Swingarm Yamaha R6 dan Velg ZX6R di Kawasaki Ninja 650 2017

Sebenarnya saya selalu merasa bahwa swingarm dan velg Kawasaki Ninja 650 2017 ini terlalu kecil.

Hanya ditujukan untuk menopang velg ukuran 4.5 inch dan ban belakang ukurang 160, membuat motor ringan dengan tenaga melimpah ini menjadi limbung ketika digunakan touring jarak jauh.

Tidak maksimal ketika menikung dan kecepatan tinggi dalam durasi yang lama.

Akhirnya saya memutuskan untuk membuat project meng’upgrade’ kaki belakang Ninja 650 keluaran tahun 2017 ini dengan struktur yang lebih kokoh.

Diperuntukkan untuk menopang ban ukuran 180/55 atau 190/50 akhirnya pilihan swingarm jatuh pada swingarm limbah moge Yamaha R6 dan velg belakang Kawasaki ZX6R

Kenapa swingarm Yamaha R6 ?

Dari beberapa pilihan, swingarm Yamaha R6 ini memiliki postur yang ideal, tidak terlalu besar atau gambot, desainnya simple dan agresif.

Setelah melakukan riset dan hunting, akhirnya saya mendapatkan swingarm seharaga Rp 3.500.000,- ini disebuah toko limbah moge di Instagram.

Awalnya agak ragu karena pembayaran tidak melalui market place, ahirnya ya sudah lah mau gimana lagi. Akhirnya setelah bayar barang diterima dengan selamat dengan packing yang baik, kurang dari satu minggu.

Saya menggunakan motor ini untuk sport touring jarak jauh, bukan untuk kontes tampilan modifikasi, sehingga saya benar-benar harus mempertimbangkan aspek fungsi, tidak hanya soal tampilan.

Kenapa velg Kawasaki Ninja ZX6R ?

Sebenarnya, bila mencari motif plang velg yang sama, model motor ini pola velgnya sama dengan Kawasaki Z900. Ukuran velgnya 5.5 inch, sesuai untuk profil ban 180/55.

Masalahnya, velg Kawasaki Ninja Z900 juga menjadi incaran pengguna Kawasaki Ninja ZX25 yang ingin mengupgrade kaki-kaki belakang menjadi lebih ‘gemuk’ dan padat.

Akibatnya, harga velg belakang Kawasaki Ninja z900 menjadi sangat langka, dan kalaupun tersedia, harganya sangat mahal, bisa mencapai kisaran 8 sampai dengan 9 juta rupiah!

Pilihan pada velg Kawasaki ZX6R lebih karena bentuknya yang mirip dengan plang yang modelnya tipis-tipis dengan harga yang terjangkau, sekitar Rp 3.250.000, – saja dengan kondisi yang masih prima. tidak peang dan limbahnya biasanya memiliki kelengkapan as, nap gear, gear dan disc brake.

Velg ini saya dapatkan dari sebuah toko online market place, karena lokasinya tidak begitu jauh dari rumah saya, akhirnya saya putuskan membeli unit ini dengan datang ke lokasi toko di Gading Serpong.

Diproduksi oleh Enkei Jepang, velg Kawasaki ZX6R tergolong ringan.

Untuk Ban menggunakan Michelin Pilot Road 4 190/50 lama bawaan sebelumnya. Idealnya sih menggunakan ban 180/55, tetapi saya ingin memaksimalkan dahulu ban yang sudah ada sampai mentok maksimal.

Oh iya project upgrade ini dibantu oleh Bengkel Modifikasi Danne Motor di Bogor, dengan durasi pengerjaan hampir 1 bulan.

Amblas setelah Teletubbies, Moge Ninja 650 Nekat offroad di Bromo!

Ini motor Moge Ninja 650 2017 amblas bukan di Lautan Pasir Bromo setelah masuk dari Wonokitri, Pos Dingklik. Malah amblas di jalur offroad setelah Teletubbies sebelum Watu Gede.

Rencananya masuk dari utara Wonokitri, keluar di selatan Gubuk Klakah.

Nggak nyangka, ada jalur offroad!

“Split Second” Tikungan 100 Km/Jam

Setelah mengenal karakteristik mesin dan handling motor ini, saya berjanji pada diri sendiri tidak akan menikung pada kecepatan diatas 100 km/jam.

Kawasaki Ninja 650 2017, dengan tenaga motor sebesar 68 ps , kecepatan 160 km/jam bisa dicapai dengan mudah pada ruas jalan lurus tertentu di luar kota. Rasa tegang, takut dan khawatir menjadi satu, tetapi entah kenapa enggan juga menurunkan ‘throttle‘. Kadang kalo udah ingat emak-emak bawa matik dan anak SD menyebrang jalan akhirnya saya turunkan juga kecepatannya.

Jalan lurus kadang membuat kita lupa diri, tetapi tikungan panjang merupakan ancaman utama berkedara motor dengan tenaga besar dan berlimpah.

Beberapa kali saya mendapati speedometer menunjukkan angka 100 km/jam ketika melibas tikungan panjang di luar kota.

Hal ini sangat menakutkan buat saya, dan berjanji akan mengenali karakteristik kecepatan diatas 100 km/jam tanpa melihat speedometer.

Seringkali , karena dibutuhkan konsentrasi ekstra dalam mengamati jalan di kecepatan tinggi, instrumen kecepatan dan putaran mesin tidak bisa dipantau dengan mudah.

Kadang insting dan hapalan kondisi yang seringkali memberikan petunjuk seberapa cepat dan seberapa besar putaran mesin saat itu. Dalam kondisi tersebut seringkali dibutuhkan keputusan yang sifatnya “split second“.

Menurut kamus urban populer “Split second” artinya “A very brief moment in time“, dalam kurun waktu yang sangat singkat, bisa dalam sekejap kedipan mata.

“Setan” Tikungan Panjang

“Setan Pengoda” dalam berkendara seringkali terjadi ketika motor akan melahap tikungan panjang yang mulus, kadang saya sendiri takjub dengan kecepatan saat itu.. , dan disinilah biasanya awal malapetaka terjadi.

Pengalaman ini saya bagi agar sesama pemula seperti saya ini dapat mengantisipasi dan tidak melakukan hal konyol ketika suatu saat anda dalam posisi yang sama.

ABS is dead

Motor-motor baru jalan raya dengan kapasitas mesin (cc) dan tenaga besar saat ini biasanya sudah dilengkapi dengan Anti Braking System (ABS). Sebenarnya fitur ini ditujukan agar letika terjadi tindakan pengereman, ban tidak terkunci dan menjadi slip karena pengendara menekan atau menginjak rem terlalu keras.

Pada motor yang  dilengkapi ABS , ada sensor mekanik dan ditansferkan secara digital yang membaca kondisi ban slip. Lalu sensor akan memberikan intruksi agar pad rem dilepas sedikit demi sedikit (‘menendang’ balik tuas/pedal rem) supaya ban tidak mengunci.

Menurut buku petunjuk dan pengalaman pribadi, fitur ini sangat berguna pada jalan kering dan normal tidak bergelombang, tetapi menjadi berbahaya pada jalan licin karena hujan, bergelombang , berlumut maupun jalan dengan kerikil.

Pada layar instrumen, akan ada indikator khusus bila motor melalui jalan rusak bergelombang, ini artinya peringatan keras menandakan  ABS tidak akan berfungsi masimal.

Saya merasakan kekurangan ini pada saat menikung panjang dengan kecepatan di ruas jalan yang terbuat dari beton ( non asphalt). Di suatu malam di sebuah ruas tikungan panjang jalan raya Bogor, untuk menjaga kestabilan, saya mulai menekan tuas rem depan dan belakang pada saat yang besamaan ketika motor akan masuk tikungan.

Kaget bukan main ketika saya merasakan bagian belakang motor mulai slip kehilangan traksi tak terkendali, ABS tidak bisa bekerja di jalan licin tipikal beton dan badan motor pun mulai terhempas perlahan ke arah kanan.

Hebatnya manusia, dalam kondisi kejepit tersebut, semua indra mulai bekerja dalam hitungan detik, ketika melihat speedometer, kecepatan ada diatas 90 km/jam. Dan yang bisa saya lakukan hanyalah pasrah dengan tetap menjaga posisi tuas gas, rem dan badan agar tidak melakukan perubahan mendadak yang bisa mempengaruhi momentum motor yang diluar kendali, Paling sial harusnya motor terhempas pembatas jalan sebelah kanan.

Sepanjang tikungan panjang tersebut, ban belakang slip nggak karuan. Saya hanya berharap tikungan tersebut segera habis saja supaya saya bisa menegakkan badan motor.

Bila pada akirnya saya selamat, nggak tau juga. Ketika tikungan habis dan motor tidak terhempas, saya hanya bersyukur dan sedikit gemetar.

Pesan semesta , kalo lihat tikungan panjang yang mulus pikir-pikir dua kali.