2018 Take Off from Tenzing Hillary Airport, One of the Most Dangerous Airports in the World

Taking Off from Tenzing Hillary Airport, Tenzing-Hillary Airport (IATA: LUA, ICAO: VNLK), also known as Lukla Airport, is a small airport in the city of Lukla, in Khumbu, Solukhumbu District, Sagarmatha Zone, Eastern Nepal.

In January 2008, the airport was renamed in honor of Sir Edmund Hillary and Sherpa Tenzing Norgay, the first people to reach the summit of Mount Everest and also marked their efforts in building the airport. The surrounding land, the thin air, the changeability of the air, and the short, sloping runway make landing at this airport one of the most challenging landings in the world.

The History Channel program Most Extreme Airports ranked it the “most extreme” airport in the world

Amblas setelah Teletubbies, Moge Ninja 650 Nekat offroad di Bromo!

Ini motor Moge Ninja 650 2017 amblas bukan di Lautan Pasir Bromo setelah masuk dari Wonokitri, Pos Dingklik. Malah amblas di jalur offroad setelah Teletubbies sebelum Watu Gede.

Rencananya masuk dari utara Wonokitri, keluar di selatan Gubuk Klakah.

Nggak nyangka, ada jalur offroad!

Unlocking Terminal Power with ‘screen’: Why Every Linux User Needs It

In the world of Linux and Unix-based systems, efficiency is key, and the screen utility is a game-changer. Whether you’re a system administrator, developer, or just a power user, ‘screen’ offers a vital tool for optimizing your terminal workflow.

It allows you to create multiple terminal sessions within one window, ensuring you can seamlessly switch between tasks. What makes ‘screen’ truly indispensable is its ability to persist sessions, keeping your work intact even if you’re disconnected or logged out.

From remote access and background task management to collaborative work and emergency recovery, ‘screen’ empowers you to work smarter and more reliably.

Discover how this versatile tool can revolutionize your Linux experience.

In Debian Linux, you can use the screen utility to create and manage terminal sessions. Here are the basic commands to start a screen session, list existing sessions, and reattach to a specific session:

To start a new screen session, open your terminal and type:

screen

This will create a new screen session and provide you with a shell prompt.

To list the existing screen sessions, you can use the following command:

screen -ls

This will display a list of all the active screen sessions, along with their session IDs and status

To reattach to a specific screen session, you need to specify its session ID. If you see the session you want to reattach to in the list generated by screen -ls, take note of its session ID, and then use the following command to reattach to it:

screen -r session_id

Replace session_id with the actual session ID of the screen session you want to reattach to. For example, if the session ID is 12345, you would run:

screen -r 12345

This will reconnect you to the existing screen session.

To detach from a screen session and return to the main terminal, you can use the keyboard shortcut Ctrl-a followed by d (press and hold Ctrl, then press a and release both, and then press d). This will leave the screen session running in the background.

Keep in mind that screen is a very powerful tool for managing terminal sessions, and it has many other features and commands that you can explore by typing Ctrl-a followed by ? to see the available options.

Sepotong Sejarah 1998

Melihat kembali 25 tahun kebelakang, tepatnya tanggal 13 – 15 Mei 1998 pastinya membawa ingatan beberapa orang ke sebuah rentetan peristiwa yang sangat mencekam.

Mungkin anda masih terlalu kecil untuk mengerti apa yang terjadi, mungkin juga anda ada ditengah-tengah peristiwa itu atau mungkin juga andalah yang mengerti kebenaran sesungguhnya pada saat itu.

Ini bukan mengenai pilihan satu atau dua pada pemilihan presiden (pilpres) kemarin, tetapi semoga sepotong sejarah kelam ini, yang pastinya tidak akan anda dapatkan di bangku sekolah dapat menambah referensi sejarah anda mengenai bumi Indonesia.

Bahwa kebencian, pengingkaran nilai-nilai humanisme dan Sauvinisme sempit akan hanya akan meninggalkan trauma dan kemundurun.

BIla ada yang bertanya, kenapa baru setelah pemilu saya meng’amplifikasi’ dokumen yang anda bisa akses bebas di YouTube ini?

Yah.., karena kebetulan saja saya sedang melihat kembali draft tulisan di blog yang belum dipublikasikan.

Pada video tersebut yang menjadi narasumber adalah seorang peneliti utama dari LIPI,  Prof. Dr. Hermawan Sulistyo atau biasa dipanggil dengan Mas Kiki.

Pada tahun 1998 (setelah kerusuhan 13 -15 Mei 1998) Mas Kiki menjabat sebagai ketua Tim Asistensi dari sebuah organisasi fungsional bernama Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF).

TGPF dibentuk pada tanggal 23 Juli 1998 berdasarkan Keputusan Bersama Menteri Pertahanan Keamanan/Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, Menteri Kehakiman, Menteri Dalam Negeri, Menteri Luar Negeri, Menteri Negara Peranan Wanita, dan Jaksa Agung.

Selamat menikmati cuplikan sejarag ini, semoga bermanfaat.

Gonzaga 8, Tahun 2022 ini, Kita 25 Tahun!

Pada pertengahan bulan Juli 2022, sebuah posting di WhatsApp Group Gonzaga 8 menarik perhatian saya, biasanya posting hanya didominasi oleh notifikasi perayaan ulang tahun teman-teman di grup tersebut.

WhatsApp Group Gonzaga 8 adalah grup whatsapp yang ditujukan bagi alumni kolese gonzaga yang teridentifikasi sebagai angkatan 8, masuk tahun 1994 dan rata-rata lulus tiga tahun kemudian.

Hi guys, ingat nggak hari ini tepat 25 tahun lalu kita masuk SMA Gonzaga?” begitulah kira-kira postingnya, agak lupa juga karena sudah tertimbun jadi arsip.

Tidak banyak yang menanggapi posting itu, atau mungkin hanya dianggap sebagai posting angin lalu dari seorang siswa yang kurang begitu populer dan seingat saya ia cukup sering menjadi korban perundungan di sekolah.

Ya, bahkan di Gonzaga saat itu, praktek ‘bully’ atau perundungan kerap terjadi dan dianggap menjadi hal yang keren. Menelanjangi orang, menyobek pakaian, mentertawakan teman yang tidak lulus dan perlakuan merendahkan lainnya.

Pada saat kuliah, walaupun agak telat, saya akhirnya mengerti bahwa itu adalah tindakan yang tercela, shame on me!

25 tahun adalah rentang waktu dimana biasanya terjadi perayaan, tidak hanya sekolah, pernikahan, pekerjaan, sering juga disebut dengan perayaan perak.

Ingatan kembali ke tahun 1994, ketika saya diterima di Kolese Gonzaga, setelah menimbang-nimbang pilihan antara SMA Theresia, Marsudirini dan Don Bosco.

Sekolah Katholik semua ya ? Hemmm iya.., walaupun saya lahir dan dibesarkan di keluarga muslim, untuk sekolah orang tua saya mati-matian memasukkan saya ke sekolah Katholik.

Berdasarkan dari cerita Alm Bokap yang juga alumni SMA Van Lith, pada saat itu sekolah Katholik memliki standar pendidikan yang lebih baik dari sekolah lainnya.

Disamping itu orang tua kami mengharapkan kami, tiga anaknya untuk memiliki pergaulan yang luas, variatif, dan tidak eksklusif.

Selepas lulus dari SMP Tararakanita 4 di Rawamangun, seorang teman bernama Ludwig mengajak untuk mengambil formulir pendaftaran di sebuah sekolah di kawasan Jakarta Selatan bernama Kolese Gonzaga.

Awalnya saya nggak pernah mendengar sama sekali nama sekalah ini, karena mungkin domisili saya di Jakarta Timur.

Pada saat pengumuman, bersyukur juga keterima di tiga sekolah Katholik, SMA Theresia, Marsudirini dan pastinya Gonzaga.

Dari ketiga sekolah tersebut, paling berat sebenarnya ujian masuk Theresia, saya berada di ranking yang tidak begitu bagus atau kurang kompetitif, sedangkan Kolese Gonzaga cukup mudah dibanding Theresia waktu itu.

Ketika akhirnya saya memilih Gonzaga sebenarnya bukan pada alasan akademik atau peringkat DIKTI dan sejenisnya, tetapi lebih pada kesan pertama ketika memasuki area parkir sekolah tersebut.

Pada saat itu, setelah gerbang utama Kolese Gonzaga kita akan memasuki area parkir yang masih banyak diselimuti oleh pepohonan yang rindang.

Dibandingkan SMA Theresia, Marsudirini dan Don Bosco, tiga sekolah ini mirip sepeti ‘penjara’ yang menyeramkan bagi saya saat itu.

“Wah pohonnya banyak banget ya, dibelakang kelasnya juga banyak pohon bambu yang rindang” pikirku dalam hati.

Pada artikel blog kali ini saya tidak ingin terlalu banyak membahas soal aspek pendidikan atau pengalaman di sekolah tersebut, saya hanya ingin berbagi sedikit satu atau dua refleksi saja setelah dua puluh lima tahun.

Posting WhatsApp grup tersebut tiba-tiba membawa saya bernostalgia ke masa lalu mengenai konsep “Man for Others”

Konsep “Man for others” ini begitu melekat diingatan saya ketika masa SMA tersebut.

Yah walaupun juga konsep tersebut pastinya jauh dari ideal, karena apa sih yang diharapkan dari anak-anak yang hidup ,sekolah dan gaul di Jakarta Selatan ?

Hello …..

Kalo ada yang berharap ada tokoh seperti Romo Mangun atau Romo Sandyawan, nggak usahlah berharap dari Jakarta, untuk itu mungkin Kolese DeBritto di Jogja masih punya ‘peluang’.

Konsep “Man for others”, paling nggak, secara sadar maupun bawah sadar mungkin telah menjadi faktor pengaruh dalam berbagai tindakan, keputusan atau nilai-nilai yang saya pegang kuat sampai saat ini.

Ya, ntahlah, seperti ketika saya memimpin sebuah team di kantor, saya bukanlah tipe ideal bagi pemilik saham, board of management atau top level management, karena prilaku leadership saya lebih berat ke team member.

Hahahaha ….

Setelah pikiran melayang ke masa lalu, kemudian saya membuka situs Kolese Gonzaga, ingin tahu saja sekarang titik beratnya ada dimana.

Dan Wow… wow.. wow…. ternyata titik beratnya Manusia Unggul!

Yah ini mungkin memang pilihan yang harus diambil agar sekolah ini bisa kompetitif di era saat ini, dengan mencipatakan manusia ‘super’, wuehehehe ….

Menjadi Pribadi Yang Unggul (Human Excellence):
Men And Women Of Competence, Conscience, Compassion, And Commitment; Honest And Simple

Sekolah SMA Katholik tetap aja ‘sadis’ banget ….

Untuk yang satu ini, mungkin saya berbeda, saat ini dengan pengalaman hidup lulus SMA selama 25 tahun, buat saya yang dibutuhkan bukan manusia super, tetapi setiap individu manusia harus menemukan perannya dahulu sesuai talenta dan rencana hidup Sang Khalik untuknya.

Selamat 25 tahun Angkatan 8 Kolese Gonzaga, sehat dan bahagia selalu.

Netfit.id – Solusi AI dan ML Menghadirkan Auto Tag Foto Otomatis dengan Kecepatan Tinggi.

Sebelum pandemi, layanan seperti Pic2Go adalah salah satu layanan tag foto untuk para pelari yang mengikuti sebuah event, teknologi dari luar Indonesia dengan harga yang lumayan mahal.

Perusahaan seperti Pic2Go dan sejenisnya dari manca negara menyebut dirinya platform fotografi terkemuka untuk lomba, dan mereka mempatenkan metode tag foto tersebut sehingga tidak bisa direplikasi oleh pihak lain.

Tag foto disini adalah sebuah perlakuan terhadap foto-foto para pelari di sebuah lomba atau event kasual agar mudah ditemukan oleh individu yang bersangkutan, yang ada di foto tersebut.

Ribuan foto bisa dihasilkan dalam sebuah event, dan hal ini membutuhkan sebuah teknologi khusus agar orang yang difoto dapat menemukan fotonya dengan mudah.

Melihat hal ini, akhirnya saya ngobrol dengan teman-teman di Netfit.id, Netfit.id adalah sebuah entitas komunitas yang didirikan dan dijalankan oleh beberapa orang yang aktif di dunia wellness, lari, sepeda, ultra, marathon dan triathlon.

Hal ini berangkat dari keprihatinan saya dan beberapa kawan dalam melihat implementasi fitur tag foto di berbagi event lari, sepeda dan event sejenisnya lainnya di Indonesia.

Penggunaan vendor luar negeri seakan mencederai rasa kebangsaan saya .. cieee…..

Beginian aja orang Indonesia juga harusnya bisa bikin, tapi kenapa nggak ada yang bikin ya ?

Mau nggak saya buatkan sistem dan algoritma untuk tag foto ?

Begitulah tawaran saya ke teman-teman di Netfit.id dan juga beberapa teman di kepanitian event lari di berbagai komunitas.

“Auto tag foto dalam waktu singkat hitungan detik agar semua foto pada sebuah event dapat dikenali dengan mudah.”

Ekosistem aplikasi di Netfit.id dapat melalukan autotag ribuan foto dalam hitungan menit!

Pastinya teman-teman di Netfit.Id menyambut gembira hal ini, apalagi Netfit.id terkenal sudah memiliki konfigurasi Kluster server yang luar biasa canggih dan modern.

Hanya memanfaatkan beberapa konfigurasi server saya yakin dapat mencapai sesuatu yang jauh lebih baik dari metode Pic2Go layanan sejenisnya lainnya.

Mungkin saya tidak bisa menceritakan lebih detail bagaimana implementasi teknologinya, karena ini pasti rahasia dapur Netfit.id.

Pastinya, teknologi ini melibatkan pemrograman, algoritma, machine learning (ML), artificial intelligence (AI) , serta automation yang terkait juga dengan penggunaan teknologi dari beberapa partner.

Pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) untuk menghilangkan โ€˜Monkey Workโ€™

Peran saya disini hanya melakukan sedikit pemrograman dan implementasi di server-server milik Netfit.id

2 women running on road

Dalam hitungan kurang dari 1 menit setelah diupload, para peserta yang mengikuti event outdoor dapat dengan mudah menemukan, mengakses dan mengunduh foto mereka di situs Netfit.id hanya dengan memasukkan nomor BIB.

Silahkan menuju halaman Galeri Netfit berikut ini untuk mencoba pencarian.

Punya Broadband, Kenapa Butuh Home Network?

Minggu ini harus setup ulang dengan disk baru lagi karena tiba-tiba tiga buah disk SSD tewas dalam waktu yang hampir bersamaan,

Ketika lagi setup scan newtwork dari antivirus Eset, baru nyadar ternyata Home Network sudah rame banget devicenya.

Mulai dari desktop, laptop, smartphone, router, switch, access point, dan NAS storage.

Kalo nggak pake home network dan alat-alat tersebut tidak diseting khusus bakal lambat network internetnya.

Jumat kemarin juga baru bantu salah satu tetangga setting home network karena rumahnya ditingkat.

Jadi sebenarnya paket langganan terendah broadband First Media (FM) atau Indihome itu sudah lebih dari cukup untuk rata-rata pengguna rumahan, nggak perlu upgrade kalo lemot.

Lemot itu karena provider hanya menyediakan satu alat kombo yang mencakup tiga fungsi dari sebuah jaringan, yaitu modem, router dan access point, ya ini pasti bakal jeblok lah seberapa pun bandwithnya.

Dilematis memang, dengan banyaknya alat yang terkoneksi dan streaming data yang tiada henti, tiap rumah harus setting home network sendiri.

Konyolnya ada warga dengan keahlian IT di komplek yg malah menyarankan langganan 2 paket, ambyar ……๐Ÿ™ƒ๐Ÿ™†
Mungkin doi agen sales provider.

Kalo ada yg mau bangun home network, jangan sungkan bertanya ya, atau minimal nonton YouTube dulu

Bisa dimulai dengan video YouTube berikut ini  

https://youtu.be/xykFaoOSREg

#homenetwork#fm#tidakperluupgrade

Polisi Tidur itu Akhirnya Datang Juga

Selama 18 tahun hidup di komplek pemukiman yang lumayan, di bagian timur ada aliran Sungai Cikeas, masih dilindungi dengan perkebunan dan kontur alami serta jalannya terbuat dari conblock.

Conblok bagus buat linkungan, membuat resapan air hujan lebih maksimal.

Tahun 2003 awal mulai menempati linkungan baru, hanya berdiri beberapa rumah waktu itu, maklum komplek baru yang memang mungkin ditujukan bagi keluarga baru seperti saya.

Menabung dari hasil keringat sebagai pekerja di media surat kabar, minjam duit sama pacar dan akhirnya bisa memenuhi down payment dan dapat pinjaman dari Bank Mandiri.

Penghuni yang masih sedikit di area bukaan pemukiman yang baru, mengharuskan saya bolak balik ke ketua RT yang sudah ada sebelumnya, RT 5.

Mulai kenal dengan Pak Wondo dan Pak Ibrahim, disaat itulah saya mulai mengenal sosok ketua RT, yah ini memang kerja sukarela tetapi harus dilakukan oleh orang yang memang sudah matang.

Soalnya banyak urusan yang bisa panjang banget tindak lanjut dan printilannya.

Beberapa kali Pak Ibrahim mergokin saya sama pacar di rumah baru tersebut, ya boleh dong berdua bentar sambil menyiapkan hari pernikahan. ๐Ÿ™‚ Kita cuma lagi beres-beres rumah kok.

Beberapa bulan atau mungkin setahun menempati rumah baru dengan pacar yang akhirnya menjadi Istri akhirnya ada kabar dari RW bahwa RT 5 tempat saya bernaung harus dimekarkan menjadi RT 7, hal ini karena hunian warga baru yang makin banyak telah menempati rumah-rumah baru tersebut.

Beberapa kali pertemuan warga pun digelar, dan ternyata ini memang ada kebutuhan untuk pemilihan ketua RT 7 dan pengurusnya yang baru.

Sosok besar itu , maksud saya memang Pak Agung itu punya bentuk tubuh yang besar akhirnya dipilih sebagai ketua RT dan sayapun akhirnya menjadi sekretaris RT.

Saat itu “Asem tenan pikirku”,karena hadir di rapat itu saya kecipratan untuk menjadi sekretaris RT.

Menjadi pengurus RT di perumahan baru cukup penuh kejutan, dari mulai urusan biaya keamanan dan kebersihan yang tiap bulan harus kita tagihkan ke para penghuni, sampai dengan urusan rumah tangga pasangan suami-istri yang haru didamaikan.

Paling heboh adalah ketika ada demonstrasi dari warga sekitar yang memprotes sumber penghidupannya sebagai tenaga keamanan diambil alih oleh para pekerja keamanan yang khusus didatangkan dari luar.

Persoalannya ada ketidakpuasan akan kinerja satuan pengamanan dari sumber daya warga sekitar.

Implikasinya parah, terjadi demonstrasi di siang bolong yang akhirnya saya harus ijin pulang kantor lebih awal.

Hal ini memberi pelajaran penting mengenai betapa kompleksnya hidup di daerah peri-peri, yaitu daerah perbatasan kota dan desa, atau sebut aja suburban.

Mau tidak mau kita harus hidup berdampingan dengan warga lokal yang sudah ada sebelumnya.

Bila pada akhirnya pengurus RW memperkerjakan mereka kembali, sebenarnya saya bersyukur, karena kebijakan tersebut meredam konflik horizontal yang lebih luas.

Pandemi

Masa ini masa yang cukup unik, karena sebagian besar pekerja kantoran melakukan pekerjaan dari rumah dan dari sini jugalah akhirnya saya membuat tulisan ini.

Sedih campur kesal dengan kondisi perumahan akhir-akhir ini. Beberapa kali ada proses yang tidak melibatkan warga dengan menyeluruh.

Ada pertemuan-pertemuan kecil yang dilakukan diluar pertemuan-pertemuan warga yang lebih luas.

Ya nggak apa-apa sih, masalahnya pertemuan kecil itu seakan menjustifikasi beberapa keputusan tanpa melibatkan warga lebih luas.

Polisi Tidur

Penghambat kecepatan ini seri disebut dengan polisi tidur atau bahasa londonya sebut saja speedbump.

Selama bertahun-tahun para warga selalu mengadakan pertemuan rutin, kalo nggak tiga bulan sekali, enam bulan sekali atau beberapa bulan sekali untuk membahas hal-hal kecil, hal penting dan juga hal-hal lainnya.

Polisi tidur seingat saya beberapa kali menjadi bahasan, biasanya bila ada warga baru yang baru datang atau memang lagi membicarakan soal alat penghambat kecepatan.

Selama belasan tahun warga RT 7 berhasil menciptakan linkungan dan kondisi jalan yang bebas akan polisi tidur.

Berdasarkan hasi pertemuan warga, keinginan beberapa warga yang ingin membangun polisi tidur bisa dibicarakan dengan baik-baik dan tidak pernah ada keinginan kuat untuk membangun polisi tidur tersebut.

Para warga lebih sering mengarahkan pembicaraan soal edukasi berkendara yang baik kepada warga penghuni dan juga pendatang, melalui guyon santai dan titip pesan ke penjaga gerbang terhadap para tamu untuk selalu bekendara dengan pelan ketika masuk komplek

Dhuaarr!!!

Tiba-tiba disuatu siang tanggal 28 Februari 2022, ada sebuah posting di WhatsApp grup RT 7 yang memperlihatkan pembangunan sebuah polisi tidur.

Sekonyong-konyong perasaaan sedih, kesal beraduk menjadi satu, ” Ya Tuhan, belasan tahun kita hidup tanpa polisi tidur, sekarang kok bak petir di siang bolong ada orang iseng membangun polisi tidur”

Saya pun dengan agresif mengecam pembangun polisi tidur tersebut yang prosesnya cacat.

Untuk membangun polisi tidur atau speedbump tidak boleh dilakukan sembarangan alias asal oleh warga, ada aturan undang-undangnya.

Silahkan dibaca sendiri di situ hukum online ini, atau sumber lainnya

Bagaimana ini bisa terjadi ?

Seseorang dengan keberanian luar biasa membangun sesuatu ditengah fasilitas publik pastilah bukan orang biasa.

Lebih penting lagi, bagaimanan proses ini bisa terjadi ? Bagaiman sesuatu yang begitu lama dipelihara bisa rusak dalam hitungan detik!

Ingatan akhirnya kembali ke kondisi pandemi dan bererapa kali pertemuan dengan beberapa warga.

Ketika kondisi pandemi, praktis tidak ada pertemuan warga, dan ini memberi celah peluang beberapa warga yang berani ngumpul untuk mengeluarkan ide liarnya.

Hal ini memang tidak menjadi masalah, semua punya hak untuk berkumpul dan berserikat.

Masalahnya bila dari obrolan warung kopi tersebut tercetus ide untuk membuat sesuatu yang tidak melibatkan warga dengan lebih luas dan hati-hati, membuat polisi tidur misalnya di siang bolong.

Lapor pak RT ?

Sebagai warga ya, awalnya saya sampaikan di grup WhatsApp, tetapi Pak RT yang kali ini agak beda, malah membuat polling ke warga setuju nggak ada polisi tidur atau nggak ?

Warga dipertentangkan di dua kubu proxy mendukung atau tidak, walau berulang kali saya sampaikan yang dibutuhkan bukan voting tapi pembicaraan dengan Warga.

Pada akhirnya suasana makin meruncing, ya memang karena saya terus mempermasalahkan kondisi yang terjadi, dengan kata-kata kasar juga yang kadang saya guyonkan juga karena kesal dengan pembangunan polisi tidur ilegal tersebut.

Ini bentuk premanisme, main pentungan kata saya “

Sebelum akhirnya saya keluar dari grup WhatsApp RT dan mulai ngeblog lagi, keluar grup soalnya mungkin bapak yang bangun polisi tidur tadi keknya sudah empet dan mungkin ngajak berantem.

Untuk menjaga kewarasan yo wes, exit dari grup dan menikmati saja polisi tidur sialan itu!

Leaving Kompas Daily

November 1st 2020 marks the end of my journey at PT Kompas Media Nusantara (Kompas Daily).

For the past 16 years I have had the honor of working with many people who I highly value, no matter if they are my peers, bosses, or team members.

They inspire me with their dedication, creativity, leadership, genuineness, humility, and a lot of great human qualities that we look for in a working environment.

Whether during my roles as staff or as a leader in management, the warmth and great teamwork always make me feel at home.

I have learned and hopefully also contributed a lot to the company and the people I worked with.I wish everyone and the company the best for the future.

As for me, I will embrace whatever comes for me in my next journey.

*Thank you for the gift guys.. backpack and the photo album.