Category Archives: Geography

yellow bicycle parked beside gray concrete house

Keuntungan Mengambil Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dibanding Sewa Apartment atau Kost.

Untuk menjelaskan mengapa mengambil KPR (Kredit Perumahan Rakyat) lebih aman dan menguntungkan daripada menyewa kost atau apartemen, berikut adalah ilustrasi sederhana yang menyoroti beberapa keuntungan geograsif, kebebasan dan finansial memiliki rumah sendiri.

Indonesia Luas, dengan membandingan luas wilayah Indonesia dengan negara lain, negara kita masih memiliki wilayah dengan tanah yang luas.

A view of a backyard with a lot of trees and plants
A view of a backyard with a lot of trees and plants

Memilih area untuk membeli dan membangun rumah bisa dilakukan dengan mencari tempat di bebergai pelosok kota, desa dan wilayan Indonesia.

Kesan mahal biasanya karena kita hanya mencari lokasi yang ada di pusat kota saja atau dekat dengan tempat kerja. Paradigma ini yang sebenarnya harus diubah, lokasi rumah bisa saja ada di kota atau daerah lain karena mungkin akan kita tempati di hari tua atau memang kita punya rencana pindah ke tempat tersebut.

Beberapa kali saya menemui teman, rekan kerja yang berkarya di Jakarta tetapi memiliki atau melakukan pembelian rumah di Bandung atau Yogyakarta.

Investasi Jangka Panjang, dengan mengambil KPR, saya berinvestasi dalam properti yang nilainya cenderung meningkat seiring waktu.

Berbeda dengan kost atau mengontrak, di mana pembayaran bulanan tidak akan memberikan saya kepemilikan properti.

Kepemilikan Aset, Setelah KPR lunas, saya sepenuhnya memiliki rumah tersebut. Ini memberikan keamanan dan stabilitas finansial jangka panjang karena saya tidak perlu khawatir tentang biaya sewa yang terus meningkat.

Kepastian Tempat Tinggal, Memiliki rumah sendiri berarti saya tidak perlu khawatir tentang kenaikan harga sewa atau risiko harus pindah karena kontrak sewa tidak diperpanjang.

Penghematan Biaya dalam Jangka Panjang, Meskipun cicilan KPR bisa terasa besar di awal, dalam jangka panjang, memiliki rumah bisa lebih murah daripada terus-menerus membayar sewa yang bisa meningkat setiap tahun mengikuti nilai inflasi.

Bebas Renovasi, Sebagai pemilik rumah, saya memiliki kebebasan untuk merenovasi dan mengubah rumah sesuai keinginan tanpa harus meminta izin dari pemilik atau landlord.

Stabilitas dan Kenyamanan, Memiliki rumah sendiri memberikan rasa stabilitas dan kenyamanan psikologis karena saya tidak perlu berpindah-pindah tempat tinggal dan bisa lebih fokus pada pengembangan kualitas hidup di rumah Saya sendiri.

Pembangunan Ekuitas, Setiap kali saya membayar cicilan KPR, sebagian dari pembayaran tersebut mengurangi jumlah pokok pinjaman saya di Bank, yang berarti saya membangun ekuitas di rumah dan Ini bisa menjadi sumber kekayaan di masa depan.

Selain keuntungan dari segi finansial, mengambil Kredit Pemilikan Rumah (KPR) juga memiliki berbagai keuntungan dari segi non-material.

Stabilitas Emosional, Memiliki rumah sendiri memberikan rasa stabilitas dan kepastian, mengurangi kekhawatiran tentang masa depan tempat tinggal, memberikan perasaan aman dan nyaman.

Kenyamanan Pribadi, saya dapat mengatur rumah sesuai keinginan dan kebutuhan saya, menciptakan ruang yang sepenuhnya mencerminkan gaya hidup dan preferensi pribadi saya tanpa batasan dari pemilik atau landlord.

Kepuasan Pribadi, Ada perasaan kepuasan dan pencapaian ketika memiliki rumah sendiri. Ini bisa meningkatkan harga diri dan rasa bangga akan pencapaian saya di kehidupan.

Pengembangan Komunitas, Memiliki rumah sendiri sering kali berarti menjadi bagian dari komunitas yang stabil. Saya dapat membangun hubungan yang lebih erat dengan tetangga dan berpartisipasi dalam kegiatan komunitas RT/RW.

Rasa Kepemilikan, Memiliki rumah sendiri memberi saya kontrol penuh atas properti. Saya dapat melakukan perubahan atau renovasi tanpa harus meminta izin dari orang lain, yang pada akhirnya bisa meningkatkan kualitas hidup saya.

Peningkatan Kualitas Hidup, Dengan rumah sendiri, saya dapat menciptakan lingkungan hidup yang sesuai dengan kebutuhan saya dan keluarga, meningkatkan kualitas hidup secara keseluruhan.

Warisan Keluarga, Rumah yang saya miliki dapat menjadi warisan berharga bagi anak-anak atau keluarga di masa depan, memberikan stabilitas dan keamanan bagi generasi berikutnya.

Fleksibilitas dalam Mengembangkan Hobi, Memiliki rumah sendiri memungkinkan saya untuk mengembangkan berbagai hobi yang memerlukan ruang atau modifikasi khusus, seperti berkebun, memelihara hewan, atau memiliki ruang kerja kreatif.

Kebebasan dalam Mengatur Ruang, Saya memiliki kebebasan untuk merancang dan mengatur ruang sesuai kebutuhan keluarga, seperti menambah kamar, membuat taman, atau memiliki ruang bermain untuk anak-anak.

Meskipun KPR memiliki banyak keuntungan, penting untuk mempertimbangkan kemampuan finansial dan memastikan bahwa kita bisa memenuhi kewajiban cicilan bulanan sebelum memutuskan untuk mengambil KPR.

Bila dirasa berat dengan pengasilan sendiri, bisa dipertimbangan mengambil Kredit KPR menggunakan mekanisme double income suami istri.

Kenapa saya membuat artikel soal KPR ?

Ini lebih karena saat ini saya sangat prihatin dengan maraknya para influencer di media sosial dengan latar belakang tidak jelas yang menyarankan untuk tidak mengambil KPR.

Tidak mengambil KPR bagi saya sebuat nasihat yang buruk dan mengerikan!

grayscale photo of cars on road

Clash of Civilizations, Ketika Peradaban Bertemu dan Bertabrakan

Dalam dunia yang terus berubah setelah berakhirnya Perang Dingin, banyak orang yang bertanya-tanya, “Apa yang akan menjadi sumber konflik besar berikutnya?” Samuel P. Huntington mencoba menjawab pertanyaan itu dalam bukunya yang kontroversial namun berpengaruh, Clash of Civilizations.

Samuel P. Huntington adalah seorang ilmuwan politik Amerika yang dikenal luas karena teorinya tentang benturan peradaban yang dia jelaskan dalam bukunya.”The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order” (1996).

Buku ini sering dilihat sebagai tanggapan atas tesis Francis Fukuyama dalam bukunya “The End of History and the Last Man” (1992).

Fukuyama berpendapat bahwa dengan berakhirnya Perang Dingin, liberalisme demokratis Barat telah menang, dan sejarah sebagai proses perjuangan ideologis besar telah mencapai akhirnya. Dengan kata lain, Fukuyama melihat masa depan sebagai kemenangan nilai-nilai Barat yang akan diterima secara universal.

Namun, Huntington tidak setuju dengan optimisme Fukuyama.

Dalam “Clash of Civilizations,” Huntington berargumen bahwa dunia tidak menuju ke arah harmonisasi ideologi, tetapi sebaliknya, menuju konflik yang lebih intens antara peradaban yang berbeda, yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan kemenangan satu ideologi global.

Huntington punya pandangan yang berbeda dari para pemikir lain pada masanya. Alih-alih berfokus pada politik atau ekonomi, dia menekankan bahwa konflik di masa depan akan lebih banyak berkaitan dengan perbedaan budaya dan peradaban.

Huntington melihat peradaban sebagai kelompok budaya besar yang dibentuk oleh sejarah, bahasa, tradisi, dan terutama agama.

Baginya, dunia ini bisa dibagi menjadi delapan peradaban utama yang akan memainkan peran penting dalam konflik masa depan.

Peradaban Barat mencakup Amerika Utara dan Eropa Barat, yang sangat dipengaruhi oleh tradisi Kristen dan nilai-nilai demokrasi. Peradaban Konfusian berpusat di Tiongkok dan negara-negara Asia Timur yang dipengaruhi oleh ajaran Konfusius.

Meski kadang dianggap sebagai bagian dari peradaban Konfusian, Jepang diperlakukan Huntington sebagai peradaban tersendiri karena karakteristik uniknya.

Selain itu, ada juga peradaban Islam, yang mencakup negara-negara mayoritas Muslim di Timur Tengah, Afrika Utara, hingga Asia Selatan dan Tenggara. Peradaban Hindu berpusat di India dan sangat dipengaruhi oleh agama Hindu serta budaya yang berkembang di sekitarnya.

Huntington juga melihat Rusia dan negara-negara Eropa Timur yang mengikuti tradisi Gereja Ortodoks sebagai peradaban tersendiri. Di Amerika Latin, meskipun berbagi beberapa elemen dengan Barat, terdapat identitas budaya yang cukup berbeda untuk dianggap sebagai peradaban sendiri.

Terakhir, Afrika Sub-Sahara berkembang dengan identitas dan dinamika budaya yang unik, yang juga dianggap Huntington sebagai peradaban tersendiri.

Huntington berpendapat bahwa setelah Perang Dingin, dunia tidak lagi dibagi berdasarkan ideologi seperti kapitalisme versus komunisme.

Sebaliknya, garis pemisah baru adalah peradaban.

Dia mengamati bahwa peradaban-peradaban ini memiliki perbedaan mendasar dalam nilai, norma, dan pandangan hidup yang dapat memicu konflik. Sebagai contoh, nilai-nilai demokrasi liberal yang dianut oleh peradaban Barat sering kali berbenturan dengan nilai-nilai tradisional dalam peradaban Islam atau Konfusian.

Huntington juga mengingatkan bahwa globalisasi, meskipun membawa berbagai budaya lebih dekat satu sama lain, tidak selalu mengarah pada harmoni. Justru, globalisasi bisa memperkuat identitas budaya dan membuat perbedaan antarperadaban semakin jelas.

Saat peradaban yang berbeda berinteraksi lebih intensif, potensi untuk terjadi benturan pun semakin besar. Dia memandang bahwa konflik besar akan terjadi di “garis retakan” antara peradaban-peradaban ini.

Sebagai contoh, ketegangan antara dunia Barat dan Islam yang telah lama terjadi, atau persaingan yang mungkin muncul antara Barat dan Tiongkok yang semakin kuat.

Namun, Huntington tidak selalu pesimis soal masa depan.

Dia juga berbicara tentang potensi negosiasi dan kerjasama di antara peradaban. Menurutnya, peradaban Barat harus lebih memahami perbedaan budaya yang ada di dunia dan berhenti memaksakan nilai-nilai mereka ke peradaban lain.

Dengan cara ini, konflik bisa dihindari atau setidaknya diredam. Huntington memberikan saran penting bagi negara-negara Barat, yang menurutnya harus lebih introspektif dalam menghadapi dunia yang semakin plural.

Dia percaya bahwa upaya untuk menyebarkan nilai-nilai Barat seperti demokrasi dan liberalisme ke seluruh dunia dapat menjadi bumerang jika tidak dilakukan dengan sensitif terhadap perbedaan budaya.

Sebaliknya, Barat harus memperkuat identitas budayanya sendiri dan mengakui bahwa tidak semua peradaban akan atau harus mengikuti jejak mereka.

Namun, pandangan Huntington tidak luput dari kritik. Banyak yang menuduh bahwa Clash of Civilizations terlalu menyederhanakan kompleksitas hubungan internasional.

Dunia tidak hanya terdiri dari peradaban-peradaban besar yang saling bertabrakan; ada banyak faktor lain yang memengaruhi hubungan antarnegara dan kelompok, termasuk ekonomi, politik, dan isu-isu lingkungan.

Mengabaikan faktor-faktor ini membuat analisis Huntington tampak reduksionis dan tidak memadai untuk menjelaskan dinamika global yang kompleks.

Kritikus lainnya berpendapat bahwa Huntington terlalu deterministik dalam pandangannya tentang budaya.

Dia seolah-olah menyatakan bahwa budaya dan peradaban adalah faktor-faktor yang tak dapat diubah dan pasti akan memicu konflik. Padahal, budaya adalah sesuatu yang dinamis dan terus berubah seiring waktu.

Banyak contoh dalam sejarah menunjukkan bahwa peradaban yang berbeda dapat beradaptasi, berinteraksi, dan bahkan menyatu dalam cara yang damai.

Huntington juga dikritik karena terlalu fokus pada konflik antarperadaban dan mengabaikan konflik internal dalam peradaban itu sendiri.

Misalnya, dalam dunia Islam, ada perpecahan yang mendalam antara Sunni dan Syiah, atau di dunia Barat, ada ketegangan yang meningkat antara kelompok-kelompok yang berbeda secara ideologis dan ekonomi.

Konflik-konflik ini menunjukkan bahwa benturan tidak hanya terjadi di antara peradaban, tetapi juga di dalamnya.

Salah satu kritik paling tajam terhadap Clash of Civilizations adalah bahwa buku ini berkontribusi pada stigmatisasi peradaban Islam dan memicu sentimen Islamofobia.

Dengan menyoroti potensi konflik antara dunia Barat dan Islam, Huntington dianggap memperkuat stereotip negatif tentang Muslim dan mengesampingkan banyak contoh kerjasama dan perdamaian antara Barat dan dunia Islam.

Ini dapat memperburuk ketegangan dan memperdalam prasangka di antara kelompok-kelompok ini.

Di era globalisasi, banyak yang percaya bahwa dunia semakin terhubung dan perbedaan budaya cenderung memudar, bukan semakin tajam.

Huntington dianggap mengabaikan potensi positif dari globalisasi, seperti peningkatan dialog antarbudaya, perdagangan internasional yang lebih kuat, dan mobilitas manusia yang lebih tinggi, yang bisa menjadi jembatan antara peradaban daripada sumber konflik.

Huntington juga dituduh membuat generalisasi berlebihan tentang peradaban yang berbeda, melihatnya sebagai entitas monolitik, padahal setiap peradaban sangat beragam di dalam dirinya sendiri.

Kritik-kritik ini menjadi semakin relevan ketika kita melihat bagaimana konflik-konflik kontemporer seringkali lebih rumit daripada sekadar benturan peradaban.

Misalnya, perang di Suriah melibatkan berbagai aktor dengan motif yang jauh melampaui sekadar konflik budaya atau peradaban.

Ketegangan antara Amerika Serikat dan Tiongkok juga lebih banyak dipengaruhi oleh dinamika ekonomi dan geopolitik daripada perbedaan budaya murni.

Globalisasi telah membawa berbagai budaya lebih dekat satu sama lain, menciptakan ruang untuk interaksi positif dan pertukaran budaya.

Interactive Fible Optic Cable

Teknologi dan media sosial telah memungkinkan orang dari berbagai belahan dunia untuk berkomunikasi dan saling memahami dengan cara yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Ini menunjukkan bahwa ada lebih banyak peluang untuk kerjasama antarperadaban daripada yang diakui oleh Huntington.

Konflik imigran di Eropa adalah contoh nyata dari bagaimana teori Huntington bisa diperdebatkan. Masuknya jutaan imigran dan pengungsi, terutama dari negara-negara Muslim, telah memicu ketegangan di banyak negara Eropa.

Di satu sisi, ada kekhawatiran bahwa perbedaan budaya yang signifikan dapat menyebabkan benturan antara masyarakat imigran dan masyarakat lokal, seperti yang diprediksi Huntington.

Namun, kritik terhadap pandangan ini menyoroti bahwa banyak ketegangan ini sebenarnya lebih terkait dengan faktor ekonomi dan kebijakan integrasi yang tidak efektif, daripada perbedaan budaya atau peradaban semata.

Negara-negara yang berhasil dalam integrasi sering kali melihat bahwa perbedaan budaya dapat diperkaya dan tidak harus menjadi sumber konflik.

Selain itu, penyebaran radikalisme berbasis agama, baik dalam bentuk ekstremisme Islam maupun kebangkitan kelompok nasionalis ekstrem di Barat, menunjukkan sisi lain dari kritik terhadap Huntington.

Radikalisme agama bisa dilihat sebagai reaksi terhadap modernisasi dan globalisasi, yang banyak dikritik Huntington sebagai pemicu konflik antarperadaban.

Namun, radikalisme ini juga seringkali dipicu oleh faktor-faktor politik dan ekonomi, serta kebijakan luar negeri yang kontroversial, daripada oleh benturan peradaban yang murni.

Konflik-konflik ini menunjukkan bahwa akar masalah sering kali lebih kompleks dan tidak dapat dijelaskan hanya dengan perbedaan peradaban.

Pada akhirnya, Clash of Civilizations adalah sebuah tantangan intelektual bagi kita semua.

Huntington menantang kita untuk mempertimbangkan apakah perbedaan peradaban memang akan menjadi sumber utama konflik di masa depan, atau apakah kita dapat menemukan cara untuk hidup berdampingan dengan lebih harmonis.

Dalam dunia yang semakin terhubung namun juga terpecah-pecah ini, pemikiran Huntington memberikan wawasan tentang bagaimana kita bisa memahami dan mungkin mengelola perbedaan-perbedaan ini, sekaligus membuka ruang bagi dialog yang lebih mendalam dan produktif.

WolframAlpha

wolframalpha Bagi penggiat Knowledge Management, mesin pencari Google seringkali dirasa belum cukup untuk memenuhi kebutuhan data yang diinginkan.  English Query yang digunakan mesin pencari google dan sejenisnya seringkali menimbulkan kekacauan bila dikaitkan dengan pencarian data yang membutuhkan output numerical atau perhitungannya, apalagi dikaitkan dengan aktifitas slice and dice ala Business Intelligence (BI) .

Google and other traditional search engine is just way behind.

Sampai akhirnya ada layanan ini…

http://www.wolframalpha.com/

Income Per Capita Indonessia

diambil sebagian dari faq:

Is Wolfram|Alpha a search engine?
No. It’s a computational knowledge engine: it generates output by doing computations from its own internal knowledge base, instead of searching the web and returning links.

Penggabungan pencarian dan aktifitas Business Intelligence sepertinya sudah lebih nyata dan memungkinkan.

Link

  1. WolfranAplha
  2. Tentang WolframAlpha
  3. Blog WolframAlpha
  4. Faqs WolframAlpha

Selamat mencoba…

Part 2 : Geometry dan Geography di SQL Server 2008

Ada 2 Jenis tipe data baru (spatial), pada SQL server 2008. Kedua jenis data tersebut adalah GEOMETRY dan GEOGRAPHY.

1. Geometry, pada permukaan datar. (Flat Earth Model). presentasi dari X dan Y
2. Geography, pada permukaan yang bulat. (Ellipsoidal Model). presentasi dari Latitude dan Lontitude.

new data type Lakukan Instalasi SQL Server 2008 (Tipe apa saja, termasuk Express) dan anda akan menemukan ke dua jenis data ini. Great!! , ternyata versi Express pun masih mendukungnya.

Terpenting, Microsoft juga mengikuti Standart Open Geospatial  Concortium (OGC), sama seperti tipe data spatial lainnya yang sudah terkenal lebih dahu. Dengan mengacu ke standart yang sama, seharusnya(diharapkan) kompatibilitas data untuk migrasi jadi lebih mudah.

Tipe data GEOMETRY ataupun GEOGRAPHY menghasilkan 7 turunan tipe data (inheritance). Tujuh tipe data ini yang lebih dikenal di kalangan geografer sebagai tipe data yang mempresentasikan spatial.

1.Point
2.MultiPoint
3.LineString
4.MultiLineString
5.Polygon
6.MultiPolygon
7.GeometryCollection

Jadi, bahasa ‘keren’nya, ke tujuh tipe data tersebut disimpan/dikenali di tipe data GEOMETRY dan GEOGRAPHY nya SQL Server 2008. 🙂

Break dulu, pekerjaan rutin menanti…. to be continue..

Part 1 : Pengenalan Spatial Data Type di SQL Server 2008

Akhirnya Microsoft SQL Server 2008 mendukung tipe data spatial (keruangan). Sebelum memulai masuk ke bagian teknis ada baiknya kita sedikit berkenalan dahulu dengan data spatial.

Data spatial (keruangan) dasarnya di bagi menjadi 2 bagian yaitu jenis data vektor dan satunya lagi jenis data raster.

Jenis data vektor adalah “hasil” dari koordinat X,Y, Z untuk menggambarkan titik, kumpulan X dan Y untuk menggambarkan line dan shape(polygon) serta kemudian koordinat Z untuk menggambarkan ketinggian. Jenis data spatial dalam bentuk flat file / non db  sangat beragan, ada SHP, TAB, SDF dll.

Sedangkan jenis data raster digunakan untuk menggambarkan citra satelite (image). jenis flat file nya/non db  juga sangat beragam. JPEG200, MrSID, ECW, TIFF, dll. Perbedaan dengan image raster pada umumnya, tipe data raster untuk keperluan spatial memiliki informasi Georeference(rujukan geografis) dengan mengacu kepada jenis proyeksi tertentu.

Jenis proyeksi ? bagi kalangan Programmer istilah ini mungkin tidak familiar. istilah ini lebih familiar di lingkungan geografi atau geoinformatics (jurusan ini kayaknya nggak ada di indonesia deh ..:). Jenis Proyeksi adalah cara bagaimana kita melihat / memproyeksikan bumi. Karena bumi bentuknya bulat, makan dibutuhkan acuan proyeksi tertentu untuk menggambarkan bumi pada bidang datar (misal:kertas atau monitor).

Bayangkan jeruk, kupas kulitnya pada bagian dan luas tertentu, tempelkan dan tekan di bidang datar dan anda akan mendapatkan bagian yang luasnya menngecil atau meluas. 🙂

to be continue…

Part 3: Data Loading,Methods dan Sample GEOMETRY di SQL Server 2008

Pada tipe data GEOMETRY (lupakan dahulu GEOGRAPHY, agar tidak bingung), SQL Server 2008 memiliki 3 opsi loading data (membentuk data) : OGC Well Known Text (WKT), Well Known Binary (WKB) dan Geography Markup Language (GML). Sedangkan untuk mempresentasikan data, SQL Server memiliki beberapa Methods sesuai standart OGC dan beberapa yang sifatnya extended.

Contoh Syntax WKT:

POINT(7 7) // X Y (jadi titik)
POINT(7 7 3 2)  // X Y Z M // Z (elevation), dan M (measure) MULTIPOINT((2 3), (7 8 3), (4 5)) // gambar 3 titik
LINESTRING(40 40, 60 60) //titik awal, titik akhir (garis)
POLYGON((30 30, 30 100, 100 100, 100 30, 30 30)) // empat titik bentuk POLYGON, titik ke lima = pertama

Contoh Method (OGC) pada GEOMETRY Instance (sesuai abjad):

  • STArea
  • STAsBinary
  • STAsText
  • STBoundary
  • STBuffer
  • ….

lainnya bisa dilihat di bagian Help (F1) MSSQl Server 2008. 🙂

Ketika menjalankan perintah syntax spatial di SQL Server Management studio 2008, perhatikan bagian outputnya, selain tab ‘result’ dan ‘message’, juga terdapat tab ‘spatial’

Contoh penggunaan Syntax WKT dan Method untuk mengambar Polygon.

DECLARE @geocontoh Geometry
SET @geocontoh = Geometry::STGeomFromText(‘POLYGON(
(10 90, 10 100, 50 100, 50 90, 10 90),
(10 10, 10 90,  20 90,  20 10, 10 10),
(20 10, 20 20, 50 20, 50 10, 20 10),
(40 20, 40 50, 50 50, 50 20, 40 20),
(30 40, 30 50, 40 50, 40 40, 30 40)
)’,0)
SELECT @geocontoh
SET @geocontoh = @geocontoh.MakeValid();
SELECT @geocontoh.ToString();

Hasil:

contoh geometry

Note: Angka “0” setelah kumpulan koordinat polygon sebenarnya di tujukan untuk angka SIRD (spatial reference identifier) a.k.a refrensi proyeksi. Dalam contoh ini diabaikan. Sedangkan Method “MakeValid” digunakan untuk validasi syntax WKT, apakah polygon yang digambar saling memotong atau bertumpuk sehingga syntax WKT nya berubah dari POLYGON menjadi MULTIPOLYGON. Hemm.. i love it.

have a worderful weekend… to be continue….

Step 4: Extraction, Loading SPATIAL Data Type

Pada tiga penjelasan sebelumnya, kita sudah berkenalan dengan jenis data spatial di SQL Server 2008. Topik berikunya mengenai load data spatial jenis shapefile(shp) ke dalam table SQL Server 2008.

Mengapa saya memilih menyimpannya di SQL Server 2008 dibandingkan dengan penyimpanan format flat file macam shapefile (shp,idx,dbf) ? Berdasar pengalaman, data dalam bentuk tabular lebih mudah untuk di ‘manage’ walaupun tentunya terjadi sedikit penurunan dari segi performance.

Untuk menguji kehandalan tipe data spatial SQL Server 2008, saya akan mencobanya dengan load data besar berupa line (770 ribu line / 240 MB) dan polygon (1,7 juta polygon/ 560 MB) . Load data dilakukan dengan tools ‘Shape2SQL‘ ciptaan Morten Nielsen, best and simpliest tools so far.., and it is free. Jangan lupa untuk menghilangkan ‘tick’ create spatial index. pada beberapa shapefile akan mengakibatkan gagal load ke tabel SQL Server

Setelah menunggu selama 2 jam (heh..lama juga ya!), akhirnya data polygon dan line itu “mampet” semuanya ke tabel SQL Server 2008, tentunya dengan skip beberapa polygon yang rusak.

langkah berikutnya adalah melakukan preview di SQL Server Management Studio (SSMS). UNION kan preview dua tabel tersebut..

shape2sql 19-10-2010 10-10-15 - 3

Dan ini lah hasilnya:

shape2sql 19-10-2010 10-10-15 - 2

Pada posting berikutnya akan saya bagikan pengalaman membaca data spatial di SQl server 2008 tersebut melalui NET component

Web GIS with MapGuide Opensource 1.2

I found that the simple and low cost way to setup, produce, run and maintain a Web Geographic Information System (GIS) is by using MapGuide Opensource (server) and Autodesk MapGuide Studio (Author).

Screen shot Note: The spatial data is based on esri shape file (shp) and automatically transform into sdf (autodesk spatial data file) for better performance. The Image layer is from NASA.

The spatial layer can also easily join with other data source such as SQL Server, Oracle, MySQl , PostgreSQL , etc

Here’s the screen shots, from authoring until publishing:

1. Find Data and Build Layers

2.Make Map and Place The Map on the Internet

3.Line feature, it connect all the dot.

4.It quickly load(show) millions of polygon shapes

5. image from NASA and transparant layer

6. Buffer

7. An Image from a click on a location, using simple concat script

The Web GIS application is runnning on windows server 2003 operating system, dot net 2.0 framework , mapguide opensource 1.2 and Autodesk MapGuide Studio

MapGuide Open Source (MGOS)

I always looking for free web gis server with dotnet framework capabilities. Mostly everything that related with dotnet came with a charge. Recently i found that autodesk start their web gis opensource project, the MapGuide Open Source Project (MGOS). Surely it can run on dotnet framework and it’s free.

MapGuide Open Source is a web-based platform that enables users to quickly develop and deploy web mapping applications and geospatial web services. MapGuide features an interactive viewer that includes support for feature selection, property inspection, map tips, and operations such as buffer, select within, and measure. MapGuide includes an XML database for managing content, and supports most popular geospatial file formats, databases, and standards. MapGuide can be deployed on Linux or Windows, supports Apache and IIS web servers, and offers extensive PHP, .NET, Java, and JavaScript APIs for application development. MapGuide Open Source is licensed under the LGPL..

Free Download