Sekitar satu tahun kemarin 5 Januari 2025, saya kehilangan seorang mantan rekan kerja sekaligus sahabat. Kepergiannya merupakan salah satu momen yang sulit untuk diterima, apalagi jika sosok itu telah berbagi begitu banyak perjalanan hidup bersama kita.
Saat itu, saya belum bisa menyelesaikan tulisan ini, seteleh menonton Film Wake Up Dead Man, entah kenapa saya teringat draft tulisan ini.
Ketika memasuki rumah duka melihat sosok yang terbaring dengan baju rapi, bertemu Icha istrinya, anak-anaknya, air mata mengalir deras mengaburkan penglihatan.
Eko Prabowo, “Eko Wustuk” bukan hanya sekadar rekan kerja di Harian Kompas sejak 2005, tetapi juga seorang sahabat yang menjadi salah satu bagian penting dari kisah hidup saya.
Kami dipertemukan dan memulai karir bersama sebagai bagian dari gis team di Harian Kompas. Sebagai satu angkatan di diklat Kompas tahun 2003 – 2004 dan satu tim di bagian unit riset bisnis.
Memulai perjalanan panjang berkarir di kantor Gajah Mada, pindah ke Palmerah selama hampir lima belas (15) tahun kita selalu berkarya dalam rungan yang sama.
Bagi saya, mengenal Eko adalah sebuah perjalanan spiritual dan persahabatan. Melalui kesamaan hobi kegiatan mendaki gunung, kami sama-sama mencintai keindahan dan kegiatan alam Indonesia.
Walaupun kami tidak pernah mendaki gunung bersama, tetapi ‘koleksi’ perjalanan kami hampir sama banyak dan kayanya bila menyangkut urusan naik-turun gunung dan masuk-keluar hutan tropis di nusantara.
Berkenalan di era ketika koneksi internet dan perangkat mobile masih terbatas, kita lebih sering dan lebih punya waktu untuk sharing in-person di kantor, kafe sampai berdiskusi bacaan buku progresif dan new age yang membuka ruang diskusi tanpa batas.
Berdiskusi alias bedah buku buku dengan Eko selalu memiliki sensasi yang unik dan berbeda, seperti mendapatkan teman berdongeng, seperti membicarakan sosok hidup karena dibawakan dengan imajinasi dengan tanpa batas.
Ketika menerima kabar duka tersebut, seketika teringat kembali beberapa momen bersama Eko.
Sembilan belas tahun (19) tahun lalu, ketika saya harus mengambil keputusan yang sulit, dan berada dalam situasi tanpa “atap rumah”, Eko adalah orang yang membuka pintu untuk saya.
Dia menyediakan kamar kostnya agar saya punya tempat berteduh sementara, hingga saya bisa menemukan tempat tinggal sendiri.
Berbagai tindakan dan gesteur yang terekam dalam ingatan saya, bukan hanya menunjukkan kemurahan hatinya, tetapi juga bagaimana ia memandang persahabatan, dengan ketulusan dan tanpa pamrih.
Ketika bertemu dengan kekasih yang saat ini menjadi istrinya pun, dia menceritakan momen pertemuan itu dengan sangat indah, seperti menonton teater mini dari kisah komik anak remaja yang sedang kasmaran.
Kemampuan uniknya melihat keindahan alam dan ciptaan Sang Khalik bisa saya rasakan ketika dia bercerita mengenai kekasihnya tersebut yang ia jumpai ketika bertugas di Kota Medan.
Perbedaan budaya, latar berlakang dan keyakinan tidak menjadi masalah baginya, pacaran selama tujuh tahun dijalaninya dengan penuh keyakinan dan kemantapan.
“Ko, sepertinya perjalanan lo lebih berat dari gue”, ujarku waktu itu.
Ketika suatu hari, saya dan beberapa rekan kerja harus ke terbang ke Sumatra Utara untuk menghadiri proses pernikahannya yang digelar di sebuah lapangan luas, saya hanya bisa berterimakasih ke semesta, karena memiliki teman yang tekun menjalani prinsip dan apa yang dia percaya.
Bagi saya, Eko memiliki peran yang penting untuk orang – orang di sekitarnya, terutama di kantor dimana Eko menganggap kantor adalah keluarga keduanya.
Dia juga yang sedikit banyak yang menyakinkan saya untuk terus berjuang ketika awal pedekate dan juga masalah pacaran dengan Happy, kekasih dan juga istri saya saat ini.
“Udah santai dikit, yang penting kan masih mau terima telepon dari elo, kalo direject noh baru masalah”, ujarnya dengan santai.
Pencapaian terbesar Eko di Harian Kompas adalah ketika ikut mengakselarasi ekosistem Board Game Indonesia melalui Board Game challenge dan juga melahirkan Kompas.id.
Banyak yang tidak tahu, betapa Eko yang ikut menyemaikan semangat dan memupuk harapan bagaimana Jurnalisme berkualitas harus dan bisa ditopang dengan model berlangganan berita berbayar.
Melalui narasi, imajinasi dan kekuatan berceritanya, Eko berhasil menanamkan keyakinan bahwa orang akan rela mengeluarkan uang untuk mendapatkan berita berkualitas.
Kompas.id memang tidak di desain bisa diklaim oleh satu atau beberapa orang, konsepnya lahir secara kolektif, tetapi peran Eko sangat besar ketika bentuk dan nama Kompas.id belum ada.
Bila saat itu tidak ada Eko, saya tidak akan berani mengajukan produksi Boardgame Warung Wars, Pagelaran Jogjakarta dan Monas Rush ke percetakan Kompas Gramedia dengan biaya ratusan hingga milyaran rupiah.
“Ko, gue bingung, ngga yakin ini bisa dicetak dan ada yang mau beli ? “, Ujarku penuh keraguan.
“Bayangkan Dit, orang sudah tau ada kompetisi itu, mereka senang memainkan, lo ingat kan reaksi orang -orang di event itu, mereka pasti akan beli produk itu.” , ujarnya dengan penuh keyakinan.
“Ok, nanti gue sampaikan ke rapat pimpinan ya, tapi ingat ya ini gue ngga tau hasilnya, bisa jadi ini ide bunuh diri ke pimpinan”.
Ketika pada akkhirnya seri Board Game tersebut dicetak ulang beberapa edisi, menghasilkan gelombang gaya hidup baru dan mengakseleasi Industri Board Game Indonesia, itu adalah hasil dari mimpi dan keyakinan Eko.
Boleh dibilang tahun 2015 adalah milestone besar bertumbuhnya industri board game Indonesia. Kala itu lahir sebuah gebrakan, yaitu kompetisi board game nasional pertama di Indonesia. Kompetisi itu dinamai Board Game Challenge (BGC) 2015, diprakarsai oleh Kummara bersama Harian Kompas.” –Isa R. Akbar
Kepergiannya meninggalkan kekosongan yang besar bagi diri saya, tetapi kenangan tentang kebaikan, prestasi dan pemikiran cemerlangnya akan selalu hidup di hati saya.
Eko, terima kasih untuk semua cerita, tawa, dan momen-momen yang kita bagikan. Sepertinya Sang Khalik sudah mempunyai rencana baru untukmu, semoga engkau menemukan kedamaian di tempatmu yang baru.
Perjalanan baru sudah menantimu, sahabat, suatu hari, kita akan bertemu lagi.
Saya makin sering ketemu fenomena lane hogger di jalan tol maupun di jalan umum biasa. Mobil jalan “anteng” di lajur kanan, kecepatan pas-pasan, dan kita yang datang dari belakang jadi deg-degan sendiri.
Bukan karena mau ngebut, tapi karena ritme jalan tol dan sepit itu seperti punya bahasa tak tertulis, kanan itu ruang mendahului, bukan ruang berlama-lama.
Bahkan di aturan resmi pun lajur kanan memang diposisikan untuk kendaraan yang bergerak lebih cepat daripada lajur kirinya. (bpjt.pu.go.id)
Yang menarik, sering kali (tidak selalu ya ..) ketika naik taksi daring seperti Gr4bcar dan G0c4r, saya kadang “wawancara kecil” ke pengemudinya.
Bukan interogasi, lebih ke ngobrol sambil menahan rasa was-was karena mobil kita seperti “berteduh” di lajur yang salah.
Jawaban yang muncul itu sering sederhana dan manusiawi, “Ini baru bawa mobil, sebelumnya nggak pernah… ya gimana, harus makan.”
“Iya Pak, sebelumnya saya narik motor, tetapi ini lagi nyoba mobil, ternyata lebih enak”.
“Ini kemarin baru ambil kredit mobil nih, ya baru sih pak, baru tiha bulan lalu ini”
…
“Pak, kok ini jalannya kanan mulu?” Tanyaku agak khawatir.
“Heheh…iya”, Ujarnya santai.
Di kepala kita, lane hogger itu sering langsung jadi karakter jahat, sengaja menghalangi, keras kepala, sok punya jalan.
Tetapi dari obrolan-obrolan di kursi belakang itu, saya malah melihat pola lain, banyak yang benar-benar baru jadi supir mobil karena tuntutan keadaan.
Umurnya tidak muda, sebagian terlihat seperti orang yang baru belajar hidup lagi, bukan baru belajar nyetir saja. Ada yang baru kena PHK, ada yang usahanya seret, ada yang mendadak harus narik karena cicilan dan dapur tidak bisa menunggu.
Dan di titik ini, lajur kanan berubah makna. Buat kita yang terbiasa “membaca” jalan tol dan jalan umum, kanan itu cepat, tegas, sepersekian detik untuk menyalip lalu kembali. Tapi buat mereka yang baru masuk dunia ini, kanan terasa “damai”.
Kanan lebih sepi, kanan lebih sedikit interaksi, tidak banyak truk besar yang bikin kaget, tidak banyak drama merge dan saling potong.
Kanan terasa seperti jalur santai, padahal justru itulah jalur yang paling salah untuk dijadikan tempat santai.
Saya bisa memahami logika lelahnya, jalur kiri itu menuntut fokus ekstra, truk pelan, bus besar, kendaraan yang keluar-masuk, orang yang pindah lajur mendadak, dan kadang jalan yang bergelombang karena beban berat.
Kanan terlihat bersih, lurus, seperti memberi ilusi, “Di sini aman.” Padahal, justru karena kanan itu “jalur mendahului”, arusnya sering datang dengan ekspektasi lebih cepat. Kalau ada kendaraan statis di sana, yang muncul bukan cuma jengkel, tetapi potensi bahaya.
Itulah kenapa instansi terkait berkali-kali mengingatkan soal lane hogger, karena ujungnya bukan sekadar etika, tapi risiko kecelakaan.
Lalu ada satu detail yang juga sering saya lihat, mobilnya banyak Low Cost Green Car (LCGC). Ini bukan menyalahkan mobilnya, tentu, tetapi LCGC memang punya posisi unik di Indonesia, relatif terjangkau, irit, biaya perawatan lebih “masuk akal” untuk orang yang sedang mulai ulang hidup.
Di banyak cerita otomotif, LCGC sekarang bukan cuma “mobil pertama”, tapi juga “mobil cari duit”. (detikoto) Tidak heran kalau ekosistem taksi online juga akrab dengan tipe kendaraan yang hemat operasional, dari yang LCGC sampai LMPV irit, karena tiap rupiah bensin itu nyata dampaknya ke penghasilan harian. (Grab)
Jadi mungkin kita perlu melihat lane hogger ini sebagai gejala sosial yang nyasar ke aspal. Bukan sekadar “orang Indonesia nggak tertib”, tapi juga “banyak orang lagi kepepet”.
Banyak orang yang mendadak jadi pengemudi, mendadak pegang setir untuk menyambung hari, dan masuk ke jalan tol dengan mental yang belum sinkron dengan budaya berkendara di situ.
Tapi empati tidak boleh menghapus batas keselamatan. Kalau ada satu kalimat yang ingin saya titipkan, bukan sebagai hakim, Judge Bao, tetapi sebagai sesama pengguna jalan, ini lajur kanan itu bukan tempat istirahat.
Kalau sedang lelah dan butuh ritme lebih pelan, ambil lajur kiri atau tengah (sesuai kondisi), jaga jarak, biarkan yang ingin mendahului lewat kanan, lalu kembali tenang.
Karena “damai”nya lajur kanan itu sebenarnya palsu, ia terlihat sepi, tapi membawa ekspektasi cepat dari belakang.
Dan buat kita yang sering panas melihat lane hogger, mungkin boleh tetap tegas, tapi jangan kehilangan sisi manusia. Bisa jadi di balik setir itu ada orang yang baru saja kehilangan pekerjaan, sedang mengejar setoran, dan belum punya “bahasa tol” atau “bahasa mendahului dari kanan” yang sama dengan kita.
Di Indonesia, kadang yang bikin macet bukan cuma kendaraan, tapi juga cerita hidup yang sedang berat-beratnya.
Ketika demokrasi diparkir rapi, dan “magis”, dan akhirnya tidak pernah sampai ke meja pemilihan.
Saya kebetulan alumni Kolese Gonzaga angkatan delapan (8), yang lulus tahun 1997.
Kalau kalimat itu saya tulis di awal, itu bukan sekadar penanda umur dan generasi, lebih seperti “alamat batin”, karena Gonzaga (dan tradisi Jesuit yang jadi fondasinya) meninggalkan semacam sidik jari di cara kita menilai sesuatu.
Sidik jari bukan hanya soal terkait “berjalan atau tidak”, tetapi lebih kepada “benar atau tidak”, “adil atau tidak”, “membangun manusia atau hanya membangun struktur”.
Itu sebabnya saya sulit pura-pura santai ketika melihat pola kepengurusan Ikatan Alumni Gonzaga alias IKAGONA yang beberapa tahun terakhir beberapa kali bergerak tanpa proses pemilihan yang benar-benar memberi mandat langsung dari alumni.
Yang terjadi, kepemimpinan dipilih oleh wakil angkatan, artinya tidak ada demokrasi yang sehat di tingkat alumni sebagai “pemilik” ikatan.
Secara administratif mungkin terlihat rapi. Secara logistik mungkin terasa efisien. Secara sosial mungkin menghindari kegaduhan. Tetapi kalau kita bicara tentang organisasi yang mengatasnamakan ribuan orang, “rapi” bukan ukuran utama, tetapi legitimasi adalah ukuran utama.
Dan legitimasi itu lahir dari sesuatu yang sederhana tapi mahal, kesempatan yang sama untuk memberikan suara.
Di sinilah saya merasa persoalannya bukan cuma prosedural, ada yang lebih dalam, terkait “Gonzaga”. dan ajaran spiritualitas “Ignasian”.
Kalau kita ingat ulang ruh Ignasian, ia tidak pernah mengajarkan kita untuk alergi pada pertanyaan. Justru sebaliknya, tradisi Ignatius menempatkan refleksi sebagai disiplin, bukan sebagai aksesori. Salah satu praktik paling khas adalah Examen, refleksi harian untuk menyadari gerak batin, mensyukuri yang baik, mengakui yang melenceng, lalu membuat komitmen perbaikan.
Examen itu bukan sekadar “merenung”, ia adalah latihan kejujuran yang membongkar ilusi bahwa “yang penting jalan” selalu berarti “yang benar”. (Jesuits.org)
Nah, kalau Examen diterapkan sebagai kultur organisasi, pertanyaan pertama IKAGONA mestinya bukan “siapa yang paling siap jadi pengurus”, tapi apakah “proses kita lakukan dan jalani ini membawa konsolasi, penghiburan atau malah menjadikan desolasi, kesepian?”
Dalam bahasa sederhana, proses ini membuat alumni makin merasa memiliki, atau makin merasa jadi penonton? Proses ini makin memanusiakan, atau makin menkerdikan dan mengecilkan?
Di titik ini, saya meminjam kacamata teori organisasi, bukan untuk sok akademis, tapi untuk menamai fenomena yang sebenarnya sering terjadi di mana-mana.
Robert Michels punya gagasan terkenal, iron law of oligarchy, kecenderungan organisasi besar untuk pada akhirnya dikuasai segelintir orang, bukan selalu karena niat buruk, melainkan karena “kebutuhan teknis” organisasi, seperti akses informasi, rutinitas birokrasi, dan fakta bahwa yang mengurus harian biasanya otomatis jadi yang paling berpengaruh. Bahkan organisasi yang lahir dengan cita-cita demokratis pun bisa mengerucut dan menjadi kerdil (Encyclopedia Britannica)
Kalau itu terjadi, biasanya ia terjadi pelan-pelan, nyaris tidak terasa. Dimulai dari kalimat yang terdengar dewasa, “biar cepat”, “biar tidak ribut”, “alumni sibuk”, “cukup wakil angkatan saja”.
Di sinilah demokrasi diparkir rapi. Parkir rapi itu menggoda karena tampak tertib. Tapi parkir tetap parkir, ia menghentikan gerak yang seharusnya hidup.
Lalu muncul problem kedua, hubungan “yang diwakili” dan “yang mewakili”. Di ilmu ekonomi dan tata kelola, ini sering disebut principal–agent problem, konflik kepentingan dan ketidakseimbangan informasi ketika agen bertindak atas nama prinsipal, sementara prinsipal sulit mengawasi dan memberi sanksi.
Ketika kontrol lemah, agen makin mudah bergerak sesuai preferensinya sendiri, kadang tanpa sadar dan tanpa niat jahat sekalipun. (Wikipedia)
Dalam konteks IKAGONA, “prinsipal”nya adalah alumni luas. “Agen”nya adalah struktur perwakilan dan kepengurusan.
Kalau mandat tidak datang langsung dari alumni, dan kalau mekanisme akuntabilitas tidak dibangun sebagai kebiasaan publik, relasinya berubah jadi “titip urus”, alumni menitipkan, pengurus mengurus, lalu semua berharap pada niat baik.
Masalahnya, sistem yang bergantung pada niat baik selalu rapuh. Sistem yang sehat justru dirancang untuk tetap sehat bahkan ketika orangnya biasa-biasa saja.
Lalu muncul gejala yang sering disalahartikan sebagai “alumni tidak peduli”. Padahal bisa jadi yang terjadi adalah rational ignorance, orang memilih tidak menginvestasikan waktu untuk memahami atau terlibat karena biaya (waktu, energi, drama) terasa lebih besar daripada manfaat yang mungkin didapat dari satu suara.
Kalau alumninya tidak melihat kanal yang jelas untuk bersuara, tidak melihat kompetisi gagasan, tidak melihat transparansi yang membuat suara mereka “bernilai”, maka diam jadi pilihan yang rasional. Dan ketika banyak orang diam, organisasi tampak aktif, tetapi rasa memiliki pelan-pelan menguap.
Di titik ini, saya ingin menyampaikan versi “panas”nya apa yang ada di kepala saya, dengan kalimat yang tetap saya jaga agar tidak berubah jadi fitnah atau seperti “serangan” yang tanpa dasar.
Kepengurusan yang berulang kali terbentuk tanpa mandat langsung dari alumni akan selalu punya legitimasi yang tipis.
Programnya boleh bagus, orangnya boleh kerja keras, tertapi fondasinya rapuh karena “izin memegang setir” tidak pernah diberikan oleh semua penumpang bus kota.
Namun saya juga mau meihat dari versi reflektifnya, barangkali ini bukan semata persoalan “mereka” di lingkaran inti, melainkan persoalan “kita” sebagai komunitas alumni yang pelan-pelan menukar keberanian moral dengan kenyamanan sosial.
Kita takut organisasi jadi gaduh, kita takut beda pendapat, kita takut kalah, takut hubungan pertemanan terganggu, lalu kita memilih proses yang paling minim gesekan.
Padahal di tradisi Ignasian ada kata “discernment”, membedakan mana yang baik, mana yang lebih baik, mana yang paling selaras dengan tujuan. Discernment tidak anti proses, discernment justru butuh ruang terang, informasi terbuka, suara yang didengar, dan kebiasaan mempertanggungjawabkan keputusan. (Jesuits.org)
Dan di sinilah “ruh Ignasian” paling terasa hilang, soal magis.
Magis sering disalahpahami sebagai “lebih banyak” atau “lebih heboh”. Padahal magis dalam tradisi Ignasian lebih dekat dengan “yang lebih baik”, yang lebih selaras untuk pelayanan dan kebaikan yang lebih luas, bukan untuk kebanggaan sendiri. (Ignatian Spirituality)
Kalau IKAGONA mengejar magis, magisnya bukan di aftermovie yang lebih sinematik atau acara yang lebih ramai. Magis-nya justru ada di keberanian memperbaiki tata kelola, menjadikan mandat alumni sebagai sumber legitimasi, membangun kebiasaan transparansi, dan membuat pergantian kepemimpinan sebagai hal normal, bukan ancaman.
Lalu ada satu lagi yang menurut saya sangat “Gonzaga”, cura personalis, perhatian pada pribadi sebagai manusia utuh. (Diocese of San Jose)
Cura personalis bukan cuma tentang ramah. Ia tentang “melihat orang sebagai subjek”. Dalam organisasi alumni, cara paling nyata mempraktikkan cura personalis adalah memberi setiap alumni martabat partisipasi, mengakui bahwa suaranya ada, bukan sekadar “kalau sempat”.
Dan tentu saja, ada frase yang melekat dengan alumni sekolah Jesuit, men and women for others.
Fr. Pedro Arrupe menyampaikan pidato “Men for Others” (1973) kepada alumni sekolah Jesuit, sebuah ajakan agar alumni tidak memperkuat posisi privilese, melainkan mengarah pada pelayanan dan keadilan yang lebih luas. (Portal to Jesuit Studies)
Kalau kita serius dengan pesan itu, maka organisasi alumni tidak boleh menjadi mesin yang secara tidak sadar memperkuat privilese “yang punya akses” untuk selalu menentukan. “For others” seharusnya membuat kita curiga pada sistem yang terlalu nyaman bagi segelintir orang.
Pertanyaannya sekarang, kenapa ini bisa berulang?
Saya kira ada unsur path dependence, begitu sebuah pola “pemilihan oleh perwakilan” dijalankan sekali, ia membentuk kebiasaan, kebiasaan jadi standar, standar jadi “normal”, lalu normal itu dibela atas nama stabilitas.
Paul Pierson menulis tentang path dependence sebagai proses sosial yang sering ditopang oleh “increasing returns”, semakin lama satu jalur dipakai, semakin mahal rasanya untuk keluar dari jalur itu. (fbaum.unc.edu)
Di organisasi, “mahal” itu bukan cuma uang. Mahal itu berupa risiko sosial, takut konflik, takut split, takut dibilang oposisi, takut dianggap tidak solid. Dan akhirnya kita memilih jalan yang familiar, walau kualitasnya makin menurun.
Saya tidak menawarkan revolusi yang berisik. Saya tidak mengajak perang di grup. Saya mengajak reset yang elegan, justru agar IKAGONA kembali selaras dengan ruh yang dulu membentuk kita.
Reset yang elegan itu, menurut saya, harus dimulai dari pengakuan prinsip, pemimpin puncak IKAGONA harus mendapat mandat langsung dari alumni.
Setelah prinsip itu diterima sebagai kompas moral, hal-hal teknis bisa dikerjakan secara waras, verifikasi pemilih, forum pemaparan visi, ruang dialog, audit hasil, dan kebiasaan laporan publik yang ringkas namun rutin.
Kalau tidak ingin semua serba “sempurna”, tidak apa-apa yang penting jalurnya jelas, dari alumni, oleh alumni, untuk alumni. Karena organisasi alumni tanpa mandat alumni adalah paradoks yang rapi.
Ajakan konkritnya saya tulis begini, dalam bahasa yang membumi. Dalam 30 hari ke depan, alumni lintas angkatan bisa mulai mendorong adanya “komitmen terbuka” dari struktur yang ada, kapan pemilihan langsung akan dilakukan, dan apa rencana transisinya.
Dalam 60 hari, ruang dialog publik bisa dibuka, bukan untuk saling menjatuhkan, tapi untuk menguji gagasan dan menguji mekanisme. Dalam 90 hari, sebuah pemilihan langsung minimal untuk posisi kunci bisa terjadi, meski awalnya sederhana.
Waktu ini bukan angka sakral, ini cara untuk menghindari satu penyakit organisasi yang paling halus, “nanti ya …”.
Dan sepanjang proses itu, saya mengajak kita mempraktikkan cara Ignasian yang paling sederhana tapi paling sulit, Examen kolektif.
Menanyakan dengan tenang tapi konsisten, keputusan ini membuat IKAGONA makin menjadi “rumah bersama”, atau justru makin menjadi “ruang sempit”?
Proses ini memberi konsolasi, membuka harapan dan rasa memiliki, atau desolasi, membuat alumni merasa jauh dan tidak dianggap?
Saya menulis ini sebagai alumni angkatan 8, lulus 1997. Bukan sebagai kandidat. Bukan sebagai musuh siapa pun. Tapi juga bukan sebagai penonton yang memilih aman. Karena kalau ada satu hal yang diajarkan tradisi Ignasian, itu keberanian untuk tidak nyaman demi yang lebih benar.
IKAGONA tidak harus sempurna. Tapi ia harus legitimate, dan kalau kita ingin judul “ikatan” itu bukan sekadar nama, maka ruh Ignasian tidak boleh berhenti di slogan. Ia harus turun ke meja pemilihan, ke mekanisme mandat, ke budaya akuntabilitas, dan ke keberanian untuk berkata, magis bukan “lebih ramai”, magis adalah “lebih benar”.
Ada film yang tidak hanya ditonton, tapi dirasakan. Contact (1997) adalah salah satunya. Sejak menit pertama, film ini seperti menurunkan volume dunia. Rasanya seperti semesta sedang berkata, “sebentar… dengarkan dulu.”
Dibintangi Jodie Foster dan dibangun dari ide-ide besar Carl Sagan, Contact bukan sekadar film atau novel fiksi ilmiah. Ia lebih seperti surat cinta kepada rasa ingin tahu manusia, sekaligus penghormatan untuk seseorang yang menghabiskan hidup menjembatani sains dan kemanusiaan.
Yang membuatnya terasa berbeda adalah niat awalnya. Film ini dibuat ketika Carl Sagan sudah memasuki masa-masa akhir hidupnya. Ia meninggal sebelum filmnya rilis. Karena itu, Contact akhirnya berdiri sebagai monumen kecil, “halus”, dan manusiawi untuk mengenang warisan pemikirannya.
Sagan selalu mengajarkan hal yang sederhana namun sering kita lupa, bahwa semesta terlalu besar untuk kita jalani dengan ketakutan, dan terlalu indah untuk kita jalani tanpa rasa kagum.
Siapa yang mencintai Interstellar(2014) hampir pasti akan merasakan resonansi yang mirip di Contact. Kalau Interstellar adalah perjalanan menembus ruang dan waktu dengan cinta sebagai kompas, Contact jauh lebih sunyi, lebih dekat ke dalam, lebih kontemplatif.
Ia bukan film yang ingin membuatmu kagum pada efek visual, tapi film yang ingin membuatmu berhenti sejenak dan mengingat sesuatu yang mungkin sudah lama mengendap, bahwa hidup itu pencarian.
Dan pencarian selalu berharga, bahkan ketika jawabannya belum ada.
Carl Sagan sendiri adalah figur yang mampu membuat sains terdengar seperti puisi. Ia tidak datang dengan jargon rumit, tapi dengan cara memandang semesta seolah kita semua bagian dari cerita besar yang sama.
Kata “cosmos” dari Sagan bukan sekadar ruang hampa, tapi rumah luas yang penuh sejarah, keajaiban, dan misteri yang belum selesai kita pelajari. Lewat Contact, cara pandang itu seperti diturunkan dalam bentuk novel dan film.
Di dunia hari ini, tempat orang mudah merasa gagal, merasa kalah, merasa tidak cukup, Contact jadi terasa sangat relevan. Banyak orang yang berjalan tanpa tujuan jelas. Banyak yang tenggelam oleh kebisingan berita, pekerjaan, target hidup, ekspektasi sosial.
Ada yang kecewa dengan dirinya sendiri, ada yang merasa jalur hidupnya tidak ke mana-mana. Contact datang sebagai pengingat “halus”, bahwa manusia tidak pernah diminta untuk tahu semua jawabannya sekarang.
Manusia hanya diminta hanya terus mencari, terus penasaran, terus membuka ruang untuk kemungkinan.
Banyak kutipan dari film dan novel Contact yang sudah lama menjadi bagian dari diskusi publik. Kutipan-kutipan yang tidak hanya indah, tapi juga punya lapisan makna yang dalam.
Salah satu yang paling terkenal adalah saat Ellie Arroway yang diperankan oleh Jodie Foster, setelah ia melihat sesuatu yang tidak bisa dijelaskan oleh sains, ia hanya bisa berkata, “They should have sent a poet.”
Kalimat sesederhana itu langsung merangkum pengalaman manusia ketika berhadapan dengan sesuatu yang terlalu megah untuk dijadikan angka, ada hal-hal yang hanya bisa disentuh oleh bahasa perasaan.
Ada juga kalimat yang sering dikutip dari gagasan Sagan, “If it’s just us… seems like an awful waste of space.”
Ini bukan sekadar tentang alien, tapi tentang keyakinan bahwa kehidupan tidak berhenti pada ruang kecil bernama “aku”. Bahwa ada sesuatu yang lebih luas, sesuatu yang membuat setiap pencarian menjadi masuk akal.
Kontemplasi dalam Contact makin terasa dalam saat sosok alien berkata, “You’re capable of such beautiful dreams… and such horrible nightmares.”
Manusia adalah spesies yang membingungkan, penuh harapan, penuh ketakutan, penuh potensi. Film ini seperti mengajak kita berdamai dengan kenyataan itu.
Bahwa kita selalu berada di tengah-tengah antara harapan dan kehancuran, antara rasa ingin tahu dan rasa takut, antara keberanian dan keraguan.
Dan satu lagi yang paling manusiawi, “In all our searching, the only thing we’ve found that makes the emptiness bearable… is each other.”
Sebuah kalimat yang terasa makin kuat hari ini, ketika banyak orang sibuk membuktikan diri dan lupa bahwa keberadaan manusia lain adalah penyangga terbesar kehidupan.
Pecinta Interstellar akan menemukan sesuatu yang familiar di Contact, bukan dari sisi efek visual, tapi dari sisi rasa. Sama-sama memandang semesta sebagai ruang untuk menemukan diri sendiri. Sama-sama menempatkan manusia bukan sebagai pahlawan, tapi sebagai makhluk rapuh yang sedang mencari tempatnya di antara miliaran bintang.
Sama-sama percaya bahwa ada sesuatu yang lebih besar dari angka dan rumus, baik itu cinta, harapan, atau hanya keberanian untuk melihat ke atas dan bertanya, “Ada apa lagi di luar sana?”
Contact adalah film yang terasa semakin penting justru di era ketika hidup bergerak terlalu cepat. Ia mengajak kita melambat. Mengajak kita melihat bahwa rasa tidak cukup itu wajar.
Bahwa tersesat itu bagian dari proses.
Bahwa manusia tidak gagal hanya karena belum menemukan tujuan. Justru proses mencari itulah yang membuat hidup punya arah, meskipun arahnya berubah-ubah.
Dan mungkin itu warisan paling indah dari Carl Sagan, pemahaman bahwa semesta tidak harus membuat kita kecil. Ia bisa membuat kita rendah hati, iya, tapi juga bisa membuat kita merasa terhubung, merasa lebih hidup, merasa bahwa keberadaan kita di sini, betapapun singkat, punya makna.
Contact bukan sekadar film yang layak ditonton. Ia film yang layak disimpan. Film yang pelan, tapi meninggalkan jejak panjang.
Film yang bisa kamu tonton ulang ketika hidup sedang bising, ketika kepala penuh, ketika hati berat, atau ketika kamu lupa bagaimana rasanya memandang bintang dengan rasa kagum yang jujur.
Dan sering kali, itu yang kita butuhkan, bukan jawaban, tapi pengingat bahwa pencarian itu sendiri sudah cukup untuk membuat hidup terasa berarti.
Pada bulan November 2019, tepat enam tahun yang lalu, saya akhirnya benar-benar melangkah keluar dari gerbang sebuah perusahaan besar yang sudah menjadi bagian hidup saya selama hampir separuh usia produktif.
Sebuah perusahaan media, anak dari kelompok korporasi raksasa yang mempekerjakan ribuan orang. Di unit tempat saya bekerja saat itu saja, ada sekitar enam ratus jiwa yang setiap hari berlari di roda besar bernama industri media.
Bagi banyak orang di sekeliling saya, keputusan itu tampak nekat, bahkan sedikit gila. Saya mengundurkan diri di tengah pandemi, ketika ketidakpastian sedang menjadi udara yang dihirup semua orang.
Dan yang paling aneh, saya belum punya tempat baru untuk bekerja.
Tidak ada janji posisi lain, tidak ada tawaran yang menunggu di meja. Hanya keyakinan kecil di dalam hati bahwa ini waktunya berhenti.
Biasanya orang keluar dari pekerjaannya karena sudah menemukan pengganti. Sudah ada jembatan yang siap dilewati. Tapi saya memilih berjalan tanpa tahu ujung jalan.
Keputusan itu mungkin tampak mendadak bagi sebagian rekan, padahal sebenarnya tidak.
Bertahun-tahun sebelumnya, saya sudah menyiapkannya dalam diam. Semua langkah sudah direncanakan, dengan sabar, dengan penuh pertimbangan yang tak banyak orang tahu.
Pandemi datang sebagai topan yang justru membuka jalan. Aturan kerja berubah, pertemuan dibatasi, semua jadi berjarak. Itu membuat saya bisa keluar tanpa harus berpamitan tatap muka, tanpa perpisahan penuh air mata di ruang rapat yang dingin.
Mungkin itu pertolongan kecil dari semesta. Karena sejujurnya, kalau harus menatap mereka satu per satu, saya tidak yakin sanggup menahan mata yang basah.
Mbrebes mili, seperti kata orang Jawa.
Sebagai seseorang yang masih suka menulis, saya tahu saya akan menuliskan cerita ini suatu hari nanti, kisah tentang keberanian yang tidak terasa heroik, tentang keputusan yang tidak diambil dalam semalam.
Hari ini, enam tahun setelahnya, saya akhirnya dapat duduk tenang menulis bagian akhir cerita ini di sebuah blog. Dengan jarak, dengan kesadaran, dan dengan rasa syukur yang perlahan-lahan menjadi bening.
Ketika Data Berkata Jujur
Saya bergabung di perusahaan itu sebagai staf peneliti bisnis. Tugas saya sederhana di atas kertas, belajar riset dari awal, membantu membuat sistem informasi berbasis data, mengamati perilaku pembaca, sirkulasi, dan distribusi koran.
Tapi di balik tugas itu ada sesuatu yang lebih besar.
Saya diberi akses pada data-data yang tidak semua orang boleh lihat. Angka penjualan, laporan oplah, tren iklan, grafik penurunan. Di antara deretan angka itu, saya melihat masa depan yang tidak seindah masa lalu.
Sebagai peneliti muda, saya tahu kenapa data itu dijaga rapat. Bukan karena rahasia dagang semata, tapi karena data punya kuasa. Ia bisa menyingkap kenyataan yang tidak semua orang siap terima.
Dan kenyataan itu adalah, industri surat kabar sedang menua.
Tahun 2004, era “big data” belum populer. Tapi kami di divisi riset sudah bereksperimen dengan apa yang sekarang disebut “vector database”.
Kami membuat sistem analisis menggunakan OLAP, MDX, dan datamart kecil yang menjadi semacam mesin waktu, memperlihatkan tren yang mungkin tidak ingin dilihat siapa pun.
Sebagai orang yang mencintai data, saya tahu grafik-grafik itu bukan sekadar angka. Mereka bercerita tentang sebuah industri yang perlahan kehilangan napas.
Saya ingat satu sore ketika saya memandangi laporan sirkulasi dari Pew Research tentang industri koran di Amerika, garisnya terus turun tahun demi tahun.
Tidak butuh banyak tafsir untuk mengerti ke mana arah dunia bergerak. Kalau industri di negara maju saja menurun, bagaimana nasib media cetak di negeri yang sedang sekarat seperti Indonesia?
Tapi saya tetap bertahan, bukan karena menutup mata, melainkan karena rasa suka dan keterikatan. Karena di balik semua grafik penurunan itu, ada nilai-nilai yang membuat saya bangga, integritas, ketulusan, dan manusia-manusia yang jujur bekerja di perusahaan tersebut.
Saya tahu saya tidak sedang bertahan demi korporasi. Saya bertahan karena menghargai arti pekerjaan itu sendiri.
Ketika Surga Tidak Lagi Abadi
Bagi banyak orang, bekerja di sana adalah surga dunia. Fasilitas lengkap, tunjangan besar, pinjaman rumah bunga nol persen, dana pensiun seperti Pegawai Negeri Sipil (PNS), bonus tahunan yang membuat banyak keluarga tersenyum.
Orang-orang menyesuaikan hidup mereka dengan perusahaan, mencari rumah di sekitar kantor, menikah dengan rekan kerja, menua bersama rutinitas yang teratur.
Tapi dari ruang kecil tempat saya menganalisis data, saya tahu surga ini punya tanggal kedaluwarsa. Angka-angka tersebut tidak bisa berbohong.
Saya melihat bagaimana industri kamera film runtuh dalam sepuluh tahun semenjak lahirnya kamera digital. Kalau teknologi bisa menghapus sesuatu sekuat itu, apa yang bisa menahan kertas dan tinta?
Saya sering berbincang santai dengan teman-teman di divisi riset, memprediksi kapan “tipping point” itu akan datang. Saat di mana jumlah pembaca sudah tidak lagi membuat bisnis ini masuk akal.
Kami bercanda, tapi di dalamnya ada kesedihan yang samar. Seperti melihat kapal megah yang perlahan bocor air di lambungnya.
Tipping point adalah istilah yang dipopulerkan pleh Malcolm Gladwell, bukan sekadar teori. Ia adalah kenyataan yang sedang berjalan di depan mata. Dan penolakan untuk melihat dan mengakuinya, hanya menunda rasa sakit.
Industri media cetak sedang menuju senja. Menyangkal hanya akan memperlambat proses penerimaan kenyataan.
Belajar Berdiri di Kaki Sendiri
Dari kesadaran itulah saya mulai menyiapkan diri. Saya tidak ingin hidup saya sepenuhnya ditopang oleh sesuatu yang sedang perlahan rapuh. Maka saya mulai membuat keputusan-keputusan kecil yang waktu itu mungkin terlihat aneh.
Tidak menggunakan fasilitas pinjaman rumah kantor, misalnya. Saya lebih memilih membeli rumah sendiri lewat KPR di Bank Mandiri, di tahun kedua saya bekerja. Gaji saya waktu itu hanya tiga juta rupiah, standar karyawan Management Trainee (MT) dan sepertiganya langsung terpotong untuk cicilan ke Bank Mandiri.
Tapi saya tetap maju.
Uang muka untuk pembelian rumahpun saya pinjam dari kekasih saya, yang sekarang jadi istri saya. Rasanya konyol, tapi juga indah dan juga sedikit ‘memalukan’.
Kami tahu apa yang kami perjuangkan. Tahun 2019, rumah itu akhirnya lunas. Lima belas tahun terikat dengan bank, tapi pada akhirnya bebas.
Lunasnya rumah itu menjadi simbol kecil kemerdekaan batin. Saya tidak lagi terikat fasilitas pinjaman apapun. Ketika hari itu saya memutuskan dan membulatkan niat berhenti bekerja, tidak ada yang bisa menahan saya, rasanya sangat ringan.
Banyak orang menertawakan keputusan saya waktu itu.
“Bodoh,” kata mereka.
“Kenapa nggak sabar sedikit? Nanti juga bisa pinjam tanpa bunga.” Tapi saya tahu apa yang saya lakukan. Hidup saya harus bisa berdiri di kakinya sendiri.
Saya melihat bagaimana orang-orang yang terikat cicilan perusahaan atau cicilan konsumtif lainnya sering terjebak dalam permainan yang sama, mempertahankan posisi bukan karena cinta pekerjaan, tapi karena takut kehilangan fasilitas dan sumber pendapatan.
Dari kondisi tersebut lahir banyak politik kantor, banyak kompromi yang perlahan mematikan integritas.
Saya dan istri bersepakat untuk hidup sederhana, anak satu cukup karena dunia sudah penuh.
Kami bercanda seperti itu, tapi di baliknya ada kesadaran yang tenang dan bulat. Kami bukan orang kaya, tapi kami berusaha hidup dengan kepala tegak.
Membangun Masa Depan dari Ruang Kecil
Saya tetap bekerja di sana selama enam belas tahun. Panjang, tapi tidak terasa. Setiap tiga atau empat tahun, saya diberi peran baru, pindah divisi, memimpin proyek baru, menghadapi tantangan baru. Saya tumbuh, perusahaan pun berubah.
Gaji naik otomatis setiap tahun mengikuti inflasi, suasana kerja hangat, rekan-rekan seperti keluarga.
Tidak ada yang kurang.
Puncaknya adalah keterlibatan saya di proyek Kompas.id, sebuah upaya besar membawa koran ke dunia digital berbayar.
Waktu itu tidak semua percaya orang mau membayar berita online. Tapi kami berani mencoba. Di ruang kerja kecil yang bahkan tidak layak disebut “kantor”, kami membangun sesuatu yang baru.
Saya memimpin tim teknologi dan inovasi, anak-anak muda yang awalnya terbiasa dengan lingkungan Microsoft dan SAP, sekarang harus belajar Linux, sumber kode terbuka, dan bahasa pemrograman yang belum pernah mereka dengar sebelumnya.
Itu masa yang luar biasa. Kami belajar banyak, jatuh bangun, tapi saya tahu kami sedang melakukan hal yang benar.
Sampai hari ini, Kompas.id masih berdiri, sebagian besar di atas infrastruktur Azure, menggunakan open source, dan tetap relevan.
Setidaknya ada satu hal yang bisa saya banggakan, keputusan teknologi yang dulu kami pertahankan dengan keras kepala ternyata tidak salah.
Tahu Kapan Harus Pergi
Tapi semua hal baik punya akhirnya. Ketika perusahaan memutuskan melakukan restrukturisasi, menggabungkan unit teknologi, data, dan produk menjadi satu divisi besar, saya tahu arah anginnya sudah berbeda.
Secara manajerial mungkin efisien, tapi secara manusia saya tahu itu akan menekan kreativitas, membuat tim kehilangan fokus dan tuntutan ke saya juga bisa jadi tidak masuk akal.
Saya sudah terlalu lama di sana untuk tidak mengerti tanda-tanda.
Saat itulah semua persiapan bertahun-tahun terasa masuk akal. Semua simulasi mental, semua tabungan, semua perhitungan, semuanya membawa saya ke satu titik ini, waktunya pergi.
Saya keluar bukan karena kecewa, tapi karena tahu kapan harus berhenti. Kadang pergi adalah cara lain untuk menghormati tempat yang pernah kita cintai.
…
Tahun 2019 juga adalah tahun di mana rumah saya lunas. Setelah lima belas tahun, bank akhirnya melepaskan haknya, dan saya menerima surat roya dengan tangan bergetar.
Rasanya aneh, saat orang lain sibuk menumpuk aset dan mempertahankan status quo, saya justru ingin melepaskan. Mungkin karena saya sudah cukup lelah menahan ketidaknyamanan perubahan organisasi dan bagaimana orang-orang diperlakukan oleh perubahan.
Dan ketika pandemi datang, saya seperti sudah disiapkan.
Saya berbicara dengan istri lebih dulu. Dia tidak kaget, bahkan berkata, “Akhirnya.”
Bertahun-tahun sebelumnya dia sudah merasa ini akan terjadi. Kami tertawa bersama, tapi di dalam hati saya tahu dia benar, doa istri punya kekuatan sendiri.
Anak saya waktu itu masih SD. Saat saya bilang, “Poppa berhenti kerja,” dia menatap saya polos, “Poppa nanti jualan cireng aja, ya?”
Kami tertawa lagi, kadang kejujuran anak adalah hiburan terbaik bagi orang dewasa yang sedang gugup dan gagap.
…
Saya memberi tahu bagian HR lebih dulu. Saya minta kabar ini tidak disampaikan dulu ke atasan saya, Direktur Bisnis saat itu, karena beliau akan pensiun di tanggal yang sama.
Tidak etis rasanya menambah beban pikiran pimpinan dan rekan kerja yang selama ini saya hormati. Sebelum pensiun, beliau sempat berkata di sebuah pertemuan rutin bisnis, “Nanti, kalau ada teman mau ambil golden handshake, kabari saya ya.”
Saya tahu maksudnya, tetapi saya tidak tertarik. Saya ingin keluar tanpa embel-embel kompensasi. Saya ingin pergi dengan kepala tegak, bukan dengan amplop.
Tanggal 1 November 2019, saya resmi menjadi pengangguran. Teman-teman banyak yang bertanya, “Pindah kemana Dit?”
“Dirumah, bercocok tanam”, Jawabku santai penuh kelakar.
Saya tertawa, tapi dalam hati ada campuran rasa yang tidak bisa dijelaskan, lega, takut, tapi juga tenang, bagaimanapun, saya sudah menyiapkan diri untuk kondisi dan momen ini.
Tiga bulan pertama saya jalani dengan ringan dan sedikit “jetlag“. Saya menulis, membantu komunitas, dan jalan kaki setiap pagi. Istri saya bilang, jalan kaki itu menyelaraskan energi dengan semesta. Saya tidak sepenuhnya paham, tapi toh saya melakukannya juga.
Kadang hal sederhana seperti melangkah tanpa tujuan bisa jadi cara terbaik untuk menemukan arah baru.
Ketika Kesiapan Bertemu Keberuntungan
Setelah beberapa bulan, saya mulai melamar pekerjaan lagi. Umur saya sudah empat puluh lebih. Banyak yang bilang sudah terlambat untuk mulai lagi.
Tetapi saya tidak percaya pada kata terlambat, dunia selalu punya ruang bagi orang yang mau belajar dan bekerja.
Saya melamar ke mana-mana menggunakan berbagai platform, LinkedIn, Glints JobsDB, Geekhunter dan rasanya seperti naik roller-coaster.
Ketika diterima di sebuah startup pre-series, walau perusahaannya hanya berumur setahun lebih, saya akhirnya punya kesempatan belajar dengan linkungan multi-kultur dan menggunakan bahasa Inggris untuk komunikasi kerja sehari-hari.
Investor dan rekan kerja dari berbagai negara, Jepang, Rusia, Thailand dan pastinya Indonesia, dan juga tim teknologinya berasal dari Negara Vietnam.
Benar-benar sebuah kekacauan, dan benar seperti lirik sebuah lagu yang berasal dari ungkapan Friedrich Nietzsche, “What doesn’t kill you, will make you stronger“.
…
Ketika akhirnya bertemu dengan beberapa rekan yang juga aneh dan ajaibnya mengundurkan diri, dan juga mengambil jalam berkarya dan peruntungan ditempat lain, beberapa melontarkan kalimat ini.
“Bekerja di tempat lain ya lebih berat, beda banget”, ujar beberapa teman.
“Lah kok mau, resign dari perusahaan mapan, dan coba tawaran lain?” tanyaku dengan santai.
“Ya susah dijelaskan kan ya…, lah wong sampeyan juga keluar kok”. Ujar salah satu teman dengan penuh kelakar.
” Susah dijelakan, pindah dari zona nyaman bukan untuk semua orang”, Kata teman yang dulu membantu saya membangun infrastruktur server.
Begitulah salah satu suasana reuni sesama dari yang memberanikan diri pensiun lebih awal dari surga duniawi tersebut.
…
Setelah tidak berlajut dengan startup pre-series tadi, akhirnya saya kembali menjadi pengangguran, dan kembali mengerjakan proyek sebagai freelance dan juga melamar kembali perusahaan lain.
Kali ini tidak terlalu kaget, karena artinya suda dua kali keluar dari perusahaan.
Uniknya disaat kedua ini, banyak rekan, teman atau mantan kolega kerja dan partner yang menawarkan berbagai posisi ketika saya kembali tidak berkarya di perusahaan, mungkin karena saat itu pengalaman saya sudah bertambah.
“Yah, gimana, bukannya ngasih tahu sudah nggak disitu lagi”, ujar mereka bingung kok saya nggak mengabari mereka untuk tanya peluang.
Anehnya lagi, respon lamaran pekerjaan datang bertubi-tubi dan dalam waktu yang hampir bersamaan, kadang kita nggak tahu rencana semesta untuk kita, kita hanya perlu menjalaninya saja dengan sebaik-baiknya.
Disini saya sadar pentingnya reputasi dan integritas dalam bekerja, karena akhirnya orang akan melihat hal tersebut.
…
Dari semua tawaran dan kesempatan, akhirnyai saya memilih IRIS Jakarta , saat itu untuk posisi Solution Architect. Kenapa? lebih karena saya merasa lebih “klik”saja secara intuisi.
Ketika memutuskan mengundurkan diri dari perusahaan media, saya memiliki strategi dan persiapan tersediri ketika melamar pekerjaan.
Tidak berambisi mengincar posisi sejenis atau lebih tinggi layaknya orang pindah perusahaan, karena saya tahu nilai tawar saya rendah karena saya mengundurkan diri dari perusahaan sebelumnya, alias jobless.
Dugaan kenapa dengan umur diatas empat puluhan, lamaran saya masih direspon karena saya melamar di area teknologi yang posisinya tidak begitu tinggi, membutuhkan pengalaman memimpin unit, mengerti engineering, mulai dari technical lead, manager sampai dengan solution architect.
Saat itu banyak perusahaan membutuhkan pekerja dengan pengamalaman segudang untuk posisi lead atau firt-line manager.
“Maksudnya kerja bagai kuda, non “leyeh-leyeh” managerial, dengan pengalaman dan skill segudang”
Waktu itu, salah satu interviewer IRIS Jakarta bertanya, “Kamu bisa Azure?”
“salah satu client kita menggunakannya, kita biutuh orang yang mengerti Azure.”
Saat mendengar hal tersebut. dalam hati, saya tersenyum dan langsung mendapatkan aha moment. “Saya sebelumnya mengelola puluhan Virtual Machine (VM) dan ratusan prosesor di Azure untuk Kompas.id,” jawab saya.
“Saya tahu banyak perusahaan menggunakan AWS dan GCP, tetapi soal Azure saya expert”, ujarku saat itu.
Di situ saya tahu, keahlian saya yang “niche” masih dibutuhkan, saya masih punya tempat.
Ada pepatah yang bilang, sukses terjadi saat kesiapan bertemu kesempatan. Mungkin itu yang terjadi pada saya. Tapi saya lebih suka menyebutnya, kesiapan bertemu keberuntungan.
Menoleh Tanpa Penyesalan
Enam tahun setelah keputusan itu, saya menulis ini bukan untuk membenarkan pilihan, tapi untuk mengingatkan diri sendiri. Keluar dari korporasi bukan soal berani, tapi soal siap.
Siap kehilangan rasa aman, siap menerima ketidakpastian, siap melihat hidup dari sisi lain. Kadang kita tidak benar-benar meninggalkan sesuatu. Kita hanya berpindah cara untuk bertumbuh.
Dan saya bersyukur, karena waktu itu saya memilih pergi bukan karena hal negatif, tapi karena mencintai arah hidup saya sendiri.
Epilog
Pada akhirnya, hidup memang tidak selalu butuh rencana besar. Kadang cukup satu keberanian kecil untuk melangkah keluar dari lingkaran yang sudah terlalu lama kita putari.
Dunia kerja sering memberi rasa aman, tapi jarang memberi ruang untuk benar-benar tumbuh.
Kadang keputusan paling rasional justru lahir dari keheningan panjang, dari momen saat kita akhirnya berani mendengar suara hati sendiri.
Dan kalau hari ini saya menoleh ke belakang, saya tidak akan mengubah keputusan dan tindakan yang saya ambil.
Karena bahkan ketakutan dan kegamangan di masa itu, kini terasa seperti bagian dari doa yang akhirnya dikabulkan, menjadi manusia yang tidak sempurna, tapi sadar untuk terus tumbuh.
Kadang rasanya dunia ini makin ramai tapi makin kosong. Timeline penuh debat, grup WhatsApp riuh oleh broadcast separuh benar, dan semua orang merasa punya tugas mulia menyelamatkan dunia, asal versinya sendiri.
Kita hidup di era di mana algoritma lebih peka dari nurani, dan “kebenaran” bergantung pada siapa yang paling keras berteriak.
Di tengah semua kebisingan itu, kata waras terdengar seperti kemewahan.
Tetapi untuk menjadi waras bukan berarti harus pasif.
Menjadi waras berarti sadar, sadar kapan bicara, kapan diam, dan kapan berhenti ikut perang yang tidak akan pernah ada pemenangnya.
Karena di dunia yang semakin terpolarisasi ini, sadar adalah satu-satunya cara agar kita tidak ikut terseret dalam arus kebencian yang tidak punya ujung.
Dahulu, sebelum dunia masuk ke era post-truth, kebenaran terasa lebih sederhana.
Kebenaran mungkin pahit, terapi jelas. Orang bisa berbeda pendapat, tapi masih bisa sepakat tentang apa yang nyata.
Kiri dan kanan bisa berdebat tentang cara, tapi sama-sama percaya pada data yang sama. Komunis dan kapitalis bisa bertarung ideologi, tapi masih punya garis nilai yang bisa dipetakan.
Sekarang semuanya cair, fakta bukan lagi fondasi, tapi alat tawar. Data disesuaikan dengan narasi, bukan sebaliknya. Kita tidak lagi mencari kebenaran, tapi pembenaran yang paling menenangkan ego.
Dan di sinilah masalahnya, ketika kebenaran menjadi relatif, orang mulai kehilangan arah moral. Kiri dan kanan tidak lagi soal kebijakan, tapi soal identitas.
Agama dan spiritualitas bukan lagi ruang bertumbuh, tapi alat berkelompok. Orang tidak ingin memahami, hanya ingin merasa menang.
Di tengah semua itu, saya selalu mengacu ke satu prinsip sederhana, jangan merugikan orang lain, jangan merugikan diri sendiri, dan jangan bodoh.
Prinsip ini bukan murni dari saya, tetapi berasal juga dari pendapat dan cerita pengalaman berbagai pihak yang menekuni praktek keseharian dan juga tetap mengasah aspek spiritualitas.
Kedengarannya sederhana dan sepele, tetapi bila benar-benar diterapkan, tiga kalimat ini bisa menjadi semacam jangkar di tengah lautan opini dan ego yang semakin besar.
Jangan merugikan orang lain, karena setiap tindakan yang melukai orang lain pada akhirnya akan memantul ke diri kita sendiri.
Mungkin bukan dalam bentuk mistis seperti karma, tapi dalam logika sosial yang sangat nyata, reputasi, kepercayaan, dan hubungan baik dibangun dan juga bisa hancur karena hal ini.
Jangan merugikan diri sendiri, karena sering kali kita terlalu sibuk membuktikan siapa yang salah sampai lupa menjaga kewarasan dan ketenangan kita sendiri.
Dua jam marah-marah di kolom komentar pun termasuk bentuk merugikan diri sendiri.
Dan jangan bodoh. Bukan soal pintar atau tidak, tapi soal sadar atau tidak. Bodoh adalah ketika kita tahu sesuatu tidak sehat, tapi tetap dilakukan karena gengsi, ego, atau sekadar ingin diterima kelompok.
Prinsip ini bukan ajaran agama, bukan dogma baru. Ini lebih seperti kompas kehidupan, agar kita tetap bisa berpijak di tengah badai informasi dan ego kolektif yang makin liar.
Saya selalu membedakan antara spiritualitas dan dogma. Bagi saya, spiritualitas adalah ruang sadar di mana kita mengenal diri sendiri tanpa perlu dibatasi aturan dan tafsir orang lain.
Dogma sering kali berusaha mengatur apa yang harus kita percaya, sementara spiritualitas mengajarkan bagaimana kita bisa merasakan kehidupan itu sendiri.
Dogma mencari pembenaran, sedangkan spiritualitas mencari pemahaman.
Seperti kata Eckhart Tolle, penulis buku The Power of Now dan A New Earth. “Kesadaran adalah ketika kamu tahu kamu sedang berpikir.”
Disaat dogma menciptakan tembok, spiritualitas membuka jendela.
Mungkin ini saatnya kita berhenti berjuang untuk selalu menjadi yang paling benar, dan mulai belajar menjadi manusia yang tumbuh.
Tujuan hidup bukan untuk menang, tapi untuk tumbuh. Menang debat itu mudah, memahami orang lain itu sulit. Tapi di sanalah letak kemanusiaan kita yang sesungguhnya.
“Kamu tidak bisa menjadi spiritual jika kamu masih sibuk menjadi benar.” – Alan Watts. Kalimat sederhana tapi menohok, terutama di era di mana setiap orang berlomba untuk terlihat pintar, benar, dan unggul.
Dalam bukunya Sapiens (2011), Yuval Noal Harari juga menulus, bahwa peradaban manusia dibangun bukan oleh satu kebenaran tunggal, melainkan oleh kemampuan kita untuk berkolaborasi dalam “fiksi bersama”, keyakinan, ide, dan sistem nilai yang kita sepakati tanpa harus seragam.
Maka menjadi manusia yang tumbuh bukan berarti menolak kebenaran orang lain, tapi memahami bahwa hidup punya banyak lapisan yang tidak semuanya harus kita pahami sepenuhnya.
Dalam dunia yang semakin bising, ketenangan adalah bentuk perlawanan paling elegan. Ketika semua orang sibuk berteriak, diam dengan kesadaran adalah kekuatan.
Bukan karena kita tidak peduli, tapi karena kita tahu di mana energi kita lebih berguna. Tidak semua hal perlu ditanggapi. Tidak semua opini perlu dibalas.
Kadang, tidak ikut marah adalah bentuk spiritualitas yang paling dalam.
Ketenangan bukan pasrah. Ketenangan adalah memilih untuk fokus pada hal yang bisa kita kendalikan, diri sendiri.
Di saat semua orang ingin didengar, orang waras memilih untuk mendengar. Di saat semua orang ingin mengubah dunia, orang sadar mulai dengan mengubah dirinya sendiri.
Menjadi waras di dunia yang terpolarisasi bukan berarti apatis. Justru sebaliknya, hal itu adalag bentuk kesadaran tertinggi.
Kesadaran bahwa setiap orang punya versi kebenarannya masing-masing, dan bahwa kita tidak harus membuktikan bahwa versi kita yang paling unggul.
Mungkin pada akhirnya, semua kembali kepada prinsip paling sederhana yang bisa kita pegang untuk tetap berpijak, jangan merugikan orang lain, jangan merugikan diri sendiri, dan jangan bodoh.
Karena di tengah dunia yang semakin keras kepala, menjadi manusia yang sadar adalah bentuk revolusi paling tenang, tetapi juga yang paling penting harus dilakukan dan diterapkan.
Refleksi kecil untuk tetap waras, di dunia yang sering kali kehilangan arah.
Solusi lengkap untuk masalah komputer menyala tapi layar gelap di DisplayPort. Ulasan pengaturan BIOS, Windows, dan monitor pada Gigabyte X470 + Gigabyte RX 5700 XT.
Suatu pagi komputer saya menyala seperti biasa. Kipas berputar, lampu SSD berkedip, dan suara startup Windows terdengar di speaker. Tapi layar tetap gelap total. Tidak ada logo BIOS, tidak ada tampilan sama sekali.
Awalnya saya pikir hanya kabel longgar. Saya cabut, pasang ulang, tetap sama. Lalu saya matikan power supply, cabut kabel listrik, tekan tombol power selama sepuluh detik untuk mengosongkan sisa arus, lalu hidupkan kembali. Kali ini layar menyala.Namun setelah dimatikan dan dinyalakan ulang, masalah kadang kembali muncul.
Setelah serangkaian percobaan, saya menemukan penyebabnya bukan di Windows, bukan di GPU, melainkan di sisa arus listrik yang tertinggal ketika komputer mati.
Gejala yang Muncul
Komputer sebenarnya berjalan normal. Suara Windows terdengar, kipas bekerja, tapi tidak ada tampilan di layar. Hal ini sering terjadi saat komputer dinyalakan dari keadaan benar-benar mati (cold boot).
Konfigurasi sistem saya:
Motherboard Gigabyte AORUS X470
GPU Radeon RX 5700 XT
Monitor terhubung melalui DisplayPort
Jika saya ganti kabel ke HDMI, semuanya langsung normal. Artinya, masalah spesifik muncul hanya di jalur DisplayPort, terutama saat proses inisialisasi awal sebelum BIOS tampil.
Menemukan Akar Masalah
Motherboard modern tetap mengalirkan sedikit daya ke beberapa jalur bahkan ketika komputer dimatikan. Daya kecil ini disebut 5V Standby (5VSB), dan berfungsi untuk fitur seperti wake on LAN atau charging while off.
Namun daya standby ini membuat GPU dan monitor tidak benar-benar mati. DisplayPort menggunakan proses negosiasi sinyal bernama link training.
Ketika arus standby masih aktif, GPU dan monitor sama-sama mengira koneksi sebelumnya masih ada. Akibatnya, saat komputer dinyalakan kembali, BIOS gagal memulai ulang koneksi DisplayPort, dan monitor tetap hitam meskipun Windows sudah berjalan.
Langkah Perbaikan di BIOS Gigabyte X470
Setelah serangkaian percobaan, kombinasi pengaturan berikut membuat sistem kembali stabil dan boot normal setiap kali.
1. Matikan Fast Boot di BIOS
Masuk ke BIOS, buka tab BIOS Features atau Settings, lalu ubah:
Fast Boot → Disabled
Tujuannya agar sistem melakukan inisialisasi penuh setiap kali boot, termasuk GPU dan jalur DisplayPort.
2. Aktifkan CSM Support
Masuk ke tab BIOS Features, lalu aktifkan:
CSM Support → Enabled
Fitur ini membantu kompatibilitas output video pada fase awal, terutama untuk beberapa monitor yang rewel dengan UEFI-only boot.
3. Pastikan Output Awal ke GPU PCIe
Buka tab Chipset / Peripherals, lalu ubah:
Initial Display Output → PCIe/PEG (PCIEX16_1)
Dengan ini, BIOS akan selalu mengarahkan tampilan ke GPU diskret utama, bukan iGPU atau port lain.
4. Putus Total Arus Standby (ErP)
Buka tab Power Management / Platform Power:
ErP → Enabled (S5)
atau
ErP → Enabled (S4+S5)
Fitur ini mematikan seluruh daya standby saat komputer dimatikan. Setelah diaktifkan, GPU dan monitor benar-benar memulai ulang koneksi dari nol.
5. Aktifkan Power Loading
Di tab Miscellaneous / Platform Power, aktifkan:
Power Loading → Enabled
Beberapa PSU efisien sulit menjaga kestabilan tegangan saat beban awal rendah; opsi ini membuatnya lebih stabil saat cold boot.
6. Simpan dan Keluar
Tekan F10 atau pilih Save & Exit Setup untuk menyimpan konfigurasi.
Pengaturan di Windows
Setelah BIOS disesuaikan, ada beberapa langkah di Windows yang perlu diperbaiki untuk mencegah efek serupa.
1. Nonaktifkan Fast Startup
Masuk ke:
Control Panel → Power Options → Choose what the power buttons do → Change settings that are currently unavailableCode language:JavaScript(javascript)
Hilangkan tanda centang pada:
Turn on fast startup (recommended)
Fast Startup membuat Windows hanya setengah mati (hibernasi ringan), sehingga GPU tidak benar-benar diinisialisasi ulang pada boot berikutnya.
2. Perbarui Driver GPU
Unduh AMD Adrenalin Software versi terbaru. Saat instalasi, pilih opsi:
Factory Reset / Clean Install
Opsi ini menghapus driver lama yang bisa menyebabkan konflik dengan firmware DisplayPort.
3. Gunakan Refresh Rate Aman Saat Uji
Untuk awal pengujian, set resolusi ke:
1920x1080 @ 60 Hz
Setelah sistem stabil, baru naikkan ke refresh rate tinggi sesuai monitor.
Pengaturan di Monitor
Bagian ini sering diabaikan, padahal sangat penting untuk kestabilan boot.
Matikan fitur DisplayPort Deep Sleep / DPM / DPMS di menu monitor (OSD). Dengan fitur ini mati, monitor siap melakukan link training baru setiap kali komputer menyala.
Jika monitor menyediakan pilihan versi DisplayPort, ubah ke DP 1.2 terlebih dahulu. Versi ini lebih stabil saat fase pre-boot dibandingkan DP 1.4.
Biasakan urutan menyalakan perangkat:
Nyalakan monitor terlebih dahulu
Tunggu 3–5 detik
Baru tekan tombol power PC
Hasil Setelah Penyesuaian
Setelah semua pengaturan ini diterapkan, komputer saya langsung boot normal setiap kali. Tidak ada lagi layar gelap, tidak ada lagi ritual cabut kabel listrik atau tekan power sepuluh detik.
DisplayPort kini melakukan link training baru setiap kali komputer menyala. GPU dan monitor memulai koneksi dari nol, dan sistem terasa jauh lebih bersih serta konsisten.
Cheat Sheet dan Checklist Lengkap
BIOS Gigabyte X470
Menu
Opsi
Nilai Disarankan
BIOS Features → Fast Boot
Disabled
Menonaktifkan boot cepat
BIOS Features → CSM Support
Enabled
Kompatibilitas tampilan pre-boot
Chipset / Peripherals → Initial Display Output
PCIe/PEG (PCIEX16_1)
Gunakan GPU diskret utama
Power Management → ErP
Enabled (S5) atau (S4+S5)
Memutus arus standby
Miscellaneous / Platform Power → Power Loading
Enabled
Menstabilkan PSU saat cold boot
Windows
Pengaturan
Lokasi
Tindakan
Fast Startup
Control Panel → Power Options
Nonaktifkan
Driver GPU
AMD Adrenalin Software
Update terbaru, pilih Clean Install
Resolusi Awal
Display Settings
1920×1080 @ 60 Hz
Urutan Nyala
Monitor → lalu PC
3–5 detik jeda
Monitor
Pengaturan
Nilai Disarankan
Tujuan
DisplayPort Deep Sleep
Off
Memastikan koneksi DP aktif tiap boot
DisplayPort Version
1.2
Lebih stabil untuk pre-boot
Refresh Rate Awal
60 Hz
Hindari out-of-range sebelum driver aktif
Penutup
Masalah “komputer menyala tapi layar gelap” sering disangka kerusakan GPU atau bug Windows, padahal penyebabnya bisa sesederhana arus standby yang tak pernah benar-benar mati.
Perubahan kecil di BIOS dan pengaturan daya Windows bisa mengembalikan stabilitas sistem sepenuhnya. Kini saya belajar satu hal penting: stabilitas sistem tidak hanya bergantung pada software, tetapi juga pada sinkronisasi antara daya, firmware, dan perangkat keras.
Jika kamu mengalami gejala serupa, coba periksa BIOS, Windows, dan monitor sesuai langkah di atas. Sering kali, jawabannya bukan di Windows, tetapi di pengaturan daya yang terlalu “pintar” untuk kebaikan dirinya sendiri.
Bagi pengguna Windows, membuat arsip berformat .zip sudah jadi kebiasaan sehari-hari. Tinggal klik kanan, pilih Send to → Compressed (zipped) folder, selesai.
Kalau ingin menambahkan password, biasanya tinggal mengandalkan aplikasi tambahan yang sudah umum dipakai sejak lama. Praktis, bawaan sistem, dan tanpa perlu instalasi apa-apa lagi.
Tidak heran kalau banyak orang percaya bahwa menaruh password di file .zip sudah cukup untuk melindungi data penting mereka.
Sayangnya, kenyamanan ini justru menimbulkan rasa aman yang palsu. Proteksi password pada arsip .zip sebenarnya tidak benar-benar kuat.
Banyak orang tidak menyadari bahwa cara ini hanya menunda orang iseng sebentar saja, karena di balik layar, enkripsi yang dipakai format .zip bawaan Windows bernama ZipCrypto, dan algoritma ini sudah sangat usang.
Tools gratis yang beredar di internet dengan mudah mampu membongkar password .zip dalam hitungan menit, apalagi kalau password yang dipakai sederhana.
Selain itu, meskipun ada variasi .zip yang mendukung AES-256 sebagai algoritma enkripsi modern, kenyataannya tidak semua aplikasi bisa membukanya.
Windows Explorer sendiri tidak mendukung format ini, sehingga mayoritas pengguna tetap menggunakan opsi standar yang jauh lebih lemah.
Lebih parahnya lagi, walaupun sudah dipasangi password, nama file, ukuran file, dan struktur folder di dalam arsip .zip masih bisa terlihat. Jadi meskipun isi file tidak terbuka, orang tetap bisa tahu kira-kira data apa yang Anda simpan.
Bayangkan jika ada file bernama DaftarGaji-Juni-2025.xlsx, tanpa membuka pun orang sudah bisa menebak isi dan sensitifitas datanya.
Di sinilah banyak pengguna terjebak. Karena .zip begitu praktis dan universal, orang cenderung merasa cukup aman, padahal dari sisi teknis, proteksinya sangat rapuh.
Untuk kebutuhan yang lebih serius, seperti dokumen kerja, data pribadi, atau laporan keuangan, jelas tidak disarankan lagi menggunakan proteksi password bawaan .zip.
Lalu, apa alternatifnya?
Alternatif yang jau lebih aman adalah 7-Zip. Aplikasi gratis, open source, dan tersedia untuk Windows, Linux, hingga macOS.
Keunggulan utama 7-Zip terletak pada algoritma enkripsi yang dipakainya, AES-256, standar modern yang jauh lebih kuat.
Selain itu, 7-Zip memiliki fitur header encryption yang membuat tidak hanya isi file, tapi juga nama file dan struktur folder ikut disembunyikan. Dari luar, arsip hanya terlihat seperti sebuah kotak hitam, benar-benar tidak memberikan informasi apapun sebelum password dimasukkan.
Keunggulan lain dari 7-Zip adalah sifatnya yang lintas platform dan bebas biaya.
Arsip .7z bisa dibuka di berbagai sistem operasi dengan konsistensi proteksi yang terjamin. Selain aman, performa kompresinya juga lebih baik dibanding .zip.
Dengan kata lain, Anda mendapatkan kombinasi keamanan dan efisiensi sekaligus.
Menggunakan 7-Zip pun tidak rumit. Misalnya di Linux atau Debian, Anda bisa membuat arsip terenkripsi dengan satu baris perintah:
7z a -t7z -mhe=on archive.7z folder/
Perintah ini akan membuat arsip .7z dengan enkripsi penuh, menyembunyikan nama file, dan meminta password saat ekstraksi.
Lebih aman jika password tidak ditulis langsung di perintah, biarkan 7-Zip menanyakannya agar tidak tersimpan di history terminal.
Untuk mengekstraknya, cukup jalankan 7z x archive.7z, dan Anda akan diminta password sebelum file dibuka.
Bagi yang tidak terbiasa dengan terminal, 7-Zip juga menyediakan versi GUI (Graphical User Interface) di Windows. Dengan antarmuka yang sederhana mirip Windows Explorer, pengguna cukup klik kanan pada folder atau file, lalu pilih opsi Add to archive… untuk membuat arsip .7z dengan password dan enkripsi penuh.
7Zip Graphic User Interfaces (GUI)
Sebagai tambahan, kalau tetap ingin membuat file berformat .zip demi kompatibilitas dengan aplikasi lain, 7-Zip juga menyediakan opsi menggunakan AES-256 pada .zip.
Namun tetap perlu diingat, metadata seperti nama file masih akan terlihat, sehingga level perlindungannya tidak sekuat .7z.
Akhir artikel blog kali ini, menaruh password di file .zip bukanlah solusi keamanan yang bisa diandalkan.
Format ini sudah terlalu lama, enkripsinya lemah, dan memberi ilusi aman padahal penuh celah. Jika tujuan Anda benar-benar melindungi data penting, gunakanlah 7-Zip dengan format .7z.
Kombinasi AES-256 dan header encryption membuat arsip Anda jauh lebih sulit ditembus, sekaligus menjaga kerahasiaan isi dari orang yang tidak berkepentingan. Dengan langkah sederhana ini, data Anda tidak hanya terkunci, tapi juga benar-benar aman.
Berikut cheat sheet singkat untuk membantu Anda langsung mempraktikkannya di terminal, oh dan anda juga bisa menggunakannya mengunakan GUI di sistem operasi seperti Windows.
Buat arsip 7z terenkripsi (dengan header tersembunyi):7z a -t7z -mhe=on archive.7z folder/
Ekstrak arsip (akan diminta password):7z x archive.7z
Buat arsip ZIP dengan AES-256 (opsional untuk kompatibilitas):7z a -tzip -mem=AES256 -p archive.zip folder/
Lihat isi arsip tanpa ekstrak (kalau header terenkripsi, tetap tidak terlihat):7z l archive.7z
Mode verbose untuk detail proses kompresi:7z a -t7z -mhe=on -bb3 archive.7z folder/
Dengan kombinasi penjelasan dan cheat sheet ini, Anda bisa segera beralih dari proteksi password yang rapuh di .zip menuju keamanan yang jauh lebih modern dan tangguh dengan .7z.
.zip vs .7z
Banyak orang mengira password panjang seperti MyS3cur3P2ssw0rd akan memberikan perlindungan sama kuatnya, entah disimpan di .zip atau .7z.
Padahal, algoritma yang dipakai kedua format ini berbeda jauh, sehingga daya tahan password terhadap brute force juga ikut berbeda.
Pada .zip lama yang masih mengandalkan ZipCrypto, password langsung diproses menjadi kunci dengan cara sederhana.
Ini memungkinkan komputer modern mencoba hingga miliaran tebakan per detik. Akibatnya, meski password kuat, waktu yang dibutuhkan untuk menembusnya bisa relatif singkat, dan metadata file seperti nama serta ukurannya pun masih bisa terlihat.
Berbeda dengan .7z, karena sejak awal menggunakan AES-256 yang dipadukan dengan key stretching berbasis SHA-256. Setiap tebakan password diproses ribuan kali, membuat percobaan brute force melambat drastis. Password yang sama akan bertahan jauh lebih lama di .7z dibanding di .zip, hanya karena perbedaan algoritma.
Berikut ilustrasi perbandingannya:
Panjang Password
ZIP (ZipCrypto)
7z (AES-256 + KDF)
8 huruf kecil
~1–2 menit
~2 bulan
10 campuran (a–z, A–Z, 0–9)
±13 tahun
±665 ribu tahun
12 campuran (a–z, A–Z, 0–9)
±51 ribu tahun
±2,5 miliar tahun
Dari tabel terlihat jelas, password delapan huruf kecil bisa jebol hanya dalam menit di .zip, tapi di .7z bisa bertahan sampai dua bulan.
Begitu password diperpanjang, gap waktunya makin ekstrem—dari belasan tahun di .zip melonjak ke ratusan ribu tahun di .7z, dan dari puluhan ribu tahun menjadi miliaran tahun.
Analogi sederhananya, .zip itu ibarat pintu kayu dengan gembok kecil, sedangkan .7z adalah pintu baja dengan kunci elektronik. Password yang sama bisa terasa rapuh di .zip, tapi menjadi nyaris mustahil ditembus di .7z.
Catatan, Angka-angka di atas hanya ilustrasi brute force murni dengan asumsi hardware modern. Dalam praktik nyata, serangan kamus (dictionary attack) dan pola populer jauh lebih cepat menembus password yang tidak benar-benar acak.
Karena itu, selain memilih format .7z dengan enkripsi penuh, gunakan juga password panjang, acak, atau passphrase unik untuk perlindungan maksimal.
fcrackzip
Sebagai bagian dari edukasi, bila anda ingin mencoba kekuatan password .zip Anda, bisa menggunakan tools seperti fcrackzip dan tools lainnya yang bisa dijalankan di Kali Linux.
root@kali:~# fcrackzip -h
fcrackzip version 1.0, a fast/free zip password cracker
written by Marc Lehmann <[email protected]> You can find more info on
http://www.goof.com/pcg/marc/
USAGE: fcrackzip
[-b|--brute-force] usebruteforcealgorithm
[-D|--dictionary] useadictionary
[-B|--benchmark] executeasmallbenchmark
[-c|--charsetcharacterset] usecharactersfromcharset
[-h|--help] showthismessage
[--version] showtheversionofthisprogram
[-V|--validate] sanity-checkthealgorithm
[-v|--verbose] bemoreverbose
[-p|--init-passwordstring] usestringasinitialpassword/file
[-l|--lengthmin-max] checkpasswordwithlengthmintomax
[-u|--use-unzip] useunziptoweedoutwrongpasswords
[-m|--methodnum] usemethodnumber "num" (seebelow)
[-2|--modulor/m] onlycalculcate 1/mofthepasswordfile... thezipfilestocrackmethodscompiledin (* = default):
0: cpmask
1: zip1
*2: zip2, USE_MULT_TABCode language:PHP(php)
Selamat mencoba, and stay strong, paranoia and safe.
Pernahkah kamu membayangkan ada sebuah gunung di ujung Timur jauh Rusia, sunyi, tertutup salju, dan tidak dikenal siapa pun selama ratusan tahun tiba-tiba meletus?
Bukan karena dendam atau peringatan, tapi karena begitulah alam bekerja. Gunung Krasheninnikov, yang terletak di semenanjung Kamchatka, diperkirakan meletus pada sekitar tahun 1463 Masehi.
Sebuah letusan yang tidak pernah tercatat dalam buku sejarah atau naskah kuno, tetapi diketahui berkat jejak yang tertinggal di bebatuan dan endapan vulkanik. Ia bersuara, tapi dunia tak mendengarnya.
Waktu itu, dunia manusia sedang sibuk. Di Eropa Timur, Kesultanan Utsmaniyah di bawah Sultan Mehmed II baru saja menaklukkan Konstantinopel satu dekade sebelumnya. Mereka terus memperluas wilayahnya, dan pada tahun 1463, kerajaan kecil Bosnia jatuh ke tangan mereka.
Di Italia, suasana sangat berbeda, Renaissance sedang tumbuh subur. Pemikiran baru tentang seni, filsafat, dan ilmu pengetahuan menggeliat dari kota-kota seperti Firenze.
Di tanah Rusia, Pangeran muda bernama Ivan III mulai menyatukan wilayah Rusia yang tercerai-berai oleh pengaruh Mongol.
Kamchatka, tempat gunung itu berada, bahkan belum dikenali oleh siapa pun dari Moskow. Sementara itu di Tiongkok, Dinasti Ming menjalani masa tenang dan makmur, sedangkan Jepang secara perlahan bersiap memasuki masa perang saudara panjang yang dikenal dengan Sengoku Jidai.
Di tengah semua peristiwa megah itu, Krasheninnikov menyemburkan abu ke langit.
Tidak ada kota yang hancur, tidak ada istana yang runtuh, tidak ada perdagangan yang terganggu dan tidak ada perang yang dimulai atau diakhiri oleh letusan itu.
Namun bukan berarti ia tidak berarti.
Bisa jadi letusan ini mengganggu aliran sungai, mengusir hewan buruan, atau memaksa suku asli seperti Itelmen dan Koryak untuk berpindah tempat.
Mereka mungkin menyimpan kisahnya dalam mitos lisan yang kini telah hilang ditelan waktu. Tapi karena mereka tidak menulis, dunia modern pun tak pernah tahu.
Yang membuat letusan Krasheninnikov menarik justru bukan karena ia mengubah sejarah, tetapi karena ia tidak mengubah apa-apa secara langsung.
Ia meletus dalam senyap, seolah berkata, “Aku tidak butuh panggung, aku hanya bagian dari napas panjang bumi.”
Ini menjadi pengingat bahwa tidak semua peristiwa penting harus tercatat atau berpengaruh besar.
Alam punya ritmenya sendiri, kadang tak selaras dengan hiruk-pikuk manusia.
Lalu, setelah lebih dari enam abad tidur, Krasheninnikov bersuara kembali. Pada 3 Agustus 2025, gunung ini meletus dengan kolom abu setinggi empat hingga enam kilometer.
Letusan ini terjadi hanya beberapa hari setelah gempa besar berkekuatan 8,8 mengguncang lepas pantai Kamchatka dan memicu peringatan tsunami global.
Untuk pertama kalinya, dunia mencatat letusannya. Satelit merekamnya. Wartawan melaporkannya. Dan kita, yang dulu tak tahu apa-apa soal Krasheninnikov, kini menyebut namanya di layar-layar ponsel dan ruang berita.
Di sinilah letusan ini menjadi simbolis. Saat dunia kembali resah oleh gempa, konflik, dan perubahan iklim, sebuah gunung yang diam selama 600 tahun memberi tanda kehidupan.
Ia tidak menuntut perhatian, tapi tetap diberi perhatian. Mungkin karena manusia zaman ini sudah lebih peka. Atau mungkin karena teknologi memaksa kita mendengar suara-suara yang dulu tak terdengar.
Letusan Krasheninnikov adalah pengingat bahwa bumi tidak berjalan dalam waktu manusia. Ia punya kalendernya sendiri.
Kadang tak ada hubungannya dengan siapa yang berkuasa atau apa yang sedang viral. Tapi ketika ia bersuara, kita tak punya pilihan selain mendengarkan.
Dan pada akhirnya, mungkin itu pelajaran paling berharga, bahwa tidak semua yang penting itu tercatat. Dan bahwa alam tidak butuh audiens untuk tetap bergerak.
Timeline
Berikut adalah ilustrasi teks perjalanan waktu antara dunia manusia dan letusan yang sunyi.
1453 – Konstantinopel jatuh ke Ottoman 1460 – Cosimo de’ Medici meninggal di Firenze 1463 – Gunung Krasheninnikov meletus diam-diam di Kamchatka 1463 – Bosnia runtuh, dikuasai Ottoman 1464 – Ivan III mulai perluas wilayah Rusia 1467 – Jepang masuk awal era Sengoku 2025 – Krasheninnikov meletus lagi, 600 tahun kemudian
Jika kamu merasa hidupmu terlalu kecil dalam sejarah yang besar, ingatlah, bahkan gunung sebesar Krasheninnikov bisa hidup, bersuara, lalu kembali diam selama enam abad.
Dan tak ada yang tahu… sampai bumi sendiri yang bercerita.
Kalau kamu pernah dengar nama Gonzaga dan langsung terbayang anak-anak SMA Jaksel yang pinter ngomong, jago main basket, atau bisa debat sambil ngopi di Filosofi Kopi, ya… kamu nggak salah.
Kolese Gonzaga memang punya reputasi sebagai sekolah Katolik Jesuit yang melahirkan banyak tokoh keren, meski sebenarnya, dulunya dia “cuma” cabang.
Iya, sebelum jadi sekolah sendiri pada tahun 1987, Gonzaga itu dikenal sebagai Kanisius Unit Selatan, semacam adik kandung dari Kolese Kanisius yang sekarang udah berdiri dengan percaya diri di Pejaten Barat 10A, Jakarta Selatan.
Kolese Kanisius sendiri adalah tempat bercokolnya para elite Orde Baru zaman dulu. Banyak alumninya yang jadi menteri, ekonom, bahkan tokoh nasional. Dari J.B. Sumarlin sampai Kwik Kian Gie, dari akademisi serius sampai pemegang kendali ekonomi negara.
Bisa dibilang, Kanisius adalah tempat para orang tua ambisius menitipkan harapan agar anaknya tumbuh jadi “orang penting.” Dan ketika Gonzaga berdiri sendiri, dia tetap mewarisi semangat Jesuit dari Kolese Kanisius, hanya dengan gaya yang lebih santai dan nyeni.
Makanya nggak heran kalau alumni-alumninya juga punya warna tersendiri. Salah satunya Pandji Pragiwaksono, yang perjalanan kariernya dimulai bukan dari panggung politik atau layar stand-up, tapi dari balik mic studio radio.
Tahun 2001, dia jadi penyiar di Hard RockFM, bawain acara musik yang belakangan malah bikin dia jatuh cinta sama industri hiburan.
Dari situ, dia nyemplung ke dunia hip-hop, ngerap dengan lirik-lirik kritis, sampai akhirnya jadi salah satu pelopor stand-up comedy modern Indonesia.
Orang boleh bilang dia cerewet, tapi argumen dan idealismenya bikin banyak orang mikir ulang soal toleransi, nasionalisme, dan cara kita memandang Indonesia hari ini.
Tak semua langkah Pandji berjalan tanpa riak. Salah satu fase paling ramai dalam perjalanannya adalah ketika ia mendukung pasangan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno pada Pilkada DKI Jakarta 2017.
Ditengah atmosfer politik identitas yang menegang saat itu, pilihannya memicu reaksi dari publik, rekan komunitas dan pastinya bergagai alumni angkatan Kolese Gonzaga!
Banyak yang mempertanyakan konsistensinya, terutama karena ia dikenal sebagai sosok yang vokal soal keberagaman dan toleransi. Namun, Pandji sendiri pernah menjelaskan bahwa pilihannya berbasis keyakinan pribadi, bukan sentimen sektarian.
Lalu ada Rudy Soedjarwo, sutradara kawakan yang bikin generasi 2000-an percaya bahwa cinta bisa ditemukan di perpustakaan lewat film Ada Apa Dengan Cinta?.
Rudi Soedjarwo (Deki Prayoga/bintang.com)
Film itu dibintangi oleh Dian Sastrowardoyo dan Nicholas Saputra, dan jadi tonggak kebangkitan film Indonesia era milenium. Yang nggak banyak orang tahu (kecuali alumni dan fans garis keras), setting film itu ternyata mengambil lokasi di Kolese Gonzaga sendiri.
Jadi bisa dibilang, lewat tangan Rudy, nama Gonzaga ikut naik daun bersama kisah Rangga dan Cinta yang bikin satu generasi susah move on.
Dari situlah, Gonzaga mulai dikenali bukan cuma di kalangan sekolah Katolik, tapi juga oleh jutaan penonton bioskop yang baru tahu kalau cinta SMA bisa se-epik itu.
Dan jangan lupakan Gege (Abigail Manurung), karena gaya berbicarannya yang unik, terutama ketika mengucapkan kata-kata bercanda menjadi bercyanda.
ESPOS.ID – Abigail Manurung atau Gege yang viral karena ngomong bercyanda. (Youtube/Danang Giri Sadewa)
Hal ini berawal dari video di kanal Youtube Danang Giri Sadewa yang mewawancarai mahasiswa baru Universitas Gadjah Mada (maba UGM), salah satunya Abigail Manurung.
Di video tersebut, Abigail Manurung mengaku masuk ke UGM karena hoki dan pintar. Ia bercerita bisa menjadi mahasiswa UGM lewat seleksi jalur Seleksi Nasional Berbasis Prestasi (SNBP). “Jalur hoki betul, karena pintar aja. Bercyanda bercyanda,” ucap Abigail.
Kata-kata bercyanda yang diucapkan Abigail Manurung ini kemudian menjadi viral di media sosial, terutama TikTok. Bahkan, di TikTok terdapat sound dengan kata-kata tersebut.
Tapi, tentu saja, jadi alumni Gonzaga bukan berarti otomatis hidupmu bakal kayak drama Netflix. Sebaliknya, banyak juga orang yang justru bersinar dari sekolah-sekolah yang namanya jarang masuk headline.
Nggak semua keberhasilan itu hasil dari masa remaja yang penuh seminar motivasi atau pelatihan debat.
Kadang justru hidup ngajarin lebih banyak lewat pengalaman tak terduga, ditolak kerja, bangkrut, kena mental, lalu bangkit lagi. Karena ya begitulah makna kesuksesan sebenarnya, bukan cuma soal titel, tapi tentang perjalanan.
Jadi kalau kamu hari ini ngerasa SMA kamu biasa aja, jangan minder. Terkenal atau tidak, sukses atau belum, semua itu cuma bagian kecil dari kisah yang lebih besar.
Pandji bisa sukses bukan cuma karena Gonzaga-nya, tapi karena dia terus konsisten ngejar apa yang dia yakini.
Rudy bisa bikin film keren bukan karena dulu sering ikut retreat, tapi karena dia peka terhadap cerita manusia.
Dan Gege bisa bersinar karena kerja keras dan proses panjang , belajar, masuk UGM dan bercyandaaa ….. Karena ya gitu, sukses itu proses, bukan warisan almamater.
Santai aja. Nggak perlu buru-buru jadi hebat. Kadang yang kita butuhin cuma kopi enak, obrolan jujur, dan waktu buat mengenal diri sendiri, karena hidup harus nyicil.
Selebihnya? Biar semesta yang atur. Toh, siapa tahu kamu juga sebenarnya lulusan sekolahkehidupan yang jauh lebih keren dari apa pun yang tertulis di ijazah.