Ruh Ignasian yang Tersesat di IKAGONA

Ketika demokrasi diparkir rapi, dan “magis”, dan akhirnya tidak pernah sampai ke meja pemilihan.

Saya kebetulan alumni Kolese Gonzaga angkatan delapan (8), yang lulus tahun 1997.

Kalau kalimat itu saya tulis di awal, itu bukan sekadar penanda umur dan generasi, lebih seperti “alamat batin”, karena Gonzaga (dan tradisi Jesuit yang jadi fondasinya) meninggalkan semacam sidik jari di cara kita menilai sesuatu.

Sidik jari bukan hanya soal terkait “berjalan atau tidak”, tetapi lebih kepada “benar atau tidak”, “adil atau tidak”, “membangun manusia atau hanya membangun struktur”.

Itu sebabnya saya sulit pura-pura santai ketika melihat pola kepengurusan Ikatan Alumni Gonzaga alias IKAGONA yang beberapa tahun terakhir beberapa kali bergerak tanpa proses pemilihan yang benar-benar memberi mandat langsung dari alumni.

Yang terjadi, kepemimpinan dipilih oleh wakil angkatan, artinya tidak ada demokrasi yang sehat di tingkat alumni sebagai “pemilik” ikatan.

Secara administratif mungkin terlihat rapi. Secara logistik mungkin terasa efisien. Secara sosial mungkin menghindari kegaduhan. Tetapi kalau kita bicara tentang organisasi yang mengatasnamakan ribuan orang, “rapi” bukan ukuran utama, tetapi legitimasi adalah ukuran utama.

Dan legitimasi itu lahir dari sesuatu yang sederhana tapi mahal, kesempatan yang sama untuk memberikan suara.

Di sinilah saya merasa persoalannya bukan cuma prosedural, ada yang lebih dalam, terkait “Gonzaga”. dan ajaran spiritualitas “Ignasian”.

Kalau kita ingat ulang ruh Ignasian, ia tidak pernah mengajarkan kita untuk alergi pada pertanyaan. Justru sebaliknya, tradisi Ignatius menempatkan refleksi sebagai disiplin, bukan sebagai aksesori. Salah satu praktik paling khas adalah Examen, refleksi harian untuk menyadari gerak batin, mensyukuri yang baik, mengakui yang melenceng, lalu membuat komitmen perbaikan.

Examen itu bukan sekadar “merenung”, ia adalah latihan kejujuran yang membongkar ilusi bahwa “yang penting jalan” selalu berarti “yang benar”. (Jesuits.org)

Nah, kalau Examen diterapkan sebagai kultur organisasi, pertanyaan pertama IKAGONA mestinya bukan “siapa yang paling siap jadi pengurus”, tapi apakah “proses kita lakukan dan jalani ini membawa konsolasi, penghiburan atau malah menjadikan desolasi, kesepian?”

Dalam bahasa sederhana, proses ini membuat alumni makin merasa memiliki, atau makin merasa jadi penonton? Proses ini makin memanusiakan, atau makin menkerdikan dan mengecilkan?

Di titik ini, saya meminjam kacamata teori organisasi, bukan untuk sok akademis, tapi untuk menamai fenomena yang sebenarnya sering terjadi di mana-mana.

Robert Michels punya gagasan terkenal, iron law of oligarchy, kecenderungan organisasi besar untuk pada akhirnya dikuasai segelintir orang, bukan selalu karena niat buruk, melainkan karena “kebutuhan teknis” organisasi, seperti akses informasi, rutinitas birokrasi, dan fakta bahwa yang mengurus harian biasanya otomatis jadi yang paling berpengaruh. Bahkan organisasi yang lahir dengan cita-cita demokratis pun bisa mengerucut dan menjadi kerdil (Encyclopedia Britannica)

Kalau itu terjadi, biasanya ia terjadi pelan-pelan, nyaris tidak terasa. Dimulai dari kalimat yang terdengar dewasa, “biar cepat”, “biar tidak ribut”, “alumni sibuk”, “cukup wakil angkatan saja”.

Di sinilah demokrasi diparkir rapi. Parkir rapi itu menggoda karena tampak tertib. Tapi parkir tetap parkir, ia menghentikan gerak yang seharusnya hidup.

Lalu muncul problem kedua, hubungan “yang diwakili” dan “yang mewakili”. Di ilmu ekonomi dan tata kelola, ini sering disebut principal–agent problem, konflik kepentingan dan ketidakseimbangan informasi ketika agen bertindak atas nama prinsipal, sementara prinsipal sulit mengawasi dan memberi sanksi.

Ketika kontrol lemah, agen makin mudah bergerak sesuai preferensinya sendiri, kadang tanpa sadar dan tanpa niat jahat sekalipun. (Wikipedia)

Dalam konteks IKAGONA, “prinsipal”nya adalah alumni luas. “Agen”nya adalah struktur perwakilan dan kepengurusan.

Kalau mandat tidak datang langsung dari alumni, dan kalau mekanisme akuntabilitas tidak dibangun sebagai kebiasaan publik, relasinya berubah jadi “titip urus”, alumni menitipkan, pengurus mengurus, lalu semua berharap pada niat baik.

Masalahnya, sistem yang bergantung pada niat baik selalu rapuh. Sistem yang sehat justru dirancang untuk tetap sehat bahkan ketika orangnya biasa-biasa saja.

Lalu muncul gejala yang sering disalahartikan sebagai “alumni tidak peduli”. Padahal bisa jadi yang terjadi adalah rational ignorance, orang memilih tidak menginvestasikan waktu untuk memahami atau terlibat karena biaya (waktu, energi, drama) terasa lebih besar daripada manfaat yang mungkin didapat dari satu suara.

Kalau alumninya tidak melihat kanal yang jelas untuk bersuara, tidak melihat kompetisi gagasan, tidak melihat transparansi yang membuat suara mereka “bernilai”, maka diam jadi pilihan yang rasional. Dan ketika banyak orang diam, organisasi tampak aktif, tetapi rasa memiliki pelan-pelan menguap.

Di titik ini, saya ingin menyampaikan versi “panas”nya apa yang ada di kepala saya, dengan kalimat yang tetap saya jaga agar tidak berubah jadi fitnah atau seperti “serangan” yang tanpa dasar.

Kepengurusan yang berulang kali terbentuk tanpa mandat langsung dari alumni akan selalu punya legitimasi yang tipis.

Programnya boleh bagus, orangnya boleh kerja keras, tertapi fondasinya rapuh karena “izin memegang setir” tidak pernah diberikan oleh semua penumpang bus kota.

Namun saya juga mau meihat dari versi reflektifnya, barangkali ini bukan semata persoalan “mereka” di lingkaran inti, melainkan persoalan “kita” sebagai komunitas alumni yang pelan-pelan menukar keberanian moral dengan kenyamanan sosial.

Kita takut organisasi jadi gaduh, kita takut beda pendapat, kita takut kalah, takut hubungan pertemanan terganggu, lalu kita memilih proses yang paling minim gesekan.

Padahal di tradisi Ignasian ada kata “discernment”, membedakan mana yang baik, mana yang lebih baik, mana yang paling selaras dengan tujuan. Discernment tidak anti proses, discernment justru butuh ruang terang, informasi terbuka, suara yang didengar, dan kebiasaan mempertanggungjawabkan keputusan. (Jesuits.org)

Dan di sinilah “ruh Ignasian” paling terasa hilang, soal magis.

Magis sering disalahpahami sebagai “lebih banyak” atau “lebih heboh”. Padahal magis dalam tradisi Ignasian lebih dekat dengan “yang lebih baik”, yang lebih selaras untuk pelayanan dan kebaikan yang lebih luas, bukan untuk kebanggaan sendiri. (Ignatian Spirituality)

Kalau IKAGONA mengejar magis, magisnya bukan di aftermovie yang lebih sinematik atau acara yang lebih ramai. Magis-nya justru ada di keberanian memperbaiki tata kelola, menjadikan mandat alumni sebagai sumber legitimasi, membangun kebiasaan transparansi, dan membuat pergantian kepemimpinan sebagai hal normal, bukan ancaman.

Lalu ada satu lagi yang menurut saya sangat “Gonzaga”, cura personalis, perhatian pada pribadi sebagai manusia utuh. (Diocese of San Jose)

Cura personalis bukan cuma tentang ramah. Ia tentang “melihat orang sebagai subjek”. Dalam organisasi alumni, cara paling nyata mempraktikkan cura personalis adalah memberi setiap alumni martabat partisipasi, mengakui bahwa suaranya ada, bukan sekadar “kalau sempat”.

Dan tentu saja, ada frase yang melekat dengan alumni sekolah Jesuit, men and women for others.

Fr. Pedro Arrupe menyampaikan pidato “Men for Others” (1973) kepada alumni sekolah Jesuit, sebuah ajakan agar alumni tidak memperkuat posisi privilese, melainkan mengarah pada pelayanan dan keadilan yang lebih luas. (Portal to Jesuit Studies)

Kalau kita serius dengan pesan itu, maka organisasi alumni tidak boleh menjadi mesin yang secara tidak sadar memperkuat privilese “yang punya akses” untuk selalu menentukan. “For others” seharusnya membuat kita curiga pada sistem yang terlalu nyaman bagi segelintir orang.

Pertanyaannya sekarang, kenapa ini bisa berulang?

Saya kira ada unsur path dependence, begitu sebuah pola “pemilihan oleh perwakilan” dijalankan sekali, ia membentuk kebiasaan, kebiasaan jadi standar, standar jadi “normal”, lalu normal itu dibela atas nama stabilitas.

Paul Pierson menulis tentang path dependence sebagai proses sosial yang sering ditopang oleh “increasing returns”, semakin lama satu jalur dipakai, semakin mahal rasanya untuk keluar dari jalur itu. (fbaum.unc.edu)

Di organisasi, “mahal” itu bukan cuma uang. Mahal itu berupa risiko sosial, takut konflik, takut split, takut dibilang oposisi, takut dianggap tidak solid. Dan akhirnya kita memilih jalan yang familiar, walau kualitasnya makin menurun.

Saya tidak menawarkan revolusi yang berisik. Saya tidak mengajak perang di grup. Saya mengajak reset yang elegan, justru agar IKAGONA kembali selaras dengan ruh yang dulu membentuk kita.

Reset yang elegan itu, menurut saya, harus dimulai dari pengakuan prinsip, pemimpin puncak IKAGONA harus mendapat mandat langsung dari alumni.

Setelah prinsip itu diterima sebagai kompas moral, hal-hal teknis bisa dikerjakan secara waras, verifikasi pemilih, forum pemaparan visi, ruang dialog, audit hasil, dan kebiasaan laporan publik yang ringkas namun rutin.

Kalau tidak ingin semua serba “sempurna”, tidak apa-apa yang penting jalurnya jelas, dari alumni, oleh alumni, untuk alumni. Karena organisasi alumni tanpa mandat alumni adalah paradoks yang rapi.

Ajakan konkritnya saya tulis begini, dalam bahasa yang membumi. Dalam 30 hari ke depan, alumni lintas angkatan bisa mulai mendorong adanya “komitmen terbuka” dari struktur yang ada, kapan pemilihan langsung akan dilakukan, dan apa rencana transisinya.

Dalam 60 hari, ruang dialog publik bisa dibuka, bukan untuk saling menjatuhkan, tapi untuk menguji gagasan dan menguji mekanisme. Dalam 90 hari, sebuah pemilihan langsung minimal untuk posisi kunci bisa terjadi, meski awalnya sederhana.

Waktu ini bukan angka sakral, ini cara untuk menghindari satu penyakit organisasi yang paling halus, “nanti ya …”.

Dan sepanjang proses itu, saya mengajak kita mempraktikkan cara Ignasian yang paling sederhana tapi paling sulit, Examen kolektif.

Menanyakan dengan tenang tapi konsisten, keputusan ini membuat IKAGONA makin menjadi “rumah bersama”, atau justru makin menjadi “ruang sempit”?

Proses ini memberi konsolasi, membuka harapan dan rasa memiliki, atau desolasi, membuat alumni merasa jauh dan tidak dianggap?

Saya menulis ini sebagai alumni angkatan 8, lulus 1997. Bukan sebagai kandidat. Bukan sebagai musuh siapa pun. Tapi juga bukan sebagai penonton yang memilih aman. Karena kalau ada satu hal yang diajarkan tradisi Ignasian, itu keberanian untuk tidak nyaman demi yang lebih benar.

IKAGONA tidak harus sempurna. Tapi ia harus legitimate, dan kalau kita ingin judul “ikatan” itu bukan sekadar nama, maka ruh Ignasian tidak boleh berhenti di slogan. Ia harus turun ke meja pemilihan, ke mekanisme mandat, ke budaya akuntabilitas, dan ke keberanian untuk berkata, magis bukan “lebih ramai”, magis adalah “lebih benar”.

Board Game, Project Paling Inspiring.

Perkenalan dengan Board Game

Sudah sepuluh tahun lebih sedikit saya bekerja di Harian Kompas dan hari ini saya tidak menduga pada semester ini menemukan pengalaman yang memberi kesan mendalam.

Satu dekade bisa membuat kita jadi ‘baal’ (mati rasa) akan rutinitas yang kita jalani, tetapi awal tahun ini saya beruntung. Berada di tengah-tengah orang yang penuh semangat akan value sebuah aktifitas bernama board game.

Semua berawal ketika saya diperkenalkan dengan Mas Eko Nugroho pada suatu sesi sharing mengenai cara mendesain game yang baik. Saat itu, sekitar tahun 2012, Harian Kompas sedang memulai merancang permainan Teka-Teki Silang (TTS) di platform digital.

Yah, lumayanlah, saat ini Harian Kompas memiliki aplikasi TTS di tiga platform mobile, Windows Phone, iOS dan Android. Bahkan saat ini Kompas TTS bisa dinikmati di Blackberry 10 yang menggunakan OS Linux QNX melalui Kompas TTS Blackberry Amazon App Store.

Pertama kali ketemu dengan Mas Eko Nugroho, saya cukup kaget juga  akan ‘mimpi’ dan segala usaha dan upaya  yang ia lakukan dalam memperkenalkan aktifitas board game (sebut saja aktifitas ya) di Indonesia.

Dari beberapa kali brainstorming, sangat terlihat ia sangat menguasai seluk beluk aktifitas board game dan segala nilai (value) kebaikan yang ada di dalamnya. Bingung dengan isitilah board game ? jangan khawatir awalnya saya juga bingung … , bila mengacu ke permainan seperti monopoli, catur atau remi sih bisa saja, tapi sebenarnya pengertia board game lebih luas dari itu

Silahkan simak di Wikipedia, Board Game adalah…

Berbeda antara orang yang hanya mampu untuk omong kosong untuk kepentingannya saja dan orang yang benar-benar memiliki passion, concern, attitude dan semangat pengembangan dan kerjasama yang positif. Mas Eko ini juga memiliki perusahaan game (board game) design dengan nana Kummara

Intinya sih passion itu tidak hanya hanya diucapkan semata di seminar-seminar atau talkshow, tetapi juga harus terlihat dari tindakan dan hasil

Walk the Talk!

Ia selalu menceritakan bagaimana masyarakat di eropa, khususnya Jerman (karena dia pernah cukup lama bermukim dan berlajar di Jerman),  memiliki kultur aktifitas board game yang luar biasa dashyat, masif dan membumi di tiap keluarga/rumah di Jerman.

Keluarga di Jerman, biasanya memiliki beberapa board game yang digunakan sebagai pengisi waktu atau usaha untuk mencairkan suasana ketika sebuah keluarga sedang menjamu tamu.

Digunakan untuk mencairkan suasana antara host dan tamu.

Jadi, board game merupakan suatu aktifitas yang sudah mengakar di eropa, khususnya Jerman. Tidak heran bila Jerman memiliki event tahunan board game yang menjadi barometer industri board game dunia. Nama event tersebut adalah SPIEL yang diadakan di Kota Essen, Jerman.

Awal Kerjasama

mare nostrum
Mare Nostrum Empire. Salah satu board game dari pendanaan KickStarter

Setelah melakukan sharing di kantor Harian Kompas di sekitar tahun 2012, tidak terpikir oleh saya bila kami akan bertemu kembali. Hal ini karena saya dan rekan-rekan kantor langsung fokus mengembangkan aplikasi Kompas TTS bersama partner kami, Radyalabs.

Tiga tahun kemudian (2015) , tiba-tiba saya dipanggil oleh Direktur Bisnis Kompas. Agak bingung juga, karena biasanya ada sesi rapat rutin terjadwal, hampir (jarang) tidak pernah dipanggil langsung.

Beberapa langkah memasuki ruang direktur, saat itu juga saya langsung mengenali sosok tamu yang sedang duduk, Ya! Mas Eko Nugroho yang beberapa tahun sebelumnya memberi materi sharing bagaimana merancang game yang baik.

Mulai saat itu, bergulirlah berbagai perbicangan mengenai game! Macam-macam perbincangan, mulai dari industri game, game digital, kondisi indonesia dan pastinya juga mengenai board game itu sendiri.

Merancang dan Membuat Game Yang Baik

Memang butuh waktu dalam hitungan tahun, untuk ‘mempertemukan’ Harian Kompas dan Kummara untuk ikut serta dalam membangun industri board game di Indonesia.

Faktor utama kerjasama ini bisa terjadi terutama karena Harian Kompas dan Kummara memiliki  visi dan value yang serupa mengenai board game. Sebagai surat kabar dengan oplah dan readership (pembaca) terbesar di Asia Tenggara serta dengan tingkat kredibilitas yang sudah tidak diragukan lagi, partnership bisa terjalin baik bila ada kesamaan nilai-nilai (value) tersebut.

Lalu apa value itu ?

Well, board game pastinya  memiliki karakteristik yang sangat berbeda dengan game digital yang saat ini kita kenal melalui perangkat mobile maupun desktop. Walupun sama-sama game (permainan), tetapi yang satu analog (retro) yang satunya lagi digital (maya)

Karakteristik utama board game, selain bentuk fisiknya adalah cara atau pola interaksi (aktifitas) yang ditawarkan oleh board game itu sendiri. Permainan board game mengharuskan adanya aktifitas fisik, dan kompetisi / kerjasama secara kolektif antara pemain sehingga menghasilkan interaksi fisik yang nyata dan tangible.

Sering kali aktifitas board game mengharuskan dimainkan oleh tiga  (3) sampai delapan (8) orang!

Jadi, apakah board game bisa disebut sebagai  sebuah bentuk aktiftas yang baik dan positif?  Anda bisa dengan mudah membandingkannya dengan pilihan model permainan yang tersedia saat ini.

Mulai dari game desktop dengan fitur kekerasan ala Grand Theft Auto (GTA) dan Duke Nukem,  lalu dengan tingkat kecanduan seperti Clash of Clans sampai dengan Candy Crash yang  mungkin juga anda mainkan di perangkat mobile.

Bila memang menurut anda game tersebut masih memiliki nilai positif karena semua memiliki preferensi masing-masing saya juga menamini hal tersebut, tetapi ada satu hal ‘berharga’ yang tidak bisa didapatkan di interaksi digital dan hanya di dapatkan di board game.

Kehadiran fisik dan emosi bermain boardgame bersama teman atau anggota keluarga.

Teknologi digital memang sudah berhasil menghubungkan (connected) dan mendekatkan kita sekaligus juga menjauhkan hubungan / interaksi kita sebagai mahluk sosial dalam bentuk fisik.

Paradigma Merancang Game

Prototype Design
Proses Merancang Prototype Board Game di event Board Game Challenge Indonesia 2015

Dengan tuntutan interaksi yang begitu nyata dan intens, rancangan (design) board game yang baik dan menyenangkan pastinya memperhatikan faktor ide (tema), logika permainan (mekanik) dan visualisasi ke tingkat yang sangat serius, penting dan kritis.

Pertemuan dengan Harian Kompas menjadi menarik ketika Mas Eko Nugroho dan teamnya mampu menjelaskan, mempraktekkan dan mengajarkan konsep mendesain game yang baik kepada orang biasa.

Paradigma dasar yang diubah adalah, membuat game bukan monopoli atau hanya urusan programmer game saja. Sebelum sampai ke tangan programmer ada proses inti dan penting yang harus dilalui yaitu menrancang permainan itu sendiri, game design!

Mulai dari ide dasar, konsep, aturan dan juga rule of the game, dan ini bukan urusan programmer, sekali lagi bukan urusan programmer!

Memainkan Prototype dan Menjadi Juri Board Game

Gembira Memainkan Pagelaran Yogyakarta
Seorang anak, pengunjung event Board Game Challenge 2015 6 – 7 Juli 2015 di Mall Bintaro XChange tertawa gembira saat memainkan “Pagelaran Yogyakarta”

Pada bulan Februari 2015, Harian Kompas dan Kummara sepakat untuk memulai sebuah aktiftas workshop dan juga kompetisi untuk menghasilkan board game ‘khas’ Indonesia yang bisa dikomersialisasi, artinya bisa dikonsumsi atau dimainkan oleh khalayak ramai.

Departemen Inovasi dibawah koordinasi  General Manager Strategic Management Office Harian Kompas memulai merancang kampanye dengan nama Board Game Challenge 2015.

Dengan bantuan teman-teman dari Kummara yang mengisi workshop dan kerjasama dengan perwakilan Harian Kompas di lima (5) kota, akhirnya sampai dengan bulan Mei 2015 workshop dapat terlaksana dan menghasilkan kurang lebih seratus  (100) prototype board game. yang berasal dari Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta dan Surabaya.

Dari seratus yang dihasilkan, akhirnya dipilih lima (5) board game perkota yang akan mengikuti kompetisi akhir Grand Final di Mall Bintaro XChange , 6-7 Juni 2015.

Selama bulan Februari – Juni 2015 tersebut saya beruntung sekali dapat ikut merancang dan mengalami proses event Board Game Challenge dari awal hingga akhir. Mulai dari mengikuti materi workshop board game design yang dibawakan oleh teman-teman dari  Kummara sampai dengan menjadi juri untuk tiap kota dan pada acara grand final.

Mulai dari memahami sejarah board game, konsep merancang prototype, konsep balancing, game psychology sampai dengan merancang mekanik game. Semuanya saya simak dan nikmati selama acara workshop berlangsung, bedanya saya tidak ikut membuat prototype bersama para peserta …. wkkkkk….

Pada event yang berlangsung selama empat (4) bulan itu saya juga mendapat teman-teman baru yang hebat-hebat, bukan hanya teman main atau nongkrong, tapi mereka adalah para designer berbakat dan pelaku industri board game yang mencintai dan memiki kepercayaan dengan apa yang mereka lakukan..

Pastinya mereka adalah teman-teman peserta Board Game Challenge 2015 yang tidak bisa saya ketik satu persatu, dan juga tim dari Kummara, mulai dari

Andre Dubari, Brendan Satria, Rio Fredericco juga Isza.

Oh iya, yang puncak kesenangan pastinya ketika memiliki kesempatan memainkan 24 board game di acara grand final dan melakukan penjurian. Saya harus berterimakasih kepada semua finalis, karena tema, mekanik permainan dan tampilan board game yang dihasilkan sungguh ke pengunjung luar biasa keren!! diluar bayangan awal saya.

Interaksi Keluarga yang Sehat dan Berkualitas

IMG_6704 (1024x683)
Ibu dan Anak sedang memainkan board game “Waroong Wars” pada event Final Board Game Challenge 2015

Setelah event workshop pertama bulan februari 2015 di Kota Yogyakarta, akhirnya saya membeli satu buat board game Indonesia dengan judul Mat Goceng, yang itung-itung buat nambah penghasilan ke desainernya, Brendan Satria!

Kebetulan Mat Goceng adalah salah satu referensi workshop yang harus dimainkan

Setelah mengingat-ingat aturan permainannya dan menonton ulang tutorialnya di youtube, akhirnya saya membuka box permainan tersebut bersama dengan si kecil Constantine Barindra. Dengan agak penasaran dan sedikit memaksa ia meminta agar tumpukan kartu tersebut segera dimainkan. Untungnya Mat Goceng adalah jenis permainan yang tidak terlalu rumit. Tetapi ada sedikit masalah.. eng..ing..eng..

CB belum genap 7 tahun, Mat goceng minimal untuk 10 tahun

Awalnya agak ragu, tapi sudahlah , toh si kecil sudah pintar main catur dan kartu remi ‘cangkulan’. Karena permainan Mat Goceng membutuhkan minimal tiga (3) orang, akhirnya saya juga mengajak serta Mommanya si kecil, Christina Happyninatyas.

Sejak saat itu kami sekeluarga seperti ‘tenggelam’ dalam tiap sesi permainan Mat Goceng, saling ketawa, penasaran dan sering kali si kecil ngambek karena kalah… wkkkk…. Beberapa kali kami harus menenangkan si kecil agar mau menerima kekalahan dan menjelaskan bahwa kalah itu tidak apa-apa, “Tidak selamanya orang itu menang” jelas kami berulang kali.

Toko – tokoh di permainan Mat Goceng memang unik dalam karakter,  objective game dan lucu dalam penamaan, dan si kecil sering kali membuat bahan berncandaan tokoh-tokoh tersebut

“Nyi Kencleng… Nyi Kencleng…” ujar si kecil beberapa kali sebelum tidur

Semenjak saat itu, seringkali saya harus membawa satu set board game Mat Goceng di acara makan malam keluarga. Bedanya dengan sebelum kehadiran board game, dulu kami bisa saja main smartphone sendiri-sendiri, sekarang sehabis makan, kami membersihkan meja makan kami lalu membuka dan memainkan Mat Goceng.

Beberapa kali juga saya membawa papan catur kecil dan kartu remi agar bisa dimainkan di waku luang ketika kami berjalan-jalan. Saat ini semuanya benar-benar berubah saya dan si kecil punya aktifitas baru yang lebih sehat dan mudah dieksekusi… hehehe …

Digital Detox

Ya, mungkin ini namanya digital detox! Saat ini paling tidak saya lebih tenang, karena si kecil tidak selalu merengek minta main Marvel Champion di smartphone saya. Saya sadar, sebagai karyawan , waktu berkualitas saya dengan si kecil memang ‘sempit’ dan board game menolong saya untuk bisa berinteraksi dengan si kecil! tidak lagi hanya memandang layar digital kecil di tangan.

Mungkin sekarang kekhawatiran saya bergeser, sekarang jadi sering gesek kartu kredit untuk membeli / funding tabletop game di Kick Starter. Saya sedang menunggu pengiriman ‘One Hit Kill‘, Hip Hops The Beer Card Game, Mare Nostrum Empires dan ‘Dragon Punch‘.

Apa berikutnya dari Board Game Challenge Indonesia 2015 ?

Apakah semua berakhir begitu saja di acara grand final and exhibition 6 -7 Juni 2015 kemarin ?

Pastinya Tidak!

Berdasarkan feedback dan observasi yang kami dapatkan selama beberapa bulan terakhir. Saat ini beberapa rekan yang tergabung dalam sebuh tim khusus … ciee… tim khusus… sedang dalam upaya sangat keras dan serius untuk mewujudkan kehadiran board game yang tidak hanya dinikmati segelintir pengunjung Mall Bintaro Xchange saja, tetapi bisa dinikmati masyarakat umum.

Sampai disini dulu ceritanya ya… nantikan kejutan berikutnya yang lahir dari event Board Game Challenge 2015!

Juara Board Game Challenge 2015
Para Pemenang Event Final Board Game Challenge 2015. “Waroong Wars”, “Pagelaran Yogyakarta”, “Jomblo” dan “Monas”.

Terimakasih juga untuk rekan-rekan kantor yang ikut serta mewujudkan aktifitas ini ..

Eko Wustuk, Dikdik Herdiana, Monica Advenia (rekan departemen inovasi) , Helman Taofani , Fellycia Novka Kuaranita (penyedia space dan penulis di klasika), Novi Eastiyanto, Dimas Rahutomo (menghadirkan Bintaro Xchange!!), Diana Eka P, Awank (membuka peluand dengan SNS Serpong), Muhammad Rizki Qitri (promosi dan komunikasi) , Pipin Purnawan, Aswito (koordinator event), Adi Murtyanto, Angel (komunitas) , Erwan Saswito (payment gateway), Fitri Listiyana, Paula Krisna, Ina Gayanti, Ardani Hendarta (business representative), dll sori kalo ada yang belum kesebut ..

Menjadi lebih Indonesia di 7-Eleven

Hampir tiap pulang kerja, saya berjalan kaki melewati 7-Eleven di dekat Mall Senayan City. Beberapa kali mampir untuk sekedar membeli air mineral atau beberapa snack untuk menganjal perut.

Dalam kurun waktu yang beberapa kali itu dan masih berlangsung hingga sekarang, ada satu hal perilaku pengunjung 7-eleven yang sangat mengganggu saya.

Mengenai perilaku mandiri (self-service) dan membuang sampah sisa makanan atau minuman setelah menyantap hidangan tersebut di area yang disediakan 7-Eleven. Seringkali saya menemukan sisa makanan dan minuman berserakan begitu saja….

Perilaku ini mungkin membentuk persepsi mengenai masyarakat Indonesia yang harus ‘selalu dilayani’ dan  tidak peduli dengan lingkungan. Tidak heran juga akhirnya kalo rumah-rumah kelas menengah di Indonesia selalu dilengkapi dengan pembantu (asisten rumah tangga) yang seringkali jumlah dan perannya tidak masuk akal. Bila mengenai lingkungan, mungkin karena tanah dan laut kita yang sangat berlimpah, sehingga kita juga tidak sensitif mengenai issue ini.

Menjadi paradoks ketika kita hidup dikota besar seperti Jakarta yang mengadaptasi model layanan makanan cepat saji, convinient store dari negara yang sudah lebih maju dalam paradigma lingkungan, alamnya tidak sekaya Indonesia dan mandiri dalam banyak hal.

Paling tidak harusnya sadar dong, berapa orang sih karyawan di convinient store macam 7-eleven ? dan rata-rata sepertinya mereka konsentrasi di area Kasir. Ini bukan masalah hak karena sudah bayar bisa meninggalkan sampah begitu saja di meja. Ini mengenai culture!

So, untuk ‘menjadi lebih Indonesia’ dalam arti positif please….. buanglah sisa makanan dan minuman anda pada tempat sampah yang sudah disediakan di dekat anda!

Kenapa Harus Bensin RON 92 ?

Semenjak saya mampu membeli dan menggunakan kendaraan roda empat, ada prinsip yang saya pegang mengenai pemilihan dan pembelian bahan bakar. Saya selalu menggunakan bahan bakar bensin dengan spesifikasi Oktan RON 92 yang sering disebut Pertamax 92 pada pom bensin pertamina, Performance 92 pada pom bensin Total atau Super 92 pada pom bensin Shell.

Walaupun terasa sangat menguras kantong, berikut alasan kenapa saya tetap menggunakan RON 92 dan tidak mengkonsumsi bensin bersubsidi.

1. Spesifikasi mesin mobil kompresi 9:1 keatas.

Pastikan anda membaca buku petunjuk (manual) kendaraan sebelum menggunakannya. Cari tahu angka kompresi mesin anda, bila diatas 9:1 dipastikan anda tidak boleh menggunakan RON 88 atau sering disebut Bensin Premium. Akibatnya tenaga mobil menjadi loyo, boros, dan ruang bakar berkerak karena waktu pengapian yang meleset.

Oh iya, kendaraan jaman sekarang rata-rata malah sudah banyak yang memiliki kompresi 10:1 bahkan 11:1

Bila anda memaksa memakai premium sih sebenarnya tidak apa-apa, tuh mobil / motor jalan juga, karena biasanya ada sensor kualitas bensin pada mesin mobil modern. Masalah pada mobil 90’an yang tidak memiliki sensor, waktu pengapian harus disetel ulang dan mesin jadi tidak bertenaga.

2. Mengingatkan untuk selalu menggunakan transportasi umum.

Harga bensin non subsidi itu termasuk mahal bagi saya, sehingga saya menggunakan mobil seperlunya saja, sewaktu weekend, ke kondangan, acara keluarga atau terlambat bangun pagi untuk pergi ke kantor.

Karena mahal otomatis saya punya kesadaran untuk menggunakan transportasi umum yang tersedia.

3. Menyetir mobil di Jabodetabek itu melelahkan.

Siapa sih yang bisa menikmati lalu-lintas Jakarta yang super macet ? bahkan dalam beberapa tahun lagi lalu-lintas Jakarta akan masuk dalam kondisi ‘Grid-Lock’. Mengendarai mobil sudah pasti menambah stress dan mengurangi waktu istirahat.

Dengan menggunakan transportasi umum yang memiliki penyejuk udara (AC) saya bisa tidur dan istirahat dengan nyaman.

4. Malu, bingung, absurd karena sepertinya bensin bersubsidi memang bukan hak saya.

Sampai hari ini, saya sendiri masih bingung, sebenarnya untuk siapa bensin bersubsidi itu ? untuk pribadi atau untuk kendaraan umum ?

Bila memang bensin bersubsidi itu untuk kendaraan umum seperti mikrolet, angkot, bus, transjakarta, kopaja, kopami, metromini dst. Berarti memang saya harus malu bila kendaraan pribadi saya harus menggunakan bensin bersubsidi.

Pada kenyataannya banyak sekali mobil keluaran terbaru yang menggunakan bensin bersubsidi dan tidak ada tindakan pencegahan nyata atau konsekwensi. Mungkin hal itu juga yang mendorong banyak orang untuk tetap mengkonsumsi bensin bersubsidi.

Dengan semua ketidakjelasan ini, daripada saya kepergok menggunakan yang bukan hak saya, daripada malu dan bersalah, lebih baik saya mengindari bensin bersubsidi dan menggunakan bahan bakar RON 92 (non subsidi).

Dear Smokers, please …

old-smokersDear Smokers, please get a plastic bag and cover yourself whenever you want to start smoking to enable you to enjoy the smoke 100% by yourself. I don’t want any percentage of it nor do my friends who don’t smoke. Don’t kill me if you want to kill yourself.

Regards, Non-smokers.
Source : facebook,twitter and google+ (for now)