Dari Penelitian ke Realita, Hobi Saya Sebagai ‘Ahli Nujum’. Hahaha …

Berkarya cukup lama sebagai peneliti dan bagian dari tim R&D (Research and Development) di sebuah perusahaan media, saya selalu tertarik dengan bagaimana teknologi berkembang dan memberi dampak pada industri tempat saya bekerja.

Ini adalah berkas beberapa tahun yang lalu sekitar tahun 2017, ketika saya pertama kali mulai mendalami konsep, cara kerja Artificial Intelligence (AI) dan teknologi chat bot, pada saat itu, saya, tim dan partner pengembang melihat potensi besar yang dimiliki keduanya.

Beberapa purwarupa chat bot, sampai dengan penggunaan database vektor berjalan dalam senyap dan hening.

Saya ingat berbicara di berberapa seminar dan berbagi pandangan tentang bagaimana teknologi, termasuk AI akan menjadi bagian tak terpisahkan dari masa depan kita, sebuah prediksi yang pada saat itu mungkin terdengar seperti fiksi ilmiah (science fiction) yang terlalu cepat mendahului jaman dan “halu” bagi sebagian orang.

Namun, seiring berjalannya waktu, apa yang dulu hanya sekadar prediksi, visi dan mimpi kini telah menjadi kenyataan. AI dan teknologi chat tidak hanya hadir di berbagai aspek kehidupan kita, tetapi juga menjadi pilar utama dalam operasional bisnis, tidak hanya terbatas di industri media.

Saya merasa sedikit ‘bungah’ alias senang , namun juga pastinya harus tetap rendah hati, karena apa yang saya teliti dan prediksi hampir satu dekade lalu kini terbukti menjadi kenyataan.

Melihat Jauh ke Depan, Prediksi Tentang Teknologi

Seminar kampus adalah momen dimana saya mulai pertama kali ‘berani’ memperkenalkan konsep Teknologi masa depan , saya berbicara tentang bagaimana Machine Learning, dan bagaimana AI akan mengubah cara kita bekerja dan berinteraksi.

Saat itu ada road show, Saba Kampus, ya… beberapa orang kelilingkampus di Indonesia dan memberikan seminar sampai dengan workshop.

Memprediksi bahwa AI akan melampaui sekadar otomatisasi tugas-tugas rutin dan mulai berperan dalam pengambilan keputusan yang kompleks, analisis data besar (big data), dan bahkan dalam menciptakan konten kreatif.

2018, Media Business in the 4.0 Industrial Revolution.
Universitas Katolik Windya Mandala Surabaya

Materi presentasi, atau anak sekarang bilang ‘deck’ yang saya tampilkan di seminar kampus tersebut saya buat untuk konsumsi umum, beberapa informasi sensitif pastinya sudah saya sensor, karena beberapa project adalah project ‘senyap’ unit Development yang saya kelola dan pimpin.

Seminar kampus ini memberi saya kesempatan untuk memberikan visi kedepan tanpa beban dibandingkan ketika saya harus membawakan materi visi ini di internal perusahaan.

“Meracuni” imajinasi para mahasiswa-mahasiswi dengan visi kedepan yang mungkin terjadi, pastinya dalam konteks postif saya sebagai penelitian dan aktif dalam pengembangan produk dan sistem masa depan di sebuah perusahaan media masa.

Di panggung tersebut saya berperan dan berakrobat sebagai Ahli Nujum … Hahahaha.

Ketika di perusahaan, apalagi sebuah korporasi besar, tidak mudah membuat sebuah ide diterima, banyak aspek kompleksitas yang harus dilalui untuk menjalankan sebuah ide, dan memang itulah cara kerja korporasi, lebih berhati-hati alias prudent dan penuh liku.

Berhadapan dengan mahasiswa saya bebas mengutarakan ide, prediksi dan mimpi kedepan berdasarkan proyeksi hasil riset.

Pada tiga seminar di Universitas Katolik Soegijapranata Semarang, Universitas Katolik Windya Mandala Surabaya dan Universitas Airlangga Surabaya, saya menggunakan materi presentasi berikut ini.

Berikut adalah narasi dari materi presentasi atau deck tersebut:

Part 1, Global and Connected World

Pada masa kini, kita hidup di era yang begitu terhubung, di mana batas-batas geografis semakin kabur dan terhapus.

Buku “The End of History and The Last Man” oleh Francis Fukuyama pernah menggambarkan dunia ini sebagai akhir dari perkembangan ideologi manusia.

Kita kini berada di dunia tanpa batas, sebuah visi yang telah menjadi kenyataan. Dengan internet dan teknologi informasi, kita semua terhubung satu sama lain dalam satu jaringan global yang sangat besar, dan masa depan menuntut kita untuk terus adaptif dan siap dengan perubahan yang semakin cepat.

Part 2, Content is King, Advertising is Queen

Dalam dunia digital yang semakin kompleks, konten telah menjadi raja. Di sisi lain, iklan adalah ratu yang mengatur permainan di belakang layar.

Saat kita membicarakan pemasaran, iklan masih memegang peran penting dalam memastikan bahwa konten yang dihasilkan memiliki daya tarik dan sampai ke audiens yang tepat.

Namun, dalam dunia yang semakin kompetitif, memiliki “raja” tanpa “kerajaan” tidak akan membawa kesuksesan.

Peran teknologi dalam menavigasi dan mengelola konten serta iklan menjadi krusial untuk keberlangsungan bisnis di masa depan.

Part 3, The Slow Death of Traditional Media

Perlahan namun pasti, kita melihat kematian media tradisional. Koran, majalah, dan televisi semakin terpinggirkan oleh media digital.

Data menunjukkan penurunan tajam dalam pendapatan iklan dari media cetak dan televisi.

Perubahan ini tidak hanya mencerminkan perubahan preferensi konsumen, tetapi juga menunjukkan bagaimana teknologi telah mengubah cara kita mengonsumsi informasi.

Dominasi Google dan Facebook dalam periklanan digital menunjukkan bahwa media tradisional harus beradaptasi atau menghadapi kepunahan.

Part 4, Programmatic Advertising dan Ekosistemnya

Salah satu inovasi terbesar dalam periklanan adalah programmatic advertising, di mana pembelian iklan dilakukan secara otomatis menggunakan data real-time untuk menargetkan audiens dengan lebih efektif.

Ini adalah ekosistem yang kompleks, tetapi memberikan efisiensi dan hasil yang lebih baik dibandingkan metode tradisional.

Teknologi ini memungkinkan kita untuk mempersonalisasi iklan dengan lebih baik, menciptakan pengalaman yang relevan bagi pengguna, dan memaksimalkan pengembalian investasi bagi pengiklan.

Part 5, Artificial Intelligence dan Masa Depan

Masa depan tidak bisa dipisahkan dari Artificial Intelligence (AI). Dari pembelajaran mesin hingga deep learning, teknologi AI telah meresap ke berbagai aspek kehidupan kita.

AI tidak hanya mengambil alih tugas-tugas rutin, tetapi juga mempengaruhi cara kita bekerja dan hidup.

Dengan teknologi seperti Azure Data Center dan TensorFlow, kita dapat mengembangkan sistem yang mampu belajar, berpikir, dan mengambil keputusan seperti manusia.

Pertanyaannya adalah, seberapa siap kita menghadapi masa depan yang didominasi oleh AI?

Part 6, DevOps dan Tantangan Budaya

Di dunia teknologi informasi, DevOps telah menjadi sebuah budaya yang menggabungkan pengembangan dan operasi perangkat lunak.

Budaya ini menekankan pada otomatisasi dan pemantauan di setiap tahap pengembangan perangkat lunak.

Namun, adopsi DevOps juga menuntut perubahan budaya di perusahaan, terutama dalam kolaborasi antara tim pengembangan, operasi, dan pengujian.

Tantangan terbesar adalah menciptakan sinergi di antara tim-tim ini untuk mencapai tujuan bisnis dengan lebih cepat dan efisien.

Part 7, Blue Ocean Strategy

Di tengah persaingan yang semakin ketat, konsep Blue Ocean Strategy menjadi sangat relevan. Strategi ini mengajarkan kita untuk mencari nilai yang tidak bisa dengan mudah ditiru oleh kompetitor.

Seperti yang pernah dikatakan oleh tokoh terkenal, “Zaman Batu berakhir bukan karena batunya habis, tetapi karena adanya perubahan.”

Perusahaan yang sukses di masa depan adalah yang mampu menemukan “samudera biru” mereka sendiri, ruang pasar yang belum dieksplorasi dan penuh dengan peluang.

Part 8, The Dominance of Google and Facebook

Dalam beberapa tahun terakhir, kita telah menyaksikan dominasi luar biasa dari dua raksasa digital, Google dan Facebook. Keduanya telah mendominasi pasar iklan digital, meninggalkan media tradisional jauh di belakang.

Kedua perusahaan ini tidak hanya menjadi pintu gerbang utama informasi bagi miliaran pengguna, tetapi juga menguasai hampir semua data yang dihasilkan oleh aktivitas online kita.

Ini menimbulkan pertanyaan: apakah kita telah menyerahkan terlalu banyak kendali kepada dua entitas ini?

Tantangan ke depan adalah bagaimana menjaga keseimbangan antara inovasi dan monopoli di era digital.

Part 9, Global Digital Ad Revenue

Pendapatan iklan digital global terus meningkat secara eksponensial, didorong oleh peralihan besar-besaran dari media tradisional ke media digital.

Platform seperti Google, Facebook, dan Amazon telah memonopoli pasar ini, menawarkan alat yang canggih untuk penargetan dan pengukuran efektivitas iklan.

Bagi perusahaan yang ingin tetap relevan di pasar global, memahami dan memanfaatkan tren iklan digital ini bukan lagi pilihan, melainkan keharusan.

Masa depan iklan terletak pada kemampuan untuk mempersonalisasi pesan kepada audiens yang tepat pada waktu yang tepat.

Part 10, Digital Media Consumption

Konsumsi media digital telah melampaui semua bentuk media lainnya. Dari video on-demand hingga streaming musik, pengguna kini memiliki kontrol penuh atas apa, kapan, dan bagaimana mereka mengonsumsi konten.

Hal ini mengubah dinamika industri media secara drastis, memaksa perusahaan media tradisional untuk beradaptasi atau mati.

Dalam 10 tahun ke depan, diprediksi bahwa media digital akan terus mengungguli semua bentuk media lainnya, menciptakan lanskap baru yang menuntut inovasi dan fleksibilitas.

Part 11, Artificial Intelligence: Beyond Automation

Di balik hiruk-pikuk AI, ada perubahan mendasar yang lebih dalam dari sekadar otomatisasi. AI membawa kita ke era di mana mesin tidak hanya menjalankan tugas-tugas rutin tetapi juga berinovasi dan membuat keputusan berdasarkan analisis data yang kompleks.

Teknologi seperti machine learning, neural networks, dan deep learning menjadi pilar dalam mengembangkan sistem cerdas yang dapat memahami dan memprediksi perilaku manusia.

Namun, dengan kekuatan ini datang tanggung jawab yang besar: bagaimana kita memastikan bahwa AI bekerja untuk kepentingan semua, bukan hanya segelintir?

Part 12, Cognitive Services: Understanding Human Emotions

Salah satu inovasi menarik dari AI adalah kemampuan untuk memahami emosi manusia. Melalui API seperti Emotion API, kita dapat menganalisis ekspresi wajah dalam gambar dan menentukan tingkat emosi seperti kebahagiaan, kesedihan, atau kemarahan.

Kemampuan ini membuka pintu bagi pengembangan aplikasi yang lebih intuitif dan responsif terhadap kebutuhan pengguna.

Namun, tantangan etis muncul, sejauh mana kita ingin mesin memahami emosi kita, dan bagaimana kita menjaga privasi dalam dunia yang semakin terhubung ini?

Part 13, DevOps: Bridging the Gap

DevOps adalah tentang menjembatani kesenjangan antara pengembangan dan operasi.

Di masa lalu, tim pengembangan dan operasi sering kali bekerja dalam silo yang terpisah, menyebabkan keterlambatan dan inefisiensi.

Dengan mengadopsi budaya DevOps, perusahaan dapat mempercepat siklus pengembangan, meningkatkan frekuensi rilis, dan mengurangi risiko kesalahan.

Namun, transisi ini tidak mudah. Perusahaan harus mengatasi tantangan budaya, membangun kepercayaan antara tim, dan terus mendorong inovasi dalam proses pengembangan mereka.

Part 14, Survival in the Digital Age

Di dunia yang terus berubah ini, kemampuan untuk beradaptasi adalah kunci untuk bertahan hidup. Dalam bisnis, ini berarti terus menerus menilai kembali strategi, teknologi, dan proses untuk memastikan relevansi dan keberlanjutan.

Dalam konteks ini, konsep “Blue Ocean” menjadi semakin relevan.

Mengidentifikasi ruang pasar yang belum tersentuh dan menciptakan nilai yang unik adalah cara untuk menghindari persaingan yang mematikan di “Red Ocean.”

Ingatlah, “Jaman Batu berakhir bukan karena batunya habis,” tetapi karena adanya inovasi yang mendorong perubahan.

Part 15, The Future: A Blend of Tradition and Innovation

Di masa depan, kita akan melihat perpaduan antara tradisi dan inovasi. Beberapa aspek dari media tradisional akan bertahan, tetapi mereka harus beradaptasi dengan teknologi baru dan perubahan dalam konsumsi media.

Contohnya, televisi tradisional mungkin masih ada, tetapi dengan integrasi teknologi streaming dan on-demand yang lebih kuat.

Demikian pula, media cetak mungkin beralih ke format digital atau fokus pada niche yang sangat spesifik.

Kunci keberhasilan di masa depan adalah fleksibilitas dan kemampuan untuk melihat peluang di tengah perubahan.

Part 16, Conclusion: Embracing Change

Semua perubahan ini menunjukkan bahwa kita berada di ambang era baru dalam industri media dan teknologi informasi.

Untuk bertahan dan berkembang, kita harus siap untuk beradaptasi dengan cepat, terus belajar, dan merangkul inovasi.

Di dunia yang semakin terhubung ini, peluang tak terbatas menanti mereka yang berani berpikir di luar kotak dan menciptakan nilai yang berbeda.

Sebagai penutup, mari kita ingat bahwa meskipun zaman berubah, kepercayaan dan integritas harus tetap dijaga.

Kontemplasi

Dalam beberapa tahun terakhir, kita telah melihat perkembangan AI yang luar biasa.

Dari sistem pembelajaran mesin yang mampu memproses dan menganalisis data dalam jumlah besar, hingga AI yang dapat memahami emosi manusia dan membantu menciptakan pengalaman yang lebih personal.

Teknologi chat, seperti chatbot dan asisten virtual, telah menjadi alat yang esensial dalam banyak industri, termasuk media, di mana mereka membantu mengelola interaksi dengan audiens secara lebih efisien.

R&D dan Tantangan Memprediksi Masa Depan

Bekerja di R&D berarti selalu berada di garis depan perubahan. Namun, itu juga berarti menghadapi tantangan besar dalam memprediksi apa yang akan terjadi selanjutnya.

Ketika saya mulai berbicara tentang AI, salah satu tantangan terbesar adalah meyakinkan orang-orang di sekitar saya bahwa teknologi ini bukan hanya tren sesaat.

Saya harus menunjukkan melalui penelitian dan eksperimen bahwa AI memiliki potensi untuk membawa perubahan nyata dan signifikan.

Kini, dengan banyaknya bukti di sekitar kita, mulai dari asisten virtual seperti Siri, Alexa hingga AI yang menggerakkan analisis data dan prediksi pasar, saya merasa yakin bahwa kita baru melihat permukaan dari apa yang AI bisa lakukan.

Di R&D, tugas kami adalah terus mendorong batas-batas ini, mencari cara baru untuk mengintegrasikan AI dalam bisnis dan kehidupan sehari-hari.

Refleksi, Antara Visi dan Kenyataan

Melihat ke belakang, perjalanan ini telah mengajarkan saya banyak hal. Salah satunya adalah pentingnya visi dalam penelitian dan pengembangan.

Tanpa visi yang jelas tentang bagaimana teknologi bisa berkembang, sulit untuk membuat prediksi yang akurat dan memandu inovasi ke arah yang benar.

Teknologi bukanlah sekadar alat, ia adalah katalisator untuk perubahan yang lebih besar. Dari meningkatkan efisiensi operasional hingga menciptakan pengalaman pengguna yang lebih baik, Teknologi AI telah menunjukkan bahwa ia bisa menjadi mitra yang tak ternilai dalam dunia bisnis modern.

Sebagai peneliti dan inovator, tugas kita adalah terus mengeksplorasi, belajar, dan beradaptasi dengan teknologi yang terus berkembang ini.

Penutup, Memprediksi Masa Depan AI

Apa yang saya pelajari dari perjalanan ini adalah bahwa memprediksi masa depan bukanlah tentang memiliki bola kristal, tetapi tentang memahami tren, menggabungkan pengetahuan dengan intuisi, dan siap menghadapi tantangan baru.

Perkembangan teknologi terutama AI, yang dulu hanya saya bicarakan sebagai sebuah prediksi, kini telah menjadi kenyataan yang kita jalani setiap hari.

Sebagai penutup, saya ingin mengajak pembaca blog ini untuk terus mengikuti perkembangan ini, terus belajar, dan tidak takut untuk membayangkan masa depan yang lebih baik dengan bantuan teknologi.

Karena pada akhirnya, masa depan adalah milik mereka yang berani memprediksi dan mempersiapkan diri untuk itu.

AI, Ghibli, dan Hak Cipta, Menyusuri Batas Tipis antara Teknologi dan Seni

Di tengah derasnya arus perkembangan teknologi kecerdasan buatan, muncul pula gelombang penolakan dan gugatan yang tidak kalah sengit.

Gugatan demi gugatan dilayangkan, sebagian oleh para pekerja seni, sebagian oleh korporasi, dan sebagian lagi oleh individu yang merasa hak kreatif mereka mulai tergerus.

Dunia sedang berebut narasi, siapa pemilik sah dari hasil ciptaan mesin yang belajar dari karya manusia?

Di sela-sela itu, saya iseng bereksperimen.

Saya coba menggabungkan gaya visual khas Studio Ghibli dan Makoto Shinkai ke dalam dokumentasi perjalanan pribadi ketika melakukan Touring Bantern – Jawa Barat 28 – 30 Maret 2025.

Bukan sebagai bentuk penghormatan besar, bukan pula untuk tujuan komersial. Murni rasa penasaran, campuran antara teknologi dan imajinasi yang selama ini hanya bisa saya nikmati di layar.

Sebagai pengguna berbayar layanan OpenAI, saya merasa punya sedikit hak moral untuk menjelajah teknologi ini.

Bukan untuk memanfaatkan secara serampangan, melainkan untuk melihat sejauh apa teknologi bisa “meniru” rasa.

Saya pun mengasumsikan bahwa segala urusan legalitas dan etika berada di ranah penyedia jasa, sebuah asumsi yang mungkin terlalu naif, tapi juga cukup umum di kalangan pengguna.

Saya membayangkannya seperti seni kaligrafi.

Dulu, kaligrafi ditulis tangan dengan penuh kekhusyukan. Kini, kita bisa menirunya dalam hitungan detik menggunakan software vektor.

Tak ada yang menggugat Adobe Illustrator ketika ia mampu mereplikasi huruf-huruf Arab dengan lekukan sempurna.

Yang dulu sakral dan rumit, kini menjadi template dan preset.

Namun, ada satu perbedaan penting.

Seniman kaligrafi klasik sudah lama wafat. Warisan mereka telah menjadi milik publik, lebur ke dalam kebudayaan umum.

Tapi bagaimana dengan Hayao Miyazaki, Makoto Shinkai, atau ilustrator-ilustrator kontemporer lainnya yang masih hidup, masih berkarya, dan kini bisa melihat gaya mereka dipakai ulang oleh mesin?

Apakah ini penghormatan? Atau perampokan estetika?

Saya tidak punya jawaban yang pasti.

Namun, saya teringat satu kutipan dari Matt Mullenweg, pendiri WordPress, “Code is poetry.”
Kode program adalah puisi.

Ia diciptakan dengan struktur, keindahan, dan niat. Ia bisa menggerakkan perasaan, sama seperti lukisan atau musik.

Maka, para ilmuwan yang menciptakan model AI, seperti GPT atau DALL·E, sejatinya sedang menciptakan bentuk seni juga, hanya saja medianya bukan kanvas, melainkan kumpulan angka dan logika.

Pertanyaannya besarnya, Apakah para pekerja seni melihat kode sebagai bentuk seni juga?
Atau seni tetap harus berasal dari tangan manusia yang berkeringat, berdarah, dan bergumul dengan kesunyian?

Teknologi terus bergerak maju, dan perdebatan ini belum akan selesai dalam waktu dekat. Tapi bagi saya pribadi, AI adalah alat, seperti kuas, kamera, atau piano.

Yang membedakan hanyalah siapa yang memegangnya, dan untuk tujuan apa.

Dan sementara itu, saya akan terus bermain. Menikmati benturan antara Ghibli, Makoto, dan model AI. Karena siapa tahu, dari sana justru lahir bentuk seni baru yang belum sempat kita bayangkan.

Explorasi atau Exploitasi ?

Apa yang saya lakukan ini mungkin tidak sepenuhnya aman dari kritik, dan itu wajar.

Dunia seni selalu dibangun dari perdebatan. Dari pertanyaan-pertanyaan yang tak selesai.

Tapi satu hal yang pasti, teknologi sudah di tangan kita, dan tidak mungkin kita menutup mata.

Justru dengan eksplorasi terbuka dan bertanggung jawab, kita bisa ikut mengarahkan ke mana teknologi ini melangkah.

Mungkin hari ini kita cuma bermain dengan gambar. Tapi besok, kita bisa menciptakan narasi, ruang, bahkan dunia baru yang lebih kaya dengan mesin sebagai rekan, bukan ancaman.

Pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) untuk menghilangkan ‘Monkey Work’

Awareness

Menurut berbagai situs referensi popular, monkey work adalah tugas yang biasanya membosankan, berulang, dan membutuhkan aktifitas otak yang minimal. Tipe pekerjaannya biasanya tetap profesional tetapi cenderung berulang dan telihat bodoh di mata yang mengerjakan.

Kesadaran sebuah pekerjaan memiliki kategori monkey work umumnya tidak muncul seketika. Biasanya, setelah periode waktu tertentu seseorang akan tersadar ketika pekerjaan yang dikerjakan memiliki pola repetitif dan hasilnya tidak memuaskan.  

Pada saat perasaan bosan dan  stress menghinggapi, orang akan mulai mempertanyakan pekerjaan yang dia lakukan. Pertanyaan itu bisa seperti ini: Masa nggak ada cara lain, sih? Ngapain juga ya, saya mengerjakan tugas konyol ini setiap hari? Asyik juga ya, kalo ada aplikasi yang bisa mengerjakan semua pekerjaan bodoh ini.

Monkey Work pada Aplikasi Kompas TTS

Aplikasi Kompas TTS pada perangkat bergerak di iOS, Android dan Windows Phone merupakan salah satu aplikasi yang mengharuskan adanya produksi soal baru berkualitas tinggi (sulit dipecahkan) setiap hari.

Ya, setiap hari!

Pada saat aplikasi Kompas TTS tidak dapat menampilkan soal baru setiap hari, keluhan akan muncul seketika pada bagian komentar aplikasi di Google Play (Android) dan App Store (iOS). Seringkali para pengguna aplikasi meluapkan kemarahan mereka dengan memberikan peringkat (rating) buruk (bintang satu) pada sistem rating Google Play maupun iTunes App Store.

Sungguh celaka!

Bagi pengelola aplikasi Kompas TTS, rating menjadi salah satu indikator evaluasi yang penting. Rating yang buruk pastinya juga membawa dampak negatif untuk brand Harian Kompas.

Tantangan untuk menghasilkan soal teka-teki silang yang berkualitas pada aplikasi perangkat begerak sebenarnya tidak terlalu sulit, karena seluruh soal dan jawaban berasal dari teka-teki silang yang terbit di Harian Kompas. Dari sisi kualitas tidak ada yang perlu diragukan lagi.

Permasalahan terbesar sebenarnya datang dari sisi reproduksi dari bentuk cetak ke bentuk digital (aplikasi):

Pertama, ada pekerjaan untuk menulis ulang seluruh soal dan jawaban ke bentuk database yang terstruktur. Pada suatu waktu, ada pengerjaan input ulang ratusan ribu baris kombinasi pertanyaan dan jawaban yang dilakukan oleh tenaga outsourcing.  

Kedua, jumlah kotak teka-teki silang pada aplikasi bergerak berbeda dengan versi cetak. Pada versi cetak kotaknya 21×21, sedangkan pada perangkat bergerak kotaknya 15×15. Hal ini mengharuskan adanya penyusunan ulang bentuk teka-teki silang secara manual.

Pada awal pengembangan aplikasi Kompas TTS, pengerjaan soal 15×15 dilakukan secara manual sama seperti halnya dengan pengerjaan format 21×21 di versi cetak. Seseorang diharuskan mengutak-atik kombinasi pertanyaan sehingga menghasilkan sebuah format teka-teki silang yang dapat dimainkan.

Saat pertama kali dihadapkan dengan realita ini, seluruh anggota tim pengembang aplikasi Kompas TTS langsung sadar mereka melakukan monkey work. Reaksi mereka: Oh tidak, bro!. Masa iya kita harus bikin soal teka-teki silang setiap hari? Ngapain kaya orang bego, suruh komputer aja yang bikin!

Pengerjaan berulang seperti ini berlangsung cukup lama, beberapa bulan. Hal ini terjadi karena pada saat itu tim sedang fokus untuk memperbaiki performa aplikasi dari sisi pengguna sehingga efisiensi dari sisi produksi memang sedikit terabaikan.

Aplikasi khusus untuk membuat soal teka-teki silang secara otomatis menjadi syarat mutlak bila ingin sistem produksi dapat berjalan dengan mulus dan menghilangkan monkey work yang membuat seluruh anggota tim terlihat bodoh. Aplikasi itu tentulah harus cukup pintar untuk membuat soal teka-teki silang dengan baik dan benar. Setelah pembahasan serius, diputuskan untuk memanfaatkan komputer cerdas alias artificial intelligence (AI).

By definition, AI adalah kecerdasan yang dimasukkan ke dalam suatu sistem mesin (komputer) agar dapat melakukan pekerjaan seperti manusia. Kecerdasan buatan ini biasanya tersusun dari berbagai macam algoritma.

Bantuan Artificial Intelligence dari Ninja

Bukannya tidak sadar akan kebodohan aktifitas membuat soal teka-teki silang setiap hari, tetapi menemukan seseorang yang dapat membuat algoritma artificial intelligence untuk otomatisasi pembuatan soal teka-teki silang bukanlah perkara gampang. Sumber daya internal sulit didapatkan karena urusan prioritas pekerjaan dan keahlian membuat algoritma seperti itu memang bukan urusan sehari-hari Harian Kompas.

So be it. Kita sewa seorang ninja!

Dalam dunia pengembangan teknologi, ada orang-orang yang disebut ninja. Mereka adalah pakar teknologi yang memang tidak pernah terlihat di permukaan atau tampil di publik tapi memiliki kemampuan dan kontribusi utama pada sistem-sistem canggih di berbagai industri yang padat teknologi. Mereka tidak terlihat namun sangat berarti.

Sebutan Ninja juga lebih pada karena untuk meminta bantuan mereka, harus dilakukan secara ‘diam-diam’. Hehehe…

Karena unsur kerahasiaan dan keamanan, seringkali kita sulit untuk mengetahui keahlian dan hasil karya mereka. Kalo beruntung, gambaran pekerjaan dan kemampuan mereka biasanya bisa terlihat dari beberapa aplikasi “kecil” di situs-situs pemrograman seperti Github.Com ataupun situs profesional seperti LinkedIn.Com

Beruntung tim yang terlibat mengerjakan aplikasi Kompas TTS sudah sering menggunakan jasa para ninja untuk proyek-proyek sebelumnya. Dari beberapa pengalaman kerja dengan berbagai ninja dengan latar belakang berbeda, tidak terlalu sulit untuk menemukan sesorang yang dapat membuat algoritma khusus untuk membuat soal teka-teki silang secara otomatis.

Permintaan dari tim pengembang aplikasi Kompas TTS cukup  sederhana: dalam dua minggu, bisa nggak buatkan kami algoritma berbasis teknologi open source untuk mengotomatisasi soal teka-teki silang dari bank soal yang tersedia?

Seperti proyek yang menggunakan teknologi cutting edge lainnya, semua infrastruktur dan komponen penunjang sistem artificial intelligence harus dibuat dari awal menggunakan teknologi terbaik dan terbaru semacam

Linux CentOS, NodeJS, dan Python

Bagaimana sistem itu bekerja secara otomatis menghasilkan soal setiap hari ? Jujur saja, belum ada yang peduli. Yang penting aplikasi terbukti bisa berfungsi dengan baik.

Happy Ending

Bagi tim, otomatisasi ini mengakhiri salah satu milestone penting pengembangan produk aplikasi Kompas TTS: full production dengan otomatisasi penuh.

Tidak ada lagi hari-hari konyol ketika seseorang harus melakukan monkey work membuat soal teka-teki silang setiap hari. Tidak ada lagi pengguna marah yang memberi rating buruk karena kehabisan candu soal teka-teki silang terbaik di Indonesia.

Happy!

Sumber : Buletin Insight Harian Kompas edisi Juni 2016
*Beberapa paragraph mendapat penyesuaian untuk konsumsi umum.