“Split Second” Tikungan 100 Km/Jam

Setelah mengenal karakteristik mesin dan handling motor ini, saya berjanji pada diri sendiri tidak akan menikung pada kecepatan diatas 100 km/jam.

Kawasaki Ninja 650 2017, dengan tenaga motor sebesar 68 ps , kecepatan 160 km/jam bisa dicapai dengan mudah pada ruas jalan lurus tertentu di luar kota. Rasa tegang, takut dan khawatir menjadi satu, tetapi entah kenapa enggan juga menurunkan ‘throttle‘. Kadang kalo udah ingat emak-emak bawa matik dan anak SD menyebrang jalan akhirnya saya turunkan juga kecepatannya.

Jalan lurus kadang membuat kita lupa diri, tetapi tikungan panjang merupakan ancaman utama berkedara motor dengan tenaga besar dan berlimpah.

Beberapa kali saya mendapati speedometer menunjukkan angka 100 km/jam ketika melibas tikungan panjang di luar kota.

Hal ini sangat menakutkan buat saya, dan berjanji akan mengenali karakteristik kecepatan diatas 100 km/jam tanpa melihat speedometer.

Seringkali , karena dibutuhkan konsentrasi ekstra dalam mengamati jalan di kecepatan tinggi, instrumen kecepatan dan putaran mesin tidak bisa dipantau dengan mudah.

Kadang insting dan hapalan kondisi yang seringkali memberikan petunjuk seberapa cepat dan seberapa besar putaran mesin saat itu. Dalam kondisi tersebut seringkali dibutuhkan keputusan yang sifatnya “split second“.

Menurut kamus urban populer “Split second” artinya “A very brief moment in time“, dalam kurun waktu yang sangat singkat, bisa dalam sekejap kedipan mata.

“Setan” Tikungan Panjang

“Setan Pengoda” dalam berkendara seringkali terjadi ketika motor akan melahap tikungan panjang yang mulus, kadang saya sendiri takjub dengan kecepatan saat itu.. , dan disinilah biasanya awal malapetaka terjadi.

Pengalaman ini saya bagi agar sesama pemula seperti saya ini dapat mengantisipasi dan tidak melakukan hal konyol ketika suatu saat anda dalam posisi yang sama.

ABS is dead

Motor-motor baru jalan raya dengan kapasitas mesin (cc) dan tenaga besar saat ini biasanya sudah dilengkapi dengan Anti Braking System (ABS). Sebenarnya fitur ini ditujukan agar letika terjadi tindakan pengereman, ban tidak terkunci dan menjadi slip karena pengendara menekan atau menginjak rem terlalu keras.

Pada motor yang  dilengkapi ABS , ada sensor mekanik dan ditansferkan secara digital yang membaca kondisi ban slip. Lalu sensor akan memberikan intruksi agar pad rem dilepas sedikit demi sedikit (‘menendang’ balik tuas/pedal rem) supaya ban tidak mengunci.

Menurut buku petunjuk dan pengalaman pribadi, fitur ini sangat berguna pada jalan kering dan normal tidak bergelombang, tetapi menjadi berbahaya pada jalan licin karena hujan, bergelombang , berlumut maupun jalan dengan kerikil.

Pada layar instrumen, akan ada indikator khusus bila motor melalui jalan rusak bergelombang, ini artinya peringatan keras menandakan  ABS tidak akan berfungsi masimal.

Saya merasakan kekurangan ini pada saat menikung panjang dengan kecepatan di ruas jalan yang terbuat dari beton ( non asphalt). Di suatu malam di sebuah ruas tikungan panjang jalan raya Bogor, untuk menjaga kestabilan, saya mulai menekan tuas rem depan dan belakang pada saat yang besamaan ketika motor akan masuk tikungan.

Kaget bukan main ketika saya merasakan bagian belakang motor mulai slip kehilangan traksi tak terkendali, ABS tidak bisa bekerja di jalan licin tipikal beton dan badan motor pun mulai terhempas perlahan ke arah kanan.

Hebatnya manusia, dalam kondisi kejepit tersebut, semua indra mulai bekerja dalam hitungan detik, ketika melihat speedometer, kecepatan ada diatas 90 km/jam. Dan yang bisa saya lakukan hanyalah pasrah dengan tetap menjaga posisi tuas gas, rem dan badan agar tidak melakukan perubahan mendadak yang bisa mempengaruhi momentum motor yang diluar kendali, Paling sial harusnya motor terhempas pembatas jalan sebelah kanan.

Sepanjang tikungan panjang tersebut, ban belakang slip nggak karuan. Saya hanya berharap tikungan tersebut segera habis saja supaya saya bisa menegakkan badan motor.

Bila pada akirnya saya selamat, nggak tau juga. Ketika tikungan habis dan motor tidak terhempas, saya hanya bersyukur dan sedikit gemetar.

Pesan semesta , kalo lihat tikungan panjang yang mulus pikir-pikir dua kali.

Good Job Team, let’s rock the dev world!

Bagi saya, saat-saat yang paling membanggakan dan membahagiakan adalah ketika menyaksikan anggota team bisa tampil untuk berbagi dengan para developer dan anggota komunitas lainnya.

Berbagi di WordPress Meetup Jakarta itu sesuatu untuk komunitas dan kalian.

Good Job Team, let’s rock the dev world!

Sampai saat ini saya selalu percaya rasio 30:30:30. Bahwa seorang pemimpin / leader / manager harus membagi prioritas menjadi tiga bagian. 30 persen untuk mengelola tugas departemen bersama anggota team, 30 persen berikutnya mengelola pekerjaan manajerial, 30 persen sisanya untuk coaching dan counseling anggota team.

Eh, lalu 10 persen sisanya buat apa ? oh sisakan itu untuk area ini –> ” Shit Happens ” …

Let’s aim very high, Everest Base Camp!

Apa? EBC ? Everest Base Camp! serius ?! Begitu kira- kira tanggapan percakapan di sebuah group WhatsApp beberapa hari yang lalu.

Seingat saya, obrolan mengenai Pendakian ke Base Camp Everest hanyalah obrolan ringan disela-sela Trekking Gunung Rinjani beberapa bulan sebelumnya.

Setelah selesai dengan Gunung Rinjani, kami memulai perbicangan mengenai perjalanan berikutnya di tahun 2017. Beberapa pilihan pastinya lebih menantang dari Pendakian Gunung Rinjani.

Mulai dari Gunung Kerinci di Sumatra, Gunung Kinabalu di Sabah Malaysia sampai dengan Tambora di ujung timur Indonesia. Seingat saya, beberapa menyebutkan tujuan Tambora menjadi agenda pendakian berikutnya.

Beberapa yang menyebut kembali Rinjani langsung disambar dengan celetujan ” Aduh jangan Rinjani lagi deh, lainnya”

Termasuk pendakian ke Basecamp Everest juga menjadi salah satu topik. Everest ? yang sepertinya saat itu memang hanya topik intermezzo yang tidak terlalu penting.

Setan kecil

Setelah beberapa hari saya renungkan dan mencari-cari informasi mengenai pendakian Everest Base Camp ternyata secara perlahan dan pasti menimbulkan rasa penasaran dan keingintahuan yang lebih dalam.

Hemmm…, Everest Base Camp ? Kenapa tidak ? kata ‘setan kecil’ dalam hati.

Bulan April tahun ini saja sudah ada orang-orang biasa yang siap menikmati perjalanan ke salah satu tempat paling indah di dunia.

Saat touring kemarin juga ada salah satu rider ubanan, mungkin umurnya 50 tahun keatas yang juga sedang menyiapkan perjalanan ke Everest Base Camp. Tambah semangat!!

Bila tahun 2017 belum kesampaian, sepertinya harus diagendakan untuk 2018.

WordCamp Jakarta 2017, Drop-in dan Must-Use (MU) Plugins

Di WordCamp Jakarta 2017  saya memiliki kesempatan untuk berbagi pengalaman penggunaan WordPress di lingkungan Enterprise. Sesaat setelah presentasi, beberapa audience yang hadir menanyakan hal-hal detail mengenai materi yang saya sampaikan tersebut. Blog post ini adalah upaya saya untuk mendetailkan materi presentasi tersebut.

Saat ini WordPress tidak hanya digunakan sebagai bloging platform, kode yang terbuka (opensource) dan penambahan fungsinya yang modular melalui konsep Themes dan Plugins menjadikan WordPress sebagai salah satu aplikasi web dengan pangsa pasar terbesar di dunia.  Kemudahan dan kecepatan implementasi (learning curve) yang luar biasa singkat membantu banyak pihak untuk membuat sebuah website.

Dengan mudah kita dapat menemukan implementasi WordPress untuk berbagai kebutuhan. Mulai dari penggunaan pribadi sampai dengan implementasi website kebutuhan bisnis, seperti website profile perusahaan, lowongan kerja, eCommerce sampai dengan portal portal berita kelas dunia seperti Time.Com dan Quartz.Com.

wp big brand.PNG

Kemudahan dan luasnya implementasi tersebut seringkali menimbulkan persepsi bahwa WordPress hanya untuk kalangan hobi atau pengerjaan websiye dengan kebutuhan yang minimal atau standar.

Bagaimana dengan kebutuhan yang kompleks seperti untuk menakomodasi model bisnis perusahaan besar ( enterprise ) ?

Untuk menjadikan WordPress dapat bekerja dengan baik dalam skala enterprise, dibutuhkan beberapa pengaturan yang biasanya tidak pernah disentuh oleh para pengguna WordPress biasa.

Pada umumnya, pengguna WordPress hanya mengenal ‘Themes’ untuk mengubah serta memperkaya tampilan dan ‘Plugins’ untuk menambah berbagai fitur dan kemampuan sebuah website agar sesuai dengan model atau solusi yang diinginkan.

Mu-Plugin dan Drop-in Plugins

Konsep Plugins mungkin yang menjadikan WordPress bisa sangat modular dan fleksibel sehingga  tingkat adaptasi WordPress menjadi sangat cepat dan masif. Saat ini 28% situs di dunia menggunakan WordPress.

Berdasarkan pengalaman membuat purwarupa website peruisahaan menggunakan WordPress selama 2 tahun lebih, pada akhirnya Themes dan Plugins tidak akan cukup dan seringkali malah membuat sebuah website sulit untuk mendapatkan performa terbaiknya.

Untuk menjadikan sebuah situs WordPress bisa mendapatkan skalabilitas, performa dan keamanan yang lebih baik sebenarnya bisa dilakuan dengan menggunakan / mengoptimalisasi fitur ‘mu-plugins’ dan ‘drop-in-plugins’.

Lalu, apa yand dimaksud dengan ‘mu-plugins’ dan ‘drop-in plugins’, apa bedanya dengan ‘reguler plugins’ ?

Biasanya, pengguna biasa hanya mengenal regular Plugins atau yang biasanya dikenal dengan nama Plugins. Untuk artikel ini kita sebut saja dengan istilah Plugins Reguler. Fitur ini dapat diakses dan dikelola secara langsung dan mudah melalui menu dashboard WordPress.

Instalasi , aktifasi dan pengaturan Plugins dapat dilakukan oleh siapapun yang memiliki hak akses Administrator.

Sedangkan berikut adalah penjelasan mengenai mu-plugins’ dan ‘drop-in plugins’,

Drop-in Plugins

Merupakan PHP files yang fungsinya dapat menggantikan beberapa fungsi utama (core) WordPress seperti koneksi ke database ( database connection ) dan tembolok (cache).

Lokasinya berada di /wp-content/[dropins-file-name].php

Beberapa contoh drop-in plugins yang cukup populer adalah advance-cache.php dan LudicrousDB.

LudicrousDB is an advanced database interface for WordPress that supports replication, fail-over, load balancing, and partitioning, based on Automattic’s HyperDB drop-in.

LudicrousDB can manage connections to a large number of databases. Queries are distributed to appropriate servers by mapping table names to datasets.

A dataset is defined as a group of tables that are located in the same database. There may be similarly-named databases containing different tables on different servers. There may also be many replicas of a database on different servers. The term “dataset” removes any ambiguity. Consider a dataset as a group of tables that can be mirrored on many servers.

Configuring LudicrousDB involves defining databases and datasets. Defining a database involves specifying the server connection details, the dataset it contains, and its capabilities and priorities for reading and writing. Defining a dataset involves specifying its exact table names or registering one or more callback functions that translate table names to datasets.

Dengan LudicroudDB yang membaca konfigurasi beberapa database MariaDB yang dibuat master-master menggunakan Galera Cluster, WordPress dapat mengenali multiple database dan melakukan prioritas server database mana untuk write, mana untuk read.

Berikut contoh koneksi database menggunakan array , tinggal tambahkan saja array-array lainnya untuk koneksi ke database lain. Dua koneksi pertama untuk read, lalu koneksi (array) ketiga untuk write.

$wpdb->add_database( array(
	'host'     => DB_HOST_1,     // If port is other than 3306, use host:port.
	'user'     => DB_USER,
	'password' => DB_PASSWORD,
	'name'     => DB_NAME,
	'write'    => 0,
	'read'     => 1,
	'dataset'  => 'global',
	'timeout'  => 0.2,
) );
$wpdb->add_database( array(
	'host'     => DB_HOST_2,     // If port is other than 3306, use host:port.
	'user'     => DB_USER,
	'password' => DB_PASSWORD,
	'name'     => DB_NAME,
	'write'    => 0,
	'read'     => 1,
	'dataset'  => 'global',
	'timeout'  => 0.2,
) )
$wpdb->add_database( array(
	'host'     => DB_HOST_3,     // If port is other than 3306, use host:port.
	'user'     => DB_USER,
	'password' => DB_PASSWORD,
	'name'     => DB_NAME,
	'write'    => 1,
	'read'     => 0,
	'dataset'  => 'global',
	'timeout'  => 0.2,
) )

Perlu menjadi catatan penting, sinkronisasi antara database server tidak dilakukan oleh WordPress atau Plugin LudicrousDB, tetapi dilakukan oleh Galera Cluster yang diaktifkan di MariaDB.

Must-use (Mu)  Plugins

Plugins reguler itu seperti pisau bermata dua, bisa sangat memudahkan dalam mencari solusi tetapi kemudahan itu seringkali membawa dampak buruk ke performa WordPress.

Makin banyak Plugins yang aktif, beban server menjadi lebih berat dan waktu pemrosesan juga menjadi semakin lama.

Hal ini karena WordPress membaca dan mengeksekusi seluruh Plugins yang aktif untuk tiap page yang direquest oleh pengguna biasa maupun request-request aneh yang dilakukan berbagai ‘bot’ seperti bot mesin pencari sampai dengan bot iseng yang biasanya mencari celah kemanan WordPress.

Bila developernya malas atau ‘kotor’ dalam membuat kode pemrograman, seringkali fungsi yang tidak dibutuhkan juga ikut dieksekusi di berbagai halaman yang sebenarnya tidak membutuhkan fungsi tersebut.

Dengan Must-use (Mu) Plugins , kita sebenarnya memiliki peluang untuk mengendalikan Plugins apa saja yang dibutuhkan sesuai dengan kondisi yang diinginkan.

Tidak perlu lagi semua Plugins dijalankan disetiap page request

Must-use (Mu) Plugins memiliki karakteristik sebagai berikut

  • Berlaku di WordPress Single dan Multisite
  • Lokasinya berada di … /wp-content/mu-plugins/my-first-mu-plugins.php
  • Selalu aktif karena otomatis aktif ketika berkas .php sudah diupload
  • Dieksekusi sebelum Plugins reguler dieksekusi.
  • Tidak bisa dinonaktifkan

worpress mu plugins sample

Berikut adalah contoh sederhana implementasi must-use plugins dengan nama file terimakasih.php.

<?php
add_filter( 'the_content', function( $content ) {
    return $content . '<p>Terimakasih!</p>';
} );

Didalam berkas tersebut ada sebuah ‘filter’untuk menampilkan kata ‘Terima Kasih’ pada seluruh halaman post WordPress.

Hemm sepertinya nggak ada yang spesial ya dengan contoh diatas, bisa dilakukan oleh Plugin reguler.

Sebentar…, contoh berikutnya sedikit lebih kompleks tetapi sangat berguna untuk menjaga dan meningkatkan performa WordPress.

Tengok kembali diparagraf awal, makin banyak Plugin reguler, dapat menurunkan performa WordPress.

Berikut adalah implementasi must-use plugins untuk mematikan plugin reguler “Contact Form 7” di halaman-halaman yang memang tidak membutuhkan fungsi plugin tersebut.

Plugin “Contact Form 7” hanya akan akktif di halaman dengan slug ‘/contact/’ saja, sedangkan di halaman lain plugin tersebut akan diunregister alias tidak akan diload alias mati.

<?php
$request_uri = parse_url( $_SERVER['REQUEST_URI'], PHP_URL_PATH );

add_filter( 'option_active_plugins', 'unregisterd_cache_plugin' );

function unregisterd_cache_plugin( $plugins ){
        global $request_uri;
        $is_contact_page = strpos( $request_uri, '/contact/' );
        $unnecessary_plugins = array();
        // conditions
        // if this is not contact page
        // deactivate plugins
        if( false === $is_contact_page ){
                $unnecessary_plugins[] = 'contact-form-7/wp-contact-form-7.php';
                        }
        foreach ( $unnecessary_plugins as $plugin ) {
                $k = array_search( $plugin, $plugins );
                if( false !== $k ){
                        unset( $plugins[$k] );
                }
        }
        return $plugins;
}

Walaupun sepertinya sepele, dampak metode ini sangat luar biasa untuk meningkatkan performa loading halaman-halaman WordPress.

Bayangkan bila pada sebuah halaman kita dapat mematikan 15 dari 20 Plugin yang aktif!

Untuk mendapatkan contoh-contoh lain penggunaan metode ini, silahkan menggunakan mesin pencari dengan bantuan keyword ‘WordPress disable plugin‘ atau ‘WordPress options_active_plugin‘.

Untuk mengunduh materi presentasi ini  bisa mengunjungi tautan di situs slideshare. Semua berkas materi sudah diunggah oleh rekan-rekan di Automattic.

https://www.slideshare.net/wordcampindonesia/performance-tuning-and-security-hardening-using-dropin-and-mustuse-plugins-by-sumpono-banuardinugroho

Terimakasih pada para penyelenggara WordCamp Jakarta 2017, Automattic, organizer, volunteer, speaker, community dan participant.

wordcamp jakarta closing

 

Berburu Frame Slider Ninja 650 Tahun 2017

evotech performance frame sliderMengendarai motor dengan mesin multi silinder dan kapasitas cc (cubical centimeter) besar memiliki resiko yang lebih dibandingkan dengan mengendarai motor produksi masal pabrikan lokal yang kapasitas mesinnya dibatasi agar sesuai dengan market dan regulasi umum berkendara dan pajak di Indonesia.

Tenaga yang berlimpah dan bobot yang biasanya diatas 200 kg membutuhkan pengamanan ekstra dari sisi cara berkendara mapun dari sisi kelengkapan motor itu sendiri.

Menghancurkan motor seharga Sedan Honda Brio baru pastinya bukanlah sesuatu yang menyenangkan, dibanggakan atau bisa diterima dengan lapang dada.

Motor Jatuh dan Baret

35098642724_f5de40f2f8_k
Kawasaki Ninja 650 versi tahun 2017

Beberapa bulan lalu ketika mengeluarkan motor Kawasaki Ninja 650 dari garasi dengan cara mundur, pijakan kaki saya tiba-tiba tidak kuat karena ada perbedaan ketinggian pijakan yang saya tidak antisipasi sebelumnya.

 

Motor mulai miring perlahan dan tak tertahankan jatuh rebah dalam gerakan lambat menimpa saya di sisi sebelah kanan. Dasar memang kurang latihan, segala kekuatan yang dikeluarkan tidak ada artinya untuk membuat motor tesebut tetap berdiri tegak.

Ajaibnya saya tidak terluka sama sekali karena sepertinya pihak pembuat motor sudah memperhitungkan hal ini.

Motor akhirnya berada dalam posisi tidur rebah tapi tumpuannya ditopang oleh bagian khusus di footstep  yang berbentuk bulat. Sepertinya tonjolan kecil berbentuk bulat di bagian bawah footstep punya maksud tersendiri sebagai tumpuan motor bila dalam kondisi rebah.

Bagaimana dengan fairing ? Memmm.. karena jatuhnya pelan, fairing hanyak baret. Tetapi yah lumayan baretannya tidak bisa hilang dan beberapa area stiker juga terkelupas.

Hal yang paling memalukan sebenarnya terjadi ketika saya berusaha sekuat tenaga untuk mengangkat motor tersebut kedalam posisi tegak, tiga kali (3x) mencoba dengan kekuatan ngeden yang maha dashsyat, tetap saja ‘kuda besi’ besi itu tetap dalam posisi rebah.

Butuh bantuan orang dewasa lain untuk membantu mengangkat motor tersebut ke posisi tegak.

Semenjak hari itu saya mulai berhati-hati saat memindahkan motor tanpa bantuan tenaga mesin, sebisa mungkin tidak boleh miring, semua harus dilakukan dalam posisi tegak.

Untuk mengantisipasi kerusakan lebih lanjut pada body, fairing, rangka, aksesori dan komponen motor, akhirnya saya mulai mencari berbagai macam informasi tambahan dengan bantuan paman di Google.

Salah satu topik yang selelau muncul adalah perlindungan motor menggunakan spare part after market tambahan bernama frame slider.

Frame Slider adalah salah satu komponen atau sparepart after market tambahan yang vital untuk ‘menyelamatkan’ kerusakan parah ketika motor jatuh dalam posisi diam maupun bergerak.

Evotech Performance

Pencarian frame slider untuk motor Kawasaki Ninja 650 keluaran tahun 2017 bukan perkara mudah. Mungkin karena termasuk keluaran baru, spare part tersebut tidak tersedia di toko , bengkel biasa dan resmi maupun toko online seperti Bukalapak dan Tokopedia. Kalaupun ada hanya spesifik untuk motor sejenis keluaran tahun sebelumnya, yang mana pastinya tidak bisa plug and play.

Ketika belum ada di market Indonesia, saya pun melakukan pencarian di eBay, Amazon dan AliExpress. Sempat ada harapan ketika frame slider yang dimaksud ada di Amazon, sayangnya seller tersebut tidak bisa melakukan shipping ke Indonesia.

Saya sempat melupakan misi pencarian frame slider tersebut selama beberapa minggu, sampai pada akhirnya saya iseng-iseng lagi memasukkan keyword pencarian “frame slider kawasaki ninja 650 2017”.

Setelah pindah beberapa halaman, akhirnya saya sampai pada situs e-Commerce yang dikelola oleh perusahaan di Inggris dan dijalankan di platform Shopify. Hemm.. , saat itu saya sama sekali belum pernah berbelanja di platform e-Commerce Shopify.

Nama situs yang menarik perhatian saya adalah Evotech Performance. Dengan menggunakan batuan filter pada navigasi utamanya, saya dapat menemukan spare part khusus untuk Kawasaki Ninja 650 2017 , tentunya frame slider juga ada di hasil filter tersebut.

evotech performance

Pada bagian blog situs tersebut ternyata ada ulasan khusus mengenai product lauch spare part after market Kawasaki N650 2017 dan Z650  dengan judul Kawasaki Z650 & Ninja 650 – Evotech Performance 2017 Product Launch

Pertamakali saya berinteraksi dengan layanan e-Commerce Shopify, tidak ada keraguan sedikitpun untuk langsung melakukan transaksi di situ ini. Selain situs sudah dilengkapi dengan koneksi SSL (HTTPS), lainnya yang membantu saya untuk yakin langsung bertransaksi adalah notifikasi di sebelah kanan bawah yang memberi informasi rating situs ini.

Selain itu ada promo free shipping dari United Kingdom (UK) ke Indonesia. Uhuy..!!

Setelah memilih frame slider yang dimaksud, akhirnya saya memasukkan informasi identitas diri dan alamat pengiriman. Untungnya pembayaran membolehkan dilakukan melalui PayPal, menambah rasa aman bertransaksi karena saya tidak harus memasukkan infromasi kartu kredit ke pihak ketiga.

ketika status pembayaran PayPal disetujui, sistem situs Evotech Performance langsung memberikan notifkasi yang sesuai mengenai status pembayaran, selang beberapa saat dilanjutkan dengan informasi shipping yang bisa dilacak.

Sayangnya informasi shipping hanya bisa dilacak terakhir pada saat barang dipindahtangankan ke ekspedisi Internasional menuju Indonesia. Selebihnya tinggal berharap – harap cemas saja.

Sekitar seminggu, akhirnya barang tersebut sampai juga dirumah, dibungkus rapi dan memiliki komponen lengkap sesuai dengan informasi di situs maupun penunjuk pemasangan yang bisa kita unduh juga di situs Evotech Performance.

img_20171021_084852698335178.jpgimg_20171021_084637978281560.jpgimg_20171021_084626908394800.jpg

Pada situs tracking shipping juga akhirnya diberikan status ‘delivered’ dan dicantumkan juga sejarah perjalanan barang tersebut.

track 1

Tahapan Berikutnya adalah Pemasangan

Memasang frame slider membutuhkan kunci momen (torque wrench), atau setidaknya bila tidak menggunakan kunci dengan pengukur kekuatan sebaiknya diserahkan saja ke montir yang sudah terbiasa melepas dudukan mesin bawaan pabrik dengan silinder bawaan frame slider after market ini.

Di Bogor, ada satu bengkel khusus moge ( motor gede ) yang lumayan terkenal, DANNE MOTOR. Pemiliknya ramah dan montirnya cekatan. Berikut hasil akhir pemasangan frame slider Evotech Performance di Motor Kawasaki Ninja 650 2017.

Tidak membutuhkan waktu lama, mungkin sekitar 10 menit, frame slider bisa terpasang dengan baik.

img_20171021_120052479190854.jpgimg_20171021_115950436412362.jpg

Semoga membantu … , selamat berkendara and please be safe.

The War Room ..

Nggak nyangka bakal terlibat lagi dengan project menggunakan pendekatan ‘War Room’ intensif. Saya pikir project SAP BW tahun 2008 adalah salah satu yang paling berat dan melelahkan karena dilakukan dengan pendekatan ini.

Mulai bulan September 2016 ini , setiap hari komputer kami selalu terhubung dengan sebuah switch Cisco usang yang bising

Mungkin banyak yang bertanya-tanya, binatang apakah itu ‘War Room’ ?

War Room adalah sebuah ruangan situasi terpusat yang dirancang untuk mengerjakan sebuah project yang membutuhkan interaksi yang intensif. Biasanya dilakukan dalam sebuah organisasi perusahaan yang sedang mengerjakan project khusus diluar operasional rutin.

Masing-masing individu yang terlibat di War Room harus rela meninggalkan tempak kerja mereka sehari-hari.

Peran kristis sebuah War Room adalah agar seluruh anggota project dapat mengkomunikasikan peran masing-masing sekalikus mengerjakan tugasnya saat itu juga. Kumpul dalam satu runagan ini penting sekali, karena beberapa keputusan kritis harus segera diambil sehingga berbagai pihak bisa melakukan akselerasi dan tidak ada satu pihakpun yang menjadi terhambat maupun penghambat.

” Saya butuh empat virtual machine untuk kebutuhan X dengan spesifikasi Y ” ,

” Oke, segera dikerjakan selesai dua jam lagi ”

Pengerjaan, testing, laporan, evaluasi dan hal-ha lainnya langsung dikerjakan dan ditampilkan saat itu juga. Seluruh anggota tim dapat langsung saling bertanya, membantu, memberi masukan sambil mengambil keputusan-keputusan kritis.

Lalu apakah visual atau digital meeting seperti whatsapp, skype, google hangout dan sejenisnya tidak membantu atau berguna sama sekali ?

Percaya deh alat-alat digital tersebut nggak akan bisa mengakselerasi sebuah project, banyak missed komunikasinya dan lambat eksekusinya.

Minta kambing, nunggu satu tahun… ,eh dikasihnya sapi… , balik lagi bikin peternakan kambing

Dengan tatap muka dan hadir langsung di sebuah ruangan, seluruh anggota team dapat langsung saling ‘mengisi’. Sangat berbeda dengan pertemuan maya yang tidak bisa menampilkan situasi project secara utuh.

Tidak ada yang terlalu spesial atau khusus juga di ruangan itu, lokasinya juga ‘ajaib’, tepat berada di sebelah lobi  utama tempat utama orang lalu-lalang masuk gedung.

Bagian atasnya terbuka sehingga suara dari lobi sangat leluasa menyelinap masuk.., beberapa ada yang menggunakan headset sebagai pelindung kebisingan. Jadinya lucu, kalo mau ngobrol harus panggil-panggil dulu agak keras. Ehehehehe…

Kalo hujan ada tetesan air jatuh di dekat stop kontak beraliran listrik… Aww. waww.. waw… Zzzzttt!

Selama ada persediaan minum, kopi dan beberapa makanan kecil sudah cukup mewah untuk ukuran ‘War Room’ dadakan ini. Kadang yang membuat gembira adalah kedatangan camilan Pisang Coklat Keju yang disajikan meleleh hasil sumbangan beberapa rekan yang butuh selingan kudapan.

warroom-cookie-1024

Paling penting hanya satu, ada satu router / switch yang punya koneksi khusus dengan badwith hahahihi…

Waktu pekerjaan tinggal dua bulan lagi, God Speed! untuk seluruh anggota project! Banyak-banyak minum tolak angin dan anti-depresan.

Unaccompanied Minor, Sendiri Naik Pesawat Tanpa Ditemani Orang Dewasa

Awal Cerita Horor Ini

Bulan ini si kecil ngebet banget ingin berlibur ke Bali bertemu dengan Oom Ga Boo dan Tante Emma. Mungkin efek kemarin karena ngelihat bokapnya pergi ke Nusa Dua. Walaupun sudah dijelaskan bahwa bokapnya ke Bali dalam urusan kantor, sepertinya dia tidak mau mengerti. 

Malah menjadikannya sebagai momentum untuk juga mendapat jatah liburan ke Pulau Dewata.

Masalahnya nggak ada orang dewasa yang bisa mengantarkan ini bocah untuk pergi berlibur selama seminggu lebih di pertengahan – akhir bulan Juli 2016. Iseng-isenga kita menawarkan kepada si kecil untuk berlibur saja sendiri. Nanti di Bali nginep dan main bareng oom dan tantenya.

Tantangannya cuma satu, si kecil harus rela untuk naik pesawat sendiri tanpa ditemani oleh orang dewasa.

Awalnya tawaran naik pesawat sendiri itu supaya dia juga agak mikir-mikir dan mungkin mencari alternatif mengisi liburan dengan pilihan lain. Eh.., nggak disangka-sangka ternyata dia menyambut opsi naik pesawat sendiri dengan gegap-gempita.

Menghubungi Maskapai Penerbangan

Dimulailah persiapan perjalanan naik pesawat buat si bocah petualang tersebut. Diawali dengan menghubungi maskapai penerbangan Garuda Indonesia untuk rute Jakarta – Bali, pulang-pergi.

Menghubungi Garuda Indonesia melalui telepon, tanya-tanya mengenai prosedur ‘pengiriman paket’ bocah 7 tahun tanpa pengawalan orang dewasa.

Ternyata segala sesuatu harus diurus melalui kantor perwakilan Garuda di Indonesia.Pastinya tidak bisa dilakukan melalui prosedur pembelian tiket online seperti yang selama ini dilakukan.

Kebetulan di Botani Square Bogor ada kantor Garuda Indonesia.

Swiss Air Copyright
Swiss Air Copyright
Unaccompanied Minor adalah istilah  bagi anak (5 -14 tahun) yang tidak didampingi wali yang sah (orang dewasa). Dunia penerbangan juga menggunakan istilah yang sama bagi anak yang melakukan perjalanan tanpa didampingi orang dewasa. Berdasarkan beberapa informasi, biasanya (paling banyak) anak umur 12 tahun yang sering atau mulai menggunakan layanan ini.

Artinya, bila ini bocah petualang akan melakukan perjalanan pertamanya dengan layanan unaccompanied minor , umurnya baru 7 tahun saja, ini termasuk ‘minor’ banget…. wkkk.

Beruntung Garuda Indonesia yang masih bisa mengakomodasi range umur tersebut. Masakapai lain yang kami cek beberapa tidak bisa menyanggupi.

Dengan tambahan Rp 300.000,- akhirnya dokumen perjalanan bisa diurus dan si kecil mendapatkan kursi khusus di kelas bisnis.

Prosedur Unaccompanied Minor

Pada saat mengurus dokumen, beberapa hal juga dijelaskan mengenai prosedur pemberangkatan dan penjemputan untuk Unaccompanied Minor.

Keberangkatan dilakukan dengan menyerahkan si kecil kepada ground staff di kantor garuda di bandara yang dimaksud, dalam hal ini Soekarno-Hatta.

Untuk menjalankan proses serah terima antara ground staff keberangkatan (departure) kepada awak pesawat sampai dengan groud  staff di terminal kedatangan (arrival) Bandara Ngurah Rai, Bali,  para wali di lokasi keberangkatan diharuskan mengisi formulir yang salah satunya menginformasikan identitas penjemput di bandara tujuan.

Data penjemput ini akan dicocokkan ketika si kecil akan diserahterimakan di bandara tujuan oleh ground staff. Pastinya data identitasnya harus sama plek!

Hari H

Ketika hari yang ditunggu-tunggu telah tiba, hal yang paling ditakutkan adalah drama kalo tiba-tiba si kecil hilang nyali, ciut nggak mau dilepas di terminal keberangkatan.

Jadinya yang nganter lumayan lengkap deh…, karena pastinya ini moment yang mendebarkan.

Aku deg-degan nih, ujarnya dalam mobil

Ternyata semua berjalan baik-baik saja, si kecil masih antusias melakukan perjalanan sendiri. 

Eee… mungkin juga karena dia sudah membuat pengumuman (baca:baper) mengebu-gebu kepada teman dan guru sekolahnya kalo dia mau naik pesawat sendirian… malu juga kan kalo batal… wkkkk..

Setelah bertanya ke Cutomer Service Garuda Indonesia, akhirnya si kecil masuk ke area pemeriksaan pertama untuk mengantri dan melakukan checkin di counter Special Assitance & Helpdesk.

Di counter itu juga si kecil diberi tag kalung macam-macam dan dilakukan serah terima ke petugas Ground Staff.

Penting, jumlah orang dewasa/wali yang diperbolehkan untuk mengantar sampai counter hanya satu orang saja.

Berangkat pukul 11:05 WIB dari Bandara Soekarno Hatta dan dijemput Oom Ga Boo dan Tante Emma di Bandara Ngurah Rai pukul 14:35 WITA

Selamat berpetualang Constatine Barindra Nugroho, selamat menikmati salah satu perjalanan hidupmu… dan terimakasih Garuda Indonesia.

regards

#BokapYangTidakBertangungJawab

Pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) untuk menghilangkan ‘Monkey Work’

Awareness

Menurut berbagai situs referensi popular, monkey work adalah tugas yang biasanya membosankan, berulang, dan membutuhkan aktifitas otak yang minimal. Tipe pekerjaannya biasanya tetap profesional tetapi cenderung berulang dan telihat bodoh di mata yang mengerjakan.

Kesadaran sebuah pekerjaan memiliki kategori monkey work umumnya tidak muncul seketika. Biasanya, setelah periode waktu tertentu seseorang akan tersadar ketika pekerjaan yang dikerjakan memiliki pola repetitif dan hasilnya tidak memuaskan.  

Pada saat perasaan bosan dan  stress menghinggapi, orang akan mulai mempertanyakan pekerjaan yang dia lakukan. Pertanyaan itu bisa seperti ini: Masa nggak ada cara lain, sih? Ngapain juga ya, saya mengerjakan tugas konyol ini setiap hari? Asyik juga ya, kalo ada aplikasi yang bisa mengerjakan semua pekerjaan bodoh ini.

Monkey Work pada Aplikasi Kompas TTS

Aplikasi Kompas TTS pada perangkat bergerak di iOS, Android dan Windows Phone merupakan salah satu aplikasi yang mengharuskan adanya produksi soal baru berkualitas tinggi (sulit dipecahkan) setiap hari.

Ya, setiap hari!

Pada saat aplikasi Kompas TTS tidak dapat menampilkan soal baru setiap hari, keluhan akan muncul seketika pada bagian komentar aplikasi di Google Play (Android) dan App Store (iOS). Seringkali para pengguna aplikasi meluapkan kemarahan mereka dengan memberikan peringkat (rating) buruk (bintang satu) pada sistem rating Google Play maupun iTunes App Store.

Sungguh celaka!

Bagi pengelola aplikasi Kompas TTS, rating menjadi salah satu indikator evaluasi yang penting. Rating yang buruk pastinya juga membawa dampak negatif untuk brand Harian Kompas.

Tantangan untuk menghasilkan soal teka-teki silang yang berkualitas pada aplikasi perangkat begerak sebenarnya tidak terlalu sulit, karena seluruh soal dan jawaban berasal dari teka-teki silang yang terbit di Harian Kompas. Dari sisi kualitas tidak ada yang perlu diragukan lagi.

Permasalahan terbesar sebenarnya datang dari sisi reproduksi dari bentuk cetak ke bentuk digital (aplikasi):

Pertama, ada pekerjaan untuk menulis ulang seluruh soal dan jawaban ke bentuk database yang terstruktur. Pada suatu waktu, ada pengerjaan input ulang ratusan ribu baris kombinasi pertanyaan dan jawaban yang dilakukan oleh tenaga outsourcing.  

Kedua, jumlah kotak teka-teki silang pada aplikasi bergerak berbeda dengan versi cetak. Pada versi cetak kotaknya 21×21, sedangkan pada perangkat bergerak kotaknya 15×15. Hal ini mengharuskan adanya penyusunan ulang bentuk teka-teki silang secara manual.

Pada awal pengembangan aplikasi Kompas TTS, pengerjaan soal 15×15 dilakukan secara manual sama seperti halnya dengan pengerjaan format 21×21 di versi cetak. Seseorang diharuskan mengutak-atik kombinasi pertanyaan sehingga menghasilkan sebuah format teka-teki silang yang dapat dimainkan.

Saat pertama kali dihadapkan dengan realita ini, seluruh anggota tim pengembang aplikasi Kompas TTS langsung sadar mereka melakukan monkey work. Reaksi mereka: Oh tidak, bro!. Masa iya kita harus bikin soal teka-teki silang setiap hari? Ngapain kaya orang bego, suruh komputer aja yang bikin!

Pengerjaan berulang seperti ini berlangsung cukup lama, beberapa bulan. Hal ini terjadi karena pada saat itu tim sedang fokus untuk memperbaiki performa aplikasi dari sisi pengguna sehingga efisiensi dari sisi produksi memang sedikit terabaikan.

Aplikasi khusus untuk membuat soal teka-teki silang secara otomatis menjadi syarat mutlak bila ingin sistem produksi dapat berjalan dengan mulus dan menghilangkan monkey work yang membuat seluruh anggota tim terlihat bodoh. Aplikasi itu tentulah harus cukup pintar untuk membuat soal teka-teki silang dengan baik dan benar. Setelah pembahasan serius, diputuskan untuk memanfaatkan komputer cerdas alias artificial intelligence (AI).

By definition, AI adalah kecerdasan yang dimasukkan ke dalam suatu sistem mesin (komputer) agar dapat melakukan pekerjaan seperti manusia. Kecerdasan buatan ini biasanya tersusun dari berbagai macam algoritma.

Bantuan Artificial Intelligence dari Ninja

Bukannya tidak sadar akan kebodohan aktifitas membuat soal teka-teki silang setiap hari, tetapi menemukan seseorang yang dapat membuat algoritma artificial intelligence untuk otomatisasi pembuatan soal teka-teki silang bukanlah perkara gampang. Sumber daya internal sulit didapatkan karena urusan prioritas pekerjaan dan keahlian membuat algoritma seperti itu memang bukan urusan sehari-hari Harian Kompas.

So be it. Kita sewa seorang ninja!

Dalam dunia pengembangan teknologi, ada orang-orang yang disebut ninja. Mereka adalah pakar teknologi yang memang tidak pernah terlihat di permukaan atau tampil di publik tapi memiliki kemampuan dan kontribusi utama pada sistem-sistem canggih di berbagai industri yang padat teknologi. Mereka tidak terlihat namun sangat berarti.

Sebutan Ninja juga lebih pada karena untuk meminta bantuan mereka, harus dilakukan secara ‘diam-diam’. Hehehe…

Karena unsur kerahasiaan dan keamanan, seringkali kita sulit untuk mengetahui keahlian dan hasil karya mereka. Kalo beruntung, gambaran pekerjaan dan kemampuan mereka biasanya bisa terlihat dari beberapa aplikasi “kecil” di situs-situs pemrograman seperti Github.Com ataupun situs profesional seperti LinkedIn.Com

Beruntung tim yang terlibat mengerjakan aplikasi Kompas TTS sudah sering menggunakan jasa para ninja untuk proyek-proyek sebelumnya. Dari beberapa pengalaman kerja dengan berbagai ninja dengan latar belakang berbeda, tidak terlalu sulit untuk menemukan sesorang yang dapat membuat algoritma khusus untuk membuat soal teka-teki silang secara otomatis.

Permintaan dari tim pengembang aplikasi Kompas TTS cukup  sederhana: dalam dua minggu, bisa nggak buatkan kami algoritma berbasis teknologi open source untuk mengotomatisasi soal teka-teki silang dari bank soal yang tersedia?

Seperti proyek yang menggunakan teknologi cutting edge lainnya, semua infrastruktur dan komponen penunjang sistem artificial intelligence harus dibuat dari awal menggunakan teknologi terbaik dan terbaru semacam

Linux CentOS, NodeJS, dan Python

Bagaimana sistem itu bekerja secara otomatis menghasilkan soal setiap hari ? Jujur saja, belum ada yang peduli. Yang penting aplikasi terbukti bisa berfungsi dengan baik.

Happy Ending

Bagi tim, otomatisasi ini mengakhiri salah satu milestone penting pengembangan produk aplikasi Kompas TTS: full production dengan otomatisasi penuh.

Tidak ada lagi hari-hari konyol ketika seseorang harus melakukan monkey work membuat soal teka-teki silang setiap hari. Tidak ada lagi pengguna marah yang memberi rating buruk karena kehabisan candu soal teka-teki silang terbaik di Indonesia.

Happy!

Sumber : Buletin Insight Harian Kompas edisi Juni 2016
*Beberapa paragraph mendapat penyesuaian untuk konsumsi umum.

Kompas Recipes, Hiper Lokal Untuk Pasar Global

Pasar Indonesia

Pada tahun 2015, kita menyaksikan maraknya berbagai jenis investasi digital yang menyasar pasar Indonesia.

Terlihat dari munculnya startup eCommerce beserta dukungan dana dari perusahaan Venture, belanja iklan startup eCommerce yang meningkat pada media tradisional seperti papan reklame, televisi dan koran sampai pada membanjirnya ketersediaan aplikasi mobile yang diperuntukkan bagi pemilik smartphone.

Semua ditujukan untuk memudahkan belanja online produk retail dan juga belanja digital lainnya

Indonesia merupakan pasar yang sangat menjanjikan dari sisi penetrasi akses internet terutama melalui penggunaan perangkat bergerak seperti smartphone.

Menurut Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), pengguna akses  Internet di Indonesia pada tahun 2014 adalah sebesar 88.1 juta dari 252,4 (34,9%). Di banding dengan negara tetangga masih kecil, tetapi pola peningkatannya berbentuk exponensial (bukan linier)

Hal ini juga yang mungkin mendorong beberapa investor di dunia digital mulai melirik pasar Indonesia.

Red Ocean

Bila mengambil ‘kacamata’ strategi menggunakan buku ‘Blue Ocean Strategy’ yang ditulis oleh W. Chan Kim dan Renee Mauborgne. Maraknya para pelaku bisnis di area yang sama akan mendorong persaingan yang sengit dan berdarah-darah.

red ocean

Bila perusahaan-perusahaan tersebut tidak bisa menemukan ‘value proposition’ yang kuat, Indonesia akan menjadi salah satu arena ‘Red Ocean’ digital yang sangat mengerikan.

Kanibalisme produk dan perang diskon akan menjadi senjata pemasaran yang akan mewarnai hari-hari konsumen di Indonesia. Strategi ‘low price’ dan cenderung gratis pastinya akan sering digunakan, hal ini mengacu pada fakta daya beli yang rendah yang tercermin dari GDP Indonesia yang tidak sebaik negara tetangga di kawasan Asia.

Pada dua kesempatan mengahadiri acara yang membahas industri digital, Id-Byte 2015 dan Mobile Marketing Association Forum Indonesia (MMAF 2015), kesimpulan dari paparan presentasi para narasumber luar negeri, Indonesia adalah market yang berkembang, memiliki user base yang besar dan para investor siap mengucurkan dana yang besar melalui berbagi percobaan model bisnis yang pastinya juga belum tentu berhasil dalam jangka panjang.

Dari paparan didatas, telihat jelas posisi Indonesia sebagai pasar bagi para pemodal asing.

Kebetulan, dalam beberapa tahun ini saya mengawaki departemen yang salah satu tugasnya melakukan new product development. Lalu bagaiman produsen (pemodal) dalam melihat dan menentukan pasar yang potensial ? Apakah ikut dalam pertarungan digital yang sudah sesak, atau ada pilihan lain yang lebih layak dicoba dan diperjuangkan?

The Hidden Gem Of Digital

Ketika berbicara mengenai market (pasar) digital, sering kali paradigma yang digunakan hanya sebatas pasar lokal saja, Indonesia. Banyak pihak yang tidak sadar bahwa digitalisasi artinya semua orang atau entitas bisnis di dunia ini yang terhubung dengan Internet merupakan pasar yang baru yang bisa dijangkau dengan mudah dan sangat cepat.

Aplikasi mobile ‘Kompas Recipes’ mencoba menjawab tantangan tersebut. Dengan hadir dalam bentuk digital di Google Play untuk perangkat Android dan AppStore untuk perangkat iOS, aplikasi ini diharapkan mampu memasarkan konten kepada pasar yang lebih luas di luar Indonesia.

Kompas Recipes adalah aplikasi yang dapat diunduh dan digunakan dengan bebas tetapi didalamnya memiliki fitur ‘In App Purchase’ atau disingkat IAP. Dengan konsep IAP, konten resep dapat dijual satuan maupun dalam bentuk bulk buku.

Ide awal pengembangan aplikasi Kompas Recipes bermula dari diskusi antara divisi Strategic Management Office dengan rekan – rekan di Penerbit Buku Kompas (PBK). Dimulai dari diskusi mengenai pemanfaatan existing konten yang bisa dijual dalam bentuk lain, kebetulan ada satu buku terbitan PBK yang memiliki prospek untuk dijual ke pasar yang lebih luas.

Buku ‘100 Maknyus’ dari Pak Bondan Winarno memiliki beberapa kriteria untuk pengembangan konten yang dapat dijadikan pemasukan baru.

  1. Kriteria pertama adalah kualitas kontennya tidak perlu diragukan lagi karena sudah dikurasi oleh pakar dibidang kuliner.
  2. Kedua, buku tersebut merupakan  best seller nasional untuk pasar Indonesia sehingga ada sedikit jaminan tentang penerimaan pasar, paling tidak pasar Indonesia.
  3. Ketiga, buku tersebut memiliki konten yang sangat lokal, sebut saja hiperlokal, sehingga menghasilkan value proposition yang unik unuk mencipataka peluang pemasaran yang lebih baik .
  4. Keempat adalah yang paling penting, buku tersebut memiliki versi Bahasa Inggris dari penterjemah tersumpah.

Untuk memasarkan konten secara global, syarat utama dan tidak bisa ditawar adalah penggunaaan Bahasa Inggris. Dengan Bahasa Inggris aplikasi Kompas Recipe memiliki pasar yang hampir tidak terbatas.

Pilihan Pengembangan Aplikasi

Selain keunggulan kriteria tersebut tidak serta merta proyek pengembangan aplikasi Kompas Recipes segera bisa dilakukan. Pada awalnya terdapat kebingungan dan keraguan mengenai jenis aplikasi yang ingin dikembangkan. Berdasarkan buku tersebut ada dua pilihan pengembangan.

Pilihan pengembangan konten buku menjadi aplikasi kuliner sepert Foursquare, Makan Yuk dan Zomato atau pengembangan konten buku menjadi aplikasi resep seperti aplikasi resep Jamie Oliver.

Disinilah peran Departemen Research untuk menentukan value sebenarnya dari buku tersebut.

Dari serangkaian kegiatan focus group discussion dan branstorming, akhirnya manajemen proyek dapat dengan sedikit lebih mudah menentukan jenis aplikasi yang ingin dibangun.

Buku ‘100 Maknyus’ karya Pak Bondan adalah buku resep, bukan buku kuliner yang selama ini diasumsikan oleh banyak pihak.

Google Play dan App Store

Pada Pertengahan bulan Juli 2016 (bersamaan dengan tulisan blog ini), aplikasi Kompas Recipes akan memulai debut marketinegnya dengan memanfaatkan kanal sosial media dengan mentarget para pencari resep tradisional Indonesia yang berada diluar wilayah Indonesia.

Bagi pengguna Android silahkan menunduh aplikasi ini di Googe Play dan bagi para pengguna iTunes silahkan mengunduh melalui App Store.

Semoga ‘Kompas Recipes’ bisa menjadi model lain pemasaran konten atau  hiper lokal Indonesia untuk pasar internasional.

Oh iya, bagi kalian yang membaca blog ini dan memiliki koleksi konten resep Indonesia yang menurut kalian layak jual,  bisa langsung menghubungi saya di Divisi Strategic Management Office Harian Kompas.

Selamat Memasak!

Sumber : Buletin Insight Harian Kompas edisi Desember 2015
*Beberapa paragraph mendapat penyesuaian untuk konsumsi umum.

Profesi baru itu bernama Business Technology dan Marketing Technology

Dalam kurun waktu dua tahun ini, ada sesuatu yang menarik perhatian saya dalam bidang human resources. Munculnya profesi-profesi baru yang memliki pattern ‘hybrid-skill’, ya sebut saja hybrid ya atau multi-talent, dan istilah sejenis lainnya.

Profesi-profesi baru tersebut salah satunya adalah Business Technology.  Kemudian pada saat mengadiri acara Asia Pacific Media Forum 2016 (APMF 2016) bulan kemarin ada profesi baru lagi tapi tetap dengan mencantumkan ‘technology’ dengan nama Marketing Technology.

Dari dua kasus diatas sepertinya menjawab beberapa pertanyaan dikepala saya dan juga beberapa orang lain yang saya temui.

Dalam banyak kasus pengembangan produk atau layanan baru maupun existing di perusahaan-perusahaan besar yang harusnya bisa didorong atau di ‘leverage‘ dengan kehadiran teknologi biasanya tidak bisa berjalan dengan baik dan mulus.

Mobile Application sebuah perusahaan taksi yang cukup terkenal dengan warna birunya, saya yakin sekali mereka tidak kekurangan sumber daya dari sisi bisnis dan teknologi informasi. Kenyataannya sangat berbeda, sebelum ada kejadian demonstrasi supir taksi, aplikasi mereka sangat biasa dibanding dengan kompetitor sejenis.

Sangat berbeda bila dibandingkan dengan aplikasi sejenis (pesaing) yang muncul belakangan, sepertinya ada gap yang harusnya tidak terjadi.

Sekarang agak berbeda, dari salah satu sesi presentasi acara APMF 2016 kemarin, salah satu petinggi perusahaan taksi tersebut sudah melakukan perbaikan drastis dari sisi User Experience dan User Interface aplikasi mobile mereka. Seperti kata pepatah, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.

Payment Gateway, bila diambil logika standar, harusnya perusahaan-perusahaan besar dengan segala kemampuannya bisa dengan mudah mengaplikasikan berbagai layanan payment gateway yang masif dan mudah digunakan.

Kenyataannya, payment gateway yang paling banyak pilihannya dan mudah digunakan ada di perusahaan-perusahaan kelas kecil dan menengah yang mungkin juga nggak punya sumber daya pengembang secanggih perusahaan-perusahaan raksasa tersebut.

Business Technology dan Marketing Technology, Apakah kamu pernah mendengar atau mengetahui profesi ini sebelumnya ?

Profesi ini adalah profesi-profesi baru yang saat ini sangat dibutuhkan banyak pihak. Ahli di business atau marketing tapi dia juga menguasai teknologi.

Pemisahan dua profesi ini dalam bentuk manusia maupun departemen sepertinya menghasilkan gab yang lebar untuk mengejar kebutuhan atau tantangan saat ini.

Nah, selama ada niat dan minat, teknologi adalah sesuatu yang paling mudah dipelajari. Dalam arti aksesnya sangat terbuka hanya dengan mengandalkan internet dan sebuah komputer jinjing atau desktop. Sedangkan business dan marketing membutuhkan perjalanan yang agak panjang karena kompleksitasnya yang nggak bisa dihindari. Mulai dari sisi sales, finance, marketing, interaksi manusia, kondisi ekonomi dan lain sebagainya.

Pada kondisi saat ini dimana perusahaan harus selalu berhitung dan mengencangkan ikat pinggang, teknologi biasanya menjadi andalan untuk memudahkan dan mengefisienkan sebuah pekerjaan.

Tantangannya saat ini,  tuntutan teknologi bukan hanya semata pada menggunakan smarphone atau menggunakan email saja. Dengan begitu melimpahnya data digital, dibutuhkan keahlian khusus dalam mengelola tumpukan data tersebut, atau anda akan tertimbun didalam gunung data.

Untuk menentukan sebuah kampanye marketing yang efektif, seseorang dihadapkan pada analisa demografi seperti umur, jenis kelamin, hobi, preferensi belanja dan lain-lain… seringkali tools untuk melakukan analisa tersebut tidak langsung tersedia.

Hal ini sepertinya karena data yang besar tersebut ada di bagian Teknologi Informasi sehingga data tersebut hanya diam saja, kalaupun ada analisa hanya berupa report standart.

Sedangkan kebutuhan bagian marketing adalah data yang dapat memberikan ‘insight‘ dan membantu pengambilan keputusan (decission making)…, nah ribetnya lagi, untuk mendapatkan insight, orang yang membuat sistem analisa tersebut harus punya insight / insting business atau marketing.. kalo nggak ada itu hanya akan jadi analisa sampah.

Ribet kan ? wkkk…

Mau nggak mau, suka nggak suka, saat ini banyak perusahaan yang membutuhkan talenta hybrid, ngerti business dan marketing tetapi juga menguasai teknologi pengolahan data dan analisa ataupun pengunaan teknologi tertentu untuk menunjang performa pencapaian.

Untuk mencapai performa perjualan atau marketing, selain harus menguasai data sebagai modal awal melakukan perencanaan dan aksi, juga membutuhkan penguasaan tools-tools teknologi pemasaran yang saat ini bertebaran di internet.

Pernah mendengar istilah convertion rate ratio? engagement rate atau click per view ?

Bila belum mendengar ‘binatang’ di atas, maka kamu yang bekerja di bidang marketing dalam masalah besar. Itu adalah istilah-istilah dunia marketing digital, sialnya memang itu sangat terkait dengan bagaimana teknologi bekerja.

Di kantor, masih banyak yang heran kenapa saya yang di bagian riset, dan sekarang di sebuah direktorat bisnis masih ngoding (bikin program) macam-macam.

Masih belajar linux, membuat load balancer, clustering sampai sistem keamanan server.  Kemudian tetap membuat sistem analisa multi-dimensi  OLAP untuk sistem Decision Support System (DSS), bikin Application Programmable Interface (API) dan sebagainya.

Ya susah juga jelasinnya pada waktu itu, untuk melakukan analisa data dan pengembangan produk membutuhka pengerjaan teknologi yang sesuai .

Semoga dengan munculnya dua profesi itu bisa memberi gambaran mengenai tantangan yang akan dihadapi berbagai profesi mapan dan tantangan perusahaan yang akan dihadapi saat ini maupun masa depan.