Miopi, Kenapa Saya Berhenti MTB

Sad manMelakukan aktivitas sepeda gunung (mtb) di jalan raya dan offroad telah membawa saya sampai pada tahap memiliki banyak teman bersepeda di kantor.

Tahun 2011, saya memutuskan untuk mundur dari dunia sepeda gunung dan 2012 ini saya berani mengakui bila hobi saya yang satu ini sudah tamat.

Pertanyaan pentingnya adalah mengapa berhenti ?

Saya mencintai hobi ini hampir sama dengan saya mencintai keluarga saya, butuh waktu bertahun-tahun untuk membangun sepeda gunung impian, menulis artikel di blog dan sudah begitu banyak jalur sepeda yang saya nikmati bersama rekan kantor.

Berawal pada tahun 2011, saya memiliki masalah dengan mata minus saya, istilah medisnya miopi atau sering juga disebut dengan rabun jauh. Saya menderita rabun jauh semenjak kelas 3 SD dan harus menggunakan kacamata minus untuk kegiatan sehari-hari.

Awalnya biasa saja, sampai pada tahun lalu, kombinasi lensa untuk mata kiri dan kanan membuat saya tidak nyaman (pusing) terus menerus, hal ini tidak pernah terjadi sebelumnya.

Biasanya, tiap habis dari dokter mata dan menerima resep mata minus baru, entah minusnya terkoreksi naik atau turun, saya hanya membutuhkan satu hari untuk penyesuaian dan penglihatan saya sudah bisa beradaptasi dengan kacamata baru.

Kali ini ternyata lain cerita, karena perbedaan  minus yang tinggi antara mata kiri dan kanan (lebih dari 3 dioptri), mengakibatkan (baca:akhirnya) saya membutuhkan pengaturan khusus agar perbedaannya bisa kurang dari 3 dioptri (walaupun harusnya 3 dioptri atau lebih).

Mengapa membutuhkan pengaturan khusus ? Mata manusia pada umumnya tidak akan ‘sanggup’ untuk mengakomodasi penggunaan lensa dengan perbedaan dioptri diatas tiga (3), pasti akan pusing dan mual. Hanya 1 dari 1000 orang yang bisa mengakomodasi perbedaan kekuatan dioptri lebih dari tiga.

Apa hubungannya dengan aktivitas sepeda gunung (mtb) ?

Sebenarnya sih nggak ada! Lho..? Maksudnya bukan perbedaan ekstrim nilai minus mata kiri dan kanan yang membuat saya mundur dari aktivitas sepeda gunung, tetapi lebih pada tingginya angka minus mata saya.

Saya membutuhkan tiga kali percobaan pengaturan nilai minus dengan tiga dokter mata yang berbeda sampai pada akhirnya saya mendapatkan kombinasi yang ‘tepat’, dan itu terjadi pada saat berkunjung kedokter terakhir (ketiga), dua dokter sebelumnya gagal! Menurut pencermatan saya, kegagalan dua dokter sebelumnya karena mereka hanya mengandalkan pemerikasaan alat dan test baca biasa.

Ternyata ada hal positif (keuntungan) dari pertemuan dengan tiga dokter berbeda tersebut, ketiganya menyarankan saya untuk  tidak lagi melakukan olahraga berat.

Apa hubungannya mata miopi (minus) tinggi dengan aktivitas (olahraga) berat ?

Menurut para dokter senior tersebut , mata minus lima (5) keatas artinya bola mata membesar 1 mm. Mata minus tujuh (7) seperti saya, artinya bola mata membesar 2 mm.

Pembesaran bola mata mengakibatkan kecenderungan retina untuk lepas dari dinding bola mata  menjadi sangat besar. Hal ini karena lapisan retina akan mengalami penipisan seiring dengan area yang makin besar. Dalam dunia medis, lepasnnya retina disebut dengan Retina Detachment.

Lepasnya retina sendiri sebenarnya sudah bisa diobati dengan operasi yang sayangnya sangat mahal dan juga pastinya memiliki tingkat kegagalan. Seorang dokter senior yang akhirnya menemukan pengaturan kacamata yang tepat untuk saya, Dokter Lembah RedatiRS Aini mengeluarkan statement yang cukup ‘menakutkan’

“Mau , retina kamu lepas ?” ujarnya dengan keras.

“Operasinya mahal loh, sayang mata kamu. Mulai sekarang jangan melakukan olahraga berat dan yang ada gerakan melompatnya!” sambungnya.

“Seharusnya sejak minus lima, kamu sudah tidak boleh melakukan aktivitas berat.” ujarnya menutup vonis.

Pada awalnya hal ini benar-benar membuat saya ‘drop‘, tetapi tidak lama, terima saja, toh saya masih bisa gowes santai di jalan raya-komplek yang bebas dari tanjakan dan turunan curam.

GoPro (Kamera MTB)

Walau sudah lama tidak offroad dengan sepeda gunung (lagi mode hibernasi..), saya masih sempatkan untuk kumpul bareng teman-teman gowes di kantor. Ya..ya..ya..nggak usah ditanya dulu ya kenapa belum gowes lagi.. 😛

Sekitar sebulan lalu di acara kumpul KGC, seorang rekan menunjukkan video acara Jambore di Curug Malela. Awalnya saya berpikir, ah.. masa sih bisa ngambil gambar video yang bagus ketika bersepeda offroad ? apa nggak goyang-goyang tuh gambarnya ? gimana cara megangnya ?

Kaget juga ketika video itu diputar, gambarnya jernih, getarannya tidak membuat gambar jadi pusing untuk dilihat dan posisi kamera bisa ditempatkan di berbagai tempat.

Tanya punya tanya, ternyata rekan tersebut menggunakan kamera khusus untuk aktivitas outdoor , tidak hanya untuk MTB, tapi segala macam aktivitas outdoor. Merek kameranya GoPro.

Tak berapa lama kemudian, dikarenakan kekaguman teman-teman akan kualitas video yang didapat, akhirnya seorang rekan kami (Fami) menunjukkan bermacam-macam contoh video yaang diambil dengan kamera GoPro.

Wow..videonya keren-keren! dan hari ini saya mencoba mencari dan menikmati video mtb lainnya yang dibuat oleh GoPro di Youtube dan Vimeo..

http://www.youtube.com/results?search_query=gopro+mountain+biking

http://vimeo.com/search/videos/search:gopro%20mtb/st/6cad2eff/sort:likes/format:thumbnail

GoPro memang dahsyat!! nggak bohong di situsnya ada slogan “World’s Most Versatile Camera

Trek NuRA (+ kondangan) dan TW3

Fami

Beberapa minggu lalu saya meminta secara pribadi file (berkas) GPS Trek NuRA ( Rindu Alam baru / ekstensi ) dan TW3 (Telaga Warna 3).

Sempat sekali merasakan trek NuRA ini, dan hanya Fami yang bawa GPS saat itu, sekalian saja TW3 saya bagi ke pembaca blog ini. Thanks Fa!

Dit, ini trek NuRA (+ kondangan) & TW3.

Yang NuRA diawal-awal ada yg bolak-balik, itu karena nyari kacamata yg jatuh. Jatuhnya ternyata di turunan tanah pertama setelah nanjak dulu dari mang Ade.

Trus waktu itu turunnya lewat jalur kondangan. Jalur kondangan itu ada di ngehe 1, kalo gak salah sebelum masjid belok kanan. Jalannya turunan beton, tapi abis itu nanjak. Jalan besar kok, mobil bisa lewat. Di ujung jalur kondangan masuk kebun teh lagi n nanti nyambung turunan makadam ngehe 1. Kalo dari ngehe 1 turunnya lewat jalur tanah (sebelah kiri, bukan yg kanan, yang full makadam), ketemu jalur kondangan sebelum pertigaan jalur tanah & makadam, yg ada saungnya juga.

Yang TW 3 gak bawa GPS, cuma bawa HP n lupa dinyalain. Gw nyalain setelah di tanjakan tanah terakhir di dalam hutan tw 3. Jalur masuknya sih sama kayak TW1-2. Gerbang TW yg dibawah Rindu Alam, nanjak aspal dikit trus nanjak makadam. Nanjak sampai atas, tempat biasanya kita potong jalur turun yg pendek di kebun teh. Di awal turunan potong itu ambil jalan kiri, nyusurin lereng jadinya. gak brapa jauh nanti jalannya turun ke kanan trus datar ke kiri n masuk hutan. Di hutan ikutin jalan, banyak akar & banyak drop off kecil.

Keluar hutan ambil jalan ke kanan. Di tempat keluar hutan itu ada tempat parkiran sepeda n bisa liat lapangan sepakbola & menara tegangan tinggi di kiri. Jalur kanan keluar hutan jalanannya turun terus, jalan di pinggir lereng. Di tengah turunan panjanggggggg…..hati-hati ada pipa air pralon (cuma 1 kok), jangan dilompatin, kecuali ya bisa lompat…he….he…. Nah lepas turunan bisa ambil kiri lewat lapangan bola, atao lewat makadam ke arah bumi perkemahan. Bisa juga ambil kanan/ lurus, jalan datar sebelum turun lagi meliuk-liuk ketemu makadam sedikit ketemu jalur kiri makadam (bukan lap bola) tadi.

Ketemu aspal bisa ambil kiri (turun) atau lurus (turun dikit). Kalo kiri ketemu jalan besar, Raya Puncak. Kalo lurus ketemu bumi perkemahan…. lupa namanya. Gw lewat yg buper ini.

Jalur selanjutnya terserah mo lewat mana, banyak jalannya soale udah masuk daerah perumahan Cilember dsb.

Trek GPS dan Penjelasan By Fami – KGC

Download [download#10]
Download [download#11]
Download [download#12]

Menentukan Ukuran Frame Sepeda Gunung

Memilih rangka (frame) merupakan salah satu langkah penting dalam membeli atau merakit sepeda gunung (Mountain Bike/ MTB ). Selain pemilihan bahan Aluminium (Al) , faktor terpenting yang harus diperhatikan dalam memilih frame adalah ukuran yang sesuai dengan tinggi badan. Pembahasan mengenai ukuran ini belum (baca:terlewat) pada tulisan sebelumnya. Banyaknya pertanyaan dari komentar yang masuk di blog ini  maupun pertanyaan ketika beberapa teman menanyakan saya secara langsung ‘mendorong’ saya membuat panduan memilih ukuran frame sepeda gunung yang tepat.

Berdasar pengalaman dan ngobrol dengan para pengguna sepeda gunung yang lebih senior dan berpengalaman, pemilihan ukuran frame sepeda yang tidak tepat akan mengakibatkan kendali (handling) yang buruk dan juga ketidaknyamanan yang bisa berakibat otot di bagian tangan, punggung dan kaki menjadi cepat letih dan pegal. Bayangan ektrimnya, orang tua  yang mengayuh sepeda anak tiga(3) tahun, ataupun anak sekolah dasar yang naik sepeda balap.

Perlu diketahui, tidak ada standart industri untuk ukuran frame sepeda gunung.  Tiap merek sepeda memiliki ‘sedikit’ perbedaan dalam cara panduan pengukuran. Setiap merek sepeda memliki spesifikasi dengan standart mereka sendiri,  sehingga sangat disarankan untuk melakukan pengecekan dulu bagaimana merek sepeda yang anda pilih mendeskripsikan ukuran sepeda, cara tercepat adalah kunjungi dealer resmi merek sepeda tersebut atau kunjungi websitenya.

Rasio Tinggi Badan (Height) Vs Ukuran Frame  (ST – CT)

Tidak ada standarisai bukan berarti kita tidak bisa melakukan perhitungan untuk mendapatkan ukuran frame sepeda gunung yang sesuai. Untuk panduan kali ini saya akan fokus dengan variabel Seat Tube – Center to Tube (ST – CT) yang lebih umum digunakan sebagai patokan. Bila ngobrol dengan pengguna sepeda gunung atau masuk ke forum sepeda seperti www.sepedaku.com. Istilah ST – CT (lafal:esti – siti), Seat Tube – Center Tube lah yang paling banyak digunakan.

Berikut adalah daftar lengkap variabel di frame sepeda gunung yang biasa dijadikan dasar perhitungan rasio:

  • Seat Tube (ST) – Center to Tube (CT) -> (ST – CT) –> paling umum digunakan
  • Seat Tube (ST) – Center to Center (CC) -> (ST – CC)
  • Top Tube (TT) – Center to Center (CC) -> (TT – CC)

Sebelum masuk ke rasio frame dan ukuran tubuh, berikut adalah empat(4) variabel tubuh manusia yang biasa digunakan dalam pengukuran. Dalam pengukuran frame MTB, yang terpenting adalah ukuran tinggi badan  (stand over height / height). Sedangkan tiga(3) lainnya, ukuran panjang kaki bagian dalam  (inseam) , ehem… tukang jahit pasti mengerti istilah ini, panjang lengan (arm length) dan panjang badan (torso) bisa ‘agak diabaikan’ dalam melakukan pengukuran pertama kali.

Berikut adalah daftar lengkap variabel di tubuh manusia yang biasa dijadikan dasar perhitungan rasio:

  • Height (stand over height) (Tinggi Badan) –> paling umum digunakan
  • ukuran panjang kaki bagian dalam  (inseam)
  • panjang lengan (arm length)
  • panjang badan (torso)

Tiga (3) variabel yang bisa ‘agak diabaikan’ tersebut karena posisi duduk (sadle) yang bisa diubah ketinggiannnya dapat mengakomodasi variabel panjang kaki dalam (inseam). Kedua, posisi stang (handle bar) yang juga bisa diatur ketinggian dan lebarnya (baik dari bentuk maupun menggunakan ring untuk raiser)  dapat mengakomodasi variabel panjang lengan (arm length) dan juga panjang badan (torso).

Secara umum, tinggi badanlah (height) yang paling menentukan pemilihan ukuran frame (ST-CT).

Tabel Rasio

Walaupun dalam satu tipe, frame sepeda gunung original (bukan palsu/generic) pasti/biasanya memiliki ukuran frame yang bermacam-macam, disesuaikan dengan tinggi tubuh. Berikut adalah tabel yang umum digunakan untuk menghitung ukuran frame yang tepat berdasar tinggi tubuh.

PENTING! Sebelum melakukan pengukuran, pastikan dulu variable apa yang digunakan oleh manufaktur/merek sepeda yang anda pilih. Apakah ST-CC atau ST-CT!!

Sumber : “Mountain Bike Sizing and Fit“.

Konversi
1 inch = 2,54 cm
1 centimeter = 0.394 inch

Tabel Rasio Lengkap

Bila anda seorang yang perfeksionis, atau anda sedang akan membeli frame sepeda gunung dengan harga puluhan juta. Tabel yang mengakomodasi variabel yang lebih lengkap berikut ini mungkin dapat menjadi panduan. Tabelnya saya dapatkan dari www.ebicycles.com. Untuk mempermudah, sudah saya siapkan file PDFnya (khusus hanya sepeda gunung dewasa) yang saya ambil dari direktori situs ebicycles.

Pada beberapa sepeda, biasanya ada penyederhanaan tabel matriks. Bila mendapatkan pencantuman ukuran seperti di bawah ini, sebaiknya kita cari tahu juga cara pengukuran yang digunakan. Apakah menggunakan ST-CT atau ST-CC?

Sudah tahu dan yakin dalam memilih ukuran frame sepeda? selamat berburu dan belanja!

Cianten, Lebih Baik (Seru) Dari Rindu Alam

cianten, speedy Beberapa kali membaca dan mendengar ulasan (revie) mengenai Jalur Offroad Cianten yang berada di sisi barat Kota Bogor membuat saya sangat penasaran. Sabtu 17 April 2010 kemarin, akhirnya saya sempatkan diri mencicipi jalur ini bersama Tahu Cocol Cyclist Community (THCC)dan juga Sawangan Cycling Club (SaCyc):. Walupun satu persatu teman-teman Kompas Gramedia Cyclist (KGC) berguguran tidak bisa ikut, rasa penasaran yang sangat akhirnya tetap mengantarkan saya ke PLTA Karacak, tempat kumpul/koordinasi untuk offroad kali ini. Btw, untungnya, sabtu itu tetap ada teman dari KGC yang bisa ikut, ada Martin dan Kang USH tentunya.

PLTA Karacak

cianten, plta karacak Cianten tidak (belum) seterkenal Rindu Alam atau Telaga Warna yang meruapakan bagian dari kawasan wisata puncak yang terkenal. Untuk mencapai titik kumpul di PLTA Karacak, bila dari arah Bogor, Sentul atau Cibinong arahkan kendaraan anda ke kawasan Dramaga (kampus IPB), lanjutkan perjalanan kearah Barat ke Leuwiliang. Beberapa meter sebelum  Terminal Leuwiliang, belok kiri ke arah PLTA Karacak melalui Jl.Raya Desa Karacak. Penanda setelah belok kiri adalah lapangan Bola di sebelah kiri dan Puskesmas/RSUD di sebelah kanan.

Sesampainya di PLTA Karacak, kendaraan bisa di parkir di dalam kantor PLTA atau di seberangnya, dideretan warung makan, dekat dengan pipa air. Saya pribadi lebih suka parkir di dalam PLTA saja karena ada parkirannya dan petugas keamanan yang menjaga.

cianten, make ready Perjalanan offroad kali ini dimulai dengan menyewa angkutan kota (angkot) untuk mengakut sepeda dan orang-orangnya menuju kebun teh. Menuju tempat start di kebun teh. Perjalanan dengan angkot ini memakan waktu 1,5 jam, waktu yang cukup lama untuk ukuran jarak tempuh dengan kendaraan roda empat. Jalur yang dilalui memang jauh (20 km an), menanjak dan walaupun jalannya dari aspal tetapi rusak. Lumayan menyiksa pantat. Jalur offroadnya sendiri akan berakhir di PLTA tempat menaruh mobil tadi.

Kebun Teh (Tea Plantation)

Sesampainya di kebun teh, para goweser offroad yang sudah mengalami ‘kram pantat’ langsung menyiapkan sepeda. Beberapa warung menghiasi tempat start awal gowes offroad ini. Pemandangan indah hamparan kebun teh pun sudah nampak di depan mata. Bagi para goweser yang belum sempat sarapan ataupun merasa persiadaan air dan makanan kecilnya kurang, bisa memanfaatkan keberadaan warung di tempat ini.

cianten, tea plantation Setelah menyiapkan, memeriksa sepeda dan berdoa. Kami pun mulai mengayuh dan bergulir dijalan aspal rusak yang menanjak landai, ditemani dengan hamparan kebun teh yang menghijau. Dinginnya ketinggian dan panas terik matahari mejadi teman awal acara offroad kali ini. Tidak beberapa lama kemudian jalur diarahkan memasuki jalan tanah membelah areal kebun teh, ranting-ranting kering berhamparan di sepanjang jalan. Kali ini saya dan beberapa rombongan lain harus tetap konsentrasi mengikuti road captain, bagi saya ini adalah offroad perdana di cianten begitupun dengan banyak goweser lainya.

Beberapa saat sebelumnya (di angkot), Pak Yani dari THCC menjelaskan bahwa jalur offroad sepeda Cianten ini ditemukan oleh Komunitas Sepeda Sawangan (SaCyc). Btw,  jumlah peserta gowes offroad kali sangat banyak , KGC, Wartawan Foto, THCC dan juga Rosela yang menggunakan Truk 6 ban hanya untuk membawa sepeda saja. Teman-teman dari SaCyc tampaknya juga hadir dengan personel yang cukup banyak untuk menemani rombongan yang baru pertamakali merasakan jalur Cianten.

cianten, tea plantation Hamparan kebun teh di Jalur Cianten lumayan  mirip dengan di Rindu Alam, perbedaannya hanya terletak pada pemandangan yang terbuka dan luas serta yang lebih penting semuanya jalurnya bisa dilalui sepeda dengan nyaman. Perbedaan lainnya, walaupun Jalur Cianten ini didominiasi oleh turunan seperti di Rindu Alam, tetapi trek kebun teh tetap menyuguhkan tanjakan ringan yang bisa membuat badan menjadi berkeringat. Jalur di kebun teh memiliki banyak cabang, bagi para goweser baru ada baiknya tetap memperhatikan pimpinan rombongan offroad agar tidak tersesat.

cianten, tea plantation Selain jalur tanah, area kebun teh juga menyuguhkan jalur aspal  melewati bangunan yang sepertinya pabrik pengolahan teh. Sebaiknya jangan mengayuh dengan cepat pada stage ini, dinikmati saja. Rumah penduduk yang bersebaran sepanjang jalur juga menghadirkan suasana Cross Country yang kental, pemandangan yang tidak kita dapatkan di Rindu Alam.

Sumber Panas Bumi Chevron

cianten, near chevron's earth thermal Setelah melahap sedikit tanjakan aspal , belok kiri, akhirnya sampai ke instalasi sumber panas bumi yang dikelola oleh Chevron. Letak instalasi ini berada di salah satu puncak bukit. Di dekat/sebelum instalasi tersebut terdapat saung yang bisa digunakan untuk beristirahat, saat kami lewat saungnya sudah penuh oleh rombongan wartawan foto yang berangkat lebih awal. Kami tiba di tempat ini tepat tengah hari, tepat ketika terik sinar matahari memancarkan sinarnya yang  menyengat tepat diatas kepala kami, benar-benar panas. Ditambah jalur yang dilalui adalah jalan beton semen yang biasa dilalui mobil, panas yang memantul dari beton semen terasa sampai ke wajah. Pffff……..

cianten, earth thermal Pemandangan indah di posisi instalasi panas bumi Chevron mengalahkan rasa panas yang menyengat. Teman-teman KGC, THCC dan Sacyc yang bersama saya  sangat menikmati pemandangan alam yang disuguhkan. Ketika beristirahat di sebuah saung setelah instalasi , di saat kami tertawa bercanda gembira. Martin berujar dengan wajah ‘sumringah’ ,” Bener-bener nggak nyesel gue kesini, jalurnya keren banget.” Di kejauhan kami dapat menyaksikan uap panas bumi yang menyembur ke udara.

cianten, near chevron's earth thermal Setelah mencapai instalasi panas bumi Chevron, jalur yang dilalui adalah turunan di jalur beton semen, tidak semuanya turunan sih. Ada beberapa tanjakan yang lumayan menguras tenaga yang harus kami taklukkan. Menanjak di atas semen panas siang hari , cukup menyiksa dan menguras persediaan air minum. Di titik ini saya khawatir menghabiskan air minum terlalu banyak, khawatir tidak cukup. Untungnya salah satu teman dari SaCyc menginformasikan bila ada warung di kampung berikutnya.

Tebing Bukit

cianten, down and up Stage panas bumi Chevron diakhiri dengan melewati instalasi chevron yang menjalankan mesin-mesin diesel di atas sebuah bukit. Kami mengambil jalur tanah tepat disebelah instalasi tersebut. Jalur tersebut tepat berada di tepi sebuah bukit. Jalurnya 100 persen tanah liat yang kering. Beruntung saat itu tidak hujan, sehingga jalurnya tidak becek. Sepertinya bila saat itu hujan bisa di pastikan ban sepeda kami akan menjadi donat.

Beberapa  saat menyusuri jalur tanah di tepi bukit, tidak lama kemudian kami disuguhi oleh jalur jembatan kayu. Kata teman dari SaCyc, jembatan dan jalur di sekitarnya merupakan hasil pengerjaan yang di sengaja. Sebelumnya jalur ini lebih sulit di lalui katanya, tidak selebar dan semulus sekarang, jembatannya pun lebih bagus. Pada suatu titik di ketinggian tebing, kami disuguhkan pemandangan yang luar biasa indah, hamparan sawah di lembah yang dilingkari oleh tebing, kalau tidak mau dibilang berlebihan, seperti di Ubud Bali. Hehehehe…

Mengenai trek Cianten ini.  komunitas SaCyc memang harus diacungi empat jempol. Selain mememukan/membuka jalur offroad baru, mereka juga secara rutin mengelolanya. Memperbaiki jalur yang sulit dilalui, mencari jalur alternatif dan juga menjalin relasi dengan penduduk lokal. Entah bagaimana detail mereka melakukannya, initinya mereka melakukannya.

Kampung, Sawah dan Sungai

cianten, to the roof top Jalur tebing bukit berakhir ketika kami mencapai sebuah dusun penduduk dengan kondisi jalur menurun. Sebuah dusun kecil diantara lembah-lembah bukit dan aliran air sungai. Sampai titip ini pun kami masih sangat menikmati perjalanan offroad. Tiada habis-habisnya kami terkagum-kagum dengan pemandangan yang di suguhkan.

cianten, the river Di ujung perjalanan melewati dusun, kami disuguhkan jembatan besi kecil yang membelah sungai bening. Ketika kami sampai, beberapa teman-teman dari Rosela sudah tampak memenuhi dasar sungai. Sepertinya tempat ini sangat cocok untuk melepas lelah. Beberapa goweser tanpa sungkan-sungkan membasahi diri dengan air sungai yang masih jernih tersebut. Di titik ini , kami dan rombongan lainnya berhenti cukup lama untuk menikmati sungai dan mengisi tenaga.

Makadam (Mc Adam) dan Jalan Raya

Selepas sungai, berikutnya kami memasuli jalur Mc Adam (baca: makadam), jalan berupa batu pecah yang diatur padat dan ditimbun dengan kerikil. Di sepanjang jalur ini dengan mudah ditemukan rumah penduduk dan warung. Khawatir kehabisan persedian air habis, daya dan beberapa teman mampir terlebih dahulu di warung membeli air mineral. Uniknya, dari tiga warung yang saya singgahi, tidak satupun warung yang menjual air mineral merek Aqu*. 😀

Bagi sepeda hardtail, jalur ini benar-benar menyiksa. Sepeda melompat lompat liar dan tidak dapat meluncur cepat, belum lagi pantat yang lumayan sakit bila harus duduk di sadel. Jalur ini hanya menjadi surga bagi sepeda-sepeda Full Suspension (fulsus). Goweser yang menggunakan sepeda tipe fulsus dapat melaju cepat di jalur ini, meninggalkan yang lain di belakang. ‘Sialnya’ jalur ini cukup panjang, sepanjang jalan umpatan ‘aduh..aduh..aduh..!!#@%$!!.‘  Keluar dari mulut para goweser hardtail.

Akhir dari jalur makadam ini adalah pertigaan jalan aspal. Di pertigaan ini ambil arah ke kanan. Sebagian besar jalur ini di dominasi turunan aspal yang meliuk-liuk yang tentunya sangat panjang dan menyenangkan. Jangan lupa mengunci (lock) suspensi depan atau belakang, karena ada beberapa tanjakan yang lumayan terjal dan panjang di beberapa titik. Beberapa goweser yang berharap sudah tidak ada tanjakan di stage ini harus gigit jari dahulu. Hehe…

Hati-hati, pada suatu titik , jalur aspal ini memiliki cabang ke arah perumahan yang harus dilalui/diambil. Beberapa anggota SaCyc dengan baik hati berhenti di pertigaan untuk mengarahkan goweser yang sedang meluncur turun dengan cepat agar masuk ke jalur tanah di sebelah kiri. Bila tetap mengambil jalur aspal (jalan raya) dipastikan kita tidak akan bisa kembali ke PLTA alias nyasar.

Jalur Air dan Extreme Downhill

cianten, water pipeSetelah mememasuki jalur tanah dan masuk ke perkampungan, akhirnya kami melalui/menyusuri jalur air buatan yang lumayan lebar. Jalan menuju jalur air bercabang di beberapa titik, bagi goweser yang belum pernah melalui jalur ini baiknya tetap mengikuti rombongan di depan. Suasana menyusuri jalur air sangat menyenangkan, tidak ada tanjakan, single track meliuk-liuk dan pohon yang rindang menjadikan jalur ini bonus tersendiri bagi goweser yang masih kesal menghadapi tanjakan di jalan aspal sebelumnya.

Jalur air ini akhirnya diakhiri dengan jembatan kayu yang menopang pipa air PLTA Karacak yang melintasi sungai. Bila ingin menyeberang dengan sepeda, perhatikan dahulu sisi di seberang jembatan. Pastikan tidak ada motor atau orang yang akan menyeberang dari arah berlawanan. Jembatan ini hanya bisa dilewati satu arah oleh sepeda atau motor.

cianten, the lake Setelah melewati jembatan, beberapa saat kemudian kami disuguhkan jalur pinggir situ/waduk kecil, sepertinya situ buatan untuk menampung sementara (buffer) air PLTA. Baru sadar hari sudah sore, cahaya matahari sore memantul indah di air waduk. Gowes di sepanjang pinggiran situ dan akhirnya sampai ke titik dimana turunan terjal sudah menanti.

cianten, get ready for extreme downhill. Turunan ini lumayan panjang dan terjal, rumput yang menyelimutinya menjadikannya cukup licin. Bila ragu-ragu baiknya jangan meluncur dengan sepeda di jalur ini, tuntun saja di anak tangga yang telah tersedia. Setelah beberapa rekan ada yang menuntun. Akhirnya saya beranikan diri untuk mencoba meluncur dengan sepeda, dengan terlebih dahulu menurunkan seatpost tentunya. Pertama menukik langsung terasa keterjalannya, kedua rem depan dan belakang harus dimainkan dengan hati-hati. Bila lepas konsentrasi sekali saja, niscaya akan terguling jatuh. Beberapa goweser yang mencoba jalur ini ada yang berhasil dan juga ada yang terjatuh dengan luka serius.

Paling tidak, di depan mata saya ada dua goweser yang terjatuh dan mendapat luka cukup serius. Satu terjatuh di tengah turunan dan terguling, satu lagi terjatuh di akhir turunan karena gagal mengantisipasi gundukan tersembunyi di akhir turunan. Goweser kedua mengalami cedera serius, tidak bisa gowes lagi karena bahunya sakit bila digerakkan.

Beruntung, titik finish sudah sangat dekat, PLTA karacak tinggal 100 meteran lagi. Teman-teman yang sudah sampai duluan di warung dan makan sup buah yang terkenal lezat itu datang menjemput menolong dengan kendaraan roda empat.

cianten - near chevron's earth thermal Sabtu itu menjadi salah satu episode offroad yang menyenangkan. Jalur offroadnya lengkap, jalan tanah, aspal, tanjakan, turunan, dan lainnya, semuanya ada. Terlebih lagi gowesnya bareng teman-teman yang menyenangkan juga. Menurut pendapat pribadi saya jalur ini lebih baik dan seru dari Rindu Alam karena variasinya kebih banyak, semua tipe jalur memiliki kontribusi yang merata, pemandangannya indah dan semua jalurnya bisa di gowes.

Enjoy!!!

Download Track Cianten (860205 downloads )

5 Hal Buruk Ketika Bersepeda Offroad

seperti biasa.., montir sepeda..

Melakukan aktifitas offroad dengan sepeda berarti membawa sepeda dan tubuh kita ke suatu titik di luar kondisi normal, kesuatu batasan tertentu yang lebih extrim! Seringkali sepeda yang digunakan melahap jalur offroad mengalami kerusakan atau malfungsi.  Entah karena sepeda terlalu diabuse , tidak digunakan sesuai peruntukan atau memang kesialan itu sedang terjadi saja. Berdasar pengalaman, berikut ini adalah beberapa (lima) hal buruk (kesialan) yang paling sering terjadi pada ‘tunggangan’ ketika offroad dan tentunya tips cara mengatasinya.

1.Ban Dalam Bocor

ban dalam bocor

Kejadian ban dalam bocor adalah yang paling sering terjadi pada aktifitas offroad.  Penyebabnya bermacam-macam, dari tertusuk benda tajam, misal serpihan kayu , terkena snake bite (kombinasi tusukan batu yang runcing dan ban kurang angin), sambungan pentil yang karatan/rusak , atau memang kondisi ban dalam yang sudah tua.

Untuk mencegahnya, bisa dengan selalu memeriksa kondisi tekanan angin pada ban, sesuaikan dengan medan yang akan dilalui. Bila akan melewati jalur yang banyak batunya (red:makadam), usahakan tekanan angin tidak terlalu keras atau lunak, dan bila melewati jalan aspal mulus usahakan tekanan angin yang agak keras/tinggi. Bagi yang menggunakan ban dalam dengan pentil yang terbuat dari besi, periksa apakah ada karat atau tidak, baiknya menggunakan pentil dari plastik.

Bila terjadi ban dalam bocor, yang bisa dilakukan adalah menggantinya dengan ban dalam cadangan. Bila beraktifitas offroad pastikan membawa paling tidak satu (1) buah ban dalam cadangan. Pastikan juga membawa tire lever (pengungkit) untuk memudahkan membuka ban luar dan tentunya pompa!.

Memambal ban adalah tindakan yang tidak direkomendasikan! Selain tingkat kegagalannya tinggi juga memakan waktu.

2.Rantai Putus

Rantai Putus

Rantai sepeda gunung untuk 9 kecepatan terdiri dari  berbagai komponen kecil. Bila tidak dirawat dengan baik, diberi pelumas atau dibersihkan dari kotoran secara rutin, akan berisiko mudah putus. Penyebab putus yang lain biasanya disebabkan oleh aktifitas maintenance yang salah (pemutusan-penyambungan yang tidak dilakukan di pin yang ditujukan untuk diputus). Pada rantai sepeda ada penanda khusus seperti pin yang berwarna beda(hitam) atau pin bermotif beda yang ditujukan sebagai titik pin yang boleh diputus. Sembarangan memutus/menyambung pin akan mengakibatkan rantai mudah lepas/putus ketika sedang digunakan.

Bila hai ini terjadi, ada beberapa pilihan tindakan yang dapat dilakukan.

  • Membuang bagian rantai yang rusak dan menyambung kembali rantai tersebut. Tindakan ini biasanya dilakukan bila kita tidak membawa spare part (sisa rantai atau chain link).  Resikonya, panjang rantai akan berkurang. Rantai yang terlalu pendek akan mengakibatkan Rear Derailleur (RD) akan tertarik extrim dan beresiko rusak.
  • Membuang bagian rantai yang rusak dan menyambung kembali dengan mata rantai dari jenis rantai yang sama. Misal rantai  9 speed harus di sambung/extend dangan rantai 9 speed. Bila membeli dan memasang rantai di toko/bengkel sepeda biasanya ada sisa rantai yang tidak terpakai. Simpanlah sisa rantai ini dan bawalah bila sedang bersepeda. Suatu saat pasti akan berguna. Cara ini akan memakan waktu dalam pengerjaan, tetapi akan menjaga panjang rantai tetap sama seperti sebelum putus.
  • Membuang bagian rantai yang rusak dan menyambungnya kembali dengan menggunakan part chain link. Part ini adalah dua sisi pin rantai terpisah yang bisa saling dikaitkan, prinsipnya seperti kancing baju. Saat ini saya paling suka dengan solusi ini, cepat, mudah dan memasangnya tidak memerlukan alat bantu (kecuali membuang bagian rantai yang rusak). Lucunya, afaik , chain link hanya diproduksi oleh SRAM. Walau begitu, tetap bisa digunakan untuk rantai Shimano.
chian tools.jpg

Ketiga tindakan tersebut di atas harus dilakukan dengan bantuan alat(tools) khusus untuk memutus/menyambung rantai chain tools. Juga biasanya ada dalam satu set rescue  tools / allen key plus set yang biasa dijual di toko-toko sepeda gunung. Berdasar pengalaman…percayalah bila hanya pake tang minjem sama tukang ojek nggak akan bisa, rantainya pasti lepas lagi.

3.Rear Derailleur (RD) Patah

broken rd

Penyebab Rear Derailleur patah (rusak) biasanya terjadi ketika gowes dalam kondisi turun dan posisi gigi belakang pada gear besar (jumlah gigi banyak). Pada kombinasi gigi seperti ini mengakibatkan RD pada posisi tertarik tegak dan jarak dengan tanah menjadi sangat dekat. Dengan kecepatan turun yang tinggi, besar kemungkinan RD akan dengan mudah menghantam benda yang menonjol di tanah, misal bongkahan batu.

Bila ini terjadi, siap-siap saja untuk beroffroad tanpa bisa mengatur/memidahkan gigi belakang, karena gigi belakang akan/harus dibuat statis. Caranya dengan melepas rantai, memutus beberapa mata rantai dan memasangnya kembali ke satu bagian gear belakang yang diinginkan. Offroad tanpa bisa mengubah gigi belakang? Apa kata dunia? Yah…daripada pulang duluan…apa mau dikata….

Untuk mencegah kejadian ini bisa dengan cara membiasakan diri melipat posisi RD pada saat jalur turun. Caranya dengan mengatur/memindahkan shifter/pilihan ke gigi kecil (misal:1) / gear dengan jumlah gigi kecil. Beberapa jeis RD saat ini ada yang memiliki bentuk pendek atau melengkung untuk meminimalkan benturan, misal Shimano Shadow.

4.Shifter atau Rem Patah/Malfungsi

Kedua item merupakan komponen sepeda yang berada di stang. Kerusakan komponen ini biasanya terjadi ketika sepeda mencium aspal/tanah,  bagian ini menghantam objek benda keras dan akhirnya rusak/patah.

Untuk mengurangi resiko shifter atau rem patah, usahakan jangan membaut terlalu kencang  ke stang. Longgarkan sedikit baut pada shifter atau rem. Tujuannya agar  ketika menghantam benda keras, keduanya bisa  bergerak  dan memiliki peluang terhindar dari patah.

Pengalaman hanya menggunakan satu rem depan saat offroad sangatlah menyiksa. Bisa dipastikan ketika hanya menggunakan satu bagian rem saja, sepeda tidak bisa berjenti dengan baik, sangat BERBAHAYA! dan juga rem mudah terbakar.

5.Ban Luar Rusak

ban sepeda.jpg

Kejadian ini sebenarnya jarang terjadi, tapi pernah dan bisa terjadi juga. Tidak seperti ban dalam bocor/rusak, bila ban luar rusak sobek bisa jadi ini adalah akhir dari acara offroad anda. Peristiwa ban sepeda offroad rusak yang jarang terjadi mengakibatkan jarangnya offroader yang membawa spare part ini. Ban dalam pasti banyak yang bawa, ban luar??? siapa yang mau bawa???

Kerusakan ban luar offroad biasanya disebabkan oleh usia ban yang sudah cukup uzur. Ban lama cenderung getas dan biasanya ada retakan, bila dipaksakan terus di medan offroad yang berbatu pastinya akan cepat rusak. Penyebab lainnya adalah kurang angin, bila ban kurang angin dan menghantam kontur batu yang tajam, niscaya ban akan beresiko rusak. Tidak hanya merusak ban dalam, ban luar juga akan terkena dampaknya.

Cara mengatasinya tentunya dengan membawa ban luar cadangan, masalahnya siapa juga yang bawa-bawa ban luar kalo lagi offroad ? 😀

Happy Offroad….

Jambore KGC, Komunitas yang Menyenangkan

kantor Wow..…sudah lama sekali tidak menulis di blog ini.  Sebenarnya sih masih nulis, tapi sementara nulis disini dulu yang paling dekat dengan pekerjaan sehari-hari. Selain intensitas menulis menurun , intensitas gowes offroad juga tidak sesering tahun-tahun sebelumya . Yeah maklum… SAP BW and CB adalah dua berkah yang bisa membuat aktifitas sepeda terlupakan sejenak.  Sampai pada bulan Maret 2010 ini ada momentum untuk mengembalikan aktifitas gowes, Ya..Jambore Sepeda KGC 2010 di Bandung.  Kesempatan ini tidak saya sia-siakan, dengan ‘persiapan yang matang ‘akhirnaya saya bisa menikmati gowes offroad dan onroad perdana 2010 di Bandung.

Di pertemuan-pertemuan persiapan acara Jambore KGC 2010 ini, ada beberapa pilihan transportasi.  Berangkat ke Bandung menggunakan kereta api merupakan rencana awal. Kata mas Agung Hartanta (AH), dengan naik kereta api bisa didapatkan suasanaya, ambience katanya. Akan tetapi mengingat kerepotan yang akan ditimbulkan dan juga resiko ketinggalan kereta, akhirnya diputuskan jambore kali ini menggunakan transportasi bus dan truk engkel untuk mengangkut sepeda.

Berangkat, Sabtu 13 Maret 2010

start kantor Baru kali ini saya mengalami acara gowes dengan  waktu keberangkatan yang on schedule , empat puluh (40++)  orang lebih pesepeda dari Kompas Gramedia berkumpul tepat jam 06:00 wib  pagi didepan Bentara Budaya, itupun dengan kondisi sepeda sudah terloading di truk…whooot….suprrise..surprise. Nampaknya semua peserta jambore tidak mau menanggung resiko ketinggalan, mungkin karena malam sebelumnya ada ‘ancaman’ bila ada yang ngaret lebih dari jam 6 pagi akan  ditinggalkan rombongan bila terlambat. Panitianya Sadis! haha…

fami ketinggalan Ada kejadian lucu ketika Bus melanjutkan perjalanan dari suatu rest area di Toll Cikampek. Beberapa saat setelah bus berangkat dari tempat peristirahatan, tiba-tiba Mas AH mendapat telepon dari Fami. Dengan Wajah panik campur bingung, Mas AH berucap ” Fami Ketinggalan…..!!”.

Ini mirip film warkop DKI.wuakakakakak…

Setelah melakukan koordinasi , akhirnya Fami bisa menyusul rombongan dengan cara menumpang salah satu bus Antar Kota Antar Popinsi (AKAP).

Tangkuban Perahu (Day 1)

start tangkuban Pada hari pertama Jambore KGC di Bandung, rombongan di bagi dua kelompok besar, offroad dan onroad. Saya tentunya mengikuti rombongan offroad, rencananya start dari Tangkuban Perahu dan berakhir di Setiabudi Kota Bandung.

Ketika jam menunjukkan pukul 11:00 wib, setelah cek sepeda dan berdoa , peserta offroad langsung memasuki jalur offroad. Beruntung cuaca saat itu cerah sehingga jumlah rombongan yang lumayan besar dapat sedikit lebih lancar melahap jalan aspal rusak dan tanah.

tangkuban single track Menurut saya, jalur offroadnya sangat menyenangkan, hampir tidak ada tanjakan yang berarti. Rute antara Tangkuban Perahu sampai dengan Lembang hanya menghadirkan satu  tanjakan terjal di sebuah desa dan beberapa tanjakan kecil ketika kami nyasar. Intinya kalo sampai nanjak berarti kami nyasar. 😀  Jalur ini hampir 100 persen…, atau kalau tidak mau dibilang terlalu optimis.., sekitar 90 persen turunan. Terdapat jalur single track di hutan pinus sebelum Jaya Giri yang menurut saya sangat asik dilalui segala jenis sepeda gunung, baik XC, AM maupu DH. Tingkat kecuramannya tidak terlalu ektrim memberi kesempatan semua sepeda meluncur dengan cepat.

makan siang Ketika jam menunjukkan pukul 13:00 wib  kami sudah sampai di Lembang. Waktu yang tepat untuk makan siang! Terus terang, masakan sundanya sangat nikmat!! Maaf, lupa nama tempat makannya, pokoknya di Lembang.  Setelah makan siang , istirahat dan melakukan obrolan yang membahas betapa nikmatnya jalur tadi,  kami kembali melanjutkan perjalanan ke arah Bandung dengan menghindari jalur aspal ( jalan utama).  Rencananya kita akan melewati Boscha dengan sedikit menanjak. Begitu janji si Road Captain (a.k.a Agus Sur), tapi apa daya rombongan yang besar membuat kami salah jalan dan akhirnya tidak melewati Boscha. Rombangan akhirnya melewati jalur aspal rusak sampai ke Kota Bandung, dan tentunya tanpa menemui tanjakan.

Sesampainya di Kota Bandung , rombongan melanjutkan perjalanan ke Jalan Progo  untuk bertemu rombongan onroad yang sudah menunggu dan kemudian gowes bersama ke penginapan.

Penginapan dan Door Prize..

penginapan ngaso Acara gowes hari pertama berakhir di penginapan, seluruh peserta baik offroad dan onroad berkumpul di penginapan sekitar pukul 17:00. Semua orang nampak ceria,   disamping offoad yang menyegarkan ternyata penginapannya pun nyaman dan menyenangkan.

Salah satu acara yang paling ditunggu-tunggu tentunya makan malan dan doorprize! Saya sebenarnya lebih menantikan menu makan malamnya. Bila menyangkut undian berhadiah, saya bukanlah orang yang memiliki keberuntungan. Tidak pernah menang doorprize utama seumur hidup…:-D

tapi, entah mengapa ada sesuatu yang berbeda pada acara malam itu. 😀

Kang Ush dan Cak Kris yang berperan sebagai MC malam itu berhasil membuat suasana menjadi guyub, semua orang tertawa ceria malam itu. Acara doorprize pun jadi tambah seru. Satu persatu peserta Jambore yang beruntung mendapatkan hadiah tersenyum gembira, tetapi pastinya kegembiraan yang ditunggu-tunggu ada pada penantian doorprize utama, Frame Polygon dan Sepeda Lipat United. Yippie….!!

Ketika undian sepeda lipat dilakukan, Kang Ush berucap...”wah kepala tiga nih….tiga.tujuh!”

doorprize sepeda lipatDuerr……. saya sempat kaget bengong tidak percaya mendengarnya. sepertinya “tiga tujuh” itu nomor undian yang saya pegang. Beberapa kali saya memperhatikan nomer di tangan saya dengan perasaan tidak percaya.Maju mendekat untuk menerima hadiahpun saya masih tidak percaya.

Bagi saya peristiwa malam itu cukup unik dan spesial, selain saya tidak pernah mendapatkan doorprize utama juga karena saya tidak begitu menyukai sepeda lipat! Pernah punya pengalaman, ketika menggunakan sepeda lipat di suatu acara fun bike saya beberapa kali hampir jatuh. Mulai saat itu saya yakin seratus persen nggak mau lagi menunggangi sepeda lipat. Pokoknya nggak deh..nggak gape naik sepeda lipat.

Ketika saya maju mendekat para MC, menerima dan menggendong sepeda lipat itu saya langsung kepikiran istri saya yang belum punya sepeda. Bapak dan anak udah punya sepeda, berikutnya menyusul sepeda untuk istri. Lengkap deh…

Terimakasih KGC….

Warung Bandrek (WarBan) (Day 2)

Warung Bandrek Pada hari kedua,  rombongan kembali dipecah dua. Satu rombongan mencoba rute Warung Bandrek (WarBan) yang menanjak , satunya lagi rute dalam Kota Bandung. Malam sebelumnya saya dan Alfa sudah berencana dan mengabarkan teman-teman untuk ikut rombongan dalam kota saja. Mengingat saya sudah tidak pernah gowes tanjakan selama berminggu-minggu, “keder” juga bila harus mengambil rute menanjak. Terlebih jalur itu belum pernah saya lalui sebelumnya, nanjak di jalur yang tidak kita ketahui ujungnya adalah “neraka” (baca:hambalang).

Ketika start pagi hari, rombongan yang menuju WarBan berangkat terlebih dahulu. Ketika rombongan tersebut mulai meluncur, tiba-tiba Alfa bertanya ” Dit. gimana, masih mau ikut warban nggak ?. Mendengar kalimat itu saya pun kembali tergoda.

“Lihat dulu Fa, siapa aja yang ikut, kalo semuanya team”odong-odong”, keder juga nih, udah lama nggak sepedaan.  Kalo kita nggak kuat terus naik angkot kan malu juga.” ujarku penuh ragu dan cemas.

Odong-odong identik untuk sebutan bagi para goweser kgc yang “sangat cinta” akan jalan nanjak.

Setelah berapa detik mengamati rombangan yang akan gowes ke WarBan…. “Tuh kan nggak semuanya odong-odong, yukkk….”, ujar Alfa. Tanpa ragu lagi,  kami berdua langsung menjadi  goweser terakhir yang mengikuti rombongan ke arah Warban.

Setelah beberapa menit menggowes sepeda, sudah terbayang jalur yang akan kami lalui.  Menanjak..dan menanjak…dan menanjak…dan menanjak. Tidak beberapa lama bayangan itupun menjadi kenyataan, selama perjalanan ke WarBan saya selalu di posisi buncit. Bukan karena saya bertugas sebagai sweeper, lebih karena nggak kuat untuk mengimbangi pace teman-teman lain. Btw, seharusnya yang menjadi sweeper itu Kang Ush, tapi berkat latihan rutin di “pelatnas KGC”, tenaganya sudah naik berlipat, maunya gowes didepan melulu..hahaha..

Berada di barisan paling belakang memiliki konsekuensi dan cerita tersendiri, sudah pasti jadi mekanik plus motivator! Mengganti ban yang bocor, memperbaiki rantai yang putus dengan chain link dan menyemangati teman yang hampir menyerah menjadi warna tersendiri selama perjalanan nanjak ke WarBan.

“Ayo Gazur..tanjakannya bentar lagi, kalo nggak kuat didorong aja….” ujarku penuh semangat, padahal nggak tau juga selesainya kapan dan dimana..wuehehe…

Sekitar jam 10 pagi kami semua telah tiba di Warung Bandrek yang terkenal itu. Minum Bandrek hangat di cuaca dingin dengan kondisi badan lelah bercucuran keringat terasa nikmat sekali. Untuk beberapa saat , seperti biasanya kami ngobrol dan tertawa bersama. Bagi saya, perjalanan ke WarBan cukup bikin sengsara. Otot kaki yang lama sudah tidak gowes terasa ketarik semua. Sakit..ya ini persis sakit ketika pertama kali naik sepeda ke Hambalang, bedanya nggak sampe mau muntah aja.

Gedung Merdeka

Gedung Merdeka Kami tidak bisa berlama-lama di WarBan, teman-teman yang gowes di dalam kota sudah menunggu di Gedung Merdeka untuk foto bersama. Sudut pengambilan yang sempit membuat para fotografer harus menantang maut berdiri di tengah jalan diantara  derasnya arus lalulintas mobil agar mendapatkan gambar yang maksimal. “Satu..dua..tiiiiiiga….klik..klik..klik..” teriak para penantang maut beserta kameranya.

Packing Pulang.

loading Setelah berfoto bersama, kami pun meluncur menuju kantor Kompas Gramedia Bandung di Jalan Riau. Selagi mayoritas teman-teman mandi membersihkan diri dan makan siang, beberapa teman mencoba packing/loading sepeda kedalam truk engkel.

“Wah ini mesti Fami nih, bakalan nggak muat” ujarku ke mas AH. “Tenang Dit ilmunya sudah diturunkan” ujar mas AH. Tetap saja saya tidak yakin.

Benar saja, setelah beberapa saat, truk sudah penuh dengan sepeda sedangkan masih banyak sepeda yang belum terangkut. Beberapa teman yang duduk menyaksikan loading tersebut hanya tersenyum dan tertawa kecil.

“Wah ini mesti Fami nih yang ngerjain” ujar salah satu teman. Sebagai informasi, Fami adalah teman goweser di KGC yang mampu memampatkan tiga frame sepeda gunung ke bagasi toyota corolla twincam, suatu rekor yang sulit dikalahkan untuk urusan packing sepeda. Benar saja, setelah Famu menuntaskan makan siangnya ia langsung bergegas merepacking (kalo tidak mau bilang bongkar ulang) susunan sepeda didalam truk.

Hasilnya semua sepeda bisa masuk dengan mudah dan masih menyisakan ruang kosong..wuakakakakakak..

Menyuci Sepeda Selesai….., teman-teman goweser KGC pulang ke Jakarta dengan perasaan gembira, apalagi saya. Sesampainya di rumah seperti biasanya, nyuci sepeda. Kali ini ada yang berbeda karena CB juga udah bisa  bantuin nyuci.  Selain itu jumlah sepedanya sama dengan penghuni rumah. Si sepeda lipat tentunya untuk sang istri. Terimakasih KGC, benar-benar menyenangkan.

Note: Foto diambil dari jepretan kamera saku teman di facebook.

Silahkan mengunduh Jalurnya disini [Download not found] untuk perangkat GPS anda

Menemukan Komunitas Bersepeda

komutas kgc

Bersepeda sendirian, tentu kalah asik dan kalah seru dibanding bersepeda bersama komunitas atau klub. Setelah memiliki sepeda (sepeda gunung) sebaiknya langsung berkenalan dengan para goweser lainnya. Interaksi dengan para pengayuh sepeda memiliki banyak manfaat positif. Selain menambah kenalan baru, juga pastinya menambah pengetahuan mengenai teknis sepeda bila ada kerusakan atau ingin upgrade. Terpenting, dengan bergabung di komunitas, jadwal offroad makin bertambah… 🙂

Bagaimana Menemukan Komunitas Bersepeda… ?

1.kantor

komutas kgc dan sasyc

Setelah keluarga, teman kantor bisa jadi menempati urutan ke 2 tempat dimana anda menghabiskan sisa hidup anda. Berdasar pengalaman sampai saat ini, teman kantor adalah teman gowes terbaik. Beruntung saya bekerja di perusahaan media yang memiliki ragam unit usaha dan produk. Teman gowes tersebar dari kantor di gajahmada, palmerah dan jalan panjang. Dari manajer, awak redaksi sampai Office Boy.

2.Tetangga / Komplek Perumahan

Bila anda bekerja di lingkungan kantor yang kecil atau anda seorang wiraswastawan/i, bisa jadi cukup sulit untuk menemukan teman bersepeda. Untuk mengatasainya, mulailah mencari teman gowes di komplek perumahan anda, perhatikan saja tiap pagi siapa saja yang bike2work atau pada hari sabtu atau minggu pergi offroad. Bergabunglah dengan milis kompleks perumahan anda, atau ikut rapat/acara RT, biasanya ketemu satu atau dua orang yang hobi sepeda. Menariknya setelah saya kumpul di acara RT, hobi paling banyak masih di pegang oleh olahraga bulutangkis!

3.Milis

Salah satu cara yang paling mudah untuk mencari teman bersepeda adalah milis. paling tidakada dua milis dengan topik sepeda yang sangat aktif. milis b2w dan milis mtb-indonesia. Milis-milis sepeda lainnya biasanya merupakan milis klub/komunitas yang mengacu ke area tertentu (depok,bekasi,sawangan, dll).

4.Website

Salah satu website komunitas sepeda yang menurut saya bisa menjadi acuan adalah www.sepedaku.com. Website komunitas ini sangat lengkap, apapun yang anda pikirkan mengenai sepeda gunung, baik mengenai sepedanya ataupun aktifitasnya ada di sub menu forum ini.

5.Blog

Beberapa cerita pengalaman bersepeda gunung bersebaran di blog. Baik itu layanan blog gratis seperti multiply, wordpress atau layanan blog berbayar. Cari saja dengan paman google dengan keyword “sepeda gunung” atau “sepeda rindu alam”. Berkunjunglah ke salah satu blog, bertanyalah mengenai apapun di bagian komentar, biasanya si pemilik blog akan merespon anda.

Selamat Bersepeda..

Fox 32 F-Series R terpasang, Selesai Sudah…

Fork - fox 32 R Akhirnya…, Setelah menunggu 1 tahun, suspensi depan (Fork) yang saya idamkan terbeli sudah, Yes!!! Its Fox 32 F series R (air) . Pemasangan komponen ini di Frame Merida TFS 900 XC menutup program upgrade sepeda selama 2 tahun :-0 , well …. setidaknya untuk beberapa tahun kedepan. Bagi saya, suspensi depan sepeda gunung merupakan item yang paling menguras kantong (mahal), bahkan bila dibanding frame original Merida sekalipun.

Awalnya, incaran saya adalah Fork RockShox Recon 2008, RockShox Revelation 2008 atau Manitou R7.

Recon 2008 sulit dicari, Revelation 2008 sudah berganti dengan versi 2009 yang sangat mahal.. (5,7 juta dude), mahal gile bo. Manitou juga mahal banget, 5,8 juta.. akhirnya pilihan berganti ke si rubah biru (Fork Fox 32 F series R air) yang dicomot dari Sepeda GIANT Trance. Terimakasih untuk Oki Bike di Cibinong…

Harganya yang sebanding dengan sebuah SmartPhone memaksa saya untuk berhemat ekstra keras dan mencangkul sawah lebih hebat  :-). Penantian satu tahun J…

my merida Hampir 2 tahun , akhirnya sepeda gunung idaman saya selesai dibangun. Terimakasih untuk Istriku yang ‘merelakan’ pembelanjaan nominal uang yang tidak kecil  dan teman-teman di KGC(terutama dodi, abi dan fami) yang selalu memberi saran dan petunjuk pembelian komponen.. Here’s the spec..

  • Frame  : Merida Matts TFS 900 (2008)
  • Fork : Fox 32 F series R Air  (disassemble from GIANT Trance)
  • Crank  : Shimano Deore XT (2008)
  • Front Derailleur : Shimano Deore
  • Rear Derailleur  : Shimano Deore XT (2008)
  • Cassette : Shimano Deoare XT (2008)
  • Shifter : Shimano Deore XT (2008)
  • Chain : Shimano HG 93
  • Headset : FSA integrated sealed bearings
  • Stem : Uno
  • Handlebar : Borla
  • Brake: Hayes Nine  (hydro)
  • Rotor : Hayes 8 inch
  • Hub : Novatec (2 bearings)
  • Free Hub : Novatec (2 bearings)
  • Rim: Alexrims SX 44
  • Spoke : Aluminum
  • Tires : Maxxis AdVantage
  • Pedal : Shimano Cleat
  • Chain Guard : Velo
  • Seat post : Kalloy
  • Saddle : Velo

Cijambe, Offroad terakhir.

mighty nining

Menurut kamu apa hal yang paling menyedihkan bagi sebuah Band Musik ? pastinya kehilangan personel. Entah karena sang personel berhenti, pindah ke band lain atau menjalani karir solo.

Mirip dengan aktifitas sepeda gunung di band (baca:komunitas) KOMPAS Gramedia Cyclist (KGC). Salah seorang perempuan goweser yang sangat aktif offroad di akhir minggu juga akan meninggalkan KGC. Tidak tanggung-tanggung ia akan pindah ke Jepang menemani sang suami. Padahal ia baru saja merakit sepeda baru..;-)

Nining, adalah salah satu perempuan di KGC yang doyan banget offroad dan selalu memposting kisah offroadnya di mutiply. Offroad bareng Nining bisa sangat menyenangkan, segala urusan administrasi yang berbau duit dengan senang hati ia urus…hehehe….

Walaupun memiliki tubuh mungil, powernya tidak kalah dengan kaum lelaki. Dari pengamatan, tenaga si nining selalu bertambah pada tiap sesi offroad. xixixixi…..

Ofrroad hari sabtu (11 oktober 2008) kemarin di cijambe merupakan offroad terakhir bersama Nining sebelum ia berangkat ke Jepang. Walaupun trek offroadnya menyebalkan karena terlalu panjang, telat makan dan banyak ttbnya (btw trims buat teman2 di sacyc), paling tidak banyak teman-teman dari KGC yang turut serta (Agung H,Agus,Cak Kris,Lannue,Fami,Abi,Dodi,Whisnu,Alfa,Mas Pur dan Kang Ush yang baru bergabung).

Sori ya Ning, gue langsung pulang, soalnya tanggal 11 oktober itu kebetulan hari ulang tahun istri. (padahal tepar kena migren telat makan ..hehe)

Selamat menempuh hidup baru mbak Nining….Semoga sukses selalu

Related Link:

  1. Last Offroad, Cijambe 11 Oktober 2008
  2. Cijambe, Offroad Terakhir Nining, 11 Oktober 2008
  3. Cijambe babak belur