Masa Sekolah, 16 tahun

Bermodal izin orangtua dan bekal Rp 300.000,- di saku , sekitar 19 tahun lalu saya memulai petualangan yang mengubah hidup saya selamanya, ‘menghilang’ selama 2 minggu bersama teman-teman SMA Kolese Gonzaga untuk mendaki gunung Semeru dan Rinjani dalam sekali perjalanan pada liburan kenaikan kelas.

Mendapatkan ijin naik gunung pada tahun 1996 bukanlah perkara mudah. Saat itu belum ada telepon pintar yang dapat memberi kabar dengan mudah atau budget hotel yang bisa digunakan untuk menginap dengan biaya murah.

Telepon ke Jakarta hanya bisa dilakkan melalui sambungan interlokal yang dilakukan di Wartel (Warung Telepon). Apa itu Warter ? Well … cari sendiri di wikipedia ya.. dan menginap dengan biaya murah dilakukan di warung atau rumah penduduk lokal.

Mungkin satu-satunya kalimat yang bisa ‘menenangkan’ orangtua saya adalah kalimat pamungkas berikut ini

” Pak, Bu ..bila tidak ada kabar dari polisi atau pihak SAR, anggap saja saya masih baik-baik di perjalanan ” ujarku untuk menyakinkan mereka.

Mengelana bersembilan untuk mendaki Gunung Semeru (3.676 m dpl) dan berlima mendaki Gunung Rinjani (3.726 m dpl) ketika umur belum genap mencapai 17 tahun pastilah memberi pangalaman yang sangat membekas.

Mulai dari usaha mencapai puncak, penyesuaian dengan teman perjalanan,  dan juga suka duka lainnya  di perjalanan seperti kehabisan ongkos dan bertemu orang-orang baru yang menawarkan ‘pengalaman’ baru.

Dalam perjalanan tersebut, saya juga mengenal istilah ‘mushroom‘ di sebuah pantai di Pulau Lombok. Kata penjual ‘mushroom‘, bila bahan tersebut dicampur dengan omelet dan dikonsumsi, Gunung Agung yang terlihat jelas di seberang pulau Lombok akan terlihat ‘berjalan sendiri’.. wkkkk…..

Sedikit cerita tentang ‘mushroom‘, ternyata bahan halusinogen ini didapatkan dari jamur yang terdapat di kotoran sapi atau kerbau.!!! Yaiks!!!

Masa Berkarya, 36 tahun

Sewaktu kuliah, saya jarang ikut aktifitas mahasiswa, mungkin sebutan teman sejati itu ditemukan ketika kita SMA memang benar adanya. Pada saat kuliah saya lebih banyak mengikuti diskusi antar kampus karena bersamaan dengan era Reformasi 1998.

Pada saat bekerja, saya mulai mencoba aktifitas dan jatuh cinta pada sepeda gunung ( Mountain Bike), mungkin saya harus sudah sadar bahwa aktiftas saya tidak jauh-jauh dari kata ‘gunung’.

Semenjak jarang menyentuh sepeda gunung dan mendapat kepercayaan untuk mengelola sebuah departemen baru, dunia kerja pada akhirnya menuntut saya untuk lebih mencurahkan konsentrasi dan energi pada rutinitas yang pada akhirnya membuat saya worn out.

Menjadi ‘usang’ tenggelam dalam rutinitas pekerjaan.

Situasi mulai berubah ketika saya bertemu kembali dengan salah satu teman naik gunung semasa SMA dulu, Budiono Darmawan.

Perbincangan untuk kembali naik gunung kembali bergulir dengan intens. Ternyata Budi masih rutin naik gunung, apalagi sewaktu bekerja di Hard Rock Cafe Bali, beberapa kali ia masih mengunjungi Gunung Rinjani karena lokasinya hanya di pulau sebelah.

Karakter dan ‘jiwa’ asli seseorang memang tidak bisa hilang begitu saja. Semenjak SMA sebenarnya karakter seseorang akan terbentuk dan terlihat dengan jelas. Menurut penelitian, sebenarnya seorang anak harus dikenalkan dengan berbagai aktifitas dan peluang karena pada umur 14 tahun ia akan mengetahui minat sebenarnya yang sesuai dengan karakter dirinya.

Pada saat umur 16 tahun, sebenarnya saya sudah mengetahui dan mengenal karakter diri saya sendiri, rebellious, adventurist dan sering kali membutuhkan aktivitas yang memacu adrenalin.

Saya tidak begitu menyukai kemapanan, mungkin juga itu sebabnya saya suka menggunakan motor, transportasi umum, menyukai tantangan project baru di tempat kerja dan juga menyukai aktifitas outdoor yang penuh ketidakpastian.

Thanks to my parents for all those trust and opportunity back on my teenage day.

Mount Rinjani Adventure Trip

Mendaki Gunung bagi saya bukan hanya sebuah perjalanan atau liburan biasa. Di dalam petualangan tersebut banyak pengalaman, makna hidup dan situasi kontemplatif yang bisa didapatkan.

Mungkin, kebanyakan orang, sarana liburan ke pulau, pantai,  pergi ke mall, bar dan aktiftas santai lainnya merupakan cara untuk mendapatkan waktu untuk lebih santai dan menenangkan diri, sebut saja zen moment.

Bagi saya petualangan adalah sarana untuk mendapatkan zen moment tersebut

Petualangan mendaki Gunung Rinjani merupakan sarana zen yang menurut saya ‘sempurna’. Gunung Rinjani merupakan salah sau gunung dengan jalur trekking dan pemandangan terbaik di dunia. Pengalaman yang pastinya ingin diulang kembali terus menerus.

Setelah 19 tahun, pada tanggal 14 – 19 Agustus 2015 akhirnya saya dan beberapa teman-teman SMA Gonzaga angkatan 6,7 dan 8 akhirnya melakukan perjalanan mendaki Gunung Rinjani. Seperti biasanya, saya adalah anggota team termuda, angkatan 8.

Budiono Darmawan, Ade Irawan, Marella Diding, Ruth Simamora dan Shinta Putri.

Mereka adalah teman-teman terbaik dalam petualangan di Pulau Lombok.

Entah kenapa saya selalu nyaman untuk melakukan pendakian bersama para senior dan sangat jarang melakukannya dengan sesama angkatan saya sendiri. Termasuk pada saat SMA mendaki gunung Rinjani , saya melakukannya dengan para senior.

Saya tidak bisa bercerita banyak mengenai pengalaman mendaki / trekking Gunung Rinjani, karena bagi saya pengalaman naik gunung itu sifatnya personal, sulit dungkapkan dengan kata-kata atau tulisan.

Bila ada pertanyaan “Ngapain sih naik gunung capek doang nanti turun lagi?” Jawabannya masih sama semenjak 19 tahu lalau.., “Yah.. karena gunung ada di sana ..” begitu jawabku standar.

Mungkin foto-foto berikut bisa memberi gambaran mengapa kami (saya dan teman-teman) mau mendaki gunung Rinjani.

foto lengkapnya disini :
https://www.flickr.com/photos/diditho/albums/72157657082495020

1 Comment Mt.Rinjani ‘Zen’ Moment

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *