Keluar dari Korporasi, Kesadaran dan Keberanian

Pada bulan November 2019, tepat enam tahun yang lalu, saya akhirnya benar-benar melangkah keluar dari gerbang sebuah perusahaan besar yang sudah menjadi bagian hidup saya selama hampir separuh usia produktif.

Sebuah perusahaan media, anak dari kelompok korporasi raksasa yang mempekerjakan ribuan orang. Di unit tempat saya bekerja saat itu saja, ada sekitar enam ratus jiwa yang setiap hari berlari di roda besar bernama industri media.

Bagi banyak orang di sekeliling saya, keputusan itu tampak nekat, bahkan sedikit gila. Saya mengundurkan diri di tengah pandemi, ketika ketidakpastian sedang menjadi udara yang dihirup semua orang.

Dan yang paling aneh, saya belum punya tempat baru untuk bekerja.

Tidak ada janji posisi lain, tidak ada tawaran yang menunggu di meja. Hanya keyakinan kecil di dalam hati bahwa ini waktunya berhenti.

Biasanya orang keluar dari pekerjaannya karena sudah menemukan pengganti. Sudah ada jembatan yang siap dilewati. Tapi saya memilih berjalan tanpa tahu ujung jalan.

Keputusan itu mungkin tampak mendadak bagi sebagian rekan, padahal sebenarnya tidak.

Bertahun-tahun sebelumnya, saya sudah menyiapkannya dalam diam. Semua langkah sudah direncanakan, dengan sabar, dengan penuh pertimbangan yang tak banyak orang tahu.

Pandemi datang sebagai topan yang justru membuka jalan. Aturan kerja berubah, pertemuan dibatasi, semua jadi berjarak. Itu membuat saya bisa keluar tanpa harus berpamitan tatap muka, tanpa perpisahan penuh air mata di ruang rapat yang dingin.

Mungkin itu pertolongan kecil dari semesta. Karena sejujurnya, kalau harus menatap mereka satu per satu, saya tidak yakin sanggup menahan mata yang basah.

Mbrebes mili, seperti kata orang Jawa.

Sebagai seseorang yang masih suka menulis, saya tahu saya akan menuliskan cerita ini suatu hari nanti, kisah tentang keberanian yang tidak terasa heroik, tentang keputusan yang tidak diambil dalam semalam.

Hari ini, enam tahun setelahnya, saya akhirnya dapat duduk tenang menulis bagian akhir cerita ini di sebuah blog. Dengan jarak, dengan kesadaran, dan dengan rasa syukur yang perlahan-lahan menjadi bening.

Ketika Data Berkata Jujur

Saya bergabung di perusahaan itu sebagai staf peneliti bisnis. Tugas saya sederhana di atas kertas, belajar riset dari awal, membantu membuat sistem informasi berbasis data, mengamati perilaku pembaca, sirkulasi, dan distribusi koran.

Tapi di balik tugas itu ada sesuatu yang lebih besar.

Saya diberi akses pada data-data yang tidak semua orang boleh lihat. Angka penjualan, laporan oplah, tren iklan, grafik penurunan. Di antara deretan angka itu, saya melihat masa depan yang tidak seindah masa lalu.

Sebagai peneliti muda, saya tahu kenapa data itu dijaga rapat. Bukan karena rahasia dagang semata, tapi karena data punya kuasa. Ia bisa menyingkap kenyataan yang tidak semua orang siap terima.

Dan kenyataan itu adalah, industri surat kabar sedang menua.

Tahun 2004, era โ€œbig dataโ€ belum populer. Tapi kami di divisi riset sudah bereksperimen dengan apa yang sekarang disebut โ€œvector databaseโ€.

Kami membuat sistem analisis menggunakan OLAP, MDX, dan datamart kecil yang menjadi semacam mesin waktu, memperlihatkan tren yang mungkin tidak ingin dilihat siapa pun.

Sebagai orang yang mencintai data, saya tahu grafik-grafik itu bukan sekadar angka. Mereka bercerita tentang sebuah industri yang perlahan kehilangan napas.

Saya ingat satu sore ketika saya memandangi laporan sirkulasi dari Pew Research tentang industri koran di Amerika, garisnya terus turun tahun demi tahun.

Tidak butuh banyak tafsir untuk mengerti ke mana arah dunia bergerak. Kalau industri di negara maju saja menurun, bagaimana nasib media cetak di negeri yang sedang sekarat seperti Indonesia?

Tapi saya tetap bertahan, bukan karena menutup mata, melainkan karena rasa suka dan keterikatan. Karena di balik semua grafik penurunan itu, ada nilai-nilai yang membuat saya bangga, integritas, ketulusan, dan manusia-manusia yang jujur bekerja di perusahaan tersebut.

Saya tahu saya tidak sedang bertahan demi korporasi. Saya bertahan karena menghargai arti pekerjaan itu sendiri.

Ketika Surga Tidak Lagi Abadi

Bagi banyak orang, bekerja di sana adalah surga dunia. Fasilitas lengkap, tunjangan besar, pinjaman rumah bunga nol persen, dana pensiun seperti Pegawai Negeri Sipil (PNS), bonus tahunan yang membuat banyak keluarga tersenyum.

Orang-orang menyesuaikan hidup mereka dengan perusahaan, mencari rumah di sekitar kantor, menikah dengan rekan kerja, menua bersama rutinitas yang teratur.

Tapi dari ruang kecil tempat saya menganalisis data, saya tahu surga ini punya tanggal kedaluwarsa. Angka-angka tersebut tidak bisa berbohong.

Saya melihat bagaimana industri kamera film runtuh dalam sepuluh tahun semenjak lahirnya kamera digital. Kalau teknologi bisa menghapus sesuatu sekuat itu, apa yang bisa menahan kertas dan tinta?

Saya sering berbincang santai dengan teman-teman di divisi riset, memprediksi kapan โ€œtipping pointโ€ itu akan datang. Saat di mana jumlah pembaca sudah tidak lagi membuat bisnis ini masuk akal.

Kami bercanda, tapi di dalamnya ada kesedihan yang samar. Seperti melihat kapal megah yang perlahan bocor air di lambungnya.

Tipping point adalah istilah yang dipopulerkan pleh Malcolm Gladwell, bukan sekadar teori. Ia adalah kenyataan yang sedang berjalan di depan mata. Dan penolakan untuk melihat dan mengakuinya, hanya menunda rasa sakit.

Industri media cetak sedang menuju senja. Menyangkal hanya akan memperlambat proses penerimaan kenyataan.

Belajar Berdiri di Kaki Sendiri

Dari kesadaran itulah saya mulai menyiapkan diri. Saya tidak ingin hidup saya sepenuhnya ditopang oleh sesuatu yang sedang perlahan rapuh. Maka saya mulai membuat keputusan-keputusan kecil yang waktu itu mungkin terlihat aneh.

Tidak menggunakan fasilitas pinjaman rumah kantor, misalnya. Saya lebih memilih membeli rumah sendiri lewat KPR di Bank Mandiri, di tahun kedua saya bekerja. Gaji saya waktu itu hanya tiga juta rupiah, standar karyawan Management Trainee (MT) dan sepertiganya langsung terpotong untuk cicilan ke Bank Mandiri.

Tapi saya tetap maju.

Uang muka untuk pembelian rumahpun saya pinjam dari kekasih saya, yang sekarang jadi istri saya. Rasanya konyol, tapi juga indah dan juga sedikit ‘memalukan’.

Kami tahu apa yang kami perjuangkan. Tahun 2019, rumah itu akhirnya lunas. Lima belas tahun terikat dengan bank, tapi pada akhirnya bebas.

Lunasnya rumah itu menjadi simbol kecil kemerdekaan batin. Saya tidak lagi terikat fasilitas pinjaman apapun. Ketika hari itu saya memutuskan dan membulatkan niat berhenti bekerja, tidak ada yang bisa menahan saya, rasanya sangat ringan.

Banyak orang menertawakan keputusan saya waktu itu.

โ€œBodoh,โ€ kata mereka.

โ€œKenapa nggak sabar sedikit? Nanti juga bisa pinjam tanpa bunga.โ€ Tapi saya tahu apa yang saya lakukan. Hidup saya harus bisa berdiri di kakinya sendiri.

Saya melihat bagaimana orang-orang yang terikat cicilan perusahaan atau cicilan konsumtif lainnya sering terjebak dalam permainan yang sama, mempertahankan posisi bukan karena cinta pekerjaan, tapi karena takut kehilangan fasilitas dan sumber pendapatan.

Dari kondisi tersebut lahir banyak politik kantor, banyak kompromi yang perlahan mematikan integritas.

Saya dan istri bersepakat untuk hidup sederhana, anak satu cukup karena dunia sudah penuh.

Kami bercanda seperti itu, tapi di baliknya ada kesadaran yang tenang dan bulat. Kami bukan orang kaya, tapi kami berusaha hidup dengan kepala tegak.

Membangun Masa Depan dari Ruang Kecil

Saya tetap bekerja di sana selama enam belas tahun. Panjang, tapi tidak terasa. Setiap tiga atau empat tahun, saya diberi peran baru, pindah divisi, memimpin proyek baru, menghadapi tantangan baru. Saya tumbuh, perusahaan pun berubah.

Gaji naik otomatis setiap tahun mengikuti inflasi, suasana kerja hangat, rekan-rekan seperti keluarga.

Tidak ada yang kurang.

Puncaknya adalah keterlibatan saya di proyek Kompas.id, sebuah upaya besar membawa koran ke dunia digital berbayar.

Waktu itu tidak semua percaya orang mau membayar berita online. Tapi kami berani mencoba. Di ruang kerja kecil yang bahkan tidak layak disebut โ€œkantorโ€, kami membangun sesuatu yang baru.

Saya memimpin tim teknologi dan inovasi, anak-anak muda yang awalnya terbiasa dengan lingkungan Microsoft dan SAP, sekarang harus belajar Linux, sumber kode terbuka, dan bahasa pemrograman yang belum pernah mereka dengar sebelumnya.

Itu masa yang luar biasa. Kami belajar banyak, jatuh bangun, tapi saya tahu kami sedang melakukan hal yang benar.

Sampai hari ini, Kompas.id masih berdiri, sebagian besar di atas infrastruktur Azure, menggunakan open source, dan tetap relevan.

Setidaknya ada satu hal yang bisa saya banggakan, keputusan teknologi yang dulu kami pertahankan dengan keras kepala ternyata tidak salah.

Tahu Kapan Harus Pergi

Tapi semua hal baik punya akhirnya. Ketika perusahaan memutuskan melakukan restrukturisasi, menggabungkan unit teknologi, data, dan produk menjadi satu divisi besar, saya tahu arah anginnya sudah berbeda.

Secara manajerial mungkin efisien, tapi secara manusia saya tahu itu akan menekan kreativitas, membuat tim kehilangan fokus dan tuntutan ke saya juga bisa jadi tidak masuk akal.

Saya sudah terlalu lama di sana untuk tidak mengerti tanda-tanda.

Saat itulah semua persiapan bertahun-tahun terasa masuk akal. Semua simulasi mental, semua tabungan, semua perhitungan, semuanya membawa saya ke satu titik ini, waktunya pergi.

Saya keluar bukan karena kecewa, tapi karena tahu kapan harus berhenti. Kadang pergi adalah cara lain untuk menghormati tempat yang pernah kita cintai.

Tahun 2019 juga adalah tahun di mana rumah saya lunas. Setelah lima belas tahun, bank akhirnya melepaskan haknya, dan saya menerima surat roya dengan tangan bergetar.

Rasanya aneh, saat orang lain sibuk menumpuk aset dan mempertahankan status quo, saya justru ingin melepaskan. Mungkin karena saya sudah cukup lelah menahan ketidaknyamanan perubahan organisasi dan bagaimana orang-orang diperlakukan oleh perubahan.

Dan ketika pandemi datang, saya seperti sudah disiapkan.

Saya berbicara dengan istri lebih dulu. Dia tidak kaget, bahkan berkata, โ€œAkhirnya.โ€

Bertahun-tahun sebelumnya dia sudah merasa ini akan terjadi. Kami tertawa bersama, tapi di dalam hati saya tahu dia benar, doa istri punya kekuatan sendiri.

Anak saya waktu itu masih SD. Saat saya bilang, โ€œPoppa berhenti kerja,โ€ dia menatap saya polos, โ€œPoppa nanti jualan cireng aja, ya?โ€

Kami tertawa lagi, kadang kejujuran anak adalah hiburan terbaik bagi orang dewasa yang sedang gugup dan gagap.

Saya memberi tahu bagian HR lebih dulu. Saya minta kabar ini tidak disampaikan dulu ke atasan saya, Direktur Bisnis saat itu, karena beliau akan pensiun di tanggal yang sama.

Tidak etis rasanya menambah beban pikiran pimpinan dan rekan kerja yang selama ini saya hormati. Sebelum pensiun, beliau sempat berkata di sebuah pertemuan rutin bisnis, โ€œNanti, kalau ada teman mau ambil golden handshake, kabari saya ya.โ€

Saya tahu maksudnya, tetapi saya tidak tertarik. Saya ingin keluar tanpa embel-embel kompensasi. Saya ingin pergi dengan kepala tegak, bukan dengan amplop.

Tanggal 1 November 2019, saya resmi menjadi pengangguran. Teman-teman banyak yang bertanya, โ€œPindah kemana Dit?โ€

“Dirumah, bercocok tanam”, Jawabku santai penuh kelakar.

Saya tertawa, tapi dalam hati ada campuran rasa yang tidak bisa dijelaskan, lega, takut, tapi juga tenang, bagaimanapun, saya sudah menyiapkan diri untuk kondisi dan momen ini.

Tiga bulan pertama saya jalani dengan ringan dan sedikit “jetlag“. Saya menulis, membantu komunitas, dan jalan kaki setiap pagi. Istri saya bilang, jalan kaki itu menyelaraskan energi dengan semesta. Saya tidak sepenuhnya paham, tapi toh saya melakukannya juga.

Kadang hal sederhana seperti melangkah tanpa tujuan bisa jadi cara terbaik untuk menemukan arah baru.

Ketika Kesiapan Bertemu Keberuntungan

Setelah beberapa bulan, saya mulai melamar pekerjaan lagi. Umur saya sudah empat puluh lebih. Banyak yang bilang sudah terlambat untuk mulai lagi.

Tetapi saya tidak percaya pada kata terlambat, dunia selalu punya ruang bagi orang yang mau belajar dan bekerja.

Saya melamar ke mana-mana menggunakan berbagai platform, LinkedIn, Glints JobsDB, Geekhunter dan rasanya seperti naik roller-coaster.

Ketika diterima di sebuah startup pre-series, walau perusahaannya hanya berumur setahun lebih, saya akhirnya punya kesempatan belajar dengan linkungan multi-kultur dan menggunakan bahasa Inggris untuk komunikasi kerja sehari-hari.

Investor dan rekan kerja dari berbagai negara, Jepang, Rusia, Thailand dan pastinya Indonesia, dan juga tim teknologinya berasal dari Negara Vietnam.

Benar-benar sebuah kekacauan, dan benar seperti lirik sebuah lagu yang berasal dari ungkapan Friedrich Nietzsche, “What doesn’t kill you, will make you stronger“.

Ketika akhirnya bertemu dengan beberapa rekan yang juga aneh dan ajaibnya mengundurkan diri, dan juga mengambil jalam berkarya dan peruntungan ditempat lain, beberapa melontarkan kalimat ini.

“Bekerja di tempat lain ya lebih berat, beda banget”, ujar beberapa teman.

“Lah kok mau, resign dari perusahaan mapan, dan coba tawaran lain?” tanyaku dengan santai.

“Ya susah dijelaskan kan ya…, lah wong sampeyan juga keluar kok”. Ujar salah satu teman dengan penuh kelakar.

” Susah dijelakan, pindah dari zona nyaman bukan untuk semua orang”, Kata teman yang dulu membantu saya membangun infrastruktur server.

Begitulah salah satu suasana reuni sesama dari yang memberanikan diri pensiun lebih awal dari surga duniawi tersebut.

Setelah tidak berlajut dengan startup pre-series tadi, akhirnya saya kembali menjadi pengangguran, dan kembali mengerjakan proyek sebagai freelance dan juga melamar kembali perusahaan lain.

Kali ini tidak terlalu kaget, karena artinya suda dua kali keluar dari perusahaan.

Uniknya disaat kedua ini, banyak rekan, teman atau mantan kolega kerja dan partner yang menawarkan berbagai posisi ketika saya kembali tidak berkarya di perusahaan, mungkin karena saat itu pengalaman saya sudah bertambah.

“Yah, gimana, bukannya ngasih tahu sudah nggak disitu lagi”, ujar mereka bingung kok saya nggak mengabari mereka untuk tanya peluang.

Anehnya lagi, respon lamaran pekerjaan datang bertubi-tubi dan dalam waktu yang hampir bersamaan, kadang kita nggak tahu rencana semesta untuk kita, kita hanya perlu menjalaninya saja dengan sebaik-baiknya.

Disini saya sadar pentingnya reputasi dan integritas dalam bekerja, karena akhirnya orang akan melihat hal tersebut.

Dari semua tawaran dan kesempatan, akhirnyai saya memilih IRIS Jakarta , saat itu untuk posisi Solution Architect. Kenapa? lebih karena saya merasa lebih โ€œklikโ€saja secara intuisi.

Ketika memutuskan mengundurkan diri dari perusahaan media, saya memiliki strategi dan persiapan tersediri ketika melamar pekerjaan.

Tidak berambisi mengincar posisi sejenis atau lebih tinggi layaknya orang pindah perusahaan, karena saya tahu nilai tawar saya rendah karena saya mengundurkan diri dari perusahaan sebelumnya, alias jobless.

Dugaan kenapa dengan umur diatas empat puluhan, lamaran saya masih direspon karena saya melamar di area teknologi yang posisinya tidak begitu tinggi, membutuhkan pengalaman memimpin unit, mengerti engineering, mulai dari technical lead, manager sampai dengan solution architect.

Saat itu banyak perusahaan membutuhkan pekerja dengan pengamalaman segudang untuk posisi lead atau firt-line manager.

“Maksudnya kerja bagai kuda, non “leyeh-leyeh” managerial, dengan pengalaman dan skill segudang”

Waktu itu, salah satu interviewer IRIS Jakarta bertanya, โ€œKamu bisa Azure?”

“salah satu client kita menggunakannya, kita biutuh orang yang mengerti Azure.โ€

Saat mendengar hal tersebut. dalam hati, saya tersenyum dan langsung mendapatkan aha moment. โ€œSaya sebelumnya mengelola puluhan Virtual Machine (VM) dan ratusan prosesor di Azure untuk Kompas.id,โ€ jawab saya.

“Saya tahu banyak perusahaan menggunakan AWS dan GCP, tetapi soal Azure saya expert”, ujarku saat itu.

Di situ saya tahu, keahlian saya yang “niche” masih dibutuhkan, saya masih punya tempat.

Ada pepatah yang bilang, sukses terjadi saat kesiapan bertemu kesempatan. Mungkin itu yang terjadi pada saya. Tapi saya lebih suka menyebutnya, kesiapan bertemu keberuntungan.

Menoleh Tanpa Penyesalan

Enam tahun setelah keputusan itu, saya menulis ini bukan untuk membenarkan pilihan, tapi untuk mengingatkan diri sendiri. Keluar dari korporasi bukan soal berani, tapi soal siap.

Siap kehilangan rasa aman, siap menerima ketidakpastian, siap melihat hidup dari sisi lain. Kadang kita tidak benar-benar meninggalkan sesuatu. Kita hanya berpindah cara untuk bertumbuh.

Dan saya bersyukur, karena waktu itu saya memilih pergi bukan karena hal negatif, tapi karena mencintai arah hidup saya sendiri.

Epilog

Pada akhirnya, hidup memang tidak selalu butuh rencana besar. Kadang cukup satu keberanian kecil untuk melangkah keluar dari lingkaran yang sudah terlalu lama kita putari.

Dunia kerja sering memberi rasa aman, tapi jarang memberi ruang untuk benar-benar tumbuh.

Kadang keputusan paling rasional justru lahir dari keheningan panjang, dari momen saat kita akhirnya berani mendengar suara hati sendiri.

Dan kalau hari ini saya menoleh ke belakang, saya tidak akan mengubah keputusan dan tindakan yang saya ambil.

Karena bahkan ketakutan dan kegamangan di masa itu, kini terasa seperti bagian dari doa yang akhirnya dikabulkan, menjadi manusia yang tidak sempurna, tapi sadar untuk terus tumbuh.

Ketika Komputer Menyala Tapi Layar Tetap Gelap

Solusi lengkap untuk masalah komputer menyala tapi layar gelap di DisplayPort. Ulasan pengaturan BIOS, Windows, dan monitor pada Gigabyte X470 + Gigabyte RX 5700 XT.

Suatu pagi komputer saya menyala seperti biasa. Kipas berputar, lampu SSD berkedip, dan suara startup Windows terdengar di speaker. Tapi layar tetap gelap total. Tidak ada logo BIOS, tidak ada tampilan sama sekali.

Awalnya saya pikir hanya kabel longgar. Saya cabut, pasang ulang, tetap sama. Lalu saya matikan power supply, cabut kabel listrik, tekan tombol power selama sepuluh detik untuk mengosongkan sisa arus, lalu hidupkan kembali. Kali ini layar menyala.Namun setelah dimatikan dan dinyalakan ulang, masalah kadang kembali muncul.

Setelah serangkaian percobaan, saya menemukan penyebabnya bukan di Windows, bukan di GPU, melainkan di sisa arus listrik yang tertinggal ketika komputer mati.

Gejala yang Muncul

Komputer sebenarnya berjalan normal. Suara Windows terdengar, kipas bekerja, tapi tidak ada tampilan di layar. Hal ini sering terjadi saat komputer dinyalakan dari keadaan benar-benar mati (cold boot).

Konfigurasi sistem saya:

  • Motherboard Gigabyte AORUS X470
  • GPU Radeon RX 5700 XT
  • Monitor terhubung melalui DisplayPort

Jika saya ganti kabel ke HDMI, semuanya langsung normal. Artinya, masalah spesifik muncul hanya di jalur DisplayPort, terutama saat proses inisialisasi awal sebelum BIOS tampil.

Menemukan Akar Masalah

Motherboard modern tetap mengalirkan sedikit daya ke beberapa jalur bahkan ketika komputer dimatikan. Daya kecil ini disebut 5V Standby (5VSB), dan berfungsi untuk fitur seperti wake on LAN atau charging while off.

Namun daya standby ini membuat GPU dan monitor tidak benar-benar mati. DisplayPort menggunakan proses negosiasi sinyal bernama link training.

Ketika arus standby masih aktif, GPU dan monitor sama-sama mengira koneksi sebelumnya masih ada. Akibatnya, saat komputer dinyalakan kembali, BIOS gagal memulai ulang koneksi DisplayPort, dan monitor tetap hitam meskipun Windows sudah berjalan.

Langkah Perbaikan di BIOS Gigabyte X470

Setelah serangkaian percobaan, kombinasi pengaturan berikut membuat sistem kembali stabil dan boot normal setiap kali.

1. Matikan Fast Boot di BIOS

Masuk ke BIOS, buka tab BIOS Features atau Settings, lalu ubah:

Fast Boot โ†’ Disabled

Tujuannya agar sistem melakukan inisialisasi penuh setiap kali boot, termasuk GPU dan jalur DisplayPort.

2. Aktifkan CSM Support

Masuk ke tab BIOS Features, lalu aktifkan:

CSM Support โ†’ Enabled

Fitur ini membantu kompatibilitas output video pada fase awal, terutama untuk beberapa monitor yang rewel dengan UEFI-only boot.

3. Pastikan Output Awal ke GPU PCIe

Buka tab Chipset / Peripherals, lalu ubah:

Initial Display Output โ†’ PCIe/PEG (PCIEX16_1)

Dengan ini, BIOS akan selalu mengarahkan tampilan ke GPU diskret utama, bukan iGPU atau port lain.

4. Putus Total Arus Standby (ErP)

Buka tab Power Management / Platform Power:

ErP โ†’ Enabled (S5)
atau
ErP โ†’ Enabled (S4+S5)

Fitur ini mematikan seluruh daya standby saat komputer dimatikan. Setelah diaktifkan, GPU dan monitor benar-benar memulai ulang koneksi dari nol.

5. Aktifkan Power Loading

Di tab Miscellaneous / Platform Power, aktifkan:

Power Loading โ†’ Enabled

Beberapa PSU efisien sulit menjaga kestabilan tegangan saat beban awal rendah; opsi ini membuatnya lebih stabil saat cold boot.

6. Simpan dan Keluar

Tekan F10 atau pilih Save & Exit Setup untuk menyimpan konfigurasi.


Pengaturan di Windows

Setelah BIOS disesuaikan, ada beberapa langkah di Windows yang perlu diperbaiki untuk mencegah efek serupa.

1. Nonaktifkan Fast Startup

Masuk ke:

Control Panel โ†’ Power Options โ†’ Choose what the power buttons do โ†’ Change settings that are currently unavailableCode language: JavaScript (javascript)

Hilangkan tanda centang pada:

Turn on fast startup (recommended)

Fast Startup membuat Windows hanya setengah mati (hibernasi ringan), sehingga GPU tidak benar-benar diinisialisasi ulang pada boot berikutnya.

2. Perbarui Driver GPU

Unduh AMD Adrenalin Software versi terbaru. Saat instalasi, pilih opsi:

Factory Reset / Clean Install

Opsi ini menghapus driver lama yang bisa menyebabkan konflik dengan firmware DisplayPort.

3. Gunakan Refresh Rate Aman Saat Uji

Untuk awal pengujian, set resolusi ke:

1920x1080 @ 60 Hz

Setelah sistem stabil, baru naikkan ke refresh rate tinggi sesuai monitor.

Pengaturan di Monitor

Bagian ini sering diabaikan, padahal sangat penting untuk kestabilan boot.

  1. Matikan fitur DisplayPort Deep Sleep / DPM / DPMS di menu monitor (OSD).
    Dengan fitur ini mati, monitor siap melakukan link training baru setiap kali komputer menyala.
  2. Jika monitor menyediakan pilihan versi DisplayPort, ubah ke DP 1.2 terlebih dahulu.
    Versi ini lebih stabil saat fase pre-boot dibandingkan DP 1.4.
  3. Biasakan urutan menyalakan perangkat:
    • Nyalakan monitor terlebih dahulu
    • Tunggu 3โ€“5 detik
    • Baru tekan tombol power PC

Hasil Setelah Penyesuaian

Setelah semua pengaturan ini diterapkan, komputer saya langsung boot normal setiap kali. Tidak ada lagi layar gelap, tidak ada lagi ritual cabut kabel listrik atau tekan power sepuluh detik.

DisplayPort kini melakukan link training baru setiap kali komputer menyala. GPU dan monitor memulai koneksi dari nol, dan sistem terasa jauh lebih bersih serta konsisten.

Cheat Sheet dan Checklist Lengkap

BIOS Gigabyte X470

MenuOpsiNilai Disarankan
BIOS Features โ†’ Fast BootDisabledMenonaktifkan boot cepat
BIOS Features โ†’ CSM SupportEnabledKompatibilitas tampilan pre-boot
Chipset / Peripherals โ†’ Initial Display OutputPCIe/PEG (PCIEX16_1)Gunakan GPU diskret utama
Power Management โ†’ ErPEnabled (S5) atau (S4+S5)Memutus arus standby
Miscellaneous / Platform Power โ†’ Power LoadingEnabledMenstabilkan PSU saat cold boot

Windows

PengaturanLokasiTindakan
Fast StartupControl Panel โ†’ Power OptionsNonaktifkan
Driver GPUAMD Adrenalin SoftwareUpdate terbaru, pilih Clean Install
Resolusi AwalDisplay Settings1920ร—1080 @ 60 Hz
Urutan NyalaMonitor โ†’ lalu PC3โ€“5 detik jeda

Monitor

PengaturanNilai DisarankanTujuan
DisplayPort Deep SleepOffMemastikan koneksi DP aktif tiap boot
DisplayPort Version1.2Lebih stabil untuk pre-boot
Refresh Rate Awal60 HzHindari out-of-range sebelum driver aktif

Penutup

Masalah โ€œkomputer menyala tapi layar gelapโ€ sering disangka kerusakan GPU atau bug Windows, padahal penyebabnya bisa sesederhana arus standby yang tak pernah benar-benar mati.

Perubahan kecil di BIOS dan pengaturan daya Windows bisa mengembalikan stabilitas sistem sepenuhnya. Kini saya belajar satu hal penting: stabilitas sistem tidak hanya bergantung pada software, tetapi juga pada sinkronisasi antara daya, firmware, dan perangkat keras.

Jika kamu mengalami gejala serupa, coba periksa BIOS, Windows, dan monitor sesuai langkah di atas.
Sering kali, jawabannya bukan di Windows, tetapi di pengaturan daya yang terlalu โ€œpintarโ€ untuk kebaikan dirinya sendiri.

Kenapa Proteksi Password pada Berkas Ekstensi .zip, Zip tidak Aman?

Bagi pengguna Windows, membuat arsip berformat .zip sudah jadi kebiasaan sehari-hari. Tinggal klik kanan, pilih Send to โ†’ Compressed (zipped) folder, selesai.

Kalau ingin menambahkan password, biasanya tinggal mengandalkan aplikasi tambahan yang sudah umum dipakai sejak lama. Praktis, bawaan sistem, dan tanpa perlu instalasi apa-apa lagi.

Tidak heran kalau banyak orang percaya bahwa menaruh password di file .zip sudah cukup untuk melindungi data penting mereka.

Sayangnya, kenyamanan ini justru menimbulkan rasa aman yang palsu. Proteksi password pada arsip .zip sebenarnya tidak benar-benar kuat.

Banyak orang tidak menyadari bahwa cara ini hanya menunda orang iseng sebentar saja, karena di balik layar, enkripsi yang dipakai format .zip bawaan Windows bernama ZipCrypto, dan algoritma ini sudah sangat usang.

Tools gratis yang beredar di internet dengan mudah mampu membongkar password .zip dalam hitungan menit, apalagi kalau password yang dipakai sederhana.

Selain itu, meskipun ada variasi .zip yang mendukung AES-256 sebagai algoritma enkripsi modern, kenyataannya tidak semua aplikasi bisa membukanya.

Windows Explorer sendiri tidak mendukung format ini, sehingga mayoritas pengguna tetap menggunakan opsi standar yang jauh lebih lemah.

Lebih parahnya lagi, walaupun sudah dipasangi password, nama file, ukuran file, dan struktur folder di dalam arsip .zip masih bisa terlihat. Jadi meskipun isi file tidak terbuka, orang tetap bisa tahu kira-kira data apa yang Anda simpan.

Bayangkan jika ada file bernama DaftarGaji-Juni-2025.xlsx, tanpa membuka pun orang sudah bisa menebak isi dan sensitifitas datanya.

Di sinilah banyak pengguna terjebak. Karena .zip begitu praktis dan universal, orang cenderung merasa cukup aman, padahal dari sisi teknis, proteksinya sangat rapuh.

Untuk kebutuhan yang lebih serius, seperti dokumen kerja, data pribadi, atau laporan keuangan, jelas tidak disarankan lagi menggunakan proteksi password bawaan .zip.

Lalu, apa alternatifnya?

Alternatif yang jau lebih aman adalah 7-Zip. Aplikasi gratis, open source, dan tersedia untuk Windows, Linux, hingga macOS.

Keunggulan utama 7-Zip terletak pada algoritma enkripsi yang dipakainya, AES-256, standar modern yang jauh lebih kuat.

Selain itu, 7-Zip memiliki fitur header encryption yang membuat tidak hanya isi file, tapi juga nama file dan struktur folder ikut disembunyikan. Dari luar, arsip hanya terlihat seperti sebuah kotak hitam, benar-benar tidak memberikan informasi apapun sebelum password dimasukkan.

Keunggulan lain dari 7-Zip adalah sifatnya yang lintas platform dan bebas biaya.

Arsip .7z bisa dibuka di berbagai sistem operasi dengan konsistensi proteksi yang terjamin. Selain aman, performa kompresinya juga lebih baik dibanding .zip.

Dengan kata lain, Anda mendapatkan kombinasi keamanan dan efisiensi sekaligus.

Menggunakan 7-Zip pun tidak rumit. Misalnya di Linux atau Debian, Anda bisa membuat arsip terenkripsi dengan satu baris perintah:

7z a -t7z -mhe=on archive.7z folder/

Perintah ini akan membuat arsip .7z dengan enkripsi penuh, menyembunyikan nama file, dan meminta password saat ekstraksi.

Lebih aman jika password tidak ditulis langsung di perintah, biarkan 7-Zip menanyakannya agar tidak tersimpan di history terminal.

Untuk mengekstraknya, cukup jalankan 7z x archive.7z, dan Anda akan diminta password sebelum file dibuka.

Bagi yang tidak terbiasa dengan terminal, 7-Zip juga menyediakan versi GUI (Graphical User Interface) di Windows. Dengan antarmuka yang sederhana mirip Windows Explorer, pengguna cukup klik kanan pada folder atau file, lalu pilih opsi Add to archiveโ€ฆ untuk membuat arsip .7z dengan password dan enkripsi penuh.

7Zip Graphic User Interfaces (GUI)

Sebagai tambahan, kalau tetap ingin membuat file berformat .zip demi kompatibilitas dengan aplikasi lain, 7-Zip juga menyediakan opsi menggunakan AES-256 pada .zip.

Namun tetap perlu diingat, metadata seperti nama file masih akan terlihat, sehingga level perlindungannya tidak sekuat .7z.

Akhir artikel blog kali ini, menaruh password di file .zip bukanlah solusi keamanan yang bisa diandalkan.

Format ini sudah terlalu lama, enkripsinya lemah, dan memberi ilusi aman padahal penuh celah. Jika tujuan Anda benar-benar melindungi data penting, gunakanlah 7-Zip dengan format .7z.

Kombinasi AES-256 dan header encryption membuat arsip Anda jauh lebih sulit ditembus, sekaligus menjaga kerahasiaan isi dari orang yang tidak berkepentingan. Dengan langkah sederhana ini, data Anda tidak hanya terkunci, tapi juga benar-benar aman.

Berikut cheat sheet singkat untuk membantu Anda langsung mempraktikkannya di terminal, oh dan anda juga bisa menggunakannya mengunakan GUI di sistem operasi seperti Windows.

  • Buat arsip 7z terenkripsi (dengan header tersembunyi): 7z a -t7z -mhe=on archive.7z folder/
  • Ekstrak arsip (akan diminta password): 7z x archive.7z
  • Buat arsip ZIP dengan AES-256 (opsional untuk kompatibilitas): 7z a -tzip -mem=AES256 -p archive.zip folder/
  • Lihat isi arsip tanpa ekstrak (kalau header terenkripsi, tetap tidak terlihat): 7z l archive.7z
  • Mode verbose untuk detail proses kompresi: 7z a -t7z -mhe=on -bb3 archive.7z folder/

Dengan kombinasi penjelasan dan cheat sheet ini, Anda bisa segera beralih dari proteksi password yang rapuh di .zip menuju keamanan yang jauh lebih modern dan tangguh dengan .7z.

.zip vs .7z

Banyak orang mengira password panjang seperti MyS3cur3P2ssw0rd akan memberikan perlindungan sama kuatnya, entah disimpan di .zip atau .7z.

Padahal, algoritma yang dipakai kedua format ini berbeda jauh, sehingga daya tahan password terhadap brute force juga ikut berbeda.

Pada .zip lama yang masih mengandalkan ZipCrypto, password langsung diproses menjadi kunci dengan cara sederhana.

Ini memungkinkan komputer modern mencoba hingga miliaran tebakan per detik. Akibatnya, meski password kuat, waktu yang dibutuhkan untuk menembusnya bisa relatif singkat, dan metadata file seperti nama serta ukurannya pun masih bisa terlihat.

Berbeda dengan .7z, karena sejak awal menggunakan AES-256 yang dipadukan dengan key stretching berbasis SHA-256. Setiap tebakan password diproses ribuan kali, membuat percobaan brute force melambat drastis. Password yang sama akan bertahan jauh lebih lama di .7z dibanding di .zip, hanya karena perbedaan algoritma.

Berikut ilustrasi perbandingannya:

Panjang PasswordZIP (ZipCrypto)7z (AES-256 + KDF)
8 huruf kecil~1โ€“2 menit~2 bulan
10 campuran (aโ€“z, Aโ€“Z, 0โ€“9)ยฑ13 tahunยฑ665 ribu tahun
12 campuran (aโ€“z, Aโ€“Z, 0โ€“9)ยฑ51 ribu tahunยฑ2,5 miliar tahun

Dari tabel terlihat jelas, password delapan huruf kecil bisa jebol hanya dalam menit di .zip, tapi di .7z bisa bertahan sampai dua bulan.

Begitu password diperpanjang, gap waktunya makin ekstremโ€”dari belasan tahun di .zip melonjak ke ratusan ribu tahun di .7z, dan dari puluhan ribu tahun menjadi miliaran tahun.

Analogi sederhananya, .zip itu ibarat pintu kayu dengan gembok kecil, sedangkan .7z adalah pintu baja dengan kunci elektronik. Password yang sama bisa terasa rapuh di .zip, tapi menjadi nyaris mustahil ditembus di .7z.

Catatan, Angka-angka di atas hanya ilustrasi brute force murni dengan asumsi hardware modern. Dalam praktik nyata, serangan kamus (dictionary attack) dan pola populer jauh lebih cepat menembus password yang tidak benar-benar acak.

Karena itu, selain memilih format .7z dengan enkripsi penuh, gunakan juga password panjang, acak, atau passphrase unik untuk perlindungan maksimal.

fcrackzip

Sebagai bagian dari edukasi, bila anda ingin mencoba kekuatan password .zip Anda, bisa menggunakan tools seperti fcrackzip dan tools lainnya yang bisa dijalankan di Kali Linux.

root@kali:~# fcrackzip -h

fcrackzip version 1.0, a fast/free zip password cracker
written by Marc Lehmann <[email protected]> You can find more info on
http://www.goof.com/pcg/marc/

USAGE: fcrackzip
          [-b|--brute-force]            use brute force algorithm
          [-D|--dictionary]             use a dictionary
          [-B|--benchmark]              execute a small benchmark
          [-c|--charset characterset]   use characters from charset
          [-h|--help]                   show this message
          [--version]                   show the version of this program
          [-V|--validate]               sanity-check the algorithm
          [-v|--verbose]                be more verbose
          [-p|--init-password string]   use string as initial password/file
          [-l|--length min-max]         check password with length min to max
          [-u|--use-unzip]              use unzip to weed out wrong passwords
          [-m|--method num]             use method number "num" (see below)
          [-2|--modulo r/m]             only calculcate 1/m of the password
          file...                    the zipfiles to crack

methods compiled in (* = default):

 0: cpmask
 1: zip1
*2: zip2, USE_MULT_TAB
Code language: PHP (php)

Selamat mencoba, and stay strong, paranoia and safe.

Mengatur Screen Time Anak Tanpa Drama, Pengalaman Bersama Constantine

Saya menulis artikel blog ini karena melihat dampak positif yang dialami anak kami, Constantine Barindra. Setelah sejak kecil ‘bersahabat’ dan mengatur waktu dengan aplikasi “screen time” untuk menjawab tantang penggunaan handphone dan komputer, kini ia mampu hidup mandiri di asrama tanpa masalah kecanduan gadget.

Murid SMA belajar bersama di Asrama

Perjalanan panjang ini membuat saya sadar betapa pentingnya pengaturan waktu layar atau “screen time” dalam membantu anak mengembangkan disiplin diri yang baik.

Sebagai orang tua, kami tidak pernah membayangkan bahwa gadget dan komputer akan menjadi salah satu tantangan terbesar dalam mengasuh anak.

Dulu, tantangannya mungkin hanya sebatas mengingatkan anak untuk rajin belajar, makan dengan benar, atau tidur tepat waktu.

Kini, tantangan itu bertambah dengan urusan screen time yang semakin sulit dikendalikan.

Melalui kegundahan, refleksi dan diskusi keluarga, kami mulai mengerti bahwa masalah utama bukanlah teknologi itu sendiri, melainkan bagaimana kita sebagai orang tua bisa membimbing anak-anak agar menggunakan teknologi secara bijak.

Apa Itu Screen Time dan Kenapa Penting?

“Constantine, ayo berhenti main HP-nya!” Kalimat seperti ini mungkin sudah sering terdengar di rumah kamu juga.

Kami pun mengalami hal yang sama dengan Constantine yang hobi banget main game dan menonton YouTube.

Masalahnya, waktu yang dihabiskan di depan layar sering kali jauh lebih banyak daripada kegiatan fisik atau interaksi sosial secara langsung.

Screen time sendiri adalah istilah untuk menyebut durasi seseorang berinteraksi dengan layar digital seperti handphone, komputer, atau televisi.

Studi dari JAMA Pediatrics menunjukkan bahwa screen time berlebihan pada anak dapat menyebabkan gangguan tidur, masalah konsentrasi, hingga hambatan dalam perkembangan bahasa dan sosial.

Selain dampak fisik, kami juga melihat bahwa terlalu lama menatap layar membuat anak kehilangan banyak kesempatan untuk mengembangkan keterampilan sosial dan emosional yang sangat penting dalam kehidupan nyata.

Pendekatan Kami, Teknologi Sebagai Sahabat

Kami sadar bahwa pendekatan keras dengan sekadar melarang nggak akan efektif. Akhirnya, kami mencoba pendekatan baru, memanfaatkan teknologi untuk mengelola penggunaan gadget sekaligus mengajak Constantine memahami pentingnya keseimbangan ini.

Kami mulai diskusi terbuka tentang alasan di balik aturan-aturan baru yang kami buat. Kami jelaskan bahwa kami tidak ingin membatasi kesenangannya, tetapi kami ingin membantu dia tumbuh dengan baik, sehat, dan mampu menikmati semua aspek kehidupan, tidak hanya di dunia digital.

Google Family Link, Solusi Handphone Anak

Pertama, kami mulai dengan Google Family Link. Awalnya kami pikir bakal ribet, tapi ternyata gampang banget! Setelah kami pasang aplikasinya dan membuat akun khusus anak, kami bisa mengatur jadwal pemakaian gadget dengan sangat mudah.

Ketika pertama kali diluncurkan, aplikasi Google Family Link ini menciptakan suasana “Love and Hate Situation”, maksudnya diprotes dan dicaci-maki oleh anak sebagai pengguna ponsel, tetapi dicintai oleh orang tua yang akhirnya memiliki aplikasi native di perangkat smartphone untuk mengatur atau mengelola aktifitas anak melalui fitur screen time dan lainnya.

Google Family Link

Keuntungan Family Link adalah kami bisa mengatur jam tidur otomatis, membatasi waktu main game atau menonton YouTube, dan memonitor aktivitas Constantine setiap hari.

Kekurangannya mungkin terletak pada keterbatasan kontrol terhadap aplikasi tertentu yang lebih sulit dibatasi secara spesifik.

Namun, manfaat terbesar dari Family Link adalah kemampuannya membuka dialog. Setiap kali Constantine protes karena waktunya habis, kami punya kesempatan untuk menjelaskan mengapa aturan ini dibuat, bukan sekadar melarang tanpa alasan.

Manfaat lainnya adalah, aplikasi Famili Link ini menyediakan fitur geo location, alias sharing lokasi anak ke perangkat orang tua. Hal ini berguna sekali ketika masa SMP, Constantine sudah harus menggunakan angkutan umum/kota alias angkot untuk menuju dan pulang sekolah.

Kami bisa memantau posisi dan pergerakan Constantine secara real-time dan presisi, pastikan saja , baterai handphone selalu dalam kondisi penuh atau cukup.

Microsoft Family Safety, Menjaga Pemakaian Komputer

Di komputer, kami menggunakan Microsoft Family Safety yang dirancang khusus untuk perangkat berbasis Windows.

Microsoft Family Safety

Kelebihannya adalah bisa menentukan batas waktu harian, memfilter konten yang boleh diakses, dan menerima laporan mingguan yang detail tentang aktivitas online anak. Namun, sisi minusnya, anak-anak kadang bisa menemukan celah dengan menggunakan browser atau aplikasi alternatif.

Pastikan anak memiliki akun sendiri di komputer agar Family Safety bisa bekerja maksimal, dan salah satu celahnya adalah, ketika anak mengganti tanggal lahir agar masuk kategori dewasa, hal ini dapat membypass atau menonaktifkan proteksi Microsoft Family Safety.

Hal mengganti tanggal lahir konyol sih, harusnya akun anak yang terbatas tidak dapat mengganti informasi umur, ini harusnya mudah diselesaikan oleh Microsoft, tetapi sampai hari ini tetap dibiarkan sebagai celah.

Sebagai gambaran implementasi Microsoft Family Safety, kami menetapkan waktu penggunaan komputer Constantine saat SD dan SMP sebanyak maksimal 3 jam sehari, kecuali saat akhir pekan atau hari libur.

Hal ini membantu ia memahami bahwa ada waktu tertentu untuk aktivitas digital dan waktu untuk kegiatan lain.

ESET Home (Internet) Security, Perlindungan Ekstra dari Ancaman Online

Kami juga memasang ESET Home Security, dulu namanya Internet Security sebagai perlindungan tambahan di semua perangkat Constantine dan juga perangkat lainnya.

Ini default aplikasi kemanan di semua komputer rumah dan gadget.

ESET Home Security

ESET sangat bermanfaat karena bisa melindungi dari virus, malware, phishing, dan situs-situs yang tidak sesuai untuk anak.

Namun, kekurangannya adalah kadang ESET memblokir akses ke situs yang sebenarnya aman tapi dianggap mencurigakan. Tetapi, secara keseluruhan, manfaatnya jauh lebih besar dibandingkan kekurangannya.

ESET memberikan rasa tenang kepada kami bahwa Constantine terlindungi dengan baik, meskipun tidak sepenuhnya terlepas dari pengawasan orang tua.

Perlindungan ini sangat terassa membantu ketika Constantine mulai menggunakan laptop dan terkoneksi dengan jaringan Wifi. Banyak akses point Wifi yang tidak dibangun dengan aman, dan ESET membantu peringatan ini.

Dampak Positif, Anak Lebih Disiplin dan Sadar Waktu

Untuk pemakaian handphone, kami menetapkan batas maksimal 2 jam sehari selama hari sekolah, dengan pengecualian lebih bebas di hari libur.

Pembatasan ini terbukti efektif dalam membangun kebiasaan disiplin dan sadar waktu pada Constantine.

Awalnya, Constantine tentu protes. Tapi dengan komunikasi yang baik dan jelas, ia akhirnya mengerti maksud kami. Bahkan, kini dia sendiri yang mengingatkan, “Waktunya berhenti main HP!” Rasanya seperti pencapaian besar buat kami sebagai orang tua.

Sebagai orang tua, kami juga dilatih untuk fair dan adil, ketika akhir pekan Constantine memanfaatkan waktu luangnya untuk akses smartphone dan komputer lebiih juga harus kami hargai dan bebaskan.

Tidak adil juga jika kami mengganggu waktu ekstranya di akhir pekan dengan kepentingan kami.

Kami merasa langkah ini bukan sekadar tentang mengontrol gadget, tetapi tentang membangun karakter dan kesadaran diri pada anak sejak dini.

Pesan untuk Orang Tua, Jangan Takut untuk Mulai!

Buat orang tua yang mungkin masih kurang akrab dengan teknologi, nggak usah khawatir. Semua aplikasi ini sangat user-friendly dan mudah digunakan bahkan untuk yang merasa “gaptek” sekalipun. Mulailah dengan satu aplikasi, lalu sesuaikan dengan kebutuhan anak.

Google Family Link dan Microsoft Family Safety bisa langsung digunakan secara bebas karena gratis, sedangkan ESET Home Security ada biaya langganan pertahun untuk instalasi di komputer.

Mengatur screen time memang bukan perkara gampang, tapi sangat mungkin dilakukan dengan pendekatan yang menyenangkan.

Dengan komunikasi yang baik, pemilihan teknologi yang tepat, dan kesabaran, kita bisa membantu anak tumbuh dengan sehat dan mandiri, baik di dunia nyata maupun digital.

Referensi

Switching Visual Studio Codeโ€™s Default Terminal to WSL Debian for a More Natural Coding Experience

If youโ€™re using GitHub Copilot in Visual Studio Code on Windows, you may have noticed that the default terminal is PowerShell (PS).

While that works fine for many developers, I personally find it a bit unfamiliar, especially when Iโ€™m more used to working in a Linux environment like Debian or Ubuntu. Common commands like ls, nano, or even piping with grep just donโ€™t feel as seamless in PowerShell.

So, I looked for a way to make my VS Code terminal behave like Linux without leaving Windows. The answer? WSL (Windows Subsystem for Linux).

This was a small tweak that made a big difference in my workflow. I use Debian in WSL, and I wanted every terminal in my projects to open directly in Debian, not PowerShell.

After browsing through the official VS Code documentation and a few GitHub threads, I found a simple solution: just modify the .code-workspace file used for your project.

Hereโ€™s how my example.code-workspace file looks after I updated it:

{
	"folders": [
		{
			"path": "."
		}
	],
	"settings": {
		"terminal.integrated.defaultProfile.windows": "Debian (WSL)",
		"terminal.integrated.profiles.windows": {
			"Debian (WSL)": {
				"path": "C:\\WINDOWS\\System32\\wsl.exe",
				"args": ["-d", "Debian"]
			},
			"PowerShell": {
				"source": "PowerShell"
			}
		},
		"terminal.integrated.useWslProfiles": true,
		"github.copilot.enable": {
			"*": true
		}
	}
}
Code language: JSON / JSON with Comments (json)

The key line is "terminal.integrated.defaultProfile.windows": "Debian (WSL)". This tells VS Code to default to the Debian profile we define below, which launches wsl.exe with the -d Debian argument.

This ensures the terminal inside VS Code uses your Debian WSL instance. Of course, make sure youโ€™ve already installed Debian (or Ubuntu) via the Microsoft Store or by manually importing a WSL image.

Why does this matter? Because when working with GitHub Copilot, and especially when running Node.js apps, Strapi, or Bash scripts, the experience feels far more seamless in a native Linux environment.

I donโ€™t run into annoying errors because rm doesnโ€™t exist or because shell scripts break under PowerShell syntax. It just works, exactly how I expect it to.

Here are a few references that helped me:

If you want to make this change globally for all projects, not just a specific workspaceโ€”you can also add the same settings to your global settings.json in VS Code. Just press Ctrl + ,, click the icon for “Open Settings (JSON)”, and paste the same config under your user settings.

Now, every time I open a terminal in VS Code, it drops me straight into my Debian WSL instance. Itโ€™s fast, familiar, and works beautifully with Copilot.

In my opinion, itโ€™s the best of both worlds, the power of Linux development, running inside the comfort of a Windows setup.

Dari Penelitian ke Realita, Hobi Saya Sebagai ‘Ahli Nujum’. Hahaha …

Berkarya cukup lama sebagai peneliti dan bagian dari tim R&D (Research and Development) di sebuah perusahaan media, saya selalu tertarik dengan bagaimana teknologi berkembang dan memberi dampak pada industri tempat saya bekerja.

Ini adalah berkas beberapa tahun yang lalu sekitar tahun 2017, ketika saya pertama kali mulai mendalami konsep, cara kerja Artificial Intelligence (AI) dan teknologi chat bot, pada saat itu, saya, tim dan partner pengembang melihat potensi besar yang dimiliki keduanya.

Beberapa purwarupa chat bot, sampai dengan penggunaan database vektor berjalan dalam senyap dan hening.

Saya ingat berbicara di berberapa seminar dan berbagi pandangan tentang bagaimana teknologi, termasuk AI akan menjadi bagian tak terpisahkan dari masa depan kita, sebuah prediksi yang pada saat itu mungkin terdengar seperti fiksi ilmiah (science fiction) yang terlalu cepat mendahului jaman dan “halu” bagi sebagian orang.

Namun, seiring berjalannya waktu, apa yang dulu hanya sekadar prediksi, visi dan mimpi kini telah menjadi kenyataan. AI dan teknologi chat tidak hanya hadir di berbagai aspek kehidupan kita, tetapi juga menjadi pilar utama dalam operasional bisnis, tidak hanya terbatas di industri media.

Saya merasa sedikit ‘bungah’ alias senang , namun juga pastinya harus tetap rendah hati, karena apa yang saya teliti dan prediksi hampir satu dekade lalu kini terbukti menjadi kenyataan.

Melihat Jauh ke Depan, Prediksi Tentang Teknologi

Seminar kampus adalah momen dimana saya mulai pertama kali ‘berani’ memperkenalkan konsep Teknologi masa depan , saya berbicara tentang bagaimana Machine Learning, dan bagaimana AI akan mengubah cara kita bekerja dan berinteraksi.

Saat itu ada road show, Saba Kampus, ya… beberapa orang kelilingkampus di Indonesia dan memberikan seminar sampai dengan workshop.

Memprediksi bahwa AI akan melampaui sekadar otomatisasi tugas-tugas rutin dan mulai berperan dalam pengambilan keputusan yang kompleks, analisis data besar (big data), dan bahkan dalam menciptakan konten kreatif.

2018, Media Business in the 4.0 Industrial Revolution.
Universitas Katolik Windya Mandala Surabaya

Materi presentasi, atau anak sekarang bilang ‘deck’ yang saya tampilkan di seminar kampus tersebut saya buat untuk konsumsi umum, beberapa informasi sensitif pastinya sudah saya sensor, karena beberapa project adalah project ‘senyap’ unit Development yang saya kelola dan pimpin.

Seminar kampus ini memberi saya kesempatan untuk memberikan visi kedepan tanpa beban dibandingkan ketika saya harus membawakan materi visi ini di internal perusahaan.

“Meracuni” imajinasi para mahasiswa-mahasiswi dengan visi kedepan yang mungkin terjadi, pastinya dalam konteks postif saya sebagai penelitian dan aktif dalam pengembangan produk dan sistem masa depan di sebuah perusahaan media masa.

Di panggung tersebut saya berperan dan berakrobat sebagai Ahli Nujum … Hahahaha.

Ketika di perusahaan, apalagi sebuah korporasi besar, tidak mudah membuat sebuah ide diterima, banyak aspek kompleksitas yang harus dilalui untuk menjalankan sebuah ide, dan memang itulah cara kerja korporasi, lebih berhati-hati alias prudent dan penuh liku.

Berhadapan dengan mahasiswa saya bebas mengutarakan ide, prediksi dan mimpi kedepan berdasarkan proyeksi hasil riset.

Pada tiga seminar di Universitas Katolik Soegijapranata Semarang, Universitas Katolik Windya Mandala Surabaya dan Universitas Airlangga Surabaya, saya menggunakan materi presentasi berikut ini.

Berikut adalah narasi dari materi presentasi atau deck tersebut:

Part 1, Global and Connected World

Pada masa kini, kita hidup di era yang begitu terhubung, di mana batas-batas geografis semakin kabur dan terhapus.

Buku “The End of History and The Last Man” oleh Francis Fukuyama pernah menggambarkan dunia ini sebagai akhir dari perkembangan ideologi manusia.

Kita kini berada di dunia tanpa batas, sebuah visi yang telah menjadi kenyataan. Dengan internet dan teknologi informasi, kita semua terhubung satu sama lain dalam satu jaringan global yang sangat besar, dan masa depan menuntut kita untuk terus adaptif dan siap dengan perubahan yang semakin cepat.

Part 2, Content is King, Advertising is Queen

Dalam dunia digital yang semakin kompleks, konten telah menjadi raja. Di sisi lain, iklan adalah ratu yang mengatur permainan di belakang layar.

Saat kita membicarakan pemasaran, iklan masih memegang peran penting dalam memastikan bahwa konten yang dihasilkan memiliki daya tarik dan sampai ke audiens yang tepat.

Namun, dalam dunia yang semakin kompetitif, memiliki “raja” tanpa “kerajaan” tidak akan membawa kesuksesan.

Peran teknologi dalam menavigasi dan mengelola konten serta iklan menjadi krusial untuk keberlangsungan bisnis di masa depan.

Part 3, The Slow Death of Traditional Media

Perlahan namun pasti, kita melihat kematian media tradisional. Koran, majalah, dan televisi semakin terpinggirkan oleh media digital.

Data menunjukkan penurunan tajam dalam pendapatan iklan dari media cetak dan televisi.

Perubahan ini tidak hanya mencerminkan perubahan preferensi konsumen, tetapi juga menunjukkan bagaimana teknologi telah mengubah cara kita mengonsumsi informasi.

Dominasi Google dan Facebook dalam periklanan digital menunjukkan bahwa media tradisional harus beradaptasi atau menghadapi kepunahan.

Part 4, Programmatic Advertising dan Ekosistemnya

Salah satu inovasi terbesar dalam periklanan adalah programmatic advertising, di mana pembelian iklan dilakukan secara otomatis menggunakan data real-time untuk menargetkan audiens dengan lebih efektif.

Ini adalah ekosistem yang kompleks, tetapi memberikan efisiensi dan hasil yang lebih baik dibandingkan metode tradisional.

Teknologi ini memungkinkan kita untuk mempersonalisasi iklan dengan lebih baik, menciptakan pengalaman yang relevan bagi pengguna, dan memaksimalkan pengembalian investasi bagi pengiklan.

Part 5, Artificial Intelligence dan Masa Depan

Masa depan tidak bisa dipisahkan dari Artificial Intelligence (AI). Dari pembelajaran mesin hingga deep learning, teknologi AI telah meresap ke berbagai aspek kehidupan kita.

AI tidak hanya mengambil alih tugas-tugas rutin, tetapi juga mempengaruhi cara kita bekerja dan hidup.

Dengan teknologi seperti Azure Data Center dan TensorFlow, kita dapat mengembangkan sistem yang mampu belajar, berpikir, dan mengambil keputusan seperti manusia.

Pertanyaannya adalah, seberapa siap kita menghadapi masa depan yang didominasi oleh AI?

Part 6, DevOps dan Tantangan Budaya

Di dunia teknologi informasi, DevOps telah menjadi sebuah budaya yang menggabungkan pengembangan dan operasi perangkat lunak.

Budaya ini menekankan pada otomatisasi dan pemantauan di setiap tahap pengembangan perangkat lunak.

Namun, adopsi DevOps juga menuntut perubahan budaya di perusahaan, terutama dalam kolaborasi antara tim pengembangan, operasi, dan pengujian.

Tantangan terbesar adalah menciptakan sinergi di antara tim-tim ini untuk mencapai tujuan bisnis dengan lebih cepat dan efisien.

Part 7, Blue Ocean Strategy

Di tengah persaingan yang semakin ketat, konsep Blue Ocean Strategy menjadi sangat relevan. Strategi ini mengajarkan kita untuk mencari nilai yang tidak bisa dengan mudah ditiru oleh kompetitor.

Seperti yang pernah dikatakan oleh tokoh terkenal, “Zaman Batu berakhir bukan karena batunya habis, tetapi karena adanya perubahan.”

Perusahaan yang sukses di masa depan adalah yang mampu menemukan “samudera biru” mereka sendiri, ruang pasar yang belum dieksplorasi dan penuh dengan peluang.

Part 8, The Dominance of Google and Facebook

Dalam beberapa tahun terakhir, kita telah menyaksikan dominasi luar biasa dari dua raksasa digital, Google dan Facebook. Keduanya telah mendominasi pasar iklan digital, meninggalkan media tradisional jauh di belakang.

Kedua perusahaan ini tidak hanya menjadi pintu gerbang utama informasi bagi miliaran pengguna, tetapi juga menguasai hampir semua data yang dihasilkan oleh aktivitas online kita.

Ini menimbulkan pertanyaan: apakah kita telah menyerahkan terlalu banyak kendali kepada dua entitas ini?

Tantangan ke depan adalah bagaimana menjaga keseimbangan antara inovasi dan monopoli di era digital.

Part 9, Global Digital Ad Revenue

Pendapatan iklan digital global terus meningkat secara eksponensial, didorong oleh peralihan besar-besaran dari media tradisional ke media digital.

Platform seperti Google, Facebook, dan Amazon telah memonopoli pasar ini, menawarkan alat yang canggih untuk penargetan dan pengukuran efektivitas iklan.

Bagi perusahaan yang ingin tetap relevan di pasar global, memahami dan memanfaatkan tren iklan digital ini bukan lagi pilihan, melainkan keharusan.

Masa depan iklan terletak pada kemampuan untuk mempersonalisasi pesan kepada audiens yang tepat pada waktu yang tepat.

Part 10, Digital Media Consumption

Konsumsi media digital telah melampaui semua bentuk media lainnya. Dari video on-demand hingga streaming musik, pengguna kini memiliki kontrol penuh atas apa, kapan, dan bagaimana mereka mengonsumsi konten.

Hal ini mengubah dinamika industri media secara drastis, memaksa perusahaan media tradisional untuk beradaptasi atau mati.

Dalam 10 tahun ke depan, diprediksi bahwa media digital akan terus mengungguli semua bentuk media lainnya, menciptakan lanskap baru yang menuntut inovasi dan fleksibilitas.

Part 11, Artificial Intelligence: Beyond Automation

Di balik hiruk-pikuk AI, ada perubahan mendasar yang lebih dalam dari sekadar otomatisasi. AI membawa kita ke era di mana mesin tidak hanya menjalankan tugas-tugas rutin tetapi juga berinovasi dan membuat keputusan berdasarkan analisis data yang kompleks.

Teknologi seperti machine learning, neural networks, dan deep learning menjadi pilar dalam mengembangkan sistem cerdas yang dapat memahami dan memprediksi perilaku manusia.

Namun, dengan kekuatan ini datang tanggung jawab yang besar: bagaimana kita memastikan bahwa AI bekerja untuk kepentingan semua, bukan hanya segelintir?

Part 12, Cognitive Services: Understanding Human Emotions

Salah satu inovasi menarik dari AI adalah kemampuan untuk memahami emosi manusia. Melalui API seperti Emotion API, kita dapat menganalisis ekspresi wajah dalam gambar dan menentukan tingkat emosi seperti kebahagiaan, kesedihan, atau kemarahan.

Kemampuan ini membuka pintu bagi pengembangan aplikasi yang lebih intuitif dan responsif terhadap kebutuhan pengguna.

Namun, tantangan etis muncul, sejauh mana kita ingin mesin memahami emosi kita, dan bagaimana kita menjaga privasi dalam dunia yang semakin terhubung ini?

Part 13, DevOps: Bridging the Gap

DevOps adalah tentang menjembatani kesenjangan antara pengembangan dan operasi.

Di masa lalu, tim pengembangan dan operasi sering kali bekerja dalam silo yang terpisah, menyebabkan keterlambatan dan inefisiensi.

Dengan mengadopsi budaya DevOps, perusahaan dapat mempercepat siklus pengembangan, meningkatkan frekuensi rilis, dan mengurangi risiko kesalahan.

Namun, transisi ini tidak mudah. Perusahaan harus mengatasi tantangan budaya, membangun kepercayaan antara tim, dan terus mendorong inovasi dalam proses pengembangan mereka.

Part 14, Survival in the Digital Age

Di dunia yang terus berubah ini, kemampuan untuk beradaptasi adalah kunci untuk bertahan hidup. Dalam bisnis, ini berarti terus menerus menilai kembali strategi, teknologi, dan proses untuk memastikan relevansi dan keberlanjutan.

Dalam konteks ini, konsep “Blue Ocean” menjadi semakin relevan.

Mengidentifikasi ruang pasar yang belum tersentuh dan menciptakan nilai yang unik adalah cara untuk menghindari persaingan yang mematikan di “Red Ocean.”

Ingatlah, “Jaman Batu berakhir bukan karena batunya habis,” tetapi karena adanya inovasi yang mendorong perubahan.

Part 15, The Future: A Blend of Tradition and Innovation

Di masa depan, kita akan melihat perpaduan antara tradisi dan inovasi. Beberapa aspek dari media tradisional akan bertahan, tetapi mereka harus beradaptasi dengan teknologi baru dan perubahan dalam konsumsi media.

Contohnya, televisi tradisional mungkin masih ada, tetapi dengan integrasi teknologi streaming dan on-demand yang lebih kuat.

Demikian pula, media cetak mungkin beralih ke format digital atau fokus pada niche yang sangat spesifik.

Kunci keberhasilan di masa depan adalah fleksibilitas dan kemampuan untuk melihat peluang di tengah perubahan.

Part 16, Conclusion: Embracing Change

Semua perubahan ini menunjukkan bahwa kita berada di ambang era baru dalam industri media dan teknologi informasi.

Untuk bertahan dan berkembang, kita harus siap untuk beradaptasi dengan cepat, terus belajar, dan merangkul inovasi.

Di dunia yang semakin terhubung ini, peluang tak terbatas menanti mereka yang berani berpikir di luar kotak dan menciptakan nilai yang berbeda.

Sebagai penutup, mari kita ingat bahwa meskipun zaman berubah, kepercayaan dan integritas harus tetap dijaga.

Kontemplasi

Dalam beberapa tahun terakhir, kita telah melihat perkembangan AI yang luar biasa.

Dari sistem pembelajaran mesin yang mampu memproses dan menganalisis data dalam jumlah besar, hingga AI yang dapat memahami emosi manusia dan membantu menciptakan pengalaman yang lebih personal.

Teknologi chat, seperti chatbot dan asisten virtual, telah menjadi alat yang esensial dalam banyak industri, termasuk media, di mana mereka membantu mengelola interaksi dengan audiens secara lebih efisien.

R&D dan Tantangan Memprediksi Masa Depan

Bekerja di R&D berarti selalu berada di garis depan perubahan. Namun, itu juga berarti menghadapi tantangan besar dalam memprediksi apa yang akan terjadi selanjutnya.

Ketika saya mulai berbicara tentang AI, salah satu tantangan terbesar adalah meyakinkan orang-orang di sekitar saya bahwa teknologi ini bukan hanya tren sesaat.

Saya harus menunjukkan melalui penelitian dan eksperimen bahwa AI memiliki potensi untuk membawa perubahan nyata dan signifikan.

Kini, dengan banyaknya bukti di sekitar kita, mulai dari asisten virtual seperti Siri, Alexa hingga AI yang menggerakkan analisis data dan prediksi pasar, saya merasa yakin bahwa kita baru melihat permukaan dari apa yang AI bisa lakukan.

Di R&D, tugas kami adalah terus mendorong batas-batas ini, mencari cara baru untuk mengintegrasikan AI dalam bisnis dan kehidupan sehari-hari.

Refleksi, Antara Visi dan Kenyataan

Melihat ke belakang, perjalanan ini telah mengajarkan saya banyak hal. Salah satunya adalah pentingnya visi dalam penelitian dan pengembangan.

Tanpa visi yang jelas tentang bagaimana teknologi bisa berkembang, sulit untuk membuat prediksi yang akurat dan memandu inovasi ke arah yang benar.

Teknologi bukanlah sekadar alat, ia adalah katalisator untuk perubahan yang lebih besar. Dari meningkatkan efisiensi operasional hingga menciptakan pengalaman pengguna yang lebih baik, Teknologi AI telah menunjukkan bahwa ia bisa menjadi mitra yang tak ternilai dalam dunia bisnis modern.

Sebagai peneliti dan inovator, tugas kita adalah terus mengeksplorasi, belajar, dan beradaptasi dengan teknologi yang terus berkembang ini.

Penutup, Memprediksi Masa Depan AI

Apa yang saya pelajari dari perjalanan ini adalah bahwa memprediksi masa depan bukanlah tentang memiliki bola kristal, tetapi tentang memahami tren, menggabungkan pengetahuan dengan intuisi, dan siap menghadapi tantangan baru.

Perkembangan teknologi terutama AI, yang dulu hanya saya bicarakan sebagai sebuah prediksi, kini telah menjadi kenyataan yang kita jalani setiap hari.

Sebagai penutup, saya ingin mengajak pembaca blog ini untuk terus mengikuti perkembangan ini, terus belajar, dan tidak takut untuk membayangkan masa depan yang lebih baik dengan bantuan teknologi.

Karena pada akhirnya, masa depan adalah milik mereka yang berani memprediksi dan mempersiapkan diri untuk itu.

Mengapa Memilih Cloudflare Turnstile Dibanding Google reCAPTCHA?

Saat ini saya dan tim sedang mengelola beberapa project kuis (trivia) dan lead form di platform web, dan salah satu tantangan utamanya adalah bagaimana melindungi aplikasi dari serangan bot tanpa mengganggu pengalaman pengguna.

Apapun, konversi yang tinggi dan data yang berkualitas menjadi tuntutan tim internal dan juga pastinya klien.

Awalnya, seperti biasa, teman-teman developer mempertimbangkan untuk menggunakan Google reCAPTCHA karena sudah umum dipakai. Tapi setelah mengevaluasi lebih dalam, saya memutuskan beralih ke Cloudflare Turnstile, dan keputusan ini ternyata membawa dampak positif untuk aplikasi kuis yang dikelola oleh tim.

Alasan pertama adalah soal privasi pengguna. Google reCAPTCHA sering mengumpulkan data pengguna seperti pergerakan mouse, cookies, dan informasi browser untuk mendeteksi bot.

Beberapa klien adalah perusahaan global yang sangat ketat dan sensitif dalam klausal pengelolaan data seseorang web visitor yang kemuadian direkam dalam database.

Di aplikasi kuis versi web, kami berkeinginan peserta fokus ke pengalaman pengguna (user experience) tanpa khawatir datanya dilacak dengan detail. Cloudflare Turnstile tidak menggunakan metode pelacakan invasif , jadi pengguna tetap merasa aman dan nyaman saat mengikuti kuis.

Selain itu, pengalaman pengguna menjadi pertimbangan besar. Saya tidak ingin peserta kuis terjebak memilih gambar lampu lalu lintas atau sepeda motor seperti yang sering terjadi pada Google reCAPTCHA.

Proses verifikasi dapat berjalan otomatis tanpa interaksi tambahan. Peserta bisa langsung memulai kuis tanpa hambatan, yang secara signifikan meningkatkan partisipasi (conversion rate) dan kepuasan pengguna.

Selain itu, Turnstile menghilangkan pengalaman menjengkelkan dengan CAPTCHA yang menggunakan teknogi yang sederhana alias alakadarnya.

Teknologi yang digunakan Turnstile memastikan pengunjung web adalah pengguna asli dan memblokir bot yang tidak diinginkan tanpa memperlambat pengalaman pengguna dalam mengakses sebuah halaman situs.

Dari segi performa, Turnstile terasa lebih ringan. Waktu memuat (loading) halaman aplikasi kuis jadi lebih cepat, yang merupakan faktor penting banget karena kuis sering kali mengandalkan waktu respons peserta.

Tidak ada lagi jeda tambahan gara-gara komponen anti-bot yang berat.

Soal biaya juga nggak kalah penting. Google reCAPTCHA memang gratis, tapi untuk penggunaan skala besar, opsi premiumnya Google bisa cukup menguras budget. Cloudflare Turnstile sepenuhnya gratis tanpa batasan yang merepotkan. Ini jadi solusi hemat tanpa harus mengorbankan keamanan.

Untuk integrasi, implementasi Turnstile di berbagai web framework juga mudah, ditambah aplikasi kuis yang dikembangkan juga sudah menggunakan Cloudflare untuk optimasi dan keamanan, menambahkan Turnstile hanya butuh beberapa baris kode.

Benchmark dan referensi teknis dapat kamu lihat lebih lanjut di konten berikut ini, Google reCAPTCHA vs Cloudflare Turnstile: Best Pick?

Yang paling saya rasakan, sejak menggunakan Turnstile, tingkat partisipasi kuis meningkat. Peserta tidak lagi terhalang verifikasi yang mengganggu. Mereka bisa langsung masuk, menjawab pertanyaan, dan menyelesaikan kuis tanpa hambatan teknis yang tidak perlu.

Sampai hari ini, bagi saya dan teman-teman developer, memilih Cloudflare Turnstile adalah keputusan tepat. Privasi pengguna lebih terjaga, pengalaman jadi mulus, performa meningkat, dan semuanya bisa didapat tanpa biaya tambahan.

Kalau kamu juga sedang membangun aplikasi berbasis web yang butuh perlindungan dari bot, saya merekomendasikan untuk mencoba Turnstile. Pengalaman pengguna yang lebih baik bisa jadi kunci suksesnya aplikasi yang sedang kamu kembangkan.

Cara Paling Mudah Akses Situs yang Diblokir

Beberapa kali saya dihadapkan akan kebutuhan untuk mengakses situs-situs yang diblokir pihak Kominfo (sekarang Komidigi).

Kebutuhan ini pastinya untuk urusan yang postif ya, terkait pekerjaan dan profesi saya saat dalam membuat aplikasi, riset dan juga mengelola berbagai sistem, server di berbagai datacenter di seluruh dunia.

Diluar kontroversi mengapa situs-situs yang sebenarnya bermanfaat atau banyak manfaatnya tersebut juga ikut diblokir, saya tetap berharap pihak penyelenggara dan regulator akses Internet di Indonesia lebih bijak dalam mengkategorikan sebuah situs perlu diblokir atau tidak.

Masalahnya, pekerjaan atau kebutuhan profesi saya mengakses situs-situs yang diblokir tersebut tidak bisa ditunda apalagi diabaikan.

Banyak cara untuk mengatasi blokir akses Internet Indonesia, mulai dari cara paling ribet sampai paling mudah.

Untuk komputer laptop atau desktop dirumah, ketika saya ingin mengakses situs Reddit dan Vimeo yang diblokir, saat ini saya mengandalkan aplikasi WARP Cloudflare.

WARP Cloudflare adalah aplikasi VPN (Virtual Private Network) gratis yang berfungsi melindungi koneksi internet pengguna dengan mengenkripsi data yang dikirimkan dan diterima, mulai sejak awal dari komputer atau perangkat yang digunakan.

Cara instalasi dan penggunaannua cukup mudah, unduh aplikasi WARP Cloudflare dari situs resminya dan lakukan instalasi pada perangkat komputer. Bila ingin digunakan, aktifkan dengak klik tombol aktivasi, dan bila ingin dinonaktifkan, klik kembali tombolnya.

Pilihan tombol tersebut tersedia dengan mengakses tray icon di sudut kanan bawah sistem Operasi Windows 10/11.

Bila warna awannya berwarna abu-abu, artinya non aktif, anda menggunakan koneksi Internet biasa, bila icon awannya berwarna oranye, artinya anda menggunakan koneksi WARP Cloudflare yang dapat mengakses situs yang diblokir.

Bila anda sering menggunakan fasilitas WIFI publik untuk mengakses Internet seperti di lokasi kafe, hotel dan bandara, saya sarankan Anda menggunakan dan mengaktifkan WARP Cloudflare untuk meningkatkan keamanan dan menjamin privasi koneksi anda.

Banyak penjahat yang memanfaatkan akses internet publik untuk menyadap dan mendapatkan informasi sensitif untuk disalahgunakan.

Dengan WARP Cloudflare, tidak hanya anda bisa mengakses situs yang diblokir, anda juga mendapatkan bantuan kemamanan akses Internet dimanapun Anda berada.

restic, Backup Done Rights!

Menemukan aplikasi backup untuk server sebelum menemukan “restic” penuh keraguan dan tanda tanya, sepertinya tidak ada aplikasi backup yang benar-benar handal , aman dan mudah digunakan.

restic dijalankan dengan menggunakan command line di terminal, aplikasi ini tidak (belum) memiliki GUI yang memadai. Justru disinilah bentuk awal kehandalannya.

Beberapa keunggulan restic yang saya suka antara lain,

Secure dari awal, keamanan data dijamin dari awal karena menggunakan kriptografi, dan ini mandatory bukan opsional. Sehingga jika kamu lupa password, file backup tidak bisa diaksed dan direstore.

Free, restic memliki sumber kode terbuka dan pastinya gratis!

Easy, alias mudah di setup dan dijalankan karena hanya menggunakan script bash biasa

Storage Type, destinasi backup restic sangat beraga, mulai dari local storage sampai dengan berbagai macal cloud storage protocol.

Multi OS. restic mendukung cakupan sistem operasi yang luas, mulai dari BSD, Linux, MacOS sampai Windows.

Apabila kamu sedang mencari aplikasi backup yang dapat diandalkan untuk server, restic adalah pilihan yang patut dipertimbangkan. Dengan sistem keamanan bawaan, sifatnya yang terbuka dan gratis, kemudahan setup, serta fleksibilitas untuk berbagai storage, restic mampu menjawab keraguan dan kebutuhan backup yang reliable.

Pastikan password selalu diingat dan disimpan di tempat aman, karena sekali lupa, siap-siap membuat backup baru lagi dari awal.

How to Install Invoice Ninja On Debian 12 Bookworm

Invoice Ninja is a popular open-source platform for managing invoices, clients, and payments. However, due to their frequent release cycle, installation can sometimes be challenging.

This guide provides a step-by-step working method to install Invoice Ninja on a self-hosted Debian 12 Bookworm system. Before you start, ensure you have MariaDB, NGINX, and PHP 8.2 installed and configured.

Step 1: Install Required PHP Modules

Invoice Ninja requires several PHP modules to function correctly. Run the following command to install them:

sudo apt install php8.2-bcmath php8.2-gd php8.2-mbstring php8.2-xml php8.2-curl php8.2-zip php8.2-mysql php8.2-fpm php8.2-imagick php8.2-soap php8.2-common php8.2-intl php8.2-iconv php8.2-openssl
Code language: CSS (css)

Step 2: Create the Installation Directory

Create a directory for Invoice Ninja under /var/app:

sudo mkdir -p /var/app/invoiceninja
cd /var/app/invoiceninja
Code language: JavaScript (javascript)

Step 3: Download Invoice Ninja

Download the latest release of Invoice Ninja from their official GitHub repository. At the time of writing, version v5.9.6 is the latest stable version:

wget https://github.com/invoiceninja/invoiceninja/releases/download/v5.9.6/invoiceninja.tar
Code language: JavaScript (javascript)

Step 4: Extract the Files

Extract the downloaded .tar file:

sudo tar -xf invoiceninja.tar
Code language: CSS (css)

Once extracted, delete the compressed file to save space:

sudo rm -rf invoiceninja.tar
Code language: CSS (css)

Step 5: Set Proper Ownership

Change the ownership of the invoiceninja directory and its contents to the www-data user:

sudo chown www-data: -R /var/app/invoiceninja
Code language: JavaScript (javascript)

Step 6: Install Composer Dependencies

If Composer is not installed, you can install it with:

sudo apt install composer

Then, install the required dependencies for Invoice Ninja:

sudo -u www-data composer install

Step 7: Configure the Environment File

Copy the default .env file and make necessary updates for your environment:

sudo cp .env.example .env
Code language: CSS (css)

Change the ownership of the .env file to www-data:

sudo chown www-data: .env
Code language: CSS (css)

Edit the .env file to match your database and system configuration. Ensure you update the following values:

APP_URL=https://yourdomain.com
DB_DATABASE=invoiceninja
DB_USERNAME=invoiceninja_user
DB_PASSWORD=yourpassword
Code language: JavaScript (javascript)

Step 8: Generate the Application Key

Generate a secure application key:

sudo -u www-data php artisan key:generate
Code language: CSS (css)

Step 9: Clear Config Cache

Clear any cached configurations:

php artisan config:clear
Code language: CSS (css)

Step 10: Change Log Folder Permission

Make sure the storage and cache folder is accessible by the application

sudo chown -R www-data: /var/app/invoiceninja/storage 
sudo chown -R www-data: /var/app/invoiceninja/bootstrap/cache

sudo chmod -R 775 /var/app/invoiceninja/storage 
sudo chmod -R 775 /var/app/invoiceninja/bootstrap/cache
Code language: JavaScript (javascript)

Step 10: Setup Con Job to Run Schedule

Setup cron job to run schedule.

* * * * * cd /var/app/invoiceninja && php artisan schedule:run >> /dev/null 2>&1Code language: JavaScript (javascript)

Step 11: Setup NGINX config with Cloudflare SSL

server {
            server_name www.example example.com;
            return       301 https://example.com$request_uri;
        }

server {

  add_header X-Content-Type-Options nosniff;
  add_header X-Frame-Options: SAMEORIGIN;

  #listen 80;
  server_name example.com www.example.com;

  listen 443 ssl http2;
  listen [::]:443 ssl http2;

        ssl_certificate         /var/app/ssl/example.com.pem.crt;
        ssl_certificate_key     /var/app/ssl/example.com.private.key;

  root /var/app/invoiceninja/public;

  index index.php index.html
  access_log /var/app/log/example.com.access.log;
  error_log  /var/app/log/example.com.error.log;


   location / {

	try_files $uri $uri/ /index.php?$args;
    }

    location ~ .php$ {
        include snippets/fastcgi-php.conf;
        fastcgi_pass unix:/run/php/php8.2-fpm.sock;
    }
}Code language: PHP (php)

Final Steps

At this point, Invoice Ninja is installed and ready to configure in your browser. Ensure your NGINX configuration points to the /var/app/invoiceninja/public directory as the root. Restart PHP-FPM and NGINX to apply changes:

sudo systemctl restart php8.2-fpm
sudo systemctl restart nginx
Code language: CSS (css)

Troubleshooting

If you encounter any issues, ensure all dependencies are installed and check the NGINX and PHP-FPM logs for errors:

sudo tail -f /var/log/nginx/error.log
sudo tail -f /var/log/php8.2-fpm.log
Code language: JavaScript (javascript)

With this guide, you should have a fully functional Invoice Ninja setup on your Debian 12 Bookworm server. Enjoy managing your invoices efficiently!