Saya makin sering ketemu fenomena lane hogger di jalan tol maupun di jalan umum biasa. Mobil jalan “anteng” di lajur kanan, kecepatan pas-pasan, dan kita yang datang dari belakang jadi deg-degan sendiri.

Bukan karena mau ngebut, tapi karena ritme jalan tol dan sepit itu seperti punya bahasa tak tertulis, kanan itu ruang mendahului, bukan ruang berlama-lama.

Bahkan di aturan resmi pun lajur kanan memang diposisikan untuk kendaraan yang bergerak lebih cepat daripada lajur kirinya. (bpjt.pu.go.id)

Yang menarik, sering kali (tidak selalu ya ..) ketika naik taksi daring seperti Gr4bcar dan G0c4r, saya kadang “wawancara kecil” ke pengemudinya.

Bukan interogasi, lebih ke ngobrol sambil menahan rasa was-was karena mobil kita seperti “berteduh” di lajur yang salah.

Jawaban yang muncul itu sering sederhana dan manusiawi, “Ini baru bawa mobil, sebelumnya nggak pernah… ya gimana, harus makan.”

“Iya Pak, sebelumnya saya narik motor, tetapi ini lagi nyoba mobil, ternyata lebih enak”.

“Ini kemarin baru ambil kredit mobil nih, ya baru sih pak, baru tiha bulan lalu ini”

“Pak, kok ini jalannya kanan mulu?” Tanyaku agak khawatir.

“Heheh…iya”, Ujarnya santai.

Di kepala kita, lane hogger itu sering langsung jadi karakter jahat, sengaja menghalangi, keras kepala, sok punya jalan.

Tetapi dari obrolan-obrolan di kursi belakang itu, saya malah melihat pola lain, banyak yang benar-benar baru jadi supir mobil karena tuntutan keadaan.

Umurnya tidak muda, sebagian terlihat seperti orang yang baru belajar hidup lagi, bukan baru belajar nyetir saja. Ada yang baru kena PHK, ada yang usahanya seret, ada yang mendadak harus narik karena cicilan dan dapur tidak bisa menunggu.

man leaning on white wall of the parking area

Dan di titik ini, lajur kanan berubah makna. Buat kita yang terbiasa “membaca” jalan tol dan jalan umum, kanan itu cepat, tegas, sepersekian detik untuk menyalip lalu kembali. Tapi buat mereka yang baru masuk dunia ini, kanan terasa “damai”.

Kanan lebih sepi, kanan lebih sedikit interaksi, tidak banyak truk besar yang bikin kaget, tidak banyak drama merge dan saling potong.

Kanan terasa seperti jalur santai, padahal justru itulah jalur yang paling salah untuk dijadikan tempat santai.

Saya bisa memahami logika lelahnya, jalur kiri itu menuntut fokus ekstra, truk pelan, bus besar, kendaraan yang keluar-masuk, orang yang pindah lajur mendadak, dan kadang jalan yang bergelombang karena beban berat.

Kanan terlihat bersih, lurus, seperti memberi ilusi, “Di sini aman.” Padahal, justru karena kanan itu “jalur mendahului”, arusnya sering datang dengan ekspektasi lebih cepat. Kalau ada kendaraan statis di sana, yang muncul bukan cuma jengkel, tetapi potensi bahaya.

Itulah kenapa instansi terkait berkali-kali mengingatkan soal lane hogger, karena ujungnya bukan sekadar etika, tapi risiko kecelakaan.

Lalu ada satu detail yang juga sering saya lihat, mobilnya banyak Low Cost Green Car (LCGC). Ini bukan menyalahkan mobilnya, tentu, tetapi LCGC memang punya posisi unik di Indonesia, relatif terjangkau, irit, biaya perawatan lebih “masuk akal” untuk orang yang sedang mulai ulang hidup.

Di banyak cerita otomotif, LCGC sekarang bukan cuma “mobil pertama”, tapi juga “mobil cari duit”. (detikoto) Tidak heran kalau ekosistem taksi online juga akrab dengan tipe kendaraan yang hemat operasional, dari yang LCGC sampai LMPV irit, karena tiap rupiah bensin itu nyata dampaknya ke penghasilan harian. (Grab)

Jadi mungkin kita perlu melihat lane hogger ini sebagai gejala sosial yang nyasar ke aspal. Bukan sekadar “orang Indonesia nggak tertib”, tapi juga “banyak orang lagi kepepet”.

Banyak orang yang mendadak jadi pengemudi, mendadak pegang setir untuk menyambung hari, dan masuk ke jalan tol dengan mental yang belum sinkron dengan budaya berkendara di situ.

Tapi empati tidak boleh menghapus batas keselamatan. Kalau ada satu kalimat yang ingin saya titipkan, bukan sebagai hakim, Judge Bao, tetapi sebagai sesama pengguna jalan, ini lajur kanan itu bukan tempat istirahat.

Kalau sedang lelah dan butuh ritme lebih pelan, ambil lajur kiri atau tengah (sesuai kondisi), jaga jarak, biarkan yang ingin mendahului lewat kanan, lalu kembali tenang.

Karena “damai”nya lajur kanan itu sebenarnya palsu, ia terlihat sepi, tapi membawa ekspektasi cepat dari belakang.

Dan buat kita yang sering panas melihat lane hogger, mungkin boleh tetap tegas, tapi jangan kehilangan sisi manusia. Bisa jadi di balik setir itu ada orang yang baru saja kehilangan pekerjaan, sedang mengejar setoran, dan belum punya “bahasa tol” atau “bahasa mendahului dari kanan” yang sama dengan kita.

Di Indonesia, kadang yang bikin macet bukan cuma kendaraan, tapi juga cerita hidup yang sedang berat-beratnya.

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.