Category Archives: Work

Keluar dari Korporasi, Kesadaran dan Keberanian

Pada bulan November 2019, tepat enam tahun yang lalu, saya akhirnya benar-benar melangkah keluar dari gerbang sebuah perusahaan besar yang sudah menjadi bagian hidup saya selama hampir separuh usia produktif.

Sebuah perusahaan media, anak dari kelompok korporasi raksasa yang mempekerjakan ribuan orang. Di unit tempat saya bekerja saat itu saja, ada sekitar enam ratus jiwa yang setiap hari berlari di roda besar bernama industri media.

Bagi banyak orang di sekeliling saya, keputusan itu tampak nekat, bahkan sedikit gila. Saya mengundurkan diri di tengah pandemi, ketika ketidakpastian sedang menjadi udara yang dihirup semua orang.

Dan yang paling aneh, saya belum punya tempat baru untuk bekerja.

Tidak ada janji posisi lain, tidak ada tawaran yang menunggu di meja. Hanya keyakinan kecil di dalam hati bahwa ini waktunya berhenti.

Biasanya orang keluar dari pekerjaannya karena sudah menemukan pengganti. Sudah ada jembatan yang siap dilewati. Tapi saya memilih berjalan tanpa tahu ujung jalan.

Keputusan itu mungkin tampak mendadak bagi sebagian rekan, padahal sebenarnya tidak.

Bertahun-tahun sebelumnya, saya sudah menyiapkannya dalam diam. Semua langkah sudah direncanakan, dengan sabar, dengan penuh pertimbangan yang tak banyak orang tahu.

Pandemi datang sebagai topan yang justru membuka jalan. Aturan kerja berubah, pertemuan dibatasi, semua jadi berjarak. Itu membuat saya bisa keluar tanpa harus berpamitan tatap muka, tanpa perpisahan penuh air mata di ruang rapat yang dingin.

Mungkin itu pertolongan kecil dari semesta. Karena sejujurnya, kalau harus menatap mereka satu per satu, saya tidak yakin sanggup menahan mata yang basah.

Mbrebes mili, seperti kata orang Jawa.

Sebagai seseorang yang masih suka menulis, saya tahu saya akan menuliskan cerita ini suatu hari nanti, kisah tentang keberanian yang tidak terasa heroik, tentang keputusan yang tidak diambil dalam semalam.

Hari ini, enam tahun setelahnya, saya akhirnya dapat duduk tenang menulis bagian akhir cerita ini di sebuah blog. Dengan jarak, dengan kesadaran, dan dengan rasa syukur yang perlahan-lahan menjadi bening.

Ketika Data Berkata Jujur

Saya bergabung di perusahaan itu sebagai staf peneliti bisnis. Tugas saya sederhana di atas kertas, belajar riset dari awal, membantu membuat sistem informasi berbasis data, mengamati perilaku pembaca, sirkulasi, dan distribusi koran.

Tapi di balik tugas itu ada sesuatu yang lebih besar.

Saya diberi akses pada data-data yang tidak semua orang boleh lihat. Angka penjualan, laporan oplah, tren iklan, grafik penurunan. Di antara deretan angka itu, saya melihat masa depan yang tidak seindah masa lalu.

Sebagai peneliti muda, saya tahu kenapa data itu dijaga rapat. Bukan karena rahasia dagang semata, tapi karena data punya kuasa. Ia bisa menyingkap kenyataan yang tidak semua orang siap terima.

Dan kenyataan itu adalah, industri surat kabar sedang menua.

Tahun 2004, era “big data” belum populer. Tapi kami di divisi riset sudah bereksperimen dengan apa yang sekarang disebut “vector database”.

Kami membuat sistem analisis menggunakan OLAP, MDX, dan datamart kecil yang menjadi semacam mesin waktu, memperlihatkan tren yang mungkin tidak ingin dilihat siapa pun.

Sebagai orang yang mencintai data, saya tahu grafik-grafik itu bukan sekadar angka. Mereka bercerita tentang sebuah industri yang perlahan kehilangan napas.

Saya ingat satu sore ketika saya memandangi laporan sirkulasi dari Pew Research tentang industri koran di Amerika, garisnya terus turun tahun demi tahun.

Tidak butuh banyak tafsir untuk mengerti ke mana arah dunia bergerak. Kalau industri di negara maju saja menurun, bagaimana nasib media cetak di negeri yang sedang sekarat seperti Indonesia?

Tapi saya tetap bertahan, bukan karena menutup mata, melainkan karena rasa suka dan keterikatan. Karena di balik semua grafik penurunan itu, ada nilai-nilai yang membuat saya bangga, integritas, ketulusan, dan manusia-manusia yang jujur bekerja di perusahaan tersebut.

Saya tahu saya tidak sedang bertahan demi korporasi. Saya bertahan karena menghargai arti pekerjaan itu sendiri.

Ketika Surga Tidak Lagi Abadi

Bagi banyak orang, bekerja di sana adalah surga dunia. Fasilitas lengkap, tunjangan besar, pinjaman rumah bunga nol persen, dana pensiun seperti Pegawai Negeri Sipil (PNS), bonus tahunan yang membuat banyak keluarga tersenyum.

Orang-orang menyesuaikan hidup mereka dengan perusahaan, mencari rumah di sekitar kantor, menikah dengan rekan kerja, menua bersama rutinitas yang teratur.

Tapi dari ruang kecil tempat saya menganalisis data, saya tahu surga ini punya tanggal kedaluwarsa. Angka-angka tersebut tidak bisa berbohong.

Saya melihat bagaimana industri kamera film runtuh dalam sepuluh tahun semenjak lahirnya kamera digital. Kalau teknologi bisa menghapus sesuatu sekuat itu, apa yang bisa menahan kertas dan tinta?

Saya sering berbincang santai dengan teman-teman di divisi riset, memprediksi kapan “tipping point” itu akan datang. Saat di mana jumlah pembaca sudah tidak lagi membuat bisnis ini masuk akal.

Kami bercanda, tapi di dalamnya ada kesedihan yang samar. Seperti melihat kapal megah yang perlahan bocor air di lambungnya.

Tipping point adalah istilah yang dipopulerkan pleh Malcolm Gladwell, bukan sekadar teori. Ia adalah kenyataan yang sedang berjalan di depan mata. Dan penolakan untuk melihat dan mengakuinya, hanya menunda rasa sakit.

Industri media cetak sedang menuju senja. Menyangkal hanya akan memperlambat proses penerimaan kenyataan.

Belajar Berdiri di Kaki Sendiri

Dari kesadaran itulah saya mulai menyiapkan diri. Saya tidak ingin hidup saya sepenuhnya ditopang oleh sesuatu yang sedang perlahan rapuh. Maka saya mulai membuat keputusan-keputusan kecil yang waktu itu mungkin terlihat aneh.

Tidak menggunakan fasilitas pinjaman rumah kantor, misalnya. Saya lebih memilih membeli rumah sendiri lewat KPR di Bank Mandiri, di tahun kedua saya bekerja. Gaji saya waktu itu hanya tiga juta rupiah, standar karyawan Management Trainee (MT) dan sepertiganya langsung terpotong untuk cicilan ke Bank Mandiri.

Tapi saya tetap maju.

Uang muka untuk pembelian rumahpun saya pinjam dari kekasih saya, yang sekarang jadi istri saya. Rasanya konyol, tapi juga indah dan juga sedikit ‘memalukan’.

Kami tahu apa yang kami perjuangkan. Tahun 2019, rumah itu akhirnya lunas. Lima belas tahun terikat dengan bank, tapi pada akhirnya bebas.

Lunasnya rumah itu menjadi simbol kecil kemerdekaan batin. Saya tidak lagi terikat fasilitas pinjaman apapun. Ketika hari itu saya memutuskan dan membulatkan niat berhenti bekerja, tidak ada yang bisa menahan saya, rasanya sangat ringan.

Banyak orang menertawakan keputusan saya waktu itu.

“Bodoh,” kata mereka.

“Kenapa nggak sabar sedikit? Nanti juga bisa pinjam tanpa bunga.” Tapi saya tahu apa yang saya lakukan. Hidup saya harus bisa berdiri di kakinya sendiri.

Saya melihat bagaimana orang-orang yang terikat cicilan perusahaan atau cicilan konsumtif lainnya sering terjebak dalam permainan yang sama, mempertahankan posisi bukan karena cinta pekerjaan, tapi karena takut kehilangan fasilitas dan sumber pendapatan.

Dari kondisi tersebut lahir banyak politik kantor, banyak kompromi yang perlahan mematikan integritas.

Saya dan istri bersepakat untuk hidup sederhana, anak satu cukup karena dunia sudah penuh.

Kami bercanda seperti itu, tapi di baliknya ada kesadaran yang tenang dan bulat. Kami bukan orang kaya, tapi kami berusaha hidup dengan kepala tegak.

Membangun Masa Depan dari Ruang Kecil

Saya tetap bekerja di sana selama enam belas tahun. Panjang, tapi tidak terasa. Setiap tiga atau empat tahun, saya diberi peran baru, pindah divisi, memimpin proyek baru, menghadapi tantangan baru. Saya tumbuh, perusahaan pun berubah.

Gaji naik otomatis setiap tahun mengikuti inflasi, suasana kerja hangat, rekan-rekan seperti keluarga.

Tidak ada yang kurang.

Puncaknya adalah keterlibatan saya di proyek Kompas.id, sebuah upaya besar membawa koran ke dunia digital berbayar.

Waktu itu tidak semua percaya orang mau membayar berita online. Tapi kami berani mencoba. Di ruang kerja kecil yang bahkan tidak layak disebut “kantor”, kami membangun sesuatu yang baru.

Saya memimpin tim teknologi dan inovasi, anak-anak muda yang awalnya terbiasa dengan lingkungan Microsoft dan SAP, sekarang harus belajar Linux, sumber kode terbuka, dan bahasa pemrograman yang belum pernah mereka dengar sebelumnya.

Itu masa yang luar biasa. Kami belajar banyak, jatuh bangun, tapi saya tahu kami sedang melakukan hal yang benar.

Sampai hari ini, Kompas.id masih berdiri, sebagian besar di atas infrastruktur Azure, menggunakan open source, dan tetap relevan.

Setidaknya ada satu hal yang bisa saya banggakan, keputusan teknologi yang dulu kami pertahankan dengan keras kepala ternyata tidak salah.

Tahu Kapan Harus Pergi

Tapi semua hal baik punya akhirnya. Ketika perusahaan memutuskan melakukan restrukturisasi, menggabungkan unit teknologi, data, dan produk menjadi satu divisi besar, saya tahu arah anginnya sudah berbeda.

Secara manajerial mungkin efisien, tapi secara manusia saya tahu itu akan menekan kreativitas, membuat tim kehilangan fokus dan tuntutan ke saya juga bisa jadi tidak masuk akal.

Saya sudah terlalu lama di sana untuk tidak mengerti tanda-tanda.

Saat itulah semua persiapan bertahun-tahun terasa masuk akal. Semua simulasi mental, semua tabungan, semua perhitungan, semuanya membawa saya ke satu titik ini, waktunya pergi.

Saya keluar bukan karena kecewa, tapi karena tahu kapan harus berhenti. Kadang pergi adalah cara lain untuk menghormati tempat yang pernah kita cintai.

…

Tahun 2019 juga adalah tahun di mana rumah saya lunas. Setelah lima belas tahun, bank akhirnya melepaskan haknya, dan saya menerima surat roya dengan tangan bergetar.

Rasanya aneh, saat orang lain sibuk menumpuk aset dan mempertahankan status quo, saya justru ingin melepaskan. Mungkin karena saya sudah cukup lelah menahan ketidaknyamanan perubahan organisasi dan bagaimana orang-orang diperlakukan oleh perubahan.

Dan ketika pandemi datang, saya seperti sudah disiapkan.

Saya berbicara dengan istri lebih dulu. Dia tidak kaget, bahkan berkata, “Akhirnya.”

Bertahun-tahun sebelumnya dia sudah merasa ini akan terjadi. Kami tertawa bersama, tapi di dalam hati saya tahu dia benar, doa istri punya kekuatan sendiri.

Anak saya waktu itu masih SD. Saat saya bilang, “Poppa berhenti kerja,” dia menatap saya polos, “Poppa nanti jualan cireng aja, ya?”

Kami tertawa lagi, kadang kejujuran anak adalah hiburan terbaik bagi orang dewasa yang sedang gugup dan gagap.

…

Saya memberi tahu bagian HR lebih dulu. Saya minta kabar ini tidak disampaikan dulu ke atasan saya, Direktur Bisnis saat itu, karena beliau akan pensiun di tanggal yang sama.

Tidak etis rasanya menambah beban pikiran pimpinan dan rekan kerja yang selama ini saya hormati. Sebelum pensiun, beliau sempat berkata di sebuah pertemuan rutin bisnis, “Nanti, kalau ada teman mau ambil golden handshake, kabari saya ya.”

Saya tahu maksudnya, tetapi saya tidak tertarik. Saya ingin keluar tanpa embel-embel kompensasi. Saya ingin pergi dengan kepala tegak, bukan dengan amplop.

Tanggal 1 November 2019, saya resmi menjadi pengangguran. Teman-teman banyak yang bertanya, “Pindah kemana Dit?”

“Dirumah, bercocok tanam”, Jawabku santai penuh kelakar.

Saya tertawa, tapi dalam hati ada campuran rasa yang tidak bisa dijelaskan, lega, takut, tapi juga tenang, bagaimanapun, saya sudah menyiapkan diri untuk kondisi dan momen ini.

Tiga bulan pertama saya jalani dengan ringan dan sedikit “jetlag“. Saya menulis, membantu komunitas, dan jalan kaki setiap pagi. Istri saya bilang, jalan kaki itu menyelaraskan energi dengan semesta. Saya tidak sepenuhnya paham, tapi toh saya melakukannya juga.

Kadang hal sederhana seperti melangkah tanpa tujuan bisa jadi cara terbaik untuk menemukan arah baru.

Ketika Kesiapan Bertemu Keberuntungan

Setelah beberapa bulan, saya mulai melamar pekerjaan lagi. Umur saya sudah empat puluh lebih. Banyak yang bilang sudah terlambat untuk mulai lagi.

Tetapi saya tidak percaya pada kata terlambat, dunia selalu punya ruang bagi orang yang mau belajar dan bekerja.

Saya melamar ke mana-mana menggunakan berbagai platform, LinkedIn, Glints JobsDB, Geekhunter dan rasanya seperti naik roller-coaster.

Ketika diterima di sebuah startup pre-series, walau perusahaannya hanya berumur setahun lebih, saya akhirnya punya kesempatan belajar dengan linkungan multi-kultur dan menggunakan bahasa Inggris untuk komunikasi kerja sehari-hari.

Investor dan rekan kerja dari berbagai negara, Jepang, Rusia, Thailand dan pastinya Indonesia, dan juga tim teknologinya berasal dari Negara Vietnam.

Benar-benar sebuah kekacauan, dan benar seperti lirik sebuah lagu yang berasal dari ungkapan Friedrich Nietzsche, “What doesn’t kill you, will make you stronger“.

…

Ketika akhirnya bertemu dengan beberapa rekan yang juga aneh dan ajaibnya mengundurkan diri, dan juga mengambil jalam berkarya dan peruntungan ditempat lain, beberapa melontarkan kalimat ini.

“Bekerja di tempat lain ya lebih berat, beda banget”, ujar beberapa teman.

“Lah kok mau, resign dari perusahaan mapan, dan coba tawaran lain?” tanyaku dengan santai.

“Ya susah dijelaskan kan ya…, lah wong sampeyan juga keluar kok”. Ujar salah satu teman dengan penuh kelakar.

” Susah dijelakan, pindah dari zona nyaman bukan untuk semua orang”, Kata teman yang dulu membantu saya membangun infrastruktur server.

Begitulah salah satu suasana reuni sesama dari yang memberanikan diri pensiun lebih awal dari surga duniawi tersebut.

…

Setelah tidak berlajut dengan startup pre-series tadi, akhirnya saya kembali menjadi pengangguran, dan kembali mengerjakan proyek sebagai freelance dan juga melamar kembali perusahaan lain.

Kali ini tidak terlalu kaget, karena artinya suda dua kali keluar dari perusahaan.

Uniknya disaat kedua ini, banyak rekan, teman atau mantan kolega kerja dan partner yang menawarkan berbagai posisi ketika saya kembali tidak berkarya di perusahaan, mungkin karena saat itu pengalaman saya sudah bertambah.

“Yah, gimana, bukannya ngasih tahu sudah nggak disitu lagi”, ujar mereka bingung kok saya nggak mengabari mereka untuk tanya peluang.

Anehnya lagi, respon lamaran pekerjaan datang bertubi-tubi dan dalam waktu yang hampir bersamaan, kadang kita nggak tahu rencana semesta untuk kita, kita hanya perlu menjalaninya saja dengan sebaik-baiknya.

Disini saya sadar pentingnya reputasi dan integritas dalam bekerja, karena akhirnya orang akan melihat hal tersebut.

…

Dari semua tawaran dan kesempatan, akhirnyai saya memilih IRIS Jakarta , saat itu untuk posisi Solution Architect. Kenapa? lebih karena saya merasa lebih “klik”saja secara intuisi.

Ketika memutuskan mengundurkan diri dari perusahaan media, saya memiliki strategi dan persiapan tersediri ketika melamar pekerjaan.

Tidak berambisi mengincar posisi sejenis atau lebih tinggi layaknya orang pindah perusahaan, karena saya tahu nilai tawar saya rendah karena saya mengundurkan diri dari perusahaan sebelumnya, alias jobless.

Dugaan kenapa dengan umur diatas empat puluhan, lamaran saya masih direspon karena saya melamar di area teknologi yang posisinya tidak begitu tinggi, membutuhkan pengalaman memimpin unit, mengerti engineering, mulai dari technical lead, manager sampai dengan solution architect.

Saat itu banyak perusahaan membutuhkan pekerja dengan pengamalaman segudang untuk posisi lead atau firt-line manager.

“Maksudnya kerja bagai kuda, non “leyeh-leyeh” managerial, dengan pengalaman dan skill segudang”

Waktu itu, salah satu interviewer IRIS Jakarta bertanya, “Kamu bisa Azure?”

“salah satu client kita menggunakannya, kita biutuh orang yang mengerti Azure.”

Saat mendengar hal tersebut. dalam hati, saya tersenyum dan langsung mendapatkan aha moment. “Saya sebelumnya mengelola puluhan Virtual Machine (VM) dan ratusan prosesor di Azure untuk Kompas.id,” jawab saya.

“Saya tahu banyak perusahaan menggunakan AWS dan GCP, tetapi soal Azure saya expert”, ujarku saat itu.

Di situ saya tahu, keahlian saya yang “niche” masih dibutuhkan, saya masih punya tempat.

Ada pepatah yang bilang, sukses terjadi saat kesiapan bertemu kesempatan. Mungkin itu yang terjadi pada saya. Tapi saya lebih suka menyebutnya, kesiapan bertemu keberuntungan.

Menoleh Tanpa Penyesalan

Enam tahun setelah keputusan itu, saya menulis ini bukan untuk membenarkan pilihan, tapi untuk mengingatkan diri sendiri. Keluar dari korporasi bukan soal berani, tapi soal siap.

Siap kehilangan rasa aman, siap menerima ketidakpastian, siap melihat hidup dari sisi lain. Kadang kita tidak benar-benar meninggalkan sesuatu. Kita hanya berpindah cara untuk bertumbuh.

Dan saya bersyukur, karena waktu itu saya memilih pergi bukan karena hal negatif, tapi karena mencintai arah hidup saya sendiri.

Epilog

Pada akhirnya, hidup memang tidak selalu butuh rencana besar. Kadang cukup satu keberanian kecil untuk melangkah keluar dari lingkaran yang sudah terlalu lama kita putari.

Dunia kerja sering memberi rasa aman, tapi jarang memberi ruang untuk benar-benar tumbuh.

Kadang keputusan paling rasional justru lahir dari keheningan panjang, dari momen saat kita akhirnya berani mendengar suara hati sendiri.

Dan kalau hari ini saya menoleh ke belakang, saya tidak akan mengubah keputusan dan tindakan yang saya ambil.

Karena bahkan ketakutan dan kegamangan di masa itu, kini terasa seperti bagian dari doa yang akhirnya dikabulkan, menjadi manusia yang tidak sempurna, tapi sadar untuk terus tumbuh.

a woman wearing a black mask with feathers on it

Belajar, Cara Mengelola Krisis ala Orang-Orang Kuat Mental

Saya membuat tulisan ini karena beberapa tahun lalu saya membaca artikel di TIME berjudul “9 Ways Mentally Strong People Bounce Back from a Crisis” karya Amy Morin.

Waktu itu, saya hanya sempat membuat draf dan menyimpannya begitu saja. Tapi belakangan ini, saat kembali melihatnya, saya merasa tulisan ini justru semakin relevan.

Mungkin bukan hanya untuk saya, tapi juga untuk banyak orang yang sedang mencari pegangan di tengah masa sulit.

Dalam hidup, hampir setiap orang akan menghadapi krisis. Bisa jadi kehilangan pekerjaan, jatuh sakit, ditinggal orang tercinta, atau sekadar kehilangan arah dalam hidup.

Tapi yang membedakan satu orang dengan yang lain bukanlah jenis krisisnya, melainkan cara mereka menghadapinya.

Dalam artikel tersebut dijelaskan bahwa orang-orang yang kuat secara mental tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga mampu bangkit dan bertumbuh dari krisis.

Ini bukan tentang menjadi sempurna atau selalu tenang, melainkan tentang punya strategi sehat untuk pulih secara mental dan emosional.

Hal pertama yang mereka (orang-orang tersebut) lakukan adalah memusatkan perhatian pada hal-hal yang bisa mereka kendalikan.

Saat badai datang, mereka tidak membuang energi dengan mengeluh soal cuaca. Sebaliknya, mereka fokus mengatur arah perahu dan tetap menjaga keseimbangan.

Dalam hidup, ini berarti memilih respons, menjaga sikap, dan mengambil keputusan sadar di tengah kekacauan.

Pendekatan ini diperkuat oleh studi dari BMC Nursing yang menunjukkan hubungan positif antara ketahanan, fokus internal, dan kesejahteraan psikologis (BMC Nursing, 2021).

Orang-orang tangguh juga meluangkan waktu untuk merenung. Mereka tidak menutupi rasa sakit atau berpura-pura semuanya baik-baik saja. Mereka bertanya, apa yang bisa saya pelajari dari pengalaman ini? Dari kegagalan, kekecewaan, dan luka, mereka menggali makna.

Refleksi semacam ini tidak selalu mudah, tapi di sanalah tumbuhnya kebijaksanaan.

Ketika sudah menemukan kejelasan, mereka bergerak. Mereka tidak terjebak dalam keraguan yang tak berujung. Mereka mengambil tindakan, meski kecil, meski pelan.

Karena bagi mereka, bergerak lebih baik daripada diam dalam ketakutan.

Yang menarik, di tengah krisis sekalipun, mereka tetap berlatih bersyukur. Ini bukan soal mengabaikan rasa sakit, melainkan memilih untuk juga melihat hal-hal yang masih bisa dihargai.

Rasa syukur ini bukan pelarian, tapi jangkar yang menjaga mereka tetap terhubung dengan hal-hal baik dalam hidup. Rasa syukur telah terbukti dalam berbagai riset mampu meningkatkan kesehatan mental dan memperkuat sistem imun tubuh.

Krisis seringkali membuka pintu baru yang tak terduga. Orang-orang tangguh melihat peluang dari keruntuhan.

Mereka bertanya: apakah ini saatnya mencoba jalan baru? Menemukan bakat baru? Atau menata ulang hidup agar lebih sejalan dengan nilai-nilai mereka?

Karena bagi mereka, krisis bukan akhir, tapi awal dari sesuatu yang mungkin lebih baik.

Dalam proses ini, mereka juga mengevaluasi kembali prioritas. Mereka menyadari bahwa tidak semua hal layak diperjuangkan.

Tidak semua orang perlu dijaga. Dan tidak semua keinginan harus diwujudkan. Ada penyederhanaan yang terjadi, dan dari situ lahir ketenangan.

Kepercayaan pada diri sendiri adalah fondasi yang mereka jaga.

Orang-orang tangguh punya keyakinan bahwa mereka akan bisa melewati ini, karena mereka sudah pernah melewati badai lain sebelumnya.

Kekuatan ini bukan muncul tiba-tiba, tapi dibentuk dari kebiasaan mencintai dan memahami diri sendiri.

Tentu saja, mereka tidak lupa merawat diri. Tidur yang cukup, makan yang baik, dan olahraga jadi bagian penting dari pemulihan. Mereka tahu bahwa tubuh yang sehat akan membantu pikiran tetap jernih.

Penelitian juga menunjukkan bahwa mindfulness dan perawatan diri seperti olahraga dan tidur cukup memiliki efek positif dalam menurunkan tingkat stres kronis (Wikipedia – Mindfulness-based stress reduction).

Dan yang terakhir, mereka menjaga fleksibilitas psikologis. Hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana. Orang tangguh bisa menyesuaikan pikiran dan perilaku mereka ketika keadaan berubah. Mereka tidak kaku, tidak keras kepala.

Mereka lentur, tapi tidak patah. Ini diperkuat oleh riset di jurnal PubMed Central yang menyatakan bahwa dukungan sosial dan fleksibilitas psikologis memperkuat ketahanan terhadap stres (PMC2921311).

Kita di Indonesia sering kali diajarkan untuk kuat dengan cara diam dan bertahan. Padahal, ketangguhan sejati justru terlihat dari kemampuan untuk menghadapi, merenung, dan tumbuh.

Dalam budaya kita, ada pepatah Jawa yang berbunyi, “gesang kedah kiyat nampi sedaya kawontenan.” Hidup itu harus kuat menerima segala keadaan. Tapi, menerima bukan berarti menyerah, melainkan memahami, memproses, dan kemudian bergerak maju dengan cara yang bijaksana.

Dalam banyak cerita rakyat dan tradisi lokal, seperti kisah Jaka Tarub atau Bawang Merah Bawang Putih, kita selalu disuguhkan tokoh-tokoh yang mampu bertahan dari penderitaan, tapi tetap menjaga hati dan keluhuran budi.

Itu menunjukkan bahwa ketangguhan dalam budaya kita bukan hanya tentang fisik, tapi tentang kesabaran, ketekunan, dan kebeningan niat.

Tidak ada satu pun dari sembilan cara di atas yang instan. Tapi satu langkah kecil saja, mulai hari ini, bisa jadi pembuka jalan menuju versi diri yang lebih tangguh dan damai.

Kalau kamu sedang berada di masa sulit, percayalah, kamu tidak sendirian. Kita semua pernah ada di titik itu. Yang penting bukan seberapa cepat kamu bangkit, tapi seberapa jujur kamu menghadapi prosesnya.

Pelan-pelan saja, asal terus jalan. Dan kalau merasa lelah, tidak apa-apa berhenti sebentar, asal jangan menyerah. Kamu layak untuk pulih, dan kamu mampu untuk tumbuh.

Referensi:

man wearing black backpack

Etika Gerbong Kereta Api Komuter

Pagi hari di stasiun itu seperti adegan pembuka film kehidupan urban. Orang-orang bergerak cepat, wajah mereka penuh fokus dan kadang lesu, sebagian besar sudah memikirkan rapat jam 9 atau antrean panjang di lift kantor.

Di antara riuhnya suara langkah kaki dan pengumuman kereta yang datang, saya berdiri, menunggu giliran tap kartu masuk.

Ada yang sibuk dengan ponsel, ada yang menggandeng anak sekolah, dan ada pula yang masih terkantuk-kantuk memegang kopi sachet. Semuanya berbeda, tapi satu hal yang menyatukan, mereka semua sedang berbagi ruang dan waktu yang sama di dalam sistem bernama kereta api komuter.

Dan seperti ruang bersama lainnya, sistem ini akan berfungsi lebih baik kalau setiap individu di dalamnya tahu bagaimana harus bersikap.

Antre, Pelajaran Sederhana yang Menentukan Segalanya

Mengantre mungkin terlihat sederhana, tapi ia adalah fondasi dari keteraturan publik. Di Jepang, penumpang tidak hanya antre masuk stasiun, tetapi juga berdiri sejajar di tanda garis platform, menunggu dengan tenang hingga seluruh penumpang keluar sebelum mereka masuk.

Di Indonesia, antrean masih sering diartikan bebas. Ada yang menyelip seenaknya, ada yang mendorong dengan alasan ‘sudah telat’. Tapi coba bayangkan jika semua orang melakukannya. Maka kekacauan akan menggantikan efisiensi.

Mengantre itu bukan sekadar urutan giliran. Ia adalah ekspresi penghormatan terhadap waktu dan ruang orang lain. Mengantre itu sopan. Mengantre itu dewasa.

Ikuti Jalur Arah yang Sudah Ditetapkan

Pernahkah kamu berpapasan dengan seseorang yang berjalan melawan arah di jalur sempit dan membuat seluruh laju orang lain tersendat?

Di Singapura dan Seoul, petunjuk jalur di lantai peron bukan hiasan. Mereka dijaga dan dihormati, karena semua orang tahu, satu pelanggaran kecil bisa membuat ritme pergerakan jadi rusak. Petugas pun tak segan menegur jika ada yang membandel.

Jalur masuk dan keluar dibuat agar kita tidak bertabrakan, agar semua bisa berjalan tanpa hambatan. Mengikutinya menunjukkan kita memahami sistem. Mengacuhkannya, sebaliknya, menunjukkan kita belum siap hidup bersama dalam kota besar.

Jaga Kebersihan Diri dan Gunakan Deodoran

Gerbong komuter pada jam sibuk bisa sangat padat. Berdiri berdesakan, lengan bersentuhan, napas nyaris menyatu. Dalam kondisi itu, kebersihan tubuh menjadi bukan hanya urusan pribadi, tapi juga kenyamanan kolektif.

Saya pernah berdiri satu jam dalam kereta yang penuh, diapit oleh dua orang yang tampaknya belum mandi sejak semalam. Saya juga pernah merasa tak enak hati ketika sadar bahwa saya lupa memakai deodoran setelah pagi yang terburu-buru.

Di negara maju seperti Jerman dan Kanada, kampanye kebersihan pribadi di transportasi umum didorong secara rutin oleh operator kereta. Karena dalam ruang bersama, bau badan bisa menjadi sumber ketidaknyamanan luar biasa.

Etikanya sederhana, mandi sebelum berangkat, gunakan deodoran, dan jaga kesegaran diri.

Parfum Itu Boleh, Asal Tidak Berlebihan

Pernahkah kamu terperangkap dalam kereta penuh, lalu seseorang lewat dan aroma parfumnya menyengat seperti menyiramkan cologne ke seluruh gerbong?

Parfum yang menyengat bisa memicu sakit kepala, alergi, bahkan asma bagi sebagian orang. Di New York, ada diskusi panjang soal fragrance-free public transport, mengapa kereta harus menjadi tempat yang netral bagi hidung siapa pun.

Gunakan parfum secukupnya. Ingat, tujuan memakai parfum adalah untuk menyegarkan, bukan menaklukkan ruang publik.

Tidak Makan dan Minum di Gerbong

Tertib makan dan minum di kereta bukan hanya soal aturan, tapi juga soal kepekaan sosial.

Di Taiwan dan Tokyo, makan di kereta komuter sangat dilarang. Bahkan mengunyah permen pun dianggap tidak sopan. Kenapa? Karena gerbong adalah ruang tertutup. Bau makanan menyebar cepat, dan bisa sangat mengganggu orang lain.

Lagipula, risiko tumpah, kotor, dan mengundang serangga menjadi alasan tambahan. Jika lapar, tunggulah sampai turun di stasiun, atau manfaatkan area luar peron jika disediakan.

Kursi Itu Bukan Hanya Hak, Tapi Amanah

Kita semua ingin duduk, apalagi setelah berjalan jauh dan membawa tas berat. Tapi ketika melihat ibu hamil, lansia, atau orang yang membawa anak kecil masuk gerbong, sadarkah kita untuk bangkit dan memberikan tempat?

Di London dan Melbourne, kampanye seperti “Please Offer Me a Seat” dilengkapi dengan lencana khusus untuk penumpang yang memiliki kebutuhan tersembunyi. Tujuannya agar orang bisa dengan lebih sadar dan peka.

Di sini, kita belum punya lencana, tapi kita punya hati. Gunakan itu untuk mengenali siapa yang lebih butuh duduk, dan ajak yang lain untuk melakukan hal yang sama.

Gunakan Masker Bila Sedang Sakit

Pasca pandemi, etika memakai masker tidak lagi dianggap ‘aneh’. Bahkan di Korea dan Jepang, penggunaan masker sudah lazim sejak lama, bukan hanya karena virus, tapi juga karena etika publik.

Jika kamu batuk atau flu, tolong kenakan masker. Ini bukan hanya soal mencegah penularan, tapi juga menunjukkan bahwa kamu peduli pada kenyamanan orang lain. Suara batuk berulang bisa membuat penumpang di sekitarmu gelisah, bahkan stres.

Gunakan Headset, Jangan Setel Suara Keras

Gerbong bukan bioskop pribadi. Memutar musik atau video tanpa headset adalah bentuk ketidakpedulian.

Saya pernah mendengar suara sinetron dari ujung ke ujung gerbong, lengkap dengan efek tangisan dan teriakan. Semua penumpang terganggu, tapi tak satu pun menegur. Karena budaya menegur belum kita miliki, maka kesadaran harus datang dari dalam diri.

Gunakan headset. Dan tolong, atur volumenya. Headset yang bocor pun tetap bisa mengganggu.

Akhirnya, Ini Semua Soal Empati

Naik kereta komuter bukan hanya soal berpindah dari titik A ke titik B. Ia adalah cermin kehidupan bersama di kota modern, tentang bagaimana kita bersikap, berbagi, dan saling memahami meski tak saling kenal.

Etika komuter bukan buku aturan, tapi kesadaran hidup berdampingan. Kita tidak butuh polisi di setiap gerbong. Kita butuh lebih banyak empati, lebih banyak contoh baik, dan lebih banyak keberanian untuk berbuat benar, meski kecil, meski tak terlihat.

Mungkin suatu hari, kereta kita bisa seperti di Tokyo, tanpa dorongan, tanpa teriakan, dan semua berjalan otomatis karena setiap orang tahu apa yang harus dilakukan.

Tapi untuk sampai ke sana, semuanya harus mulai dari diri sendiri. Dari kamu. Dari saya. Dari kita semua.

Selamat menempuh perjalanan. Jangan lupa senyum, dan kalau bisa, beri tempat duduk untuk yang lebih butuh hari ini.

Dari Penelitian ke Realita, Hobi Saya Sebagai ‘Ahli Nujum’. Hahaha …

Berkarya cukup lama sebagai peneliti dan bagian dari tim R&D (Research and Development) di sebuah perusahaan media, saya selalu tertarik dengan bagaimana teknologi berkembang dan memberi dampak pada industri tempat saya bekerja.

Ini adalah berkas beberapa tahun yang lalu sekitar tahun 2017, ketika saya pertama kali mulai mendalami konsep, cara kerja Artificial Intelligence (AI) dan teknologi chat bot, pada saat itu, saya, tim dan partner pengembang melihat potensi besar yang dimiliki keduanya.

Beberapa purwarupa chat bot, sampai dengan penggunaan database vektor berjalan dalam senyap dan hening.

Saya ingat berbicara di berberapa seminar dan berbagi pandangan tentang bagaimana teknologi, termasuk AI akan menjadi bagian tak terpisahkan dari masa depan kita, sebuah prediksi yang pada saat itu mungkin terdengar seperti fiksi ilmiah (science fiction) yang terlalu cepat mendahului jaman dan “halu” bagi sebagian orang.

Namun, seiring berjalannya waktu, apa yang dulu hanya sekadar prediksi, visi dan mimpi kini telah menjadi kenyataan. AI dan teknologi chat tidak hanya hadir di berbagai aspek kehidupan kita, tetapi juga menjadi pilar utama dalam operasional bisnis, tidak hanya terbatas di industri media.

Saya merasa sedikit ‘bungah’ alias senang , namun juga pastinya harus tetap rendah hati, karena apa yang saya teliti dan prediksi hampir satu dekade lalu kini terbukti menjadi kenyataan.

Melihat Jauh ke Depan, Prediksi Tentang Teknologi

Seminar kampus adalah momen dimana saya mulai pertama kali ‘berani’ memperkenalkan konsep Teknologi masa depan , saya berbicara tentang bagaimana Machine Learning, dan bagaimana AI akan mengubah cara kita bekerja dan berinteraksi.

Saat itu ada road show, Saba Kampus, ya… beberapa orang kelilingkampus di Indonesia dan memberikan seminar sampai dengan workshop.

Memprediksi bahwa AI akan melampaui sekadar otomatisasi tugas-tugas rutin dan mulai berperan dalam pengambilan keputusan yang kompleks, analisis data besar (big data), dan bahkan dalam menciptakan konten kreatif.

2018, Media Business in the 4.0 Industrial Revolution.
Universitas Katolik Windya Mandala Surabaya

Materi presentasi, atau anak sekarang bilang ‘deck’ yang saya tampilkan di seminar kampus tersebut saya buat untuk konsumsi umum, beberapa informasi sensitif pastinya sudah saya sensor, karena beberapa project adalah project ‘senyap’ unit Development yang saya kelola dan pimpin.

Seminar kampus ini memberi saya kesempatan untuk memberikan visi kedepan tanpa beban dibandingkan ketika saya harus membawakan materi visi ini di internal perusahaan.

“Meracuni” imajinasi para mahasiswa-mahasiswi dengan visi kedepan yang mungkin terjadi, pastinya dalam konteks postif saya sebagai penelitian dan aktif dalam pengembangan produk dan sistem masa depan di sebuah perusahaan media masa.

Di panggung tersebut saya berperan dan berakrobat sebagai Ahli Nujum … Hahahaha.

Ketika di perusahaan, apalagi sebuah korporasi besar, tidak mudah membuat sebuah ide diterima, banyak aspek kompleksitas yang harus dilalui untuk menjalankan sebuah ide, dan memang itulah cara kerja korporasi, lebih berhati-hati alias prudent dan penuh liku.

Berhadapan dengan mahasiswa saya bebas mengutarakan ide, prediksi dan mimpi kedepan berdasarkan proyeksi hasil riset.

Pada tiga seminar di Universitas Katolik Soegijapranata Semarang, Universitas Katolik Windya Mandala Surabaya dan Universitas Airlangga Surabaya, saya menggunakan materi presentasi berikut ini.

Berikut adalah narasi dari materi presentasi atau deck tersebut:

Part 1, Global and Connected World

Pada masa kini, kita hidup di era yang begitu terhubung, di mana batas-batas geografis semakin kabur dan terhapus.

Buku “The End of History and The Last Man” oleh Francis Fukuyama pernah menggambarkan dunia ini sebagai akhir dari perkembangan ideologi manusia.

Kita kini berada di dunia tanpa batas, sebuah visi yang telah menjadi kenyataan. Dengan internet dan teknologi informasi, kita semua terhubung satu sama lain dalam satu jaringan global yang sangat besar, dan masa depan menuntut kita untuk terus adaptif dan siap dengan perubahan yang semakin cepat.

Part 2, Content is King, Advertising is Queen

Dalam dunia digital yang semakin kompleks, konten telah menjadi raja. Di sisi lain, iklan adalah ratu yang mengatur permainan di belakang layar.

Saat kita membicarakan pemasaran, iklan masih memegang peran penting dalam memastikan bahwa konten yang dihasilkan memiliki daya tarik dan sampai ke audiens yang tepat.

Namun, dalam dunia yang semakin kompetitif, memiliki “raja” tanpa “kerajaan” tidak akan membawa kesuksesan.

Peran teknologi dalam menavigasi dan mengelola konten serta iklan menjadi krusial untuk keberlangsungan bisnis di masa depan.

Part 3, The Slow Death of Traditional Media

Perlahan namun pasti, kita melihat kematian media tradisional. Koran, majalah, dan televisi semakin terpinggirkan oleh media digital.

Data menunjukkan penurunan tajam dalam pendapatan iklan dari media cetak dan televisi.

Perubahan ini tidak hanya mencerminkan perubahan preferensi konsumen, tetapi juga menunjukkan bagaimana teknologi telah mengubah cara kita mengonsumsi informasi.

Dominasi Google dan Facebook dalam periklanan digital menunjukkan bahwa media tradisional harus beradaptasi atau menghadapi kepunahan.

Part 4, Programmatic Advertising dan Ekosistemnya

Salah satu inovasi terbesar dalam periklanan adalah programmatic advertising, di mana pembelian iklan dilakukan secara otomatis menggunakan data real-time untuk menargetkan audiens dengan lebih efektif.

Ini adalah ekosistem yang kompleks, tetapi memberikan efisiensi dan hasil yang lebih baik dibandingkan metode tradisional.

Teknologi ini memungkinkan kita untuk mempersonalisasi iklan dengan lebih baik, menciptakan pengalaman yang relevan bagi pengguna, dan memaksimalkan pengembalian investasi bagi pengiklan.

Part 5, Artificial Intelligence dan Masa Depan

Masa depan tidak bisa dipisahkan dari Artificial Intelligence (AI). Dari pembelajaran mesin hingga deep learning, teknologi AI telah meresap ke berbagai aspek kehidupan kita.

AI tidak hanya mengambil alih tugas-tugas rutin, tetapi juga mempengaruhi cara kita bekerja dan hidup.

Dengan teknologi seperti Azure Data Center dan TensorFlow, kita dapat mengembangkan sistem yang mampu belajar, berpikir, dan mengambil keputusan seperti manusia.

Pertanyaannya adalah, seberapa siap kita menghadapi masa depan yang didominasi oleh AI?

Part 6, DevOps dan Tantangan Budaya

Di dunia teknologi informasi, DevOps telah menjadi sebuah budaya yang menggabungkan pengembangan dan operasi perangkat lunak.

Budaya ini menekankan pada otomatisasi dan pemantauan di setiap tahap pengembangan perangkat lunak.

Namun, adopsi DevOps juga menuntut perubahan budaya di perusahaan, terutama dalam kolaborasi antara tim pengembangan, operasi, dan pengujian.

Tantangan terbesar adalah menciptakan sinergi di antara tim-tim ini untuk mencapai tujuan bisnis dengan lebih cepat dan efisien.

Part 7, Blue Ocean Strategy

Di tengah persaingan yang semakin ketat, konsep Blue Ocean Strategy menjadi sangat relevan. Strategi ini mengajarkan kita untuk mencari nilai yang tidak bisa dengan mudah ditiru oleh kompetitor.

Seperti yang pernah dikatakan oleh tokoh terkenal, “Zaman Batu berakhir bukan karena batunya habis, tetapi karena adanya perubahan.”

Perusahaan yang sukses di masa depan adalah yang mampu menemukan “samudera biru” mereka sendiri, ruang pasar yang belum dieksplorasi dan penuh dengan peluang.

Part 8, The Dominance of Google and Facebook

Dalam beberapa tahun terakhir, kita telah menyaksikan dominasi luar biasa dari dua raksasa digital, Google dan Facebook. Keduanya telah mendominasi pasar iklan digital, meninggalkan media tradisional jauh di belakang.

Kedua perusahaan ini tidak hanya menjadi pintu gerbang utama informasi bagi miliaran pengguna, tetapi juga menguasai hampir semua data yang dihasilkan oleh aktivitas online kita.

Ini menimbulkan pertanyaan: apakah kita telah menyerahkan terlalu banyak kendali kepada dua entitas ini?

Tantangan ke depan adalah bagaimana menjaga keseimbangan antara inovasi dan monopoli di era digital.

Part 9, Global Digital Ad Revenue

Pendapatan iklan digital global terus meningkat secara eksponensial, didorong oleh peralihan besar-besaran dari media tradisional ke media digital.

Platform seperti Google, Facebook, dan Amazon telah memonopoli pasar ini, menawarkan alat yang canggih untuk penargetan dan pengukuran efektivitas iklan.

Bagi perusahaan yang ingin tetap relevan di pasar global, memahami dan memanfaatkan tren iklan digital ini bukan lagi pilihan, melainkan keharusan.

Masa depan iklan terletak pada kemampuan untuk mempersonalisasi pesan kepada audiens yang tepat pada waktu yang tepat.

Part 10, Digital Media Consumption

Konsumsi media digital telah melampaui semua bentuk media lainnya. Dari video on-demand hingga streaming musik, pengguna kini memiliki kontrol penuh atas apa, kapan, dan bagaimana mereka mengonsumsi konten.

Hal ini mengubah dinamika industri media secara drastis, memaksa perusahaan media tradisional untuk beradaptasi atau mati.

Dalam 10 tahun ke depan, diprediksi bahwa media digital akan terus mengungguli semua bentuk media lainnya, menciptakan lanskap baru yang menuntut inovasi dan fleksibilitas.

Part 11, Artificial Intelligence: Beyond Automation

Di balik hiruk-pikuk AI, ada perubahan mendasar yang lebih dalam dari sekadar otomatisasi. AI membawa kita ke era di mana mesin tidak hanya menjalankan tugas-tugas rutin tetapi juga berinovasi dan membuat keputusan berdasarkan analisis data yang kompleks.

Teknologi seperti machine learning, neural networks, dan deep learning menjadi pilar dalam mengembangkan sistem cerdas yang dapat memahami dan memprediksi perilaku manusia.

Namun, dengan kekuatan ini datang tanggung jawab yang besar: bagaimana kita memastikan bahwa AI bekerja untuk kepentingan semua, bukan hanya segelintir?

Part 12, Cognitive Services: Understanding Human Emotions

Salah satu inovasi menarik dari AI adalah kemampuan untuk memahami emosi manusia. Melalui API seperti Emotion API, kita dapat menganalisis ekspresi wajah dalam gambar dan menentukan tingkat emosi seperti kebahagiaan, kesedihan, atau kemarahan.

Kemampuan ini membuka pintu bagi pengembangan aplikasi yang lebih intuitif dan responsif terhadap kebutuhan pengguna.

Namun, tantangan etis muncul, sejauh mana kita ingin mesin memahami emosi kita, dan bagaimana kita menjaga privasi dalam dunia yang semakin terhubung ini?

Part 13, DevOps: Bridging the Gap

DevOps adalah tentang menjembatani kesenjangan antara pengembangan dan operasi.

Di masa lalu, tim pengembangan dan operasi sering kali bekerja dalam silo yang terpisah, menyebabkan keterlambatan dan inefisiensi.

Dengan mengadopsi budaya DevOps, perusahaan dapat mempercepat siklus pengembangan, meningkatkan frekuensi rilis, dan mengurangi risiko kesalahan.

Namun, transisi ini tidak mudah. Perusahaan harus mengatasi tantangan budaya, membangun kepercayaan antara tim, dan terus mendorong inovasi dalam proses pengembangan mereka.

Part 14, Survival in the Digital Age

Di dunia yang terus berubah ini, kemampuan untuk beradaptasi adalah kunci untuk bertahan hidup. Dalam bisnis, ini berarti terus menerus menilai kembali strategi, teknologi, dan proses untuk memastikan relevansi dan keberlanjutan.

Dalam konteks ini, konsep “Blue Ocean” menjadi semakin relevan.

Mengidentifikasi ruang pasar yang belum tersentuh dan menciptakan nilai yang unik adalah cara untuk menghindari persaingan yang mematikan di “Red Ocean.”

Ingatlah, “Jaman Batu berakhir bukan karena batunya habis,” tetapi karena adanya inovasi yang mendorong perubahan.

Part 15, The Future: A Blend of Tradition and Innovation

Di masa depan, kita akan melihat perpaduan antara tradisi dan inovasi. Beberapa aspek dari media tradisional akan bertahan, tetapi mereka harus beradaptasi dengan teknologi baru dan perubahan dalam konsumsi media.

Contohnya, televisi tradisional mungkin masih ada, tetapi dengan integrasi teknologi streaming dan on-demand yang lebih kuat.

Demikian pula, media cetak mungkin beralih ke format digital atau fokus pada niche yang sangat spesifik.

Kunci keberhasilan di masa depan adalah fleksibilitas dan kemampuan untuk melihat peluang di tengah perubahan.

Part 16, Conclusion: Embracing Change

Semua perubahan ini menunjukkan bahwa kita berada di ambang era baru dalam industri media dan teknologi informasi.

Untuk bertahan dan berkembang, kita harus siap untuk beradaptasi dengan cepat, terus belajar, dan merangkul inovasi.

Di dunia yang semakin terhubung ini, peluang tak terbatas menanti mereka yang berani berpikir di luar kotak dan menciptakan nilai yang berbeda.

Sebagai penutup, mari kita ingat bahwa meskipun zaman berubah, kepercayaan dan integritas harus tetap dijaga.

Kontemplasi

Dalam beberapa tahun terakhir, kita telah melihat perkembangan AI yang luar biasa.

Dari sistem pembelajaran mesin yang mampu memproses dan menganalisis data dalam jumlah besar, hingga AI yang dapat memahami emosi manusia dan membantu menciptakan pengalaman yang lebih personal.

Teknologi chat, seperti chatbot dan asisten virtual, telah menjadi alat yang esensial dalam banyak industri, termasuk media, di mana mereka membantu mengelola interaksi dengan audiens secara lebih efisien.

R&D dan Tantangan Memprediksi Masa Depan

Bekerja di R&D berarti selalu berada di garis depan perubahan. Namun, itu juga berarti menghadapi tantangan besar dalam memprediksi apa yang akan terjadi selanjutnya.

Ketika saya mulai berbicara tentang AI, salah satu tantangan terbesar adalah meyakinkan orang-orang di sekitar saya bahwa teknologi ini bukan hanya tren sesaat.

Saya harus menunjukkan melalui penelitian dan eksperimen bahwa AI memiliki potensi untuk membawa perubahan nyata dan signifikan.

Kini, dengan banyaknya bukti di sekitar kita, mulai dari asisten virtual seperti Siri, Alexa hingga AI yang menggerakkan analisis data dan prediksi pasar, saya merasa yakin bahwa kita baru melihat permukaan dari apa yang AI bisa lakukan.

Di R&D, tugas kami adalah terus mendorong batas-batas ini, mencari cara baru untuk mengintegrasikan AI dalam bisnis dan kehidupan sehari-hari.

Refleksi, Antara Visi dan Kenyataan

Melihat ke belakang, perjalanan ini telah mengajarkan saya banyak hal. Salah satunya adalah pentingnya visi dalam penelitian dan pengembangan.

Tanpa visi yang jelas tentang bagaimana teknologi bisa berkembang, sulit untuk membuat prediksi yang akurat dan memandu inovasi ke arah yang benar.

Teknologi bukanlah sekadar alat, ia adalah katalisator untuk perubahan yang lebih besar. Dari meningkatkan efisiensi operasional hingga menciptakan pengalaman pengguna yang lebih baik, Teknologi AI telah menunjukkan bahwa ia bisa menjadi mitra yang tak ternilai dalam dunia bisnis modern.

Sebagai peneliti dan inovator, tugas kita adalah terus mengeksplorasi, belajar, dan beradaptasi dengan teknologi yang terus berkembang ini.

Penutup, Memprediksi Masa Depan AI

Apa yang saya pelajari dari perjalanan ini adalah bahwa memprediksi masa depan bukanlah tentang memiliki bola kristal, tetapi tentang memahami tren, menggabungkan pengetahuan dengan intuisi, dan siap menghadapi tantangan baru.

Perkembangan teknologi terutama AI, yang dulu hanya saya bicarakan sebagai sebuah prediksi, kini telah menjadi kenyataan yang kita jalani setiap hari.

Sebagai penutup, saya ingin mengajak pembaca blog ini untuk terus mengikuti perkembangan ini, terus belajar, dan tidak takut untuk membayangkan masa depan yang lebih baik dengan bantuan teknologi.

Karena pada akhirnya, masa depan adalah milik mereka yang berani memprediksi dan mempersiapkan diri untuk itu.

man in chair with table beside coffee

Homo Faber, Sudah Waktunya Pensiun, Tapi Kenapa Banyak yang Masih Kerja?

Pernah nggak sih lihat orang yang udah pensiun tapi tetap sibuk kerja? Ada yang masih jadi konsultan, buka warung kecil, atau malah makin rajin ke kantor dibanding waktu belum pensiun.

Kadang kita mikir, “Udah waktunya santai, kenapa masih repot sih?” Tapi ternyata, fenomena ini nggak cuma ada di Indonesia. Di berbagai negara seperti Eropa, sampai Singapura, banyak juga yang tetap kerja setelah usia pensiun.

Alasannya? Macam-macam! Mulai dari kebutuhan finansial, kecintaan pada pekerjaan, alasan masih dibutuhkan perusahaan, sampai alasan eksistensial.

Serius, ada yang bilang kerja itu bikin hidup terasa lebih hidup.

Gue jadi keinget tetangga gue, Pak Budi (nama samaran, biar aman), yang pensiun dari kerja kantoran. Semua orang kira setelah pensiun dia bakal santai di rumah, main sama cucu, atau ngurus tanaman.

Eh, beberapa minggu setelag pensiun, udah aktif di pengurusan dan kepanitiaan RT dan RW depan komplek sambil curhat, “Bosen gue di rumah, istri nyuruh ngepel mulu!” Akhirnya, Pak Budi balik kerja, kali ini jadi pelayan publik.

Katanya, “Mending pusing karena kerjaan urus orang daripada stres belanja ke pasar tiap pagi.”

Duh, Pak… relatable banget!

Kenapa Banyak Orang Ogah Pensiun?

Duit Tetap Jadi Alasan Utama. Yap, yang satu ini udah nggak perlu dijelasin panjang lebar. Biaya hidup makin naik, sementara tabungan pensiun… ya, kadang nggak seberapa.

Apalagi kalau keluarganya single income atau punya banyak tanggungan seperti anak yang masih sekolah, cicilan rumah, atau biaya kesehatan yang nggak murah.

Di Indonesia, banyak yang kerja lagi karena kebutuhan. “Masa udah tua malah ngutang?” kata Pak Budi.

Di Eropa, khususnya Jerman dan Belanda, sistem pensiun mereka termasuk yang terbaik di dunia. Jerman punya tiga pilar pensiun, asuransi wajib, pensiun perusahaan, dan pensiun swasta.

Belanda malah sering jadi juara di indeks sistem pensiun global. Tapi, walaupun sistemnya rapi, tetap ada yang kerja setelah pensiun.

Kenapa? “Biar bisa ngopi di kafe sambil makan croissant tanpa mikir dompet bolong,” mungkin begitu kalo kita berkhayal mengenai kegelisahaan pensiunan di Negeri Kincir Angin.

Lah, kita di sini cukup indomie plus telur aja udah seneng!

Dari sisi filsafat, manusia memang disebut sebagai homo laborans, makhluk yang bekerja untuk bertahan hidup. Tapi nggak cuma itu, ada juga konsep homo faber, yang artinya manusia adalah makhluk pencipta. Nggak cuma kerja buat cari makan, tapi juga pengen bikin sesuatu yang bermanfaat.

Homo faber, “working man” adalah konsep yang menggambarkan manusia sebagai makhluk yang mampu menciptakan atau menghasilkan sesuatu. Istilah ini berasal dari bahasa Latin, “Homo faber suae quisque fortunae” yang berarti “Setiap manusia adalah pembuat takdirnya”. 

Eksistensialis Kierkegaard bahkan bilang, penampilan seseorang sejajar dengan pekerjaannya. Kerja itu bagian dari eksistensi diri.

Filsafat Kristen juga mendukung ide ini, menghargai hasil karya tangan manusia sebagai wujud martabat. Jadi wajar aja kalau ada yang bilang, “Saya ada, karena saya berkarya.”

man in gray hoodie and blue denim jeans kneeling on green grass field during daytime
People is working in the farm — Photo by Tim Mossholder

Kerja Biar Hidup Ada Warnanya, Pernah lihat orang tua yang matanya berbinar pas ngomongin kerjaannya? Ada loh yang kerja bukan buat duit, tapi karena sayang sama pekerjaannya.

Teman satu kantor gue dulu contohnya. Udah pensiun, tapi masih keliling ngasih seminar dan jadi selebriti di dunia olahraga.

“Capek sih, tapi lebih capek kalau di rumah diem doang bengong ngga ngapa-ngapain,” katanya sambil ketawa.

Di Singapura, banyak lansia tetap kerja karena biaya hidup yang tinggi. Tapi nggak semua karena terpaksa. Ada pendapat yang saya pernah baca di sebuah situs berita, “Kalau di rumah terus, badan malah pegel semua. Mending jalan, ketemu orang, kerja ringan, dapet duit pula.”

Pemerintahnya pun ngedukung. Usia pensiun di sana naik jadi 63 tahun, dengan opsi kerja diperpanjang sampai 68 tahun.

Banyak lansia yang kerja di restoran, jadi penjaga MRT, staf kebersihan, sampai petugas keamanan di perkantoran.

Temen gue pernah cerita, “Di Singapura, lo bisa lihat nenek-nenek kerja lebih rajin dari anak muda yang sibuk main HP.”

Respect banget!

Fenomena ini cocok dan sejalah dengan istilah homo faber, kerja bukan sekadar alat bertahan hidup, tapi ekspresi diri. Lewat kerja, mereka menjaga harga diri, bersosialisasi, dan merasa dibutuhkan.

Buat sebagian orang, pensiun total malah bikin stres karena kehilangan identitas yang selama ini lekat dengan pekerjaannya.

“Saya Masih Kuat, Ngapain Pensiun?” Ada juga yang ngerasa masih kuat, sehat, dan bugar. Dosen, penulis, seniman, profesi yang nggak terlalu nguras tenaga fisik sering banget kayak gini.

Om gue misalnya, umur 60an masih rajin ngurus bisnis event sampi jalanin warung makan. “Otak dan jiwa tuh kayak otot, kalau nggak dipakai ya letoy,” katanya.

Cuma ya, sering juga tuh kacamata dicari-cari padahal nemplok di kepala. Wkwk.

Eropa, Sistem pensiunnya juara, tapi tetap ada yang kerja. Oma Ingrid di Belanda bilang, “Pensiun itu bukan buat diem, tapi waktunya nikmatin hidup!” Banyak yang memanfaatkan waktu luang untuk berkebun, ikut komunitas seni, atau traveling keliling Eropa.

Di Jerman, beberapa pensiunan malah aktif jadi relawan atau mentor bisnis untuk generasi muda. “Kalau masih bisa nyapu halaman sendiri, kenapa harus nungguin orang?” katanya.

Di Eropa, banyak seniman yang makin produktif di usia pensiun. Contohnya Claude Monet, pelukis asal Prancis yang terus berkarya hingga usia 86 tahun. Serial lukisan “Water Lilies” yang legendaris justru dibuatnya di masa-masa akhir hidup.

Ada juga Pierre Soulages, yang tetap aktif melukis hingga usia 100 tahun dan dikenal sebagai “Master of Black.” Di Inggris, aktor Ian McKellen masih aktif berakting di atas usia 80-an.

Konsep homo faber lagi-lagi muncul: menciptakan bikin hidup lebih berwarna.

Bayangin, udah ubanan tapi lukisan lo dipajang di galeri bergengsi atau tetap tampil di layar lebar. Siapa yang nggak bangga?

Ada Positifnya, Tapi Juga ada Negatifnya

BIla sudah masuk masa pensiun dan masih berkerja, ada dampak postif yang bisa diambil dari pengalaman tersebut, mulai dari …

Dengan Pengalaman segudang dapat menjadi acuan, punya atasan atau rekan kerja senior itu seperti mendapatkan buku panduan hidup gratis. Mereka udah ngelewatin krisis ekonomi, konflik kantor, sampe drama-drama yang sekarang jadi bahan cerita seru.

Mendapatkan kesehatan mental, karena kita tetap aktif dan akan membuat hidup lebih bahagia. Kierkegaard mengatakan, eksistensi manusia terasa nyata kalau ada tindakan dan karya.

Ekonomi berputar, lansia yang tetap kerja ya tetap belanja, makan di luar, traveling… dampaknya ke ekonomi juga positif, terjadi perputaran kapital yang sehat.

Slain dampak postif, ada dampak negatif yang bisa yang harus kita sadari, mulai dari …

Regenerasi seret, anak muda jadi susah naik jabatan kalau seniornya nggak mau pensiun.

Risiko kesehatan, niatnya aktif, eh malah kecapekan. Apalagi kalau kerjanya berat.

Kerja jadi candu, Ada yang sampai nggak tahu harus ngapain saat benar-benar pensiun. Hidupnya cuma muter di kerjaan.

two men playing chess
Senior citizen playing in the park.

Di Indonesia, menurut pengamatan saya, orang atau warga sini terkenal nggak bisa diem. Pensiun? Malah buka warung, jadi sopir online, atau sibuk di kegiatan RT dan RW.

Kadang jugabukan cuma soal duit, tapi juga urusan ‘ego’ ingin tetap dihormati dan eksistensi. “Kalau nggak ikut urusan dan batu kegiatan RT/RW, nanti nggak diajak ngobrol lagi,” kata tetangga saya.

Ada juga yang mengisi waktu dengan hobinya. Kayak beberapa orang yang habis pensiun malah sibuk merawat kebun atau jadi tukang servis barang elektronik, tukang bener-benerin fasilitas umum yang rusak di komplek.

Ancaman yang Mengintai

Pensiun seringkali dibayangkan sebagai masa tenang, penuh waktu luang, dan kebebasan setelah puluhan tahun bekerja. Tapi tak semua kisah pensiun adalah cerita yang menenangkan.

Ada sisi gelap yang saya dengar langsung dari orang-orang terdekat, sebuah pelajaran berharga yang ingin saya ingat baik-baik, untuk bekal nanti ketika giliran saya tiba.

Silhouetted people walk on a sunny, paved area.

Bagi sebagian orang, pensiun bisa memicu apa yang disebut Post Power Syndrome. Dulu berkuasa, disegani, terbiasa memberi perintah dan dipatuhi, lalu tiba-tiba semuanya hilang. Tidak ada lagi panggilan rapat, tidak ada laporan yang harus disetujui.

Hening. Sepi. Dan di saat seperti itu, datanglah mereka yang memanfaatkan celah.

Orang-orang dengan niat jahat biasanya mengincar para pensiunan yang masih linglung menghadapi perubahan hidup ini dan yang lebih penting, mereka tahu si pensiunan punya tabungan yang besar.

Dana pensiun yang seharusnya jadi bekal masa tua justru dijadikan sasaran empuk.

Saya mandapat banyak kisah nyata. Tentang penipuan yang menyaru sebagai tawaran bisnis. Dari investasi peternakan bebek, proyek perumahan, sampai trading forex dan saham yang menjanjikan “pasti untung”.

Bukannya untuk yang didapat, uang ratusan hingga milyaran rupiah menghilang seketika. Bukan mendapat kebahagiaan , malah dapat Stroke yang berujung kematian.

Semua dibungkus dengan presentasi meyakinkan dan janji manis. Tapi pada akhirnya, satu hal yang mereka incar, menguras rekening pensiunan.

Modusnya bisa berubah-ubah, tapi polanya nyaris selalu sama, membujuk orang yang sedang kehilangan arah, dan menanamkan harapan palsu atas “kesempatan kedua”.

Di tengah situasi rawan ini, kehadiran orang-orang terdekat sangatlah penting. Istri, suami, atau anak bisa menjadi jangkar yang menjaga agar kita tetap waras dan tidak mudah terombang-ambing.

Bukan hanya sebagai tempat curhat, tapi juga sebagai penjaga nalar, mengajak berpikir jernih, menanyakan ulang, bahkan ikut mengecek tawaran-tawaran yang datang.

Pendampingan keluarga bukan sekadar emosional, tapi juga bisa menjadi pagar pertama dari niat-niat buruk yang datang dari luar.

Bagian ini bukan untuk menakuti, tapi mengingatkan. Bahwa masa pensiun adalah masa rawan, bukan karena tubuh melemah, tapi karena banyak orang mengincar kelemahan emosional kita saat itu.

Kalau Saya Pensiun, Bakal Ngapain?

Saya sendiri kalau nanti pensiun, sepertinya nggak bakal jauh-jauh dari hobi sejak remaja, ngulik komputer, bikin aplikasi, sama ngoprek server.

Rasanya tangan gatel kalau nggak ngoprek kode aplikasi atau utak-atik server.

Buat saya, kerja itu bagian dari penyaluran talenta, kesenangan, bukan sekadar cari duit.

Jadi, walaupun pensiun, saya tetap ingin aktif di dunia teknologi. Bisa jadi konsultan, jalanin dan bantu proyek kecil, atau iseng bikin aplikasi yang siapa tahu viral (aminin dong!).

Kadang kepikiran juga membuat kanal YouTube atau menulis buku dalam bentuk digital, ngajarin anak muda supaya nggak stres atau melakukan kesalahan yang sama seperti gue waktu belajar ngoding dulu atau setup server untuk pertama kali.

Tapi nggak melulu soal teknologi. Saya juga punya mimpi, touring keliling Nusantara dan negara tetangga menggunakan moge.

a man riding a motorcycle down a street next to a forest
A man riding a motorcycle down a street next to a forest.

Sejak lama saya suka naik motor jarak jauh, dan sepertinya momen pensiun bakal jadi waktu yang pas buat menjelajah daerah-daerah yang belum pernah saya kunjungi, terutama ke Indonesia Timur dan Asia Tenggara.

Bayangin aja, berkendara di pegunungan Flores, menyususri pantai di Timor Leste atau menyusuri jalur peninggalan kolonial di Penang, Malaysia.

Bisa camping, ngopi sambil lihat bintang, atau sekadar ngobrol sama penduduk lokal.

Touring bukan cuma soal perjalanan, tapi juga soal pengalaman yang nggak bisa didapetin di kantor.

Peluang saya bisa menjalini itu semua ? pastinya banyak dan terbuka lebar. Intinya, homo faber banget, pensiun bukan alasan buat berhenti berkarya. Justru saatnya menikmati hidup sambil tetap produktif dengan cara yang disuka dan sesuai talenta.

Kamu sendiri udah kepikiran mau ngapain pas pensiun? Bisa jadi justru itu momen ‘panjenengan’ buat ngulik hobi yang selama ini tertunda.

Hidup itu bukan soal berapa lama kita kerja, tapi gimana kita menikmati setiap momennya.

Jadi… Mau jadi tim Pensiun Santai atau Tetap Aktif?

Mengapa Memilih Cloudflare Turnstile Dibanding Google reCAPTCHA?

Saat ini saya dan tim sedang mengelola beberapa project kuis (trivia) dan lead form di platform web, dan salah satu tantangan utamanya adalah bagaimana melindungi aplikasi dari serangan bot tanpa mengganggu pengalaman pengguna.

Apapun, konversi yang tinggi dan data yang berkualitas menjadi tuntutan tim internal dan juga pastinya klien.

Awalnya, seperti biasa, teman-teman developer mempertimbangkan untuk menggunakan Google reCAPTCHA karena sudah umum dipakai. Tapi setelah mengevaluasi lebih dalam, saya memutuskan beralih ke Cloudflare Turnstile, dan keputusan ini ternyata membawa dampak positif untuk aplikasi kuis yang dikelola oleh tim.

Alasan pertama adalah soal privasi pengguna. Google reCAPTCHA sering mengumpulkan data pengguna seperti pergerakan mouse, cookies, dan informasi browser untuk mendeteksi bot.

Beberapa klien adalah perusahaan global yang sangat ketat dan sensitif dalam klausal pengelolaan data seseorang web visitor yang kemuadian direkam dalam database.

Di aplikasi kuis versi web, kami berkeinginan peserta fokus ke pengalaman pengguna (user experience) tanpa khawatir datanya dilacak dengan detail. Cloudflare Turnstile tidak menggunakan metode pelacakan invasif , jadi pengguna tetap merasa aman dan nyaman saat mengikuti kuis.

Selain itu, pengalaman pengguna menjadi pertimbangan besar. Saya tidak ingin peserta kuis terjebak memilih gambar lampu lalu lintas atau sepeda motor seperti yang sering terjadi pada Google reCAPTCHA.

Proses verifikasi dapat berjalan otomatis tanpa interaksi tambahan. Peserta bisa langsung memulai kuis tanpa hambatan, yang secara signifikan meningkatkan partisipasi (conversion rate) dan kepuasan pengguna.

Selain itu, Turnstile menghilangkan pengalaman menjengkelkan dengan CAPTCHA yang menggunakan teknogi yang sederhana alias alakadarnya.

Teknologi yang digunakan Turnstile memastikan pengunjung web adalah pengguna asli dan memblokir bot yang tidak diinginkan tanpa memperlambat pengalaman pengguna dalam mengakses sebuah halaman situs.

Dari segi performa, Turnstile terasa lebih ringan. Waktu memuat (loading) halaman aplikasi kuis jadi lebih cepat, yang merupakan faktor penting banget karena kuis sering kali mengandalkan waktu respons peserta.

Tidak ada lagi jeda tambahan gara-gara komponen anti-bot yang berat.

Soal biaya juga nggak kalah penting. Google reCAPTCHA memang gratis, tapi untuk penggunaan skala besar, opsi premiumnya Google bisa cukup menguras budget. Cloudflare Turnstile sepenuhnya gratis tanpa batasan yang merepotkan. Ini jadi solusi hemat tanpa harus mengorbankan keamanan.

Untuk integrasi, implementasi Turnstile di berbagai web framework juga mudah, ditambah aplikasi kuis yang dikembangkan juga sudah menggunakan Cloudflare untuk optimasi dan keamanan, menambahkan Turnstile hanya butuh beberapa baris kode.

Benchmark dan referensi teknis dapat kamu lihat lebih lanjut di konten berikut ini, Google reCAPTCHA vs Cloudflare Turnstile: Best Pick?

Yang paling saya rasakan, sejak menggunakan Turnstile, tingkat partisipasi kuis meningkat. Peserta tidak lagi terhalang verifikasi yang mengganggu. Mereka bisa langsung masuk, menjawab pertanyaan, dan menyelesaikan kuis tanpa hambatan teknis yang tidak perlu.

Sampai hari ini, bagi saya dan teman-teman developer, memilih Cloudflare Turnstile adalah keputusan tepat. Privasi pengguna lebih terjaga, pengalaman jadi mulus, performa meningkat, dan semuanya bisa didapat tanpa biaya tambahan.

Kalau kamu juga sedang membangun aplikasi berbasis web yang butuh perlindungan dari bot, saya merekomendasikan untuk mencoba Turnstile. Pengalaman pengguna yang lebih baik bisa jadi kunci suksesnya aplikasi yang sedang kamu kembangkan.

black bus near trees during daytime

Dijebak dan Dipojokkan, Memahami dan Menghindari Praktik ‘Throwing Someone Under the Bus’

Apakah kamu pernah merasa tiba-tiba disalahkan atas sesuatu yang bukan kesalahanmu? Atau pernah melihat seseorang yang mendadak dikorbankan demi menyelamatkan kepentingan orang lain?

Jika iya, kamu mungkin telah menyaksikan atau bahkan mengalami fenomena throwing someone under the bus.

Dalam dunia kerja, politik, dan kehidupan sosial, ungkapan ini sering digunakan untuk menggambarkan tindakan mengorbankan orang lain demi keuntungan pribadi, baik secara sengaja maupun tidak sengaja.

Lalu, bagaimana filosofi di baliknya, bagaimana fenomena ini terjadi, dan bagaimana kita bisa mengenali serta menghindarinya?

Sejarah dan Penggunaan Pertama Istilah ‘Throwing Someone Under the Bus’

Asal-usul ungkapan ini tidak sepenuhnya jelas, tetapi diperkirakan berasal dari Inggris pada awal abad ke-20 sebelum akhirnya menjadi populer di Amerika Serikat.

Throw Under The Bus

Beberapa sumber menyebut bahwa frasa ini pertama kali digunakan dalam dunia olahraga, khususnya dalam wawancara sepak bola dan bisbol, sebelum masuk ke ranah politik dan budaya populer.

Salah satu kemunculan pertama yang terdokumentasi dalam media berasal dari The Times pada 1980-an. Namun, ungkapan ini benar-benar mendapat perhatian luas di Amerika Serikat ketika digunakan dalam dunia politik dan bisnis.

Dalam artikel yang diterbitkan oleh The Washington Post tahun 1984, frasa ini dipakai untuk menggambarkan seorang politisi yang mengorbankan sekutunya demi kepentingan pribadi.

Istilah ini kemudian semakin populer di media, terutama dalam pemberitaan politik, olahraga, dan dunia kerja. Pada 1990-an dan 2000-an, frasa ini sering digunakan oleh jurnalis dan komentator untuk menggambarkan seseorang yang dikhianati atau dikorbankan secara tiba-tiba.

Penggunaannya meluas dalam budaya korporasi, menggambarkan praktik menyalahkan orang lain untuk menutupi kesalahan atau kegagalan.

Hingga saat ini, istilah ini telah menjadi bagian dari bahasa sehari-hari dalam dunia profesional, menggambarkan tindakan yang sayangnya cukup umum terjadi, terutama dalam lingkungan yang kompetitif.

Filosofi di Balik ‘Throwing Someone Under the Bus’

Ungkapan ini berasal dari gambaran seseorang yang secara harfiah didorong ke depan bus yang melaju, sebuah tindakan ekstrem untuk menyingkirkan seseorang dengan cara yang kejam.

Dalam konteks sosial, tindakan ini menunjukkan betapa seseorang bisa dengan mudah mengorbankan orang lain agar dirinya tetap aman, baik dalam situasi tekanan, krisis, maupun persaingan.

Secara psikologis, perilaku ini sering dikaitkan dengan mekanisme pertahanan diri, survival instinct, atau bahkan manipulasi.

Orang yang melakukan tindakan ini cenderung mencari jalan keluar termudah dari situasi sulit tanpa memperhatikan dampak negatif bagi orang lain.

Mengapa Ini Praktik yang ‘Sadis’

Apa yang membuat praktik ini begitu kejam adalah unsur pengkhianatan yang terkandung di dalamnya.

Biasanya, orang yang dijadikan korban tidak pernah menduga akan disalahkan atau dikorbankan. Bahkan, dalam banyak kasus, mereka adalah rekan kerja, teman, atau bawahan yang telah membantu pelaku sebelumnya.

Tiba-tiba, mereka dipojokkan dalam situasi yang tidak adil tanpa kesempatan untuk membela diri.

Yang lebih menyakitkan, efek dari tindakan ini bisa berlangsung lama. Tidak hanya merusak reputasi profesional seseorang, tetapi juga dapat mempengaruhi kesehatan mental mereka.

Merasa dikhianati, kehilangan kepercayaan terhadap lingkungan sekitar, dan mengalami tekanan psikologis akibat tuduhan yang tidak benar bisa menjadi beban yang sulit diatasi.

Bahkan dalam lingkungan kerja, korban yang terkena praktik ini sering mengalami stres berlebihan, kehilangan motivasi, atau bahkan memilih keluar dari tempat kerja tersebut.

Fenomena dan Praktik di Berbagai Bidang

Di tempat kerja, fenomena ini kerap muncul dalam bentuk atasan yang menyalahkan bawahannya ketika proyek gagal, rekan kerja yang menimpakan kesalahan kepada koleganya untuk menyelamatkan diri, atau bahkan seorang karyawan yang diam-diam merusak reputasi orang lain agar mendapatkan promosi.

Dalam politik, praktik ini hampir menjadi hal yang biasa. Contoh klasik adalah ketika seorang pemimpin atau pejabat menyalahkan bawahannya atas kegagalan kebijakan atau skandal yang mencuat.

Dalam situasi lain, partai politik dapat mengorbankan satu anggotanya untuk meredam kemarahan publik dan menjaga citra institusi.

Dalam kehidupan sosial sehari-hari, fenomena ini juga bisa terjadi di lingkungan pertemanan, keluarga, atau komunitas.

Misalnya, seseorang yang membocorkan rahasia temannya untuk menjaga reputasi sendiri, atau anggota keluarga yang menghindari tanggung jawab dengan menyalahkan saudara kandungnya.

Cara Mengenali ‘Throwing Someone Under the Bus’

Tanda paling jelas adalah ketika seseorang tiba-tiba mengalihkan kesalahan kepada orang lain, meskipun sebenarnya bukan sepenuhnya tanggung jawab mereka.

Pergeseran tanggung jawab ini biasanya muncul secara mendadak, terutama ketika ada tekanan atau masalah yang perlu segera diselesaikan.

Manipulasi fakta juga sering terjadi dalam situasi ini. Jika narasi atau fakta tiba-tiba berubah sehingga seseorang terlihat bersalah, itu bisa menjadi indikasi bahwa mereka sedang dijadikan kambing hitam.

Selain itu, tanda lain yang sering muncul adalah ketika dukungan dari rekan-rekan kerja atau teman tiba-tiba menghilang, seolah mereka sudah mendengar cerita yang merugikan dari pihak lain.

Seseorang yang melempar orang lain ke bawah bus biasanya juga menggunakan taktik mendesak.

Mereka bisa menempatkan target dalam situasi di mana mereka harus segera membela diri tanpa waktu yang cukup untuk berpikir atau mengumpulkan bukti.

Bagaimana Mengantisipasi dan Menghadapinya ?

Salah satu cara terbaik untuk melindungi diri dari praktik ini adalah dengan membangun kredibilitas dan selalu memiliki dokumentasi atas pekerjaan atau tanggung jawab yang dijalankan.

Email, pesan, atau catatan lain bisa menjadi alat pertahanan saat ada tuduhan yang tidak berdasar.

Selain itu, penting untuk peka terhadap tanda-tanda manipulasi. Jika mulai terasa ada sesuatu yang tidak beres dalam komunikasi atau perlakuan terhadap diri sendiri, jangan ragu untuk bertanya dan mencari klarifikasi.

Menjaga hubungan baik dengan orang-orang yang bisa dipercaya juga bisa menjadi perlindungan yang baik. Dukungan dari mereka bisa sangat membantu saat menghadapi situasi sulit.

Jika sudah terlanjur menjadi korban, hadapi situasinya dengan kepala dingin. Hindari terjebak dalam permainan yang sama. Tanggapi dengan tenang, tunjukkan fakta, dan jangan terbawa emosi.

Jika situasinya semakin buruk dan reputasi mulai terancam, pertimbangkan untuk membawa masalah ini ke pihak yang lebih berwenang atau menggunakan saluran yang tepat untuk meluruskan keadaan.

Menjaga Integritas di Lingkungan yang Toxic

Dalam lingkungan kerja atau sosial yang penuh intrik, mempertahankan integritas adalah tantangan tersendiri.

Beberapa cara untuk tetap bertahan adalah dengan membangun jaringan kepercayaan dengan orang-orang yang jujur, menghindari politik kantor yang merugikan, dan selalu berpegang pada nilai profesionalisme.

Jika budaya organisasi memang mendukung praktik menjatuhkan orang lain, mungkin ada baiknya mempertimbangkan lingkungan baru yang lebih sehat.

Pada Akhirnya …

Fenomena throwing someone under the bus adalah kenyataan pahit dalam kehidupan profesional dan sosial yang bisa menimpa siapa saja.

Memahami filosofi di baliknya, mengenali tanda-tandanya, serta mengetahui cara mengantisipasi dan menghadapinya dapat membantu kita tetap tangguh dan tidak mudah menjadi korban.

Integritas dan kredibilitas adalah pertahanan terbaik untuk menghadapi praktik tidak etis ini.

Namun lebih dari itu, penting bagi kita untuk tidak hanya menghindari menjadi korban, tetapi juga memastikan bahwa kita tidak menjadi pelaku praktik ini terhadap orang lain.

TinyRDM dari Negara Tirai Bambu, Redis Client yang Bisa Diandalkan

Apakah kamu merasa bingung, dan sedikit frustasi dalam menemukan aplikasi Desktop Client untuk Redis yang tepat?

Sebelumnya saya lumayan kesal dan pasrah ketika harus mengelola Redis Server, tidak ada satupun aplikasi Desktop Client yang bisa diandalkan.

Bisa diandalkan dalam hal ini, aplikasinya ringan, simple, mudah digunakan dan memiliki fungsi yang lengkap.

Entah kenapa, rata-rata aplikasi Desktop Client yang tersedia baik itu gratis ataupun berbayar selalu saja ada yang kurang.

Sampai suatu hari saya tidak sengaja menemukan aplikasi Desktop Client untuk mengelola Redis Server yang luar biasa dapat diandalkan.

Tiny RDM (Tiny Redis Desktop Manager) – A modern, colorful, super lightweight Redis GUI client for Mac, Windows, and Linux.

Uniknya aplikasi ini dibuat oleh pengembang dari China alias negara Tirai Bambu, berdasar informasi akun Githubnya, pengelola utama berasal dari Kota GuangZhou, China. Biasanya aplikasi seperti ini lahir dari Benua Amerika ataupun Eropa.

Saat tulisan blog ini dibuat, ada beberapa kontributor lain yang berasal dari Brazil dan Jepang.

Mungkin karena berasal dari negara China, saat ini belum begitu dalam radar pengguna Redis.

Dengan TinyRDM, pengalaman saya dalam mengelola Redis Server terasa lebih ringan dan efisien. Interface yang modern dan fitur-fitur pengelolaan yang lengkap membuatnya jauh di atas ekspektasi saya.

Tidak hanya itu, kemudahan navigasi dan kelengkapan tools pengelolaan data menjadikannya aplikasi yang sempurna untuk kebutuhan saya.

TinyRDM berhasil menyederhanakan pekerjaan yang tadinya terasa rumit dan kurang efisien dengan aplikasi lain.

UI/UX nya sangat nyaman digunakan.

Bagi siapa pun yang masih mencari aplikasi Redis Client yang benar-benar andal, TinyRDM bisa menjadi pilihan terbaik, terutama jika Anda mencari sesuatu yang ringan, responsif, dan fungsional.

Jadi, jika Anda butuh Redis Client yang praktis tanpa mengorbankan performa dan fitur, saya sangat merekomendasikan TinyRDM.

Di tengah lautan aplikasi dari Barat, TinyRDM adalah penemuan berharga dari Timur yang layak dicoba.

Jevons Paradox, Peningkatan Efisiensi AI akan Mendorong Peningkatan Konsumsi dan Biaya

Pada tahun 1865, ekonom Inggris William Stanley Jevons mengungkapkan sebuah paradoks yang hingga kini masih relevan.

Disebut dengan Jevons Paradox, teori ini menjelaskan bagaimana peningkatan efisiensi justru mendorong peningkatan konsumsi, bukan pengurangan penggunaan sumber daya.

Di era modern, konsep ini dapat diterapkan pada kecerdasan buatan (AI), khususnya Large Language Models (LLM) seperti GPT-4.

Saat LLM semakin murah, kita mungkin akan mendapati bahwa penggunaannya justru semakin meningkat, dan pada akhirnya, biaya infrastruktur dan operasional pun ikut naik.

Secara historis, Jevons Paradox menunjukkan bagaimana kemajuan teknologi seperti mesin uap dan jaringan listrik membuat konsumsi energi lebih murah namun juga mendorong penggunaan yang lebih luas, sehingga potensi penghematan justru diimbangi dengan peningkatan permintaan energi secara keseluruhan.

Misalnya, meskipun teknologi hemat energi diperkenalkan, permintaan energi tetap melonjak karena biaya operasional yang lebih rendah dan akses yang lebih luas.

Contoh Jevons Paradox, Gambar 1, Seiring dengan meningkatnya efisiensi konverter energi Amerika Sererikat (sumbu horizontal), demikian pula penggunaan energi per orang (sumbu vertikal)
Contoh Jevons Paradox, Efisiensi Mesin Gambar 2 Sumbu horizontal menunjukkan tren efisiensi panas dari mesin pembakaran internal. Sumbu vertikal menunjukkan penggunaan bahan bakar fosil dunia per kapita.

Saat ini, kita melihat tren yang serupa pada LLM dalam AI. Dalam setahun terakhir, biaya menjalankan model GPT-4 telah turun hampir 80%, membuat AI menjadi lebih terjangkau bagi berbagai organisasi.

Secara intuitif, seseorang mungkin mengira bahwa penurunan harga ini akan menghasilkan penghematan biaya AI yang signifikan, di mana perusahaan dapat mengalokasikan sumber daya untuk keperluan lain.

Namun, yang terjadi justru sebaliknya—fenomena yang mirip dengan Jevons Paradox.

Alih-alih mengurangi pengeluaran, AI yang lebih murah justru mendorong adopsi dan penerapan yang lebih luas dalam lebih banyak alur kerja.

Bisnis tidak hanya menggunakan AI untuk mengotomatisasi proses inti, tetapi juga memperluas penggunaannya ke area baru, seperti meningkatkan akurasi tugas-tugas yang sebelumnya terlalu mahal untuk diotomatisasi.

Paradoksnya adalah semakin murah AI, semakin banyak kita menggunakannya, dan pada akhirnya, biaya infrastruktur pun meningkat.

Organisasi kini tidak hanya menggunakan AI untuk menggantikan tugas manual.

Sebaliknya, mereka mendorong batas penggunaannya mengotomatiskan segala hal mulai dari layanan chatbot, layanan pelanggan hingga pembuatan konten dan analisis data secara realtime.

Penurunan biaya token AI dan akses model tidak selalu berarti pengurangan pengeluaran; melainkan, ini memberi peluang bagi perusahaan untuk menemukan cara-cara baru dalam mengintegrasikan AI ke dalam operasi mereka.

Semakin efisien AI, semakin banyak yang akan diotomatisasi, dan pada akhirnya ini dapat mendorong peningkatan kebutuhan infrastruktur.

Biaya infrastruktur, termasuk penyimpanan cloud, penggunaan GPU, dan jaringan, sering kali meningkat seiring dengan pertumbuhan penerapan AI.

Ketika organisasi memperluas beban kerja AI mereka, kemungkinan besar mereka akan menghadapi pengeluaran yang lebih tinggi terkait dengan penskalaan sistem mereka untuk menangani kebutuhan pemrosesan data yang lebih besar.

Selain itu, kebutuhan untuk interaksi AI secara real-time, pembaruan model yang berkelanjutan, dan peningkatan akurasi semakin meningkatkan biaya.

Paradoksnya, dengan membuat AI lebih murah, kita justru mendorong konsumsi AI yang lebih besar, yang pada gilirannya memerlukan investasi infrastruktur yang lebih besar.

Ambil contoh transisi dari agen layanan pelanggan manusia ke chatbot yang didukung oleh AI.

Seiring dengan turunnya biaya LLM seperti GPT-4, perusahaan mulai mengintegrasikan chatbot di setiap titik interaksi.

Namun, dengan ini datang peningkatan infrastruktur cloud untuk mendukung interaksi berbasis AI yang beroperasi 24/7, aliran data yang terus-menerus, dan kebutuhan untuk melatih model agar responsnya semakin akurat.

Industrial Revolution

Apa yang awalnya dimaksudkan sebagai langkah penghematan biaya, justru dapat menyebabkan peningkatan pengeluaran infrastruktur dan operasional dalam jangka panjang.

Jevons Paradox mengingatkan kita bahwa tujuan dari teknologi bukanlah sekadar efisiensi, melainkan bagaimana kita mengelola peningkatan konsumsi yang datang seiring dengannya.

Prinsip yang sama berlaku untuk penggunaan LLM dan AI.

Ketika AI menjadi lebih murah dan lebih kuat, tantangan utama adalah memastikan bahwa organisasi menemukan keseimbangan yang tepat antara menggunakan AI untuk efisiensi dan mengelola biaya infrastruktur yang meningkat.

Tanpa pengelolaan konsumsi yang bijaksana, janji AI yang hemat biaya bisa berubah menjadi pengeluaran yang lebih besar di masa depan.

Rerensi :

grayscale photography of men playing rugby on muddy land

Tim atau Gerombolan? Leadership yang Menentukan

Pada tahun 1976, dunia menyaksikan salah satu operasi penyelamatan paling berani dalam sejarah—Operation Entebbe. Sebuah pesawat Air France yang dibajak oleh teroris dipaksa mendarat di Entebbe, Uganda, dengan lebih dari 100 sandera di dalamnya.

Di tengah situasi yang sangat tegang, sekelompok kecil pasukan khusus Israel, Sayeret Matkal, dilibatkan dalam misi penyelamatan yang hampir mustahil. Dalam waktu kurang dari 90 menit, tim ini berhasil membebaskan para sandera dengan tindakan, tahapan yang presisi dan keberanian yang luar biasa, membuktikan kualitas unit ini dan kerjasama tim.

Sebentar…, mungkin ada yang protes kenapa saya ambil acuan Operation Entebbe yang dilakukan negara yang posisinya sekarang kontroversial di Timur Tengah?

Ini lebih saya memang suka dengan sejarah dan sejarah unit Sayeret Matkal di era tersebut memang fenomenal dan melegenda. Bila nanti perang Ukraina dan Rusia selesai, mungkin saja saya mengambil sudut cerita dari peristiwa sejarah tersebut.

silhouette of soldiers
Special Operation

We thought this would be the end of us’: the raid on Entebbe, 40 years on

Lanjut …

Bandingkan ini dengan sekelompok orang dengan metodologi teror, seperti organisasi masa berseragam, tongkrongan preman, genk bully yang hanya bersatu karena ketakutan dan ancaman.

Mereka tidak memiliki visi atau tujuan yang sama, selain dari kepentingan pribadi masing-masing anggota yang diikat oleh rasa takut akan kegagalan atau hukuman dan mungkin juga trauma masa lalu.

Perbedaan yang mencolok antara pasukan khusus yang terorganisir dan kelompok teror yang bergerak tanpa arah adalah gambaran nyata dari bagaimana sebuah tim bisa mengungguli gerombolan.

Kisah seperti Operation Entebbe menunjukkan dengan jelas mengapa pemahaman tentang perbedaan antara tim dan gerombolan sangatlah penting, tidak hanya dalam konteks militer, tetapi juga dalam dunia bisnis, olahraga, dan kehidupan sehari-hari.

Dalam blog post kali ini, saya akan mengeksplorasi apa yang membedakan tim dari gerombolan, dan mengapa kepemimpinan, visi, dan kerjasama adalah kunci dalam membangun tim yang sukses.

Sehebat-hebatnya seorang atlet, ia tetap membutuhkan pelatih. Begitu juga dengan seorang manajer atau pemimpin dalam sebuah tim, yang membutuhkan mentor dan pelatih untuk membantu mencapai potensi maksimalnya.

Namun, apa yang membedakan sebuah gerombolan dari tim? Pada pandangan pertama, keduanya mungkin terlihat sama—sekumpulan individu yang bekerja bersama untuk mencapai tujuan.

Namun, perbedaan mendasarnya terletak pada bagaimana kelompok tersebut berfungsi dan seberapa efektif mereka dalam mencapai hasil yang diinginkan.

people sitting on fence
Gerombolan

Sebuah gerombolan hanyalah sekumpulan orang yang kebetulan berada di satu tempat atau terlibat dalam satu proyek yang sama, tanpa arah yang jelas atau ikatan yang kuat di antara anggotanya.

Gerombolan sering kali bergerak dan berfungsi karena ketakutan—baik itu ketakutan akan kegagalan, hukuman, penolakan atau trauma masa lalu.

Ketakutan ini menjadi motivator utama yang mendorong tindakan anggota gerombolan, yang sering kali hanya bertujuan untuk menghindari konsekuensi negatif daripada mencapai sesuatu yang positif.

Secara mental, anggota gerombolan cenderung individualistis, reaktif, dan tidak memiliki komitmen jangka panjang terhadap kelompok. Mereka mudah terpengaruh oleh situasi eksternal dan tidak memiliki kedisiplinan internal yang kuat.

Sebaliknya, sebuah tim adalah sekumpulan individu yang memiliki visi, tujuan, dan nilai-nilai yang sama. Mereka tidak hanya bekerja bersama, tetapi juga saling mendukung dan melengkapi satu sama lain.

Tim bergerak dan berfungsi berdasarkan tujuan bersama yang jelas dan inspiratif. Tujuan ini menjadi pendorong utama yang mengarahkan semua tindakan dan keputusan anggota tim.

Secara mental, anggota tim memiliki sikap kolaboratif, proaktif, dan fokus pada keberhasilan bersama. Mereka memiliki kedisiplinan tinggi, kemauan untuk berkorban demi kepentingan tim, dan rasa saling percaya yang kuat.

Di sinilah peran pemimpin, pelatih, atau mentor menjadi sangat penting. Pemimpin yang baik mampu mengubah sebuah gerombolan menjadi tim yang efektif. Mereka menetapkan visi yang jelas, memotivasi anggota untuk bekerja sama, dan memberikan arahan serta dukungan yang diperlukan untuk mencapai tujuan bersama.

a woman standing in front of a crowd holding a microphone
Leadership

Menurut Simon Sinek dalam Leaders Eat Last, “Great leaders don’t just lead; they create environments where teams thrive.” Pemimpin yang hebat tidak hanya memimpin, tetapi juga menciptakan lingkungan di mana tim dapat berkembang dan mencapai potensi maksimal mereka.

Contoh nyata dari perbedaan ini dapat kita lihat dalam dunia sepak bola. Sebuah tim yang solid seperti Manchester City atau Liverpool tidak hanya terdiri dari pemain berbakat, tetapi juga memiliki pelatih seperti Pep Guardiola atau Jürgen Klopp, yang mampu menyatukan dan mengarahkan mereka untuk bermain sebagai satu kesatuan yang harmonis.

Pelatih ini tidak hanya mengatur strategi, tetapi juga membangun budaya tim yang didasarkan pada saling percaya, kerja keras, dan komitmen terhadap tujuan bersama. Setiap pemain tahu peran mereka, dan semua bekerja untuk mencapai tujuan yang sama—menang dalam pertandingan dan meraih gelar juara.

Begitu juga dalam dunia militer, peran pemimpin dalam pasukan khusus seperti Kopassus atau Navy SEAL sangatlah krusial. Pemimpin tim khusus tidak hanya memberikan perintah, tetapi juga menjadi mentor yang membentuk mentalitas dan keterampilan anggotanya.

Mereka memastikan setiap anggota tim memahami misi, memiliki disiplin yang tinggi, dan siap menghadapi tantangan terberat.

General Stanley McChrystal dalam bukunya Team of Teams menekankan bahwa “The power of a team lies in its ability to work together and adapt to change, not just in the skills of its individual members.” Ini menegaskan bahwa kepemimpinan yang efektif mengarahkan tim untuk bekerja bersama secara harmonis dan beradaptasi dengan situasi yang terus berubah.

Di sisi lain, sekelompok preman mungkin terlihat kuat dan menakutkan, tetapi mereka sering kali tidak memiliki kepemimpinan yang jelas, dan tindakan mereka didasarkan pada kepentingan pribadi atau reaksi spontan.

Mereka sering bergerak karena ketakutan—baik itu ketakutan akan kehilangan kontrol, ketakutan akan ancaman eksternal, atau ketakutan akan pengkhianatan dari dalam kelompok mereka sendiri.

Secara mental, mereka kurang disiplin, cenderung impulsif, dan tidak memiliki strategi jangka panjang. Tanpa pemimpin yang kuat, gerombolan seperti ini mudah goyah saat menghadapi tantangan besar.

Dalam dunia bisnis dan organisasi, membedakan antara gerombolan dan tim adalah kunci untuk mencapai kesuksesan jangka panjang.

Sebuah tim yang terstruktur dan dipimpin dengan baik akan selalu mengungguli gerombolan yang tanpa arah, karena kekuatan sejati terletak pada kebersamaan, komitmen terhadap visi bersama, dan mentalitas yang kuat untuk bekerja sama demi kesuksesan bersama.

Semua faktor tersebut diorkestrasi oleh pemimpinnya dan sebuah konsep leadership.

Referensi:

  • Lencioni, P. (2002). The Five Dysfunctions of a Team: A Leadership Fable. Jossey-Bass.
  • Sinek, S. (2014). Leaders Eat Last: Why Some Teams Pull Together and Others Don’t.
  • McChrystal, S. (2015). Team of Teams: New Rules of Engagement for a Complex World.