KGCyclist.org Terlahir Kembali (Reborn)

“Dit, situs KGC diaktifkan kembali dong, sayang nih ada event BaliBike dan Komodo“, begitulah kira-kira permintaan  salah satu teman gowes di sebuah posting jejaring sosial.
kgcyclist.orgBeberapa tahun lalu, komunitas pengayuh sepeda (goweser) Kompas Gramedia sudah memiliki situs di KGCyclist.Com. Pada saat itu , sudah banyak sekali blog post dan image set (gallery) yang diunggah teman-teman Kompas Gramedia Cyclist (KGC). Setiap ada event sepeda yang diadakan oleh kantor ataupun cerita gowes bareng, seringkali teman-teman di KGC menuliskannya di situs (blog) tersebut.

Sayangnya, hosting BlueHost tempat KGCyclist.Com bersemayam mendapatkan serangan dan menyebabkan kerusakan (hilangnya) semua konten KGCyclist. Serangan ke server BlueHost saat itu sangat hebat, sehinggan banyak sekali situs yang hancur lebur tak berbekas, tidak hanya situs KGC, blog pribadi teman-teman juga banyak yang luluh lantah dan tidak berbekas lagi.

Saat ini, situs komunitas sudah diaktifkan kembali dengan penanganan yang lebih baik. Dikarenakan penggunaan domain .Com belum memungkinkan, akhirnya kami putuskan untuk menggunakan domain baru, KGCyclist.Org.

Penanganan lebih baik artinya selain menggunakan hosting paket Unlimited di Hostgator, konten situs yang baru ini juga dibackup secara berkala. Satu kelalaian ‘kecil’ situs KGCyclist sebelumnya yaitu tidak adanya backup konten berkala.

Selamat terlahir kembali KGCyclist.Org!

Miopi, Kenapa Saya Berhenti MTB

Sad manMelakukan aktivitas sepeda gunung (mtb) di jalan raya dan offroad telah membawa saya sampai pada tahap memiliki banyak teman bersepeda di kantor.

Tahun 2011, saya memutuskan untuk mundur dari dunia sepeda gunung dan 2012 ini saya berani mengakui bila hobi saya yang satu ini sudah tamat.

Pertanyaan pentingnya adalah mengapa berhenti ?

Saya mencintai hobi ini hampir sama dengan saya mencintai keluarga saya, butuh waktu bertahun-tahun untuk membangun sepeda gunung impian, menulis artikel di blog dan sudah begitu banyak jalur sepeda yang saya nikmati bersama rekan kantor.

Berawal pada tahun 2011, saya memiliki masalah dengan mata minus saya, istilah medisnya miopi atau sering juga disebut dengan rabun jauh. Saya menderita rabun jauh semenjak kelas 3 SD dan harus menggunakan kacamata minus untuk kegiatan sehari-hari.

Awalnya biasa saja, sampai pada tahun lalu, kombinasi lensa untuk mata kiri dan kanan membuat saya tidak nyaman (pusing) terus menerus, hal ini tidak pernah terjadi sebelumnya.

Biasanya, tiap habis dari dokter mata dan menerima resep mata minus baru, entah minusnya terkoreksi naik atau turun, saya hanya membutuhkan satu hari untuk penyesuaian dan penglihatan saya sudah bisa beradaptasi dengan kacamata baru.

Kali ini ternyata lain cerita, karena perbedaan  minus yang tinggi antara mata kiri dan kanan (lebih dari 3 dioptri), mengakibatkan (baca:akhirnya) saya membutuhkan pengaturan khusus agar perbedaannya bisa kurang dari 3 dioptri (walaupun harusnya 3 dioptri atau lebih).

Mengapa membutuhkan pengaturan khusus ? Mata manusia pada umumnya tidak akan ‘sanggup’ untuk mengakomodasi penggunaan lensa dengan perbedaan dioptri diatas tiga (3), pasti akan pusing dan mual. Hanya 1 dari 1000 orang yang bisa mengakomodasi perbedaan kekuatan dioptri lebih dari tiga.

Apa hubungannya dengan aktivitas sepeda gunung (mtb) ?

Sebenarnya sih nggak ada! Lho..? Maksudnya bukan perbedaan ekstrim nilai minus mata kiri dan kanan yang membuat saya mundur dari aktivitas sepeda gunung, tetapi lebih pada tingginya angka minus mata saya.

Saya membutuhkan tiga kali percobaan pengaturan nilai minus dengan tiga dokter mata yang berbeda sampai pada akhirnya saya mendapatkan kombinasi yang ‘tepat’, dan itu terjadi pada saat berkunjung kedokter terakhir (ketiga), dua dokter sebelumnya gagal! Menurut pencermatan saya, kegagalan dua dokter sebelumnya karena mereka hanya mengandalkan pemerikasaan alat dan test baca biasa.

Ternyata ada hal positif (keuntungan) dari pertemuan dengan tiga dokter berbeda tersebut, ketiganya menyarankan saya untuk  tidak lagi melakukan olahraga berat.

Apa hubungannya mata miopi (minus) tinggi dengan aktivitas (olahraga) berat ?

Menurut para dokter senior tersebut , mata minus lima (5) keatas artinya bola mata membesar 1 mm. Mata minus tujuh (7) seperti saya, artinya bola mata membesar 2 mm.

Pembesaran bola mata mengakibatkan kecenderungan retina untuk lepas dari dinding bola mata  menjadi sangat besar. Hal ini karena lapisan retina akan mengalami penipisan seiring dengan area yang makin besar. Dalam dunia medis, lepasnnya retina disebut dengan Retina Detachment.

Lepasnya retina sendiri sebenarnya sudah bisa diobati dengan operasi yang sayangnya sangat mahal dan juga pastinya memiliki tingkat kegagalan. Seorang dokter senior yang akhirnya menemukan pengaturan kacamata yang tepat untuk saya, Dokter Lembah RedatiRS Aini mengeluarkan statement yang cukup ‘menakutkan’

“Mau , retina kamu lepas ?” ujarnya dengan keras.

“Operasinya mahal loh, sayang mata kamu. Mulai sekarang jangan melakukan olahraga berat dan yang ada gerakan melompatnya!” sambungnya.

“Seharusnya sejak minus lima, kamu sudah tidak boleh melakukan aktivitas berat.” ujarnya menutup vonis.

Pada awalnya hal ini benar-benar membuat saya ‘drop‘, tetapi tidak lama, terima saja, toh saya masih bisa gowes santai di jalan raya-komplek yang bebas dari tanjakan dan turunan curam.

Kenapa Sepeda Fixie Berbahaya ?

Bertahun-tahun menggeluti  dunia sepeda gunung (sampai pada akhirnya pensiun), rem sepeda adalah komponen keselamatan yang paling penting.

Bersepeda di daerah pegunungan maupun jalan raya, rem sepeda adalah perangkat yang harus berfungsi dengan baik depan-belakang, salah satu rusak lebih baik saya tidak bersepeda sama sekali.

Di jalan raya sama saja, bila rem gagal berfungsi siap-siap saja mengalami kecelakaan fatal.

Sepeda bisa sama kencangnya dengan mobil dan motor, memiliki rem yang baik merupakan hal yang wajib.

Saking pentingnya komponen ini, hampir semua sepeda gunung yang digunakan offroad pasti menggunakan rem cakram.

Melihat trend sepeda fixie saat ini, agak miris juga melihatnya. Saya tidak begitu tahu apakah karena faktor tampilan atau memang harus minimalis, sebagain besar sepeda fixie di jalan raya Jakarta tidak memiliki perangkat pengereman yang layak.

Memang, nama fixie diambil dari fix yang artinya bearing gear roda belakang bisa bergerak maju-mundur. Bila mahir, sepeda fixie bisa dikayuh mundur.

Apabila karena faktor ‘bisa mundur’ ini alasan bisa mengabaikan rem tangan…, saya pikir ini kurang tepat.

Menggunakan sepeda fixie dengan kecepatan rendah pun akan sulit berhenti bila hanya mengandalkan pedal yang bisa ditahan untuk mundur.

Oh iya fixie ini berbeda dengan sistem ‘torpedo’ ya, kalo torpedo kan murni hanya untuk rem, nah.. kalo fixie gearnya bisa mundur bila pedalnya dikayuh mundur.

Saran untuk para pengguna sepeda fixie.. ‘pasang rem tangan please……’ demi keselamatan kalian dan pengguna jalan lain

Goweslah dengan Rendah Hati

15-speed monkDi masa jarang gowes seperti sekarang ini, ternyata beberapa orang yang saya temui seringkali masih mengenali saya sebagai salah satu pemilik blog yang mengulas tentang sepeda. Hemm, saya berterimakasih atas atensinya .. wkkk. 🙂

Mungkin karena jarang gowes itu saya malah bisa sedikit melakukan kontenplasi suitt..suitt… :-”  Saat saya ingat , seringkali saya merasa tidak nyaman  bertemu dengan kenalan baru yang punya aktivitas bersepeda dan langsung menggunakan topik bersepeda gunung sebagai bahan pembicaraan saat itu.

Beberapa kali saya coba renungkan , ternyata saya merasa tidak nyaman ketika ada seseorang yang memulai pembicaraan mengenai aktivitas sepeda yang didahului dengan membanggakan (baca:menyombongkan)  ‘prestasi’nya menaklukkan tanjakan curam nan panjang.

Ini cukup menggelikan, sebagian besar pembicaraan pasti mengenai rute menanjak!

Saya rasa orang-orang tersebut salah dalam memulai pembicaraan, hehehe… pertama, saya pribadi nggak begitu mahir melahap tanjakan, kedua saya tidak begitu suka orang tak dikenal (baru dikenal) meyombongkan dirinya sedemikian rupa.  Dan kemungkinan besar , hal ini dirasakan juga oleh goweser lainnya.

Tidak jarang, pada saat ngobrol tersebut , terdapat rekan lain yang belum tertarik bersepeda atau sebenarnya tertarik tetapi belum begitu tahu cara memulainya. Saya tahu, dari beberapa kali kejadian, dari ekspresi rekan lain tersebut juga menunjukkan rasa ‘malas’ dan kemungkinan besar malah menciutkan tekadnya untuk bersepeda.

Jadi, untuk para goweser , walapun segala tindakan kita biasanya berasal dari alam bawah sadar, tetaplah berusaha untuk rendah hati , racunilah orang lain untuk bersepeda dengan cerita yang tidak self sentris. 🙂  Berceritalah mengenai komunitasnya, kebersamaannya atau betapa indahnya pemandangan yang bisa didapatkan.

Happy Gowes…

GoPro (Kamera MTB)

Walau sudah lama tidak offroad dengan sepeda gunung (lagi mode hibernasi..), saya masih sempatkan untuk kumpul bareng teman-teman gowes di kantor. Ya..ya..ya..nggak usah ditanya dulu ya kenapa belum gowes lagi.. 😛

Sekitar sebulan lalu di acara kumpul KGC, seorang rekan menunjukkan video acara Jambore di Curug Malela. Awalnya saya berpikir, ah.. masa sih bisa ngambil gambar video yang bagus ketika bersepeda offroad ? apa nggak goyang-goyang tuh gambarnya ? gimana cara megangnya ?

Kaget juga ketika video itu diputar, gambarnya jernih, getarannya tidak membuat gambar jadi pusing untuk dilihat dan posisi kamera bisa ditempatkan di berbagai tempat.

Tanya punya tanya, ternyata rekan tersebut menggunakan kamera khusus untuk aktivitas outdoor , tidak hanya untuk MTB, tapi segala macam aktivitas outdoor. Merek kameranya GoPro.

Tak berapa lama kemudian, dikarenakan kekaguman teman-teman akan kualitas video yang didapat, akhirnya seorang rekan kami (Fami) menunjukkan bermacam-macam contoh video yaang diambil dengan kamera GoPro.

Wow..videonya keren-keren! dan hari ini saya mencoba mencari dan menikmati video mtb lainnya yang dibuat oleh GoPro di Youtube dan Vimeo..

http://www.youtube.com/results?search_query=gopro+mountain+biking

http://vimeo.com/search/videos/search:gopro%20mtb/st/6cad2eff/sort:likes/format:thumbnail

GoPro memang dahsyat!! nggak bohong di situsnya ada slogan “World’s Most Versatile Camera

Fun Bike itu seharusnya ……

KOMPAS - Fun Bike 2011

Beberapa tahun belakangan ini (2011-2009) kegiatan sepeda dalam bentuk fun bike (sepeda santai) sepertinya telah menemukan momentumnya. Saya tidak menghitung ada berapa kegiatan fun bike tiap bulannya untuk di wilayah Jabotabek saja, yang jelas, paling tidak sedikitnya ada satu kegiatan untuk tiap bulannya, CMIIW. Momentum bersepeda juga bisa kita lihat dari makin maraknya iklan produk yang menggunakan sepeda (aktivitas bersepeda) sebagai salah satu komponen iklan tersebut.

Banyak perusahaan juga berlomba menciptakan event fun bike untuk memperkenalkan produk baru atau memperkuat image produk yang sudah ada.

Makin sering fun bike seharusnya membawa keuntungan bagi pihak penyelanggara dan peserta, jangan satu pihak saja yang diuntungkan dan lainnya merasa dirugikan (dimanfaaatkan). Penyelenggara punya kepeentingan menyampaikan ‘pesan’ sedangkan peserta punya kepentingan bersenang senang bersama keluarga dan bila beruntung bisa dapat door prize.

Jadi, menurut saya, untuk mendapakan iklim yang baik antara peserta, penyelenggara dan ekosistem bersepeda secara umum, fun bike itu seharusnya…

1. Menyediakan kaos (T-Shirt) atau Jersey Sepeda  yang layak

Jersey City Ward Tour

“Yaah….dapat saringan tahu…”, begitulah celetukan beberapa teman yang ikut funbike. Saringan tahu = kaos yang jelek deh pokoknya, tipis banget, sekali pake, habis itu kalo nggak jadi lap meja, saringan membuat tahu, ya dibuang saja.

Dibanding jersey sepeda, menurut saya lebih baik kaos t-shirt yang layak saja sebagai seragam peserta dan panitia, peluang bisa digunakan kemudian hari di berbagai waktu dan tempat lebih besar, sehingga logo yang disablon di kaos bisa lebih sering terlihat.

Lagipula, berdasar survey kecil-kecilan, kaos t-shirt lebih sangat diminiati dibanding jersey sepeda.

Tapi, ingat! kaos t-shirt yang layak loh…. bukan kelas ‘saringan tahu’ atau kampanye partai politik!

Dengan attribute yang layak, peserta senang, sponsor dan panitia pun girang!

2. Meneyediakan Makanan dan Minuman yang pantas (layak) untuk ganjel perut

california burger

Bersepeda, apakah itu santai, jarak pendek atau cuma beberapa menit tetaplah merupakan kegiatan yang menyita waktu, pikiran dan fisik.

Untuk mencapai kesenangan bersepeda tersebut, peserta tetaplah harus bangun pagi, menyiapkan sepeda, mengurusi anggota keluarga dan juga berkendara atau bersepeda ke tempat acara. Bayangkan bila snack yang disajikan panitia tidak sesuai harapan (bayangan) bila dibandingkan dengan uang yang dikeluarkan untuk membeli tiket/karcis. Peserta pastinya kecewa dan percayalah… kabar buruk lebih cepat menyebar …..

Panitia penyelenggara sebaiknya mencari sponsorship atau kerjasama dalam menyelenggarakan funbike, entah berupa sponsor uang atau kerjasama / barter dengan produsen produk makanan yang dapat diberikan langsung ke peserta.

3. Memiliki Rute pendek ,tidak mendaki dan tempat start-finish yang sama

Keluarga Sepeda

Namanya juga funbike, bersepeda bersenang-senang yang pastinya diikuti peserta dari segala usia dengan berbagai jenis sepeda. Sepeda roda dua, satu atau tiga pasti ikut. Jadi…pastikan rutenya pendek (bisa ditempuh segala jenis sepda), tidak ada tanjakan dan usahakan memilih rute yang memutar.., kembali lagi ke tempat asal (start).

Rute memutar ini sangat penting bagi yang membawa satu keluarga (Bapak,Ibu, Anak atau Cucu) yang pastinya membutuhkan tempat menaruh kendaraan , titik kumpul, kepastian dan rasa aman bagi anggota keluarganya.

4. Memiliki Doorprize dengan nilai premium

H. Eller Music School

Penyelenggara sebaiknya memiliki beberapa doorprize dengan nilai premium. Tidak harus yang terlalu mewah, tetapi dapat disesuaikan dengan tema acara dan cukup premium dimata peserta. Misalnya sepeda gunung kelas premium seperti GIANT Trance (sorry sebut merek) bila temanya tentang lingkungan hidup.

Pastinya, doorprize premium tersebut akan menarik minat peserta yang ditargetkan pihak penyelenggara.

Beberapa doorprise ‘kecil’ yang jumlahnya lebih banyak tentunya juga harus diadakan , karena akan sedikit mengobati kekecewaan peserta yang tidak mendapat doorprize utama dengan nilai premium tersebut.

5.Mengusung tema yang segmented dan dekat dengan kelestarian lingkungan

Pollution

Bersepeda (saat ini) adalah ‘anak kandung’ dari olahraga, kesenangan dan kesadaran lingkungan. Sepeda yang identik dengan ‘kemiskinan’ mungkin sudah tidak relevan lagi untuk saat ini, walalupun masih ada yang bersepeda karena faktor ekonomi, tetapi disengaja atau tidak media massa saat ini telah memposisikan bersepeda sebagai gaya hidup, paling tidak untuk Indonesia.

Pada akhirnya , dengan jangkauan pengunaan sepeda ke kelas menengah keatas maka sebaiknya tema acara sepeda juga dapat lebih dari hanya acara sepeda senang-senang saja. Kesadaran akan pentingnya lingkungan dapat dijadikan tema atau ‘membungkus’ tema utama  acara fun bike, dapat dipastikan selain memiliki citra positif, minat peserta juga akan tetap tinggi.

Funbike juga sebaiknya memiliki tema yang spesifik, dengan sasaran yang segmented tersebut, peserta yang ikut juga akan lebih ‘militan‘ dan sejalan dengan temanya. Sehingga sasaran penyelenggara dapat lebih fokus dan mudah dieksekusi.

6.Jangan gratis, tetapi tiket dengan harga ‘terjangkau’

rockies tickets.1.rm.031609

Walaupun penyelenggara funbike mendapatkan sponsor besar dan banyak, sehingga dari hitungan matematis tidak membutuhkan peserta membeli tiket, sebaiknya peserta tetap diharuskan untuk membeli tiket/karcis.

Dengan membeli tiket, maka kemungkinan peserta untuk tetap datang pada hari H akan tetap besar dibandingkan bila tidak membeli tiket sama sekali. Tiket/karcis dengan harga ‘wajar’ akan memberi ikatan langsung kepada peserta, selain doorprize yang menarik tentunya.

7.Memiliki panitia  penyelenggara yang  responsive dan peduli.

KOMPAS - Fun Bike 2011

Panitia penyelanggara sebaiknya memiliki perangkat lapangan yang berkualitas. Berkualitas dalam arti, proaktif dalam pelaksanaan funbike.

Membantu peserta yang sedang mengalami kesulitan seperti putus rantai, ban bocor sampai dengan mencari sanak kelurga yang hilang-terpisah dari rombongan merupakan contoh bentuk tanggung jawab yang harus dilaksanakan oleh panitia.

Dalam kegiatan bersepeda yang masal, dikenal dengan istilah Marshall (kurang tahu asal-muasal istilah ini). Marshall adalah panitia bersepeda yang ditempatkan bersama rombongan peserta yang berfungsi menjalankan tanggung jawab yang saya sebutkan sebelumnya.

Bila jumlah peserta sangat banyak, panitia hendaknya meminta ‘bantuan’ ke komunitas sepeda untuk menjadi marshall.

 Salam Gowes
note:gambar hanya ilustrasi

Trek NuRA (+ kondangan) dan TW3

Fami

Beberapa minggu lalu saya meminta secara pribadi file (berkas) GPS Trek NuRA ( Rindu Alam baru / ekstensi ) dan TW3 (Telaga Warna 3).

Sempat sekali merasakan trek NuRA ini, dan hanya Fami yang bawa GPS saat itu, sekalian saja TW3 saya bagi ke pembaca blog ini. Thanks Fa!

Dit, ini trek NuRA (+ kondangan) & TW3.

Yang NuRA diawal-awal ada yg bolak-balik, itu karena nyari kacamata yg jatuh. Jatuhnya ternyata di turunan tanah pertama setelah nanjak dulu dari mang Ade.

Trus waktu itu turunnya lewat jalur kondangan. Jalur kondangan itu ada di ngehe 1, kalo gak salah sebelum masjid belok kanan. Jalannya turunan beton, tapi abis itu nanjak. Jalan besar kok, mobil bisa lewat. Di ujung jalur kondangan masuk kebun teh lagi n nanti nyambung turunan makadam ngehe 1. Kalo dari ngehe 1 turunnya lewat jalur tanah (sebelah kiri, bukan yg kanan, yang full makadam), ketemu jalur kondangan sebelum pertigaan jalur tanah & makadam, yg ada saungnya juga.

Yang TW 3 gak bawa GPS, cuma bawa HP n lupa dinyalain. Gw nyalain setelah di tanjakan tanah terakhir di dalam hutan tw 3. Jalur masuknya sih sama kayak TW1-2. Gerbang TW yg dibawah Rindu Alam, nanjak aspal dikit trus nanjak makadam. Nanjak sampai atas, tempat biasanya kita potong jalur turun yg pendek di kebun teh. Di awal turunan potong itu ambil jalan kiri, nyusurin lereng jadinya. gak brapa jauh nanti jalannya turun ke kanan trus datar ke kiri n masuk hutan. Di hutan ikutin jalan, banyak akar & banyak drop off kecil.

Keluar hutan ambil jalan ke kanan. Di tempat keluar hutan itu ada tempat parkiran sepeda n bisa liat lapangan sepakbola & menara tegangan tinggi di kiri. Jalur kanan keluar hutan jalanannya turun terus, jalan di pinggir lereng. Di tengah turunan panjanggggggg…..hati-hati ada pipa air pralon (cuma 1 kok), jangan dilompatin, kecuali ya bisa lompat…he….he…. Nah lepas turunan bisa ambil kiri lewat lapangan bola, atao lewat makadam ke arah bumi perkemahan. Bisa juga ambil kanan/ lurus, jalan datar sebelum turun lagi meliuk-liuk ketemu makadam sedikit ketemu jalur kiri makadam (bukan lap bola) tadi.

Ketemu aspal bisa ambil kiri (turun) atau lurus (turun dikit). Kalo kiri ketemu jalan besar, Raya Puncak. Kalo lurus ketemu bumi perkemahan…. lupa namanya. Gw lewat yg buper ini.

Jalur selanjutnya terserah mo lewat mana, banyak jalannya soale udah masuk daerah perumahan Cilember dsb.

Trek GPS dan Penjelasan By Fami – KGC

Download [download#10]
Download [download#11]
Download [download#12]

My Bike to Work (B2W) Route

Berhubung aktifitas offroad sepeda tidak sesering ketika belum punya si kecil dan akhirnya mengakibatkan badan bertabah gembul (melar) lagi, akhirnya saya niatkan untuk gowes dari rumah (Cibinong, Bogor) ke kantor (Palmerah, Jakarta) , Pulang-Pergi (PP).

Seminggu sekali gowes B2W sepertinya sudah cukup, badan terasa bugar dan otot kaki lebih siap untuk offroad di akhir minggu. 1X seminggu B2W itu sudah sungguh membosankan, lebih seru bersepeda di jalur offroad dan perbukitan.

Menurut Google Maps, Cibinong-Palmerah itu 49 Km, kalau pulang pergi jadinya 98 Km….

Menentukan Ukuran Frame Sepeda Gunung

Memilih rangka (frame) merupakan salah satu langkah penting dalam membeli atau merakit sepeda gunung (Mountain Bike/ MTB ). Selain pemilihan bahan Aluminium (Al) , faktor terpenting yang harus diperhatikan dalam memilih frame adalah ukuran yang sesuai dengan tinggi badan. Pembahasan mengenai ukuran ini belum (baca:terlewat) pada tulisan sebelumnya. Banyaknya pertanyaan dari komentar yang masuk di blog ini  maupun pertanyaan ketika beberapa teman menanyakan saya secara langsung ‘mendorong’ saya membuat panduan memilih ukuran frame sepeda gunung yang tepat.

Berdasar pengalaman dan ngobrol dengan para pengguna sepeda gunung yang lebih senior dan berpengalaman, pemilihan ukuran frame sepeda yang tidak tepat akan mengakibatkan kendali (handling) yang buruk dan juga ketidaknyamanan yang bisa berakibat otot di bagian tangan, punggung dan kaki menjadi cepat letih dan pegal. Bayangan ektrimnya, orang tua  yang mengayuh sepeda anak tiga(3) tahun, ataupun anak sekolah dasar yang naik sepeda balap.

Perlu diketahui, tidak ada standart industri untuk ukuran frame sepeda gunung.  Tiap merek sepeda memiliki ‘sedikit’ perbedaan dalam cara panduan pengukuran. Setiap merek sepeda memliki spesifikasi dengan standart mereka sendiri,  sehingga sangat disarankan untuk melakukan pengecekan dulu bagaimana merek sepeda yang anda pilih mendeskripsikan ukuran sepeda, cara tercepat adalah kunjungi dealer resmi merek sepeda tersebut atau kunjungi websitenya.

Rasio Tinggi Badan (Height) Vs Ukuran Frame  (ST – CT)

Tidak ada standarisai bukan berarti kita tidak bisa melakukan perhitungan untuk mendapatkan ukuran frame sepeda gunung yang sesuai. Untuk panduan kali ini saya akan fokus dengan variabel Seat Tube – Center to Tube (ST – CT) yang lebih umum digunakan sebagai patokan. Bila ngobrol dengan pengguna sepeda gunung atau masuk ke forum sepeda seperti www.sepedaku.com. Istilah ST – CT (lafal:esti – siti), Seat Tube – Center Tube lah yang paling banyak digunakan.

Berikut adalah daftar lengkap variabel di frame sepeda gunung yang biasa dijadikan dasar perhitungan rasio:

  • Seat Tube (ST) – Center to Tube (CT) -> (ST – CT) –> paling umum digunakan
  • Seat Tube (ST) – Center to Center (CC) -> (ST – CC)
  • Top Tube (TT) – Center to Center (CC) -> (TT – CC)

Sebelum masuk ke rasio frame dan ukuran tubuh, berikut adalah empat(4) variabel tubuh manusia yang biasa digunakan dalam pengukuran. Dalam pengukuran frame MTB, yang terpenting adalah ukuran tinggi badan  (stand over height / height). Sedangkan tiga(3) lainnya, ukuran panjang kaki bagian dalam  (inseam) , ehem… tukang jahit pasti mengerti istilah ini, panjang lengan (arm length) dan panjang badan (torso) bisa ‘agak diabaikan’ dalam melakukan pengukuran pertama kali.

Berikut adalah daftar lengkap variabel di tubuh manusia yang biasa dijadikan dasar perhitungan rasio:

  • Height (stand over height) (Tinggi Badan) –> paling umum digunakan
  • ukuran panjang kaki bagian dalam  (inseam)
  • panjang lengan (arm length)
  • panjang badan (torso)

Tiga (3) variabel yang bisa ‘agak diabaikan’ tersebut karena posisi duduk (sadle) yang bisa diubah ketinggiannnya dapat mengakomodasi variabel panjang kaki dalam (inseam). Kedua, posisi stang (handle bar) yang juga bisa diatur ketinggian dan lebarnya (baik dari bentuk maupun menggunakan ring untuk raiser)  dapat mengakomodasi variabel panjang lengan (arm length) dan juga panjang badan (torso).

Secara umum, tinggi badanlah (height) yang paling menentukan pemilihan ukuran frame (ST-CT).

Tabel Rasio

Walaupun dalam satu tipe, frame sepeda gunung original (bukan palsu/generic) pasti/biasanya memiliki ukuran frame yang bermacam-macam, disesuaikan dengan tinggi tubuh. Berikut adalah tabel yang umum digunakan untuk menghitung ukuran frame yang tepat berdasar tinggi tubuh.

PENTING! Sebelum melakukan pengukuran, pastikan dulu variable apa yang digunakan oleh manufaktur/merek sepeda yang anda pilih. Apakah ST-CC atau ST-CT!!

Sumber : “Mountain Bike Sizing and Fit“.

Konversi
1 inch = 2,54 cm
1 centimeter = 0.394 inch

Tabel Rasio Lengkap

Bila anda seorang yang perfeksionis, atau anda sedang akan membeli frame sepeda gunung dengan harga puluhan juta. Tabel yang mengakomodasi variabel yang lebih lengkap berikut ini mungkin dapat menjadi panduan. Tabelnya saya dapatkan dari www.ebicycles.com. Untuk mempermudah, sudah saya siapkan file PDFnya (khusus hanya sepeda gunung dewasa) yang saya ambil dari direktori situs ebicycles.

Pada beberapa sepeda, biasanya ada penyederhanaan tabel matriks. Bila mendapatkan pencantuman ukuran seperti di bawah ini, sebaiknya kita cari tahu juga cara pengukuran yang digunakan. Apakah menggunakan ST-CT atau ST-CC?

Sudah tahu dan yakin dalam memilih ukuran frame sepeda? selamat berburu dan belanja!

Cianten, Lebih Baik (Seru) Dari Rindu Alam

cianten, speedy Beberapa kali membaca dan mendengar ulasan (revie) mengenai Jalur Offroad Cianten yang berada di sisi barat Kota Bogor membuat saya sangat penasaran. Sabtu 17 April 2010 kemarin, akhirnya saya sempatkan diri mencicipi jalur ini bersama Tahu Cocol Cyclist Community (THCC)dan juga Sawangan Cycling Club (SaCyc):. Walupun satu persatu teman-teman Kompas Gramedia Cyclist (KGC) berguguran tidak bisa ikut, rasa penasaran yang sangat akhirnya tetap mengantarkan saya ke PLTA Karacak, tempat kumpul/koordinasi untuk offroad kali ini. Btw, untungnya, sabtu itu tetap ada teman dari KGC yang bisa ikut, ada Martin dan Kang USH tentunya.

PLTA Karacak

cianten, plta karacak Cianten tidak (belum) seterkenal Rindu Alam atau Telaga Warna yang meruapakan bagian dari kawasan wisata puncak yang terkenal. Untuk mencapai titik kumpul di PLTA Karacak, bila dari arah Bogor, Sentul atau Cibinong arahkan kendaraan anda ke kawasan Dramaga (kampus IPB), lanjutkan perjalanan kearah Barat ke Leuwiliang. Beberapa meter sebelum  Terminal Leuwiliang, belok kiri ke arah PLTA Karacak melalui Jl.Raya Desa Karacak. Penanda setelah belok kiri adalah lapangan Bola di sebelah kiri dan Puskesmas/RSUD di sebelah kanan.

Sesampainya di PLTA Karacak, kendaraan bisa di parkir di dalam kantor PLTA atau di seberangnya, dideretan warung makan, dekat dengan pipa air. Saya pribadi lebih suka parkir di dalam PLTA saja karena ada parkirannya dan petugas keamanan yang menjaga.

cianten, make ready Perjalanan offroad kali ini dimulai dengan menyewa angkutan kota (angkot) untuk mengakut sepeda dan orang-orangnya menuju kebun teh. Menuju tempat start di kebun teh. Perjalanan dengan angkot ini memakan waktu 1,5 jam, waktu yang cukup lama untuk ukuran jarak tempuh dengan kendaraan roda empat. Jalur yang dilalui memang jauh (20 km an), menanjak dan walaupun jalannya dari aspal tetapi rusak. Lumayan menyiksa pantat. Jalur offroadnya sendiri akan berakhir di PLTA tempat menaruh mobil tadi.

Kebun Teh (Tea Plantation)

Sesampainya di kebun teh, para goweser offroad yang sudah mengalami ‘kram pantat’ langsung menyiapkan sepeda. Beberapa warung menghiasi tempat start awal gowes offroad ini. Pemandangan indah hamparan kebun teh pun sudah nampak di depan mata. Bagi para goweser yang belum sempat sarapan ataupun merasa persiadaan air dan makanan kecilnya kurang, bisa memanfaatkan keberadaan warung di tempat ini.

cianten, tea plantation Setelah menyiapkan, memeriksa sepeda dan berdoa. Kami pun mulai mengayuh dan bergulir dijalan aspal rusak yang menanjak landai, ditemani dengan hamparan kebun teh yang menghijau. Dinginnya ketinggian dan panas terik matahari mejadi teman awal acara offroad kali ini. Tidak beberapa lama kemudian jalur diarahkan memasuki jalan tanah membelah areal kebun teh, ranting-ranting kering berhamparan di sepanjang jalan. Kali ini saya dan beberapa rombongan lain harus tetap konsentrasi mengikuti road captain, bagi saya ini adalah offroad perdana di cianten begitupun dengan banyak goweser lainya.

Beberapa saat sebelumnya (di angkot), Pak Yani dari THCC menjelaskan bahwa jalur offroad sepeda Cianten ini ditemukan oleh Komunitas Sepeda Sawangan (SaCyc). Btw,  jumlah peserta gowes offroad kali sangat banyak , KGC, Wartawan Foto, THCC dan juga Rosela yang menggunakan Truk 6 ban hanya untuk membawa sepeda saja. Teman-teman dari SaCyc tampaknya juga hadir dengan personel yang cukup banyak untuk menemani rombongan yang baru pertamakali merasakan jalur Cianten.

cianten, tea plantation Hamparan kebun teh di Jalur Cianten lumayan  mirip dengan di Rindu Alam, perbedaannya hanya terletak pada pemandangan yang terbuka dan luas serta yang lebih penting semuanya jalurnya bisa dilalui sepeda dengan nyaman. Perbedaan lainnya, walaupun Jalur Cianten ini didominiasi oleh turunan seperti di Rindu Alam, tetapi trek kebun teh tetap menyuguhkan tanjakan ringan yang bisa membuat badan menjadi berkeringat. Jalur di kebun teh memiliki banyak cabang, bagi para goweser baru ada baiknya tetap memperhatikan pimpinan rombongan offroad agar tidak tersesat.

cianten, tea plantation Selain jalur tanah, area kebun teh juga menyuguhkan jalur aspal  melewati bangunan yang sepertinya pabrik pengolahan teh. Sebaiknya jangan mengayuh dengan cepat pada stage ini, dinikmati saja. Rumah penduduk yang bersebaran sepanjang jalur juga menghadirkan suasana Cross Country yang kental, pemandangan yang tidak kita dapatkan di Rindu Alam.

Sumber Panas Bumi Chevron

cianten, near chevron's earth thermal Setelah melahap sedikit tanjakan aspal , belok kiri, akhirnya sampai ke instalasi sumber panas bumi yang dikelola oleh Chevron. Letak instalasi ini berada di salah satu puncak bukit. Di dekat/sebelum instalasi tersebut terdapat saung yang bisa digunakan untuk beristirahat, saat kami lewat saungnya sudah penuh oleh rombongan wartawan foto yang berangkat lebih awal. Kami tiba di tempat ini tepat tengah hari, tepat ketika terik sinar matahari memancarkan sinarnya yang  menyengat tepat diatas kepala kami, benar-benar panas. Ditambah jalur yang dilalui adalah jalan beton semen yang biasa dilalui mobil, panas yang memantul dari beton semen terasa sampai ke wajah. Pffff……..

cianten, earth thermal Pemandangan indah di posisi instalasi panas bumi Chevron mengalahkan rasa panas yang menyengat. Teman-teman KGC, THCC dan Sacyc yang bersama saya  sangat menikmati pemandangan alam yang disuguhkan. Ketika beristirahat di sebuah saung setelah instalasi , di saat kami tertawa bercanda gembira. Martin berujar dengan wajah ‘sumringah’ ,” Bener-bener nggak nyesel gue kesini, jalurnya keren banget.” Di kejauhan kami dapat menyaksikan uap panas bumi yang menyembur ke udara.

cianten, near chevron's earth thermal Setelah mencapai instalasi panas bumi Chevron, jalur yang dilalui adalah turunan di jalur beton semen, tidak semuanya turunan sih. Ada beberapa tanjakan yang lumayan menguras tenaga yang harus kami taklukkan. Menanjak di atas semen panas siang hari , cukup menyiksa dan menguras persediaan air minum. Di titik ini saya khawatir menghabiskan air minum terlalu banyak, khawatir tidak cukup. Untungnya salah satu teman dari SaCyc menginformasikan bila ada warung di kampung berikutnya.

Tebing Bukit

cianten, down and up Stage panas bumi Chevron diakhiri dengan melewati instalasi chevron yang menjalankan mesin-mesin diesel di atas sebuah bukit. Kami mengambil jalur tanah tepat disebelah instalasi tersebut. Jalur tersebut tepat berada di tepi sebuah bukit. Jalurnya 100 persen tanah liat yang kering. Beruntung saat itu tidak hujan, sehingga jalurnya tidak becek. Sepertinya bila saat itu hujan bisa di pastikan ban sepeda kami akan menjadi donat.

Beberapa  saat menyusuri jalur tanah di tepi bukit, tidak lama kemudian kami disuguhi oleh jalur jembatan kayu. Kata teman dari SaCyc, jembatan dan jalur di sekitarnya merupakan hasil pengerjaan yang di sengaja. Sebelumnya jalur ini lebih sulit di lalui katanya, tidak selebar dan semulus sekarang, jembatannya pun lebih bagus. Pada suatu titik di ketinggian tebing, kami disuguhkan pemandangan yang luar biasa indah, hamparan sawah di lembah yang dilingkari oleh tebing, kalau tidak mau dibilang berlebihan, seperti di Ubud Bali. Hehehehe…

Mengenai trek Cianten ini.  komunitas SaCyc memang harus diacungi empat jempol. Selain mememukan/membuka jalur offroad baru, mereka juga secara rutin mengelolanya. Memperbaiki jalur yang sulit dilalui, mencari jalur alternatif dan juga menjalin relasi dengan penduduk lokal. Entah bagaimana detail mereka melakukannya, initinya mereka melakukannya.

Kampung, Sawah dan Sungai

cianten, to the roof top Jalur tebing bukit berakhir ketika kami mencapai sebuah dusun penduduk dengan kondisi jalur menurun. Sebuah dusun kecil diantara lembah-lembah bukit dan aliran air sungai. Sampai titip ini pun kami masih sangat menikmati perjalanan offroad. Tiada habis-habisnya kami terkagum-kagum dengan pemandangan yang di suguhkan.

cianten, the river Di ujung perjalanan melewati dusun, kami disuguhkan jembatan besi kecil yang membelah sungai bening. Ketika kami sampai, beberapa teman-teman dari Rosela sudah tampak memenuhi dasar sungai. Sepertinya tempat ini sangat cocok untuk melepas lelah. Beberapa goweser tanpa sungkan-sungkan membasahi diri dengan air sungai yang masih jernih tersebut. Di titik ini , kami dan rombongan lainnya berhenti cukup lama untuk menikmati sungai dan mengisi tenaga.

Makadam (Mc Adam) dan Jalan Raya

Selepas sungai, berikutnya kami memasuli jalur Mc Adam (baca: makadam), jalan berupa batu pecah yang diatur padat dan ditimbun dengan kerikil. Di sepanjang jalur ini dengan mudah ditemukan rumah penduduk dan warung. Khawatir kehabisan persedian air habis, daya dan beberapa teman mampir terlebih dahulu di warung membeli air mineral. Uniknya, dari tiga warung yang saya singgahi, tidak satupun warung yang menjual air mineral merek Aqu*. 😀

Bagi sepeda hardtail, jalur ini benar-benar menyiksa. Sepeda melompat lompat liar dan tidak dapat meluncur cepat, belum lagi pantat yang lumayan sakit bila harus duduk di sadel. Jalur ini hanya menjadi surga bagi sepeda-sepeda Full Suspension (fulsus). Goweser yang menggunakan sepeda tipe fulsus dapat melaju cepat di jalur ini, meninggalkan yang lain di belakang. ‘Sialnya’ jalur ini cukup panjang, sepanjang jalan umpatan ‘aduh..aduh..aduh..!!#@%$!!.‘  Keluar dari mulut para goweser hardtail.

Akhir dari jalur makadam ini adalah pertigaan jalan aspal. Di pertigaan ini ambil arah ke kanan. Sebagian besar jalur ini di dominasi turunan aspal yang meliuk-liuk yang tentunya sangat panjang dan menyenangkan. Jangan lupa mengunci (lock) suspensi depan atau belakang, karena ada beberapa tanjakan yang lumayan terjal dan panjang di beberapa titik. Beberapa goweser yang berharap sudah tidak ada tanjakan di stage ini harus gigit jari dahulu. Hehe…

Hati-hati, pada suatu titik , jalur aspal ini memiliki cabang ke arah perumahan yang harus dilalui/diambil. Beberapa anggota SaCyc dengan baik hati berhenti di pertigaan untuk mengarahkan goweser yang sedang meluncur turun dengan cepat agar masuk ke jalur tanah di sebelah kiri. Bila tetap mengambil jalur aspal (jalan raya) dipastikan kita tidak akan bisa kembali ke PLTA alias nyasar.

Jalur Air dan Extreme Downhill

cianten, water pipeSetelah mememasuki jalur tanah dan masuk ke perkampungan, akhirnya kami melalui/menyusuri jalur air buatan yang lumayan lebar. Jalan menuju jalur air bercabang di beberapa titik, bagi goweser yang belum pernah melalui jalur ini baiknya tetap mengikuti rombongan di depan. Suasana menyusuri jalur air sangat menyenangkan, tidak ada tanjakan, single track meliuk-liuk dan pohon yang rindang menjadikan jalur ini bonus tersendiri bagi goweser yang masih kesal menghadapi tanjakan di jalan aspal sebelumnya.

Jalur air ini akhirnya diakhiri dengan jembatan kayu yang menopang pipa air PLTA Karacak yang melintasi sungai. Bila ingin menyeberang dengan sepeda, perhatikan dahulu sisi di seberang jembatan. Pastikan tidak ada motor atau orang yang akan menyeberang dari arah berlawanan. Jembatan ini hanya bisa dilewati satu arah oleh sepeda atau motor.

cianten, the lake Setelah melewati jembatan, beberapa saat kemudian kami disuguhkan jalur pinggir situ/waduk kecil, sepertinya situ buatan untuk menampung sementara (buffer) air PLTA. Baru sadar hari sudah sore, cahaya matahari sore memantul indah di air waduk. Gowes di sepanjang pinggiran situ dan akhirnya sampai ke titik dimana turunan terjal sudah menanti.

cianten, get ready for extreme downhill. Turunan ini lumayan panjang dan terjal, rumput yang menyelimutinya menjadikannya cukup licin. Bila ragu-ragu baiknya jangan meluncur dengan sepeda di jalur ini, tuntun saja di anak tangga yang telah tersedia. Setelah beberapa rekan ada yang menuntun. Akhirnya saya beranikan diri untuk mencoba meluncur dengan sepeda, dengan terlebih dahulu menurunkan seatpost tentunya. Pertama menukik langsung terasa keterjalannya, kedua rem depan dan belakang harus dimainkan dengan hati-hati. Bila lepas konsentrasi sekali saja, niscaya akan terguling jatuh. Beberapa goweser yang mencoba jalur ini ada yang berhasil dan juga ada yang terjatuh dengan luka serius.

Paling tidak, di depan mata saya ada dua goweser yang terjatuh dan mendapat luka cukup serius. Satu terjatuh di tengah turunan dan terguling, satu lagi terjatuh di akhir turunan karena gagal mengantisipasi gundukan tersembunyi di akhir turunan. Goweser kedua mengalami cedera serius, tidak bisa gowes lagi karena bahunya sakit bila digerakkan.

Beruntung, titik finish sudah sangat dekat, PLTA karacak tinggal 100 meteran lagi. Teman-teman yang sudah sampai duluan di warung dan makan sup buah yang terkenal lezat itu datang menjemput menolong dengan kendaraan roda empat.

cianten - near chevron's earth thermal Sabtu itu menjadi salah satu episode offroad yang menyenangkan. Jalur offroadnya lengkap, jalan tanah, aspal, tanjakan, turunan, dan lainnya, semuanya ada. Terlebih lagi gowesnya bareng teman-teman yang menyenangkan juga. Menurut pendapat pribadi saya jalur ini lebih baik dan seru dari Rindu Alam karena variasinya kebih banyak, semua tipe jalur memiliki kontribusi yang merata, pemandangannya indah dan semua jalurnya bisa di gowes.

Enjoy!!!

Download Track Cianten (860205 downloads )