Pelajaran di Trek Telaga Warna

telagawarnaHari Minggu , 18 Maret 2006 adalah pertamakalinya saya bersepeda offroad rame-rame, kebetulan bersama teman-teman KG (Kompas Gramedia). Maklum punya sepedanya juga baru sebulan. Lokasi yang digunakan adalah trek “Telaga Warna”.

Setelah diangkut oleh Fami di depan sirkuit sentul (jam 6 pagi) kami melanjutkan perjalanan ke Kota Bogor untuk menaruh mobil dan bertemu teman-teman lainnya dari “Leg Locker“, begitu kata mas Agung. Sepertinya nama sebuah klub sepeda 🙂

Pelajaran pertama adalah, kita harus membongkar ban sepeda kita agar muat di mobil. Ya iyalah…..mana ketehe, baru pertamakali bongkar sepeda. Caranya gampang, balikkan sepeda, pindahkan rantai ke gigi yang ukurannya paling kecil pada gear/casette belakang, setelah itu buka pengait hub depan dan belakang, terus copot deh bannya.

Setelah berkumpul di Kota Bogor, perjalanan kita lanjutkan dengan menyewa angkot untuk mengangkut sepeda dan tentunya mengangkut penunggangnya juga.

Pelajaran kedua, Karena yang ikut 20 orang. Jangan lupa untuk memasukkan kedua ban sepeda kita ke angkot. Jangan hanya framenya saja…heheheh… Jelas banget pada khawatir ada ban yang ketinggalan.

Tujuan perjalanan berikutnya adalah menuju parkiran rumah makan “Rindu Alam” di dekat puncak pas.

Pelajaran ketiga, Ketika lalu lintas keluar tol jagorawi menuju gadok sudah sangat padat, usahakan untuk lewat jalan pintas. Sebelum mencapai lampu lalulintas di pertigaan yang menuju puncak dan sukabumi, arahkan kendaraan ke jalan yang belum selesai di sebelah kiri. Pasti tahu deh , soalnya banyak pak ogahnya. Siapkan receh untuk membayar preman penjaga rute alternatif tersebut. Bila tidak tahu jalan, tunggu saja mobil/angkot lainnya yang menggunakan jalan tersebut. Dipastikan kemacetan di gadok bisa terlewati dengan mudah.

Sampai di parkiran Restoran “Rindu Alam”, kami pun mulai merakit sepeda. Setting sepeda pun mulai dilakukan, dari mompa ban, nyetel rem, dll sampe bungkusin kamera dan handphone.

Pelajaran keempat, boleh aja sih nyetel rem v-brake, tetapi jenis rem ini nggak disarankan untuk dipakai downhill. Nanti deh diceritaiin. hihi..

Trek awal dimulai di kebun teh, ya iyalah… namanya juga puncak pastinya kebun teh. Beberapa puluh meter kemudian ban belakang mulai slip. Ternyata gara-gara saya memakai gear depan di bagian tengah (ke-2) . walaupun tenaga berlebih (norak mode=on) , bisa dipastikan ban gampang slip.

Pelajaran kelima, harus menggunakan gear depan yang paling kecil agar tidak slip dan lebih ringan.

Jalur turunan yang curam pastinya sangat banyak di trek ini, ternyata posisi duduk juga berpengaruh bila tidak mau nyungsep.

Pelajaran keenam, duduk di bagian sedel paling ujung belakang dan jepit sadel dengan paha agar beban pindah ke roda belakang. Awalnya saya masih melakukan TTB (tuntunbike) bila turunannya curam, setelah mencoba teknik ini , cukup duduk di sadel dengan cara yang benar.

Hampir bisa dipastikan, di trek downhill seperti telaga warna. Menarik tuas rem menjadi suatu yang sering bila tidak mau nyungsep di tanaman teh atau jurang. Ternyata menarik tuas rempun tidak boleh sembarangan.

Pelajaran ketujuh, jangan pernah hanya menggunakan rem depan saja bila sedang melaju di trek yang menurun. Bisa jadi sepeda jadi nungging dan kita terjatuh. Apalagi bila saat pengereman, ban depan sedang melewati lubang.

Trek yang bertipe downhill memang asik untuk bersepeda. Walaupun jalurnya penuh bebatuan, tetap saja dihajar habis-habisan, apalagi bagi sepeda yang memiliki shock belakang. Hal yang paling berbahaya pada kondisi ini, apabila ada batu besar yang menghajar RD (Rear Derailleur) kita, bisa tamat deh sepeda kita dan bila ini terjadi berarti rantai sepeda harus dipotong dan tidak bisa memainkan gear belakang. 🙁

Pelajaran kedelapan, bila sedang dalam posisi menurun jangan lupa untuk memindahkan gigi belakang ke gear yang kecil agar RD terlipat kebelakang dan menjauhi bebatuan.

Selain jalur tanah dan bebatuan, trek ini juga memilki jalur tanah liat yang dialiri air dan juga jalur semen. Semen? iya,karena melewati daerah vila di puncak.

Pelajaran kesembilan, Lebih baik pelan-pelan saja deh dan jangan di rem habis. bila ban terkunci bisa dipastikan bakalan jatuh. percaya deh…saya sudah jadi korbannya hehehe…

Mengenai v-brake…lebih baik diganti saja dengan disc…..

Pelajaran kesepuluh, kemampuan rem v-brake pada jalur ini sih tidak masalah, bisa memberhentikan sepeda dengan mudah. Masalahnya rem ini cepat habis, sehingga selama perjalanan selalu dag-dig-dug bilamana remnya sudah “menghilang”. dalam sehari karet rem v-brake saya habis setengahnya.

Foto-foto telaga warna:
http://www.flickr.com/photos/diditho/tags/telagawarna/

4 Comments Pelajaran di Trek Telaga Warna

  1. eko
    Unknown Unknown Unknown Unknown

    Pelajaran ke-11 (dan yang paling penting!): Jangan mampir dan makan di Rindu Alam karena mahal banget gituh… Hehehe… Tapi bagi penggemar Warkop DKI sih boleh2 aja. Itung2 jamuan kenangan. Satu lagi… Pssttt… Jangan mau diajakn mampir sama adek2 manis yang banyak berkeliaran di sekitar kompleks villa… Ingat anak-bini! Hahaha…

    Reply
  2. rick
    Unknown Unknown Unknown Unknown

    halo mas diditho, aku baru mulai main sepeda, awalnya beli polygon tapi sekarang udah berubah wujud krn frame, brake dll udah aku ganti2… hehehe, malah jadi lebih mahal drpd ngerakit…
    baca tulisan mas didhito enak, jadi lebih ngerti soal sepeda n teknik2nya, tp aku gak pernah jalan "keluar" beneran kayak ke telaga warna sana, solo karir-an main di seputaran pamulang – BSD, blm PD mau gabung…
    ajak2 aku kapan2 kalo mo jalan ya mas ditho, trm ksh sebelumnya.

    Reply
  3. diditho
    Unknown Unknown Unknown Unknown

    hemm…sepetinya bagus juga kalo bikin posting tentang komunitas sepeda. sebenarnya sudah ada beberapa pertanyaan mengenai bersepeda bareng komunitas. offroad tanpa komunitas memang sulit.
    untuk memeulai sebenarnya bisa dengan ikut milis mtb-indonesia atau b2w indonesia, tiap weekend biasanya ada jadwal offroad.
    kalo saya lebih sering bareng teman kantor, dan biasanya kepastian jadwal seringkali diputuskan malam sebelumnya, dadakan.

    Reply

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *