rekan kerja yang selama ini saya hormati. Sebelum pensiun, beliau sempat berkata di sebuah pertemuan rutin bisnis, “Nanti, kalau ada teman mau ambil golden handshake, kabari saya ya.”

Saya tahu maksudnya, tetapi saya tidak tertarik. Saya ingin keluar tanpa embel-embel kompensasi. Saya ingin pergi dengan kepala tegak, bukan dengan amplop.

Tanggal 1 November 2019, saya resmi menjadi pengangguran. Teman-teman banyak yang bertanya, “Pindah kemana Dit?”

“Dirumah, bercocok tanam”, Jawabku santai penuh kelakar.

Saya tertawa, tapi dalam hati ada campuran rasa yang tidak bisa dijelaskan, lega, takut, tapi juga tenang, bagaimanapun, saya sudah menyiapkan diri untuk kondisi dan momen ini.

Tiga bulan pertama saya jalani dengan ringan dan sedikit “jetlag“. Saya menulis, membantu komunitas, dan jalan kaki setiap pagi. Istri saya bilang, jalan kaki itu menyelaraskan energi dengan semesta. Saya tidak sepenuhnya paham, tapi toh saya melakukannya juga.

Kadang hal sederhana seperti melangkah tanpa tujuan bisa jadi cara terbaik untuk menemukan arah baru.

Ketika Kesiapan Bertemu Keberuntungan

Setelah beberapa bulan, saya mulai melamar pekerjaan lagi. Umur saya sudah empat puluh lebih. Banyak yang bilang sudah terlambat untuk mulai lagi.

Tetapi saya tidak percaya pada kata terlambat, dunia selalu punya ruang bagi orang yang mau belajar dan bekerja.

Saya melamar ke mana-mana menggunakan berbagai platform, LinkedIn, Glints JobsDB, Geekhunter dan rasanya seperti naik roller-coaster.

Ketika diterima di sebuah startup pre-series, walau perusahaannya hanya berumur setahun lebih, saya akhirnya punya kesempatan belajar dengan linkungan multi-kultur dan menggunakan bahasa Inggris untuk komunikasi kerja sehari-hari.

Investor dan rekan kerja dari berbagai negara, Jepang, Rusia, Thailand dan pastinya Indonesia, dan juga tim teknologinya berasal dari Negara Vietnam.

Benar-benar sebuah kekacauan, dan benar seperti lirik sebuah lagu yang berasal dari ungkapan Friedrich Nietzsche, “What doesn’t kill you, will make you stronger“.

Ketika akhirnya bertemu dengan beberapa rekan yang juga aneh dan ajaibnya mengundurkan diri, dan juga mengambil jalam berkarya dan peruntungan ditempat lain, beberapa melontarkan kalimat ini.

“Bekerja di tempat lain ya lebih berat, beda banget”, ujar beberapa teman.

“Lah kok mau, resign dari perusahaan mapan, dan coba tawaran lain?” tanyaku dengan santai.

“Ya susah dijelaskan kan ya…, lah wong sampeyan juga keluar kok”. Ujar salah satu teman dengan penuh kelakar.

” Susah dijelakan, pindah dari zona nyaman bukan untuk semua orang”, Kata teman yang dulu membantu saya membangun infrastruktur server.

Begitulah salah satu suasana reuni sesama dari yang memberanikan diri pensiun lebih awal dari surga duniawi tersebut.

Setelah tidak berlajut dengan startup pre-series tadi, akhirnya saya kembali menjadi pengangguran, dan kembali mengerjakan proyek sebagai freelance dan juga melamar kembali perusahaan lain.

Kali ini tidak terlalu kaget, karena artinya suda dua kali keluar dari perusahaan.

Uniknya disaat kedua ini, banyak rekan, teman atau mantan kolega kerja dan partner yang menawarkan berbagai posisi ketika saya kembali tidak berkarya di perusahaan, mungkin karena saat itu pengalaman saya sudah bertambah.

“Yah, gimana, bukannya ngasih tahu sudah nggak disitu lagi”, ujar mereka bingung kok saya nggak mengabari mereka untuk tanya peluang.

Anehnya lagi, respon lamaran pekerjaan datang bertubi-tubi dan dalam waktu yang hampir bersamaan, kadang kita nggak tahu rencana semesta untuk kita, kita hanya perlu menjalaninya saja dengan sebaik-baiknya.

Disini saya sadar pentingnya reputasi dan integritas dalam bekerja, karena akhirnya orang akan melihat hal tersebut.

Dari semua tawaran dan kesempatan, akhirnyai saya memilih IRIS Jakarta , saat itu untuk posisi Solution Architect. Kenapa? lebih karena saya merasa lebih “klik”saja secara intuisi.

Ketika memutuskan mengundurkan diri dari perusahaan media, saya memiliki strategi dan persiapan tersediri ketika melamar pekerjaan.

Tidak berambisi mengincar posisi sejenis atau lebih tinggi layaknya orang pindah perusahaan, karena saya tahu nilai tawar saya rendah karena saya mengundurkan diri dari perusahaan sebelumnya, alias jobless.

Dugaan kenapa dengan umur diatas empat puluhan, lamaran saya masih direspon karena saya melamar di area teknologi yang posisinya tidak begitu tinggi, membutuhkan pengalaman memimpin unit, mengerti engineering, mulai dari technical lead, manager sampai dengan solution architect.

Saat itu banyak perusahaan membutuhkan pekerja dengan pengamalaman segudang untuk posisi lead atau firt-line manager.

“Maksudnya kerja bagai kuda, non “leyeh-leyeh” managerial, dengan pengalaman dan skill segudang”

Waktu itu, salah satu interviewer IRIS Jakarta bertanya, “Kamu bisa Azure?”

“salah satu client kita menggunakannya, kita biutuh orang yang mengerti Azure.”

Saat mendengar hal tersebut. dalam hati, saya tersenyum dan langsung mendapatkan aha moment. “Saya sebelumnya mengelola puluhan Virtual Machine (VM) dan ratusan prosesor di Azure untuk Kompas.id,” jawab saya.

“Saya tahu banyak perusahaan menggunakan AWS dan GCP, tetapi soal Azure saya expert”, ujarku saat itu.

Di situ saya tahu, keahlian saya yang “niche” masih dibutuhkan, saya masih punya tempat.

Ada pepatah yang bilang, sukses terjadi saat kesiapan bertemu kesempatan. Mungkin itu yang terjadi pada saya. Tapi saya lebih suka menyebutnya, kesiapan bertemu keberuntungan.

Menoleh Tanpa Penyesalan

Enam tahun setelah keputusan itu, saya menulis ini bukan untuk membenarkan pilihan, tapi untuk mengingatkan diri sendiri. Keluar dari korporasi bukan soal berani, tapi soal siap.

Siap kehilangan rasa aman, siap menerima ketidakpastian, siap melihat hidup dari sisi lain. Kadang kita tidak benar-benar meninggalkan sesuatu. Kita hanya berpindah cara untuk bertumbuh.

Dan saya bersyukur, karena waktu itu saya memilih pergi bukan karena hal negatif, tapi karena mencintai arah hidup saya sendiri.

Epilog

Pada akhirnya, hidup memang tidak selalu butuh rencana besar. Kadang cukup satu keberanian kecil untuk melangkah keluar dari lingkaran yang sudah terlalu lama kita putari.

Dunia kerja sering memberi rasa aman, tapi jarang memberi ruang untuk benar-benar tumbuh.

Kadang keputusan paling rasional justru lahir dari keheningan panjang, dari momen saat kita akhirnya berani mendengar suara hati sendiri.

Dan kalau hari ini saya menoleh ke belakang, saya tidak akan mengubah keputusan dan tindakan yang saya ambil.

Karena bahkan ketakutan dan kegamangan di masa itu, kini terasa seperti bagian dari doa yang akhirnya dikabulkan, menjadi manusia yang tidak sempurna, tapi sadar untuk terus tumbuh.

AI, Ghibli, dan Hak Cipta, Menyusuri Batas Tipis antara Teknologi dan Seni

Di tengah derasnya arus perkembangan teknologi kecerdasan buatan, muncul pula gelombang penolakan dan gugatan yang tidak kalah sengit.

Gugatan demi gugatan dilayangkan, sebagian oleh para pekerja seni, sebagian oleh korporasi, dan sebagian lagi oleh individu yang merasa hak kreatif mereka mulai tergerus.

Dunia sedang berebut narasi, siapa pemilik sah dari hasil ciptaan mesin yang belajar dari karya manusia?

Di sela-sela itu, saya iseng bereksperimen.

Saya coba menggabungkan gaya visual khas Studio Ghibli dan Makoto Shinkai ke dalam dokumentasi perjalanan pribadi ketika melakukan Touring Bantern – Jawa Barat 28 – 30 Maret 2025.

Bukan sebagai bentuk penghormatan besar, bukan pula untuk tujuan komersial. Murni rasa penasaran, campuran antara teknologi dan imajinasi yang selama ini hanya bisa saya nikmati di layar.

Sebagai pengguna berbayar layanan OpenAI, saya merasa punya sedikit hak moral untuk menjelajah teknologi ini.

Bukan untuk memanfaatkan secara serampangan, melainkan untuk melihat sejauh apa teknologi bisa “meniru” rasa.

Saya pun mengasumsikan bahwa segala urusan legalitas dan etika berada di ranah penyedia jasa, sebuah asumsi yang mungkin terlalu naif, tapi juga cukup umum di kalangan pengguna.

Saya membayangkannya seperti seni kaligrafi.

Dulu, kaligrafi ditulis tangan dengan penuh kekhusyukan. Kini, kita bisa menirunya dalam hitungan detik menggunakan software vektor.

Tak ada yang menggugat Adobe Illustrator ketika ia mampu mereplikasi huruf-huruf Arab dengan lekukan sempurna.

Yang dulu sakral dan rumit, kini menjadi template dan preset.

Namun, ada satu perbedaan penting.

Seniman kaligrafi klasik sudah lama wafat. Warisan mereka telah menjadi milik publik, lebur ke dalam kebudayaan umum.

Tapi bagaimana dengan Hayao Miyazaki, Makoto Shinkai, atau ilustrator-ilustrator kontemporer lainnya yang masih hidup, masih berkarya, dan kini bisa melihat gaya mereka dipakai ulang oleh mesin?

Apakah ini penghormatan? Atau perampokan estetika?

Saya tidak punya jawaban yang pasti.

Namun, saya teringat satu kutipan dari Matt Mullenweg, pendiri WordPress, “Code is poetry.”
Kode program adalah puisi.

Ia diciptakan dengan struktur, keindahan, dan niat. Ia bisa menggerakkan perasaan, sama seperti lukisan atau musik.

Maka, para ilmuwan yang menciptakan model AI, seperti GPT atau DALL·E, sejatinya sedang menciptakan bentuk seni juga, hanya saja medianya bukan kanvas, melainkan kumpulan angka dan logika.

Pertanyaannya besarnya, Apakah para pekerja seni melihat kode sebagai bentuk seni juga?
Atau seni tetap harus berasal dari tangan manusia yang berkeringat, berdarah, dan bergumul dengan kesunyian?

Teknologi terus bergerak maju, dan perdebatan ini belum akan selesai dalam waktu dekat. Tapi bagi saya pribadi, AI adalah alat, seperti kuas, kamera, atau piano.

Yang membedakan hanyalah siapa yang memegangnya, dan untuk tujuan apa.

Dan sementara itu, saya akan terus bermain. Menikmati benturan antara Ghibli, Makoto, dan model AI. Karena siapa tahu, dari sana justru lahir bentuk seni baru yang belum sempat kita bayangkan.

Explorasi atau Exploitasi ?

Apa yang saya lakukan ini mungkin tidak sepenuhnya aman dari kritik, dan itu wajar.

Dunia seni selalu dibangun dari perdebatan. Dari pertanyaan-pertanyaan yang tak selesai.

Tapi satu hal yang pasti, teknologi sudah di tangan kita, dan tidak mungkin kita menutup mata.

Justru dengan eksplorasi terbuka dan bertanggung jawab, kita bisa ikut mengarahkan ke mana teknologi ini melangkah.

Mungkin hari ini kita cuma bermain dengan gambar. Tapi besok, kita bisa menciptakan narasi, ruang, bahkan dunia baru yang lebih kaya dengan mesin sebagai rekan, bukan ancaman.

Narsistik Akut, Relasi NPD dan Dark Triad

Kali ini kita bakal bahas soal fenomena Narcissistic Personality Disorder (NPD) alias gangguan kepribadian narsistik, dan gimana sih kaitannya sama konsep “Dark Triad”, cara mengenali dan menyikapinya.

Belakangan ini, istilah narsis sering banget berseliweran, terutama di media sosial, tapi apa betul itu sekadar suka selfie atau ada gangguan kepribadian serius di baliknya?

Apa Itu NPD (Narcissistic Personality Disorder)?

Secara sederhana, Narcissistic Personality Disorder (NPD) adalah gangguan kepribadian yang ditandai dengan rasa percaya diri berlebihan, kebutuhan yang besar akan pujian atau pengakuan, dan kurangnya empati pada orang lain.

Penderita NPD cenderung melihat diri sendiri jauh lebih penting daripada orang lain, dan mereka sering terobsesi pada citra “sempurna” di hadapan publik.

Butuh pujian ekstra, seseorang dengan NPD butuh pengakuan dan pujian nyaris konstan. Kalau enggak dapet, mereka bisa “ngambek” atau menganggap orang lain “enggak paham” betapa hebatnya mereka.

Merasa spesial atu unik ,mereka menganggap dirinya lebih baik dan punya hak istimewa. Kadang bikin orang lain ilfeel, karena kesannya sok penting.

Nir empati, minim rasa peduli terhadap perasaan atau situasi orang lain, tapi berekspektasi orang lain paham kebutuhan mereka.

Manipulatif, dalam proses mempertahankan citra sempurna, mereka enggak segan-segan memanipulasi orang lain, entah dengan drama, kebohongan, atau janji palsu.

Selalu mendominasi percakapan, cenderung mendominasi topik pembicaraan, menggiring fokus kembali pada diri mereka sendiri.

Apa Itu Dark Triad?

Nah, “Dark Triad” adalah istilah psikologi untuk menyebut tiga sifat kepribadian yang “gelap”,

Narcissism, Individu yang cenderung menunjukkan sifat-sifat seperti kebesaran diri, merasa berhak, dominasi, narsisme memiliki korelasi yang signifikan dengan psikopati.

Machiavellianism, manipulatif, licik, oportunis. Orang-orang yangcenderung bersikap dingin, tidak berprinsip, dan sangat termotivasi oleh kepentingan pribadi. Mereka memandang manipulasi sebagai kunci kesuksesan hidup dan bertindak sesuai dengan pandangan tersebut.

Psychopath, Kurang rasa bersalah/penyesalan, impulsif, antisosial. Psikopat dianggap sebagai sifat paling jahat dalam Dark Triad. Individu psikopat menunjukkan tingkat empati yang rendah, serta impulsivitas dan pencarian sensasi yang terus menerus.

Kalau NPD adalah gangguan kepribadian narsistik, maka narcissism di “Dark Triad” adalah salah satu komponennya. Ketika narsisme “dikawinkan” dengan Machiavellianism dan Psychopath, lahirlah paket kepribadian yang cenderung menimbulkan dampak buruk bagi lingkungan sekitar.

Relasi NPD dengan Dark Triad

NPD merupakan salah satu bentuk narsisme patologis. Jadi, kalau seseorang punya NPD, kemungkinan besar (meski enggak selalu) ada sisi gelap narsistiknya yang potensial terlibat di dalam ciri Machiavellian atau Psychopath.

silhouette of people on a concert

Orang yang narsistik tapi juga Machiavellian biasanya pandai memanipulasi orang lain demi keuntungan pribadi, mereka “haus” pengakuan sekaligus lihai memperalat.

Kalau sudah ada “bumbu” psychopath, bisa lebih parah karena mereka cenderung enggak punya rasa bersalah dan kurang empati.

Fenomena NPD di Indonesia

Di Indonesia, fenomena NPD semakin kelihatan di era media sosial, paling mudah bisa dilihat pada lini masa media sosial kita.

Orang berlomba pamer kesempurnaan, punya barang branded, traveling mewah, pamer pacar atau pasangan “idaman”.

Ekspektasi “likes” dan “comment” yang memuji juga bisa mendorong orang buat melakukan apa saja demi mengangkat citra diri.

Enggak jarang, kita temui figur publik atau influencer yang ujung-ujungnya ketahuan memanipulasi data, bohong soal pencapaian, atau bikin drama demi viralitas.

Belum lagi budaya “gengsi” dan “jaim” (jaga imej) yang kuat di Indonesia. Alhasil, banyak orang cenderung jaga “pencitraan” abis-abisan, hingga lupa ngebangun relasi yang nyata dan sehat.

Dari situ, perilaku narsistik bisa berkembang lebih lanjut, bahkan berpotensi mengarah ke NPD kalau dibiarkan.

Cara Mengenali Si “Narsistik Akut”

Selalu bicara tentang diri sendiri, obrolan jadi “monolog” searah, kalau pun kita nyoba topik lain, ujung-ujungnya balik ke cerita dirinya.

Anti kritik, sekalipun kritiknya membangun, mereka mudah marah atau defensif, bahkan menyerang balik.

Merendahkan orang Lain, untuk merasa lebih baik, mereka bisa aja merendahkan atau mengabaikan kontribusi orang lain.

Sulit berempati, saat kamu curhat soal masalah, respons mereka datar atau malah membelokkan topik ke hal lain yang berkaitan dengan dirinya.

Kalau kita menemukan lebih dari satu ciri ini secara konsisten pada seseorang, bisa jadi tanda-tanda menuju NPD (tetap butuh diagnosis profesional, ya).

Bagaimana Menyikapi Orang dengan NPD?

Tetap tenang dan rasional, saat menghadapi orang narsistik, kendalikan emosi kita. Jangan mudah terpicu untuk berantem, karena mereka juara bikin orang emosi.

Buat batasan jelas, tentukan batasan, misalnya, kita enggak mau obrolan penuh gosip atau manipulasi. Sampaikan batasan ini dengan tenang, tapi tegas.

Jangan terjebak drama, kadang mereka bikin drama agar mendapat simpati atau perhatian. Tetaplah obyektif. Jangan kebawa atau malah ikut-ikutan “gerecokin”.

Konsultasi profesional, jika kamu sering stres, tertekan, atau merasa dimanipulasi terus-menerus, pertimbangkan buat ngobrol dengan psikiater. Mereka bisa bantu kasih strategi coping yang tepat.

Perkuat dukungan orang sekitar, jalin relasi yang sehat dengan keluarga, sahabat, atau komunitas. Dukungan emosional itu penting biar kita enggak gampang diombang-ambing oleh si narsistik.

Apa yang Harus Dilakukan Bila Diri Kita Sendiri Mengarah ke NPD?

Bisa jadi kita sadar kita sering “haus” pujian, gampang tersinggung kalau dikritik, atau suka ngeremehin orang lain. Kalau udah mulai ngeliat tanda-tanda ini, enggak ada salahnya cek dan konsultasi sama profesional.

Psikolog yang berkualitas bisa kasih wawasan, latihan, dan terapi yang membantu kita mengenali dan mengolah pola pikir atau perilaku narsistik itu.

Ingat, bukan berarti kita “gagal total” atau “kiamat” sebagai manusia. Dengan terapi, dukungan orang terdekat, dan kesadaran diri yang kuat, perilaku NPD bisa dikelola, kok.

Akhirnya …

Narcissistic Personality Disorder (NPD) bukan sekadar suka selfie atau pamer di media sosial, tapi gangguan kepribadian yang serius dan bisa berdampak buruk pada relasi sosial. Fenomena NPD di Indonesia makin tampak dengan kuatnya budaya pencitraan dan media sosial.

NPD hanyalah satu dari tiga unsur sifat gelap “Dark Triad” (bersama Machiavellianism dan Psychopathy) yang bisa bikin seseorang jadi benar-benar manipulatif dan minim empati.

Buat menghadapi orang dengan perilaku narsistik atau bahkan NPD, kita perlu pintar-pintar mengelola emosi, membuat batasan, dan jangan ragu meminta bantuan profesional jika dibutuhkan

Dan kalau kita sendiri merasa punya kecenderungan ke arah itu, enggak ada salahnya check up ke psikolog.

Hidup itu singkat, jadi yuk kita bangun diri dan relasi yang lebih sehat, tanpa harus bergantung pada pujian dan ekspektasi orang lain.

Referensi,

Narsistic Personality Disorder
Dark Triad (Wikipedia)
What Is Narcissistic Personality Disorder?
Dark Triad (Alo Dokter)

Melihat Angka 6666, Kebetulan atau Pesan Tersembunyi?

Belum lama ini, saya mendapati diri saya melihat angka 6666 dua kali secara berurutan dalam waktu yang cukup dekat.Awalnya, saya hanya menganggapnya sebagai kebetulan belaka.

Namun, semakin saya memikirkannya, semakin saya merasa angka ini memiliki daya tarik tersendiri.Apakah ini hanya fenomena biasa, atau ada pesan yang ingin disampaikan melalui angka ini?

Dengan rasa iseng dan penasaran untuk intermezo, saya mencoba mencari maknanya dari berbagai literatur dan budaya.

Makna Angka 6666 dalam Numerologi

Dalam dunia numerologi, angka 6 sering kali diasosiasikan dengan harmoni, cinta, dan tanggung jawab. Ketika angka ini muncul empat kali, maknanya dianggap semakin kuat, menjadi pengingat untuk menjaga keseimbangan dalam hidup.

Bisa jadi, angka 6666 adalah pesan untuk memperhatikan keseimbangan emosional, spiritual, dan fisik, terutama jika sedang menghadapi tantangan besar.

Numerologi modern sering mengartikan angka ini sebagai dorongan untuk menyelaraskan berbagai aspek kehidupan, termasuk hubungan dengan orang-orang terdekat.

Keberuntungan dalam Budaya Timur

Beralih ke kebudayaan Timur, khususnya di Tiongkok, angka 6 dikenal sebagai simbol keberuntungan. Dalam bahasa Mandarin, pengucapan angka 6 (liù) terdengar seperti kata yang berarti “lancar” atau “mudah.” Maka, kombinasi seperti 6666 sering dianggap membawa kelimpahan keberuntungan dan kemudahan dalam hidup.

Tak heran, angka ini kerap digunakan dalam bisnis atau nomor telepon untuk menarik rezeki.

Bagi masyarakat Tiongkok, melihat angka 6666 bisa jadi adalah pertanda baik—sebuah undangan untuk tetap melangkah maju dengan lancar, seperti aliran sungai yang tenang.

Transformasi dalam Perspektif Kristen

Di sisi lain, tradisi Kristen memberikan makna yang sedikit berbeda. Kita mungkin akrab dengan angka 666 sebagai simbol “angka binatang” yang disebutkan dalam Kitab Wahyu. Namun, ketika angka ini bertambah menjadi 6666, maknanya melampaui stigma negatif itu.

Beberapa interpretasi modern menganggap angka ini sebagai simbol transformasi, sebuah perjalanan menuju sesuatu yang lebih baik dan lebih bermakna.

Mungkin, angka ini mengingatkan kita bahwa bahkan di tengah tantangan, selalu ada peluang untuk berubah dan bertumbuh.

Pesan Spiritual atau Sekadar Kebetulan?

Dalam spiritualitas modern, angka-angka berulang seperti 6666 sering dianggap sebagai “angka malaikat” (angel numbers).

Mereka yang percaya pada fenomena ini mengartikan 6666 sebagai pesan untuk lebih fokus pada apa yang benar-benar penting, seperti keluarga, kesehatan, atau keseimbangan batin.

Namun, dari sudut pandang psikologi, fenomena melihat angka berulang bisa jadi hanyalah hasil dari apophenia—kecenderungan manusia untuk menemukan pola dalam hal-hal yang sebenarnya acak.

Meski begitu, hal ini tetap menarik karena momen seperti ini sering mengundang kita untuk berhenti sejenak dan merenungkan perjalanan hidup.

Refleksi Pribadi

Melihat angka 6666 dua kali secara berurutan membuat saya bertanya-tanya: apakah ini sebuah kebetulan, atau ada sesuatu yang lebih besar di baliknya?

Terlepas dari apa pun maknanya, angka ini telah memberi saya momen refleksi—sebuah kesempatan untuk melihat kembali apa yang perlu saya perhatikan dalam hidup.

Apakah Anda pernah mengalami hal serupa? Mungkin, seperti saya, Anda juga menemukan makna yang lebih dalam ketika menghadapi hal-hal yang tampaknya kebetulan.

‘Brain Rot’, Kata yang Menggambarkan Era Digital yang Menguras Pikiran dan Mental

Setiap tahun, kata-kata yang mencerminkan suasana dan perubahan sosial sering muncul ke permukaan.

Tahun ini, Oxford University Press, penerbit Kamus Bahasa Inggris Oxford, memilih kata “brain rot” sebagai Word of the Year 2024 alias pilihan Kata Tahun 2024.

Istilah “brain rot” merujuk pada fenomena kemunduran mental atau intelektual yang sering dikaitkan dengan konsumsi konten digital berlebih, terutama konten trivial yang tersebar luas di media sosial.

Trivial memiliki arti “remeh”, “biasa-biasa”, “tidak penting”. Kata ini mengacu pada sifat informasi yang dikandung suatu objek.

Pilihan ini bukan hanya soal kata-kata; ini adalah cerminan dari dunia modern yang kita jalani.

“Brain rot” menjadi populer di kalangan generasi muda yang kerap menggunakannya di media sosial seperti TikTok untuk menggambarkan bagaimana konsumsi konten yang berlebihan dapat menyebabkan penurunan fokus dan produktivitas.

Bahkan, menurut data Oxford, penggunaan istilah ini melonjak hingga 230% dalam setahun terakhir.

Sejarah “Brain Rot”, Dari Walden ke TikTok

Istilah “brain rot” sebenarnya bukan sesuatu yang baru. Penampilan awalnya tercatat pada tahun 1854 dalam karya klasik Walden oleh Henry David Thoreau.

Dalam bukunya, Thoreau menggunakan istilah ini untuk menyindir masyarakat yang terlalu sibuk memperbaiki hal-hal fisik seperti “potato-rot” tetapi mengabaikan kerusakan mental yang lebih luas dan merusak.

Thoreau was criticizing what he saw as a decline in intellectual standards, with complex ideas being less highly regarded, and compared this to the 1840s “potato rot” in Europe.

Kini, dalam era digital, istilah ini mengalami kebangkitan dengan makna yang lebih relevan. Ia menjadi kritik budaya terhadap bagaimana konten digital sering kali menguras kemampuan mental dan pemikiran kita.

Tren Bahasa dan “Churn Linguistik”

Pemilihan “brain rot” juga menggambarkan perubahan cepat dalam bahasa yang didorong oleh media sosial. Bahasa kini menjadi lebih cair, dengan istilah-istilah yang muncul, viral, dan terkadang pudar dalam waktu singkat.

Kasper Grathwohl, Presiden Oxford Languages, menyebut tren ini sebagai hasil kreativitas generasi muda yang “menyindir tren bahasa setelah mereka sendiri menciptakannya.”

Contohnya adalah istilah lain seperti “lore” dan “slop”, yang juga masuk dalam daftar pendek tahun ini. Kata-kata lama ini diberi makna baru oleh generasi muda:

“Lore”, yang sebelumnya merujuk pada tradisi atau cerita turun-temurun, saat ini sering digunakan untuk menggambarkan narasi fiksi atau sejarah pribadi.

“Slop”, yang dulu berarti makanan babi, kini menjadi istilah baru untuk menggambarkan konten berbasis AI yang dianggap berkualitas rendah dan tidak autentik.

“Brain Rot” dan Refleksi Era Digital

Kehadiran “brain rot” sebagai Word of the Year 2024 mencerminkan kekhawatiran yang lebih dalam tentang kehidupan digital kita.

Dalam dunia yang dibanjiri informasi dan hiburan instan, istilah ini menggarisbawahi kebutuhan untuk mengambil jeda dan melindungi kesehatan mental dari serangan konten yang terus-menerus.

Namun, seperti yang disampaikan Oxford, pemilihan Word of the Year 2024 ini juga bertujuan untuk memicu diskusi, bukan sekadar menjadi tren.

Ini adalah ajakan untuk berpikir lebih kritis tentang bagaimana bahasa mencerminkan kehidupan kita, terutama di era digital yang penuh distraksi ini.

Renungan …

Fenomena “brain rot” bukan hanya tentang istilah atau tren bahasa. Ini adalah potret masyarakat yang tengah mencari cara untuk bertahan di tengah arus deras digitalisasi.

Bagi banyak orang, mungkin ini adalah pengingat untuk mengambil langkah mundur, menyaring konten yang kita konsumsi, dan memberi ruang bagi pemikiran yang lebih bermakna.

Bagaimana menurut Anda? Apakah istilah seperti “brain rot” relevan dengan pengalaman Anda dalam menghadapi dunia digital saat ini?

Referensi

Anthony Bourdain; Kisah Hidup, Pencapaian, dan Pengaruhnya dalam Kultur Arus Utama

Anthony Bourdain adalah salah satu sosok paling berpengaruh di dunia kuliner dan media. Kehidupannya penuh dengan petualangan, kreativitas, dan perjuangan batin yang mendalam.

Dalam biografi “Down and Out in Paradise: The Life of Anthony Bourdain,” kita mendapatkan gambaran lengkap tentang perjalanan hidupnya, dari masa remaja hingga puncak ketenaran, serta akhir hidupnya yang tragis.

Berikut ini adalah kisah hidup Bourdain yang penuh warna, pencapaian luar biasanya, serta pengaruh besar yang ia tinggalkan dalam kultur arus utama.

Awal Kehidupan dan Masa Remaja (1956 – 1974)

Anthony Michael Bourdain lahir pada 25 Juni 1956 di Kota New York dan tumbuh di Leonia, New Jersey.

Keluarganya sangat menghargai seni dan pendidikan; ayahnya, Pierre Bourdain, adalah seorang eksekutif di industri musik, sementara ibunya, Gladys Bourdain, bekerja sebagai editor di The New York Times.

Bourdain muda, kanan, berfoto dengan ayahnya, Pierre, dan saudaranya, Christopher, di Long Beach Island, New Jersey pada tahun 1970. Pierre Bourdain adalah seorang eksekutif musik di Columbia Records. Istrinya, Gladys, adalah seorang editor untuk The New York Times

Meskipun tumbuh dalam lingkungan yang intelektual dan nyaman, Bourdain muda sering merasa terasing dan gelisah.

Saat remaja, Bourdain menemukan pelarian dalam sastra dan film, yang kemudian berkembang menjadi ketertarikan pada dunia kuliner.

Perjalanan keluarga ke Prancis ketika Bourdain masih remaja menjadi momen penting dalam hidupnya.

Di sana, ia mencicipi tiram mentah untuk pertama kalinya—pengalaman yang ia gambarkan sebagai “wahyu” pencerahan yang memantik hasrat dalam dirinya untuk mengeksplorasi makanan dan budaya, sebuah minat yang kelak akan mendefinisikan seluruh kariernya.

Pendidikan dan Awal Karir Kulinernya (1975 – 1997)

Setelah menyelesaikan sekolah menengah, Bourdain melanjutkan pendidikan ke Vassar College, tetapi ia segera menyadari bahwa kehidupan akademik tidak cocok untuknya.

Ia kemudian keluar dan mendaftar di Culinary Institute of America (CIA) pada tahun 1975. Di CIA, yang pastinya bukan sebuah badan inteligen yang memiliki singkatan sama, Bourdain menemukan panggilan hidupnya dan mulai mengasah keterampilannya sebagai koki.

Setelah lulus dari CIA pada tahun 1978, Bourdain memulai karirnya di dapur restoran-restoran di kotas New York.

Bourdain, kiri, terlihat pada tahun 1970-an bersama sesama koki di Provincetown, Massachusetts. Ia kemudian masuk sekolah kuliner sebelum bekerja di berbagai restoran di kota New York. UPPA/Photoshot/Newscom

Tahun-tahun ini penuh dengan kerja keras, tetapi juga memperkenalkan Bourdain pada dunia bawah tanah penggunaan narkoba di kalangan pekerja restoran.

Ia terlibat dalam penggunaan heroin, kokain, dan zat-zat lainnya—sebuah perjuangan yang ia ceritakan dengan kejujuran brutal dalam bukunya.

Pada akhir 1980-an dan awal 1990-an, Bourdain bekerja di berbagai restoran, termasuk Supper Club, One Fifth Avenue, dan Sullivan’s, sebelum akhirnya menjadi koki eksekutif di Brasserie Les Halles pada tahun 1998.

Di Les Halles, Bourdain menemukan momentumnya, baik sebagai koki maupun sebagai penulis, dan mulai menulis tentang pengalamannya di dunia kuliner, yang kelak akan mengubah hidupnya.

Terobosan dengan “Kitchen Confidential” dan Perjalanan Menuju Ketenaran (1998 – 2000)

Pada tahun 1999, Bourdain menulis artikel “Don’t Eat Before Reading This” untuk The New Yorker.

Artikel ini memberikan pandangan tanpa filter tentang dunia dapur restoran, mengungkap sisi gelap industri kuliner yang jarang diketahui publik.

Bourdain berpose di apartemennya di New York pada tahun 1997. Tiga tahun kemudian, ia menerbitkan buku terlarisnya “Kitchen Confidential: Adventures in the Culinary Underbelly.” Jack Manning/The New York Times/Redux

Artikel ini menjadi dasar bagi bukunya, “Kitchen Confidential: Adventures in the Culinary Underbelly,” yang diterbitkan pada tahun 2000.

Kitchen Confidential segera menjadi bestseller internasional, mengubah Bourdain dari seorang koki New York menjadi selebriti global.

Buku ini bukan hanya kisah tentang makanan; itu adalah pandangan jujur tentang kehidupan di balik dapur, penuh dengan cerita tentang penggunaan narkoba, tekanan ekstrem, dan solidaritas di antara pekerja restoran.

Keberanian dan gaya penulisan Bourdain yang lugas dan sederhana membuatnya menjadi sosok yang sangat dihormati para pekerja dan pelaku di dunia kuliner.

Transisi ke Televisi dan Pencapaian Global (2001 – 2012)

Kesuksesan Kitchen Confidential membuka pintu bagi Bourdain ke dunia televisi. Pada tahun 2001, ia memulai acara “A Cook’s Tour” di Food Network, yang memperkenalkan penonton pada petualangan kulinernya di seluruh dunia.

Meskipun acara ini sukses, Bourdain merasa terbatasi oleh format yang terlalu komersial, dan ia mencari kesempatan lain untuk mengekspresikan dirinya dengan lebih bebas.

Kesempatan itu datang dalam bentuk “No Reservations,” sebuah acara yang mulai tayang di Travel Channel pada tahun 2005.

No Reservations memberikan Bourdain kebebasan untuk menjelajahi tempat-tempat yang tidak biasa, dan menceritakan kisah-kisah di balik makanan dan budaya yang ia temui.

Acara ini menjadi fenomena global, memenangkan banyak penghargaan, termasuk dua Primetime Emmy Awards.

Dalam No Reservations, Bourdain menunjukkan sisi lain dari dunia kuliner, menyoroti tempat-tempat yang jarang dikunjungi oleh wisatawan dan memberikan suara kepada orang-orang kecil, terpinggirkan yang jarang didengar.

Dari pasar malam di Asia hingga desa-desa terpencil di Afrika, Bourdain membawa penonton pada perjalanan yang mendalam dan penuh makna.

Kehidupan Pribadi: Pernikahan, Perceraian, dan Pergolakan Batin (1985 – 2017)

Di balik layar, kehidupan pribadi Bourdain penuh dengan tantangan. Ia menikah dengan Nancy Putkoski pada tahun 1985, tetapi pernikahan mereka berakhir dengan perceraian pada tahun 2005.

Karir Bourdain yang semakin sibuk membuatnya sering jauh dari rumah, yang akhirnya merenggangkan hubungan mereka.

Tak lama setelah perceraian, Bourdain bertemu dengan Ottavia Busia, seorang profesional seni bela diri Italia. Mereka menikah pada tahun 2007 dan memiliki seorang putri, Ariane.

Pernikahan ini membawa kebahagiaan baru bagi Bourdain, tetapi juga menghadirkan tantangan baru.

Karirnya yang semakin sibuk membuatnya sulit untuk menyeimbangkan kehidupan pribadi dan profesional, yang pada akhirnya menyebabkan perpisahan secara baik-baik dan penuh dengan kedamaian pada tahun 2016.

Pada tahun 2017, Bourdain mulai menjalin hubungan dengan aktris Asia Argento, yang ia temui selama pembuatan Parts Unknown di Roma.

Hubungan mereka menjadi sorotan media, terutama karena Argento adalah salah satu pemimpin gerakan #MeToo.

Meskipun hubungan mereka tampak romantis dari luar, di dalamnya terdapat dinamika yang rumit dan intens, yang menambah tekanan pada hidup Bourdain.

“Parts Unknown” dan Puncak Karir (2013 – 2018)

Pada tahun 2013, Bourdain meluncurkan acara baru, “Parts Unknown,” di CNN. Acara ini melampaui eksplorasi kuliner dan memasuki wilayah politik, sosial, dan budaya yang kompleks.

Parts Unknown adalah puncak dari semua yang Bourdain pelajari selama bertahun-tahun, dan ia menggunakan platform ini untuk memberikan suara kepada mereka yang sering kali terabaikan.

Parts Unknown tidak hanya membawa penonton ke tempat-tempat eksotis, tetapi juga menyelami isu-isu global yang sering diabaikan oleh media arus utama.

Bourdain menggunakan acara ini untuk mengeksplorasi budaya yang terpinggirkan dan berbicara tentang ketidakadilan sosial, politik, dan ekonomi yang terjadi di berbagai belahan dunia.

Acara ini memenangkan banyak penghargaan, termasuk beberapa Emmy Awards dan Peabody Award.

Bourdain bertemu dengan Presiden Barack Obama di Hanoi, Vietnam, pada tahun 2016.

Salah satu momen paling berkesan dalam Parts Unknown adalah ketika Bourdain bertemu dengan Presiden Barack Obama di Hanoi, Vietnam, pada tahun 2016.

Pertemuan ini terjadi di sebuah warung makan sederhana, di mana mereka berbicara tentang budaya, politik, dan kehidupan sambil menikmati hidangan lokal.

Momen ini menjadi simbol dari pendekatan Bourdain terhadap makanan sebagai jembatan untuk memahami budaya dan manusia.

Dalam wawancara ini, Bourdain menunjukkan kemampuannya untuk menggabungkan humor, wawasan mendalam, dan empati, menjadikannya salah satu episode yang paling berkesan dalam sejarah televisi kuliner.

Pergulatan dengan Kesehatan Mental dan Ketergantungan pada Obat-Obatan

Meskipun Bourdain menikmati kesuksesan besar dalam karirnya, ia terus bergulat dengan masalah kesehatan mental dan ketergantungan pada obat-obatan.

Martin Schoeller / AUGUST

Penggunaan narkoba telah menjadi bagian dari hidupnya sejak masa muda, dan meskipun ia berhasil menghentikan penggunaan heroin, pergulatan dengan kecanduan dan depresi tetap menjadi bayang-bayang dalam hidupnya.

Bourdain berbicara secara terbuka tentang perjuangan ini, baik dalam wawancara maupun dalam tulisannya.

Ia menyadari bahwa kesuksesan dan ketenaran tidak selalu membawa kebahagiaan atau kedamaian batin.

Bahkan di puncak karirnya, Bourdain sering merasa terasing dan tertekan, dan perjuangan ini akhirnya menjadi terlalu berat untuk ditanggung.

Akhir Tragis dan Warisan yang Tinggal (2018)

Pada tanggal 8 Juni 2018, dunia dikejutkan oleh berita kematian Anthony Bourdain. Ia ditemukan meninggal dunia di kamar hotelnya di Kaysersberg, Prancis, saat sedang syuting episode Parts Unknown.

Dugaan awal menunjukkan bahwa Bourdain meninggal karena bunuh diri, dan kabar ini menghancurkan banyak hati para penggemarnya di seluruh dunia.

Bourdain dan istri keduanya, Ottavia, membuat tato ular bersama di South Beach, Florida, pada tahun 2011. Keduanya bercerai pada tahun 2016

Kepergiannya yang tiba-tiba memicu diskusi luas tentang kesehatan mental dan tekanan yang sering kali tidak terlihat yang dialami oleh tokoh-tokoh publik.

Meskipun Bourdain tampak sebagai sosok yang kuat dan penuh semangat di depan kamera, ia berjuang melawan kegelapan dalam dirinya sendiri, yang pada akhirnya kegelapan ini berhasil mengalahkan cahaya kehidupan Bourdain.

Pengaruh Anthony Bourdain dalam Kultur Arus Utama

Anthony Bourdain tidak hanya mencapai kesuksesan besar dalam dunia kuliner dan televisi, tetapi juga meninggalkan pengaruh yang mendalam terhadap kultur arus utama atau budaya pop global.

Dia mengubah cara kita memandang makanan di televisi dengan menyajikan pendekatan yang lebih naratif dan investigatif, di mana makanan bukan hanya objek, tetapi juga alat untuk mengeksplorasi budaya, sejarah, dan isu-isu sosial.

Bourdain menunjukkan bahwa makanan bisa menjadi pintu masuk untuk memahami dunia dengan cara yang lebih kompleks dan mendalam.

Selain itu, Bourdain menginspirasi generasi baru pelancong untuk mencari pengalaman yang lebih autentik dan mendalam.

Ia mendorong orang untuk menjelajahi sudut-sudut dunia yang kurang dikenal, tempat di mana mereka bisa terhubung langsung dengan budaya lokal. Ini memicu tren perjalanan yang lebih berfokus pada pengalaman lokal yang asli dan pemahaman budaya yang lebih dalam.

Salah satu dampak terbesar Bourdain adalah kemampuannya untuk memberikan platform kepada orang-orang dan tempat-tempat yang sering kali diabaikan oleh media arus utama.

Bourdain mengunjungi negara-negara yang sedang mengalami konflik atau krisis, memberikan ruang bagi suara-suara lokal untuk berbicara tentang perjuangan mereka, sering kali dalam konteks yang sangat manusiawi dan empatik.

Dengan cara ini, Bourdain membantu meningkatkan kesadaran global tentang isu-isu yang kurang mendapat perhatian, seperti dampak perang, ketidakadilan sosial, dan kemiskinan.

Pada salah satu acara Bourdain, berani menkritik praktek aristokrasi kerajaan Inggris dengan menolak melakukan toast alias sulang bersama.

Bourdain juga mengajarkan bahwa makanan adalah lebih dari sekadar bahan bakar; itu adalah cerminan dari budaya, identitas, dan sejarah.

Melalui acara-acaranya, Bourdain menunjukkan bagaimana makanan bisa menjadi simbol dari kebanggaan nasional, perjuangan kelas, atau warisan budaya.

Dia menantang penonton untuk melihat makanan dengan cara yang berbeda—sebagai alat untuk memahami kehidupan orang lain, mengenali perbedaan, dan merayakan keanekaragaman.

Gaya narasi Bourdain yang jujur, penuh empati, dan sering kali brutal, menciptakan standar baru dalam pembuatan konten televisi dan digital.

Banyak acara dan dokumenter yang muncul setelah Parts Unknown terinspirasi oleh pendekatan Bourdain yang berfokus pada cerita yang otentik dan mendalam.

Anthony Bourdain bersama komedian W. Kamau Bell di Kenya.Cable News Network: Time Warner Company

Ia membuka jalan bagi lebih banyak pembuat konten untuk menggabungkan elemen-elemen jurnalistik, dokumenter, dan narasi pribadi dalam karya mereka, menciptakan genre baru yang melampaui batasan-batasan tradisional dalam televisi kuliner.

Namun, pengaruh Bourdain tidak hanya terbatas pada makanan dan perjalanan. Ia juga menyuarakan isu-isu sosial yang penting.

Misalnya, keterlibatannya dalam gerakan #MeToo melalui hubungannya dengan Asia Argento menunjukkan komitmennya terhadap keadilan gender dan mendukung korban pelecehan.

Dia juga sering kali menggunakan platformnya untuk mengadvokasi hak-hak pekerja, mengkritik eksploitasi dalam industri makanan, dan mendukung gerakan untuk pangan yang adil dan berkelanjutan.

Di samping itu, Anthony Bourdain menjadi figur yang mewakili keberanian untuk menjalani hidup sesuai dengan prinsip dan hasrat pribadi.

Kepribadiannya yang tidak takut mengambil risiko dan selalu ingin tahu, membuatnya menjadi panutan bagi banyak orang di seluruh dunia.

Generasi baru koki, penulis, dan pembuat film sering menyebut Bourdain sebagai inspirasi mereka, baik dalam cara mereka bekerja maupun dalam cara mereka memahami dunia.

Salah satu warisan Bourdain yang tak terduga namun signifikan adalah peningkatan kesadaran tentang pentingnya kesehatan mental.

I’ve been wanting to paint Anthony Bourdain for years, glad the stars finally aligned. Thank you Pinos Vino e Cucina for the perfect wall. – Scott Marsh

Kepergiannya yang mendadak menyoroti realitas bahwa masalah mental dapat mempengaruhi siapa saja, bahkan mereka yang tampak sukses dan bahagia di permukaan.

Diskusi tentang kesehatan mental yang muncul setelah kematiannya telah membantu mengurangi stigma dan mendorong lebih banyak orang untuk berbicara secara terbuka tentang perjuangan mereka sendiri.

Warisan Anthony Bourdain

Warisan Anthony Bourdain adalah pengingat bahwa kultur arus utama , alias budaya dan media pop dapat menjadi alat yang kuat untuk menghubungkan orang-orang di seluruh dunia, memperkenalkan ide-ide baru, dan mendorong diskusi tentang isu-isu penting.

Melalui karya-karyanya, Bourdain membantu memperluas wawasan kita tentang dunia dan menginspirasi generasi baru untuk melihat lebih jauh dan mendalami lebih dalam dalam segala hal yang mereka lakukan.

Pengaruh Bourdain dalam budaya pop akan terus terasa, baik melalui karya-karya yang ia tinggalkan, maupun melalui cara ia menginspirasi generasi baru untuk hidup dengan rasa ingin tahu, keberanian, dan ketulusan.

Ia menunjukkan bahwa kita semua memiliki kekuatan untuk membuat perubahan dalam cara kita memandang dunia dan berinteraksi dengan orang lain, menjadikan dunia ini tempat yang lebih terbuka, inklusif, dan penuh rasa hormat terhadap perbedaan.

Referensi :

Musik Klasik Membosankan ?

Banyak riset yang menyatakan musik klasik akan membantu meningkatkan konsentrasi, mengurangi stres, dan meningkatkan kemampuanmu untuk menyerap dan menganalisis informasi.

Manfaat ilmiah mendengarkan musik klasik saat belajar telah dipilih oleh banyak orang.

Tetapi seringkali musik klasik membuat bosan pendengar pertamanya, mungkin ini karena begitu banyaknya genre dan item musik klasik kadang dapat yang sulit dinikmati.

Kebetulan saya menemukan koleksi musik klasik yang menyenangkan alias tidak membosankan. Kumpulan musik ini dikelola oleh Quintessence Of Classic.

Saya menggunakan latar musik ini ketika sedang mengerjakan proyek prototype dirumah.

Kebetulan saya telah merancang dan membangun sistem audio lumayan serius dirumah, menggunakan komputer dan kabel optik.

Klik tautan YouTube diatas dan selamat menikmati musik klasik, semoga betah.

Mayonaka no Door, Miki Matsubara dan Pelajaran Untuk Menikmati Kehidupan.

Baru-baru ini, saya mendengar lagu yang berberapa kali saya dengar menjadi latar posting konten media sosial, lagu yang begitu ringan, renyah, menyentuh dan selalu membuat penasaran karena sangat nyaman ditelinga, “Mayonaka no Door (Stay With Me)” karya Miki Matsubara.

Miki Matsubara – Mayonaka no Door

Lantunan suaranya yang ringan dan renyah, ditambah dengan alunan melodi yang memikat, membuat saya penasaran ketika sering dengan lagu ini jadi latar.

Namun, di balik keindahan lagu ini, tersimpan kisah hidup sang penyanyi yang begitu tragis dan penuh penyesalan.

Sudah menjadi kebiasaan bila saya menyukai sesuatu, biasanya saya selalu penasaran dengan sejarahnya, tidak terbatas oleh pemusik saja, tertapi orang-rang hebat di teknologi, penemu sampai dengan pemimpin.

Agak terkejut juga dengan cerita Miki Matsubara ini.

Miki Matsubara adalah seorang penyanyi berbakat yang memulai kariernya dengan penuh harapan dan semangat.

Namun, hidupnya berubah drastis ketika ia didiagnosis dengan kanker serviks stadium akhir pada tahun 2000.

Sebagai pribadi yang tertutup, Miki memilih untuk merahasiakan penyakitnya dari publik, bahkan dari rekan-rekannya dalam industri musik.

Selama empat tahun, ia berjuang melawan penyakit yang menggerogotinya, tetapi sayangnya, pada tanggal 7 Oktober 2004, di usia yang sangat muda, 44 tahun, Miki meninggal dunia.

Menjelang akhir hidupnya, Miki memutuskan untuk menghentikan segala aktivitas musiknya, menghapus jejaknya dari dunia yang pernah ia cintai, bahkan sampai membakar beberapa partitur dan rekaman favoritnya.

Dalam surat-surat terakhirnya, ia menyampaikan penyesalan mendalam atas bagaimana ia menghabiskan hidupnya terlalu fokus pada karier musik dan merasa tidak cukup menikmati hidupnya sepenuhnya.

Penyesalan itu begitu dalam, hingga Miki meminta keluarganya untuk melupakan masa-masa ia bernyanyi dan menciptakan musik.

Ia berharap bisa memulai hidupnya kembali dengan lebih bijaksana, lebih banyak menikmati kehidupan di luar gemerlap panggung dan studio rekaman.

Kisah ini membuat saya berpikir tentang betapa pentingnya menyeimbangkan antara mengejar impian dan menikmati hidup kita.

Lagu “Mayonaka no Door” kini menjadi lebih dari sekadar lagu indah; bagi saya, ini adalah pengingat akan kefanaan hidup dan pentingnya hidup dengan penuh kesadaran dan cinta.

Miki, meskipun kamu mungkin merasa tidak cukup menikmati hidup, musik kamu akan terus hidup dan dinikmati oleh jutaan orang di seluruh dunia.

Semoga jiwamu beristirahat dalam damai, ini karena karya lagumu telah memberikan kebahagiaan dan keindahan yang tak terhingga bagi banyak orang.

Miki Masubara

Rest In Love (R.I.L) Miki Masubara

Referensi,

  • Van Paugam – Akhir hidup Miki Matsubara dan perasaannya terhadap karier musiknya.
  • Tokyo Weekender – Miki Matsubara menjadi sensasi global beberapa dekade setelah kematiannya.
  • OkayBliss – Perjuangan Miki Matsubara melawan kanker dan pengunduran dirinya dari dunia musik.
  • Wikipedia – Karier dan akhir hidup Miki Matsubara.

Mengajarkan Anak Mengenali Peran dan Tujuan Hidupnya

Kami percaya bahwa ‘ruh’ anak memilih rahim ibunya bukanlah sebuah kebetulan. Setiap jiwa yang datang ke dunia ini memiliki alasan dan tujuan yang unik, yang mungkin belum kita pahami sepenuhnya.

Tugas kami sebagai orang tua adalah membantu menemukan alasan mengapa ruh tersebut hadir di keluarga kami, yang mungkin jauh dari sempurna atau ideal.

Sejak dini, kami tidak pernah menanamkan ide sebuah ajaran tertentu kepada anak kami.

Sebaliknya, kami melatih indranya untuk selalu peka dan bertanya. Kami lebih banyak mengajarkan sejarah dan membantu dia menemukan alasan serta pesan di balik semua kejadian yang dialaminya.

Kami percaya bahwa dengan cara ini, anak kami dapat berproses sesuai dengan peran yang telah ditentukan untuknya.

Proses perjalanan spiritual anak kami adalah pilihannya sendiri. Kami hanya ikut bertanggung jawab untuk menjaga dan membentuk karakternya hingga usia 14 tahun.

Kami percaya bahwa pada usia tersebut, anak sudah memiliki pemahaman dasar tentang tujuan hidupnya. Seperti pesan kami sebelum dia memutuskan untuk masuk asrama,”Saat kamu SMP, kamu sebenarnya sudah tahu kenapa kamu dilahirkan. Jika belum tahu, nanti kamu akan tahu sendiri.”

Selain itu, kami berusaha untuk menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan spiritual dan emosionalnya.

Kami memberikan kebebasan untuk mengeksplorasi berbagai pemikiran dan kepercayaan, serta menghargai setiap pertanyaan yang dia ajukan.

Kami juga berusaha untuk menjadi teladan yang baik, menunjukkan bagaimana menghadapi tantangan hidup dengan bijak dan penuh kasih.

Kami percaya bahwa setiap anak adalah anugerah dari semesta, dan peran kami adalah membantu mereka menemukan jalan mereka sendiri.

Dalam perjalanan ini, kami belajar bersama, tumbuh bersama, dan menemukan makna hidup yang lebih dalam.

Kami bersyukur atas kesempatan untuk menjadi bagian dari perjalanan spiritual anak kami, dan kami akan terus mendukungnya, apa pun jalan yang dia pilih.

Kala Sang Surya Tenggelam (Official Music Video) | OST. Gadis Kretek

Tidak tertarik untuk menulis ulasan mengenai Film Gadis Kretek, seperti kata Dian Sastrowardoyo di film Ada Apa Dengan Cinta , “Basi, madingnya sudah terbit!”

Saya malah lebih tertarik dengan lagi OST Gadis Kretek, Kala Sang Surya Tenggelam yang dipopulerkan oleh Chrisye.

Lagu ini dinyanyikan ulang oleh Nadin Amizah. Sang sutradara Kamila Andini memilih lagu ini karena dinilai cocok menggambarkan perjalanan sepasang kekasih dalam nuansa puitis, magis, meski di dalamnya ada kelemahan

Kala Sang Surya Tenggelam dirilis dalam album Sabda Alam, merupakan album ketiga dari penyanyi Chrisye yang dirilis pada tahun 1978. Album ini merupakan hasil kolaborasi Chrisye dengan Guruh Soekarnoputra ,dinobatkan sebagai salah satu album Indonesia terbaik sepanjang masa versi majalah Rolling Stone Indonesia.

Berikut lirik lagu Kala Sang Surya Tenggelam

Surya tenggelam
Ditelan kabut kelam
Senja nan muram
Di hati remuk redam

Jalan berliku dalam kehidupan
Dua remaja kehilangan
Penawar rindu, kasih pujaan
Menempuh cobaan

Malam mencekam
Rembulan sendu rawan
Anak perawan
Menanggung rindu dendam

Jalan berliku dalam kehidupan
Dua remaja kehilangan
Penawar rindu, kasih pujaan
Menempuh cobaan

Surya tenggelam
Ditelan kabut kelam
Senja nan muram
Di hati remuk redam

Jalan berliku dalam kehidupan
Dua remaja kehilangan
Penawar rindu, kasih pujaan
Menempuh cobaan
Penawar rindu, kasih pujaan
Menempuh cobaan

Surya tenggelam