Mari Menjelajahi Africa van Java…

Akhir tahun 2012, sungguh memberi kesan mendalam pada CB (4), anak kami. Pasalnya, ini pertama kalinya dia berlibur di tengah-tengah hutan, menginap di savana, dan bisa bercengkerama dengan binatang-binatang langsung di habitat aslinya, di Taman Nasional (TN) Baluran atau yang beken disebut sebagai Africa van Java.

Kami berangkat dari Jakarta menggunakan pesawat menuju Malang dan langsung dilanjutkan dengan berkendara dengan mobil sewaan selama kurang lebih delapan jam menuju Desa Wonorejo, Kecamatan Banyuputih, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur. Ini kali pertama CB melakukan perjalanan darat dengan waktu tempuh selama itu. Rewel? Sudah pasti! Karena CB tipe anak yang super aktif, maka kami selalu mengajak dia tetap aktif bermain aneka permainan, seperti tebak lagu, teka-teki, menyanyi bersama, hingga bermain peran.

Waktu menunjukkan pukul 10 malam ketika mobil memasuki gerbang utama TN Baluran di Jalan Raya Situbondo-Banyuwangi KM 35. Untuk menuju pesanggrahan yang sudah kami pesan di daerah Bekol, mobil kami harus membelah hutan menyusuri jalan berbatu-batu sekitar 40 menit. Amboiii… ternyata masuk hutan di malam hari itu punya sensasi tersendiri. Tak ada penerangan sama sekali di sisi kiri-kanan jalan utama itu. Kesunyian mencekam sesekali tergantikan dengan suara burung hantu dan hewan nokturnal lainnya.

Penginapan di Bekol Area

Tiba di Pesanggrahan Bekol, kami langsung memasuki kamar tempat beristirahat di lantai dua. Karena musim liburan, kamar-kamar di pesanggrahan ini terisi semua. Jadi, jangan lupa untuk booking jauh-jauh hari. Untuk menginap, kami dikenai harga Rp.35.000,- per malam per orang. Listrik akan dipadamkan mulai pukul 11 malam, namun apabila tetap membutuhkan listrik akan dikenakan biaya tambahan sebesar Rp.135.000,- per malamnya. Biaya-biaya ini diluar tiket masuk, sebesar Rp.2.500,- per orang dan Rp.6.000- untuk mobil.

Perlu diperhatikan, kamar pesanggrahan tidak begitu terawat kebersihannya. CB pun pada awalnya enggan untuk tidur di kamar tersebut, tapi karena sudah kelelahan karena perjalanan jauh dia pun tak sempat banyak protes. Udara malam pun terasa lembab dan membuat tidur tidak nyaman. Apabila jendela dibiarkan terbuka, nyamuk-nyamuk datang menyerbu. Maklum, ini, kan, hutan… jadi apabila datang ke tempat ini lotion anti-nyamuk tidak boleh terlupakan. Sarung atau kain Bali juga harus dibawa sebagai tambahan alas tidur. Dan jangan lupa, sebelum tidur usahakan buang air kecil dahulu karena kamar kecil letaknya di luar penginapan.

Magical Morning

Taman Nasional Baluran

Gangguan nyamuk dan udara panas di malam hari terbayar lunas ketika subuh menjelang. Suasana subuh dan pagi hari di seputaran Pos Bekol sungguh fantastis. Very magical!

Dari depan kamar, kami sudah disambut oleh kegagahan Gunung Baluran yang hijau serta udara yang segar. Di sekitar pesanggrahan, kami bisa melihat beberapa merak dan ayam hutan melintasi jalan setapak. Sekelompok kera mulai keluar dari persembunyiannya dan berayun-ayun di batang pohon besar mencari buah kecil-kecil untuk dimakan. Tak jauh dari pesanggrahan, terlihat serombongan besar rusa berjalan menuju savana yang luas untuk mencari makan. Tidak hanya itu, pantulan sinar matahari pagi yang belum terbit sempurna memberikan semburat dan kilau warna yang cantik di sekitaran langit pagi yang bersih dari awan. Serasa benar-benar di Afrika… jadi, memang tidak salah julukan Africa van Java ini disandang oleh TN Baluran.

“Kalau beruntung malah bisa bertemu dengan macan tutul. Tapi kalau di musim hujan, macan tutul sering bersembunyi. Sering muncul kalau musim kemarau untuk mencari makan dan minum. Nah, sekarang jika ingin berburu matahari terbit bisa berjalan ke arah Pantai Bama kira-kira tiga kilometer dari sini,” kata seorang ranger atau penjaga hutan yang kebetulan melintas di depan kami.

Maka, kami mengajak CB untuk menyusuri jalan setapak menuju Pantai Bama yang masih berada di wilayah TN Baluran. CB berhenti sejenak mengamati tanah savana yang belum pernah dia lihat sebelumnya. “Tanahnya hitam, ya, Mom?” ujarnya. Menurut informasi, tanah hitam ini menghampar kira-kira setengah luas daratan rendah savana. Meski tergolong subur, tanah hitam ini sulit sekali ditembus air pada musim penghujan. Nah, ini terbukti dari banyaknya kubangan air di beberapa tempat di savana itu. Beruntung bagi kami, meskipun berkunjung pada bulan Desember, yaitu puncak musim penghujan, cuaca hari itu sungguh cerah dan cenderung sangat terik meskipun jam baru menunjukkan pukul tujuh pagi.

Hutan Bakau dan Pantai Bama

Pantai Bama

Kami melanjutkan petualangan kami ke arah Pantai Bama. Ah, sayang masih terlalu pagi berkunjung ke sana karena air pantai masih surut. Baru sekitar jam 11 siang air pantai mulai pasang. Sambil menunggu, kami pun masuk ke dalam kantin yang ada di sana dan memesan sarapan nasi soto ayam sambil memandangi kawanan kera yang juga tengah sarapan kepiting-kepiting kecil yang diambilnya dari lubang-lubang pasir di pinggir pantai.

Tak jauh dari kantin, terdapat jalan setapak menuju hutan bakau. Dengan antusias CB berlari dan menemukan jembatan panjang yang berujung pada sebuah dermaga. Wow… cantik sekali pemandangan hutan bakau yang lebat jika dilihat dari dermaga itu. Tak puas hanya memandang dari atas dermaga, CB pun turun melalui tangga yang curam untuk sekedar merendam kaki mungilnya ke dalam air laut yang masih surut.

Saat air laut mulai pasang, kami menyewa sebuah perahu seharga Rp.350.000,- untuk berputar-putar di sekitaran perairan Bama. Menariknya, lantai perahu itu terbuat dari kaca, sehingga kami dapat melihat aneka terumbu karang dan ikan-ikan yang berada di bawahnya. Ketika perahu sudah mulai ke tengah, CB didampingi oleh Poppa-nya mencoba kegiatan snorkling. Ha-ha-ha… meskipun akhirnya dia panik karena ini pengalaman pertamanya berenang di tengah laut, namun keberanian CB untuk mau mencoba hal baru perlu diacungi jempol.
O ya… pihak pengelola TN Baluran di pesanggrahan Pantai Bama juga menyediakan peralatan untuk snorkling dan kano, lho, untuk disewakan.

Naik… Naik… ke Menara Pandang

Bekol Area , Taman Nasional Baluran

Setelah berpuas-puas menjelajahi Pantai Bama, kami kembali ke Pesanggrahan Bekol untuk membilas diri dari air laut. Penjelajahan pun dilanjutkan kembali dengan mendaki bukit kecil tepat di belakang pesanggrahan kami. Di atas bukit itu terdapat menara penampungan air dan menara pandang, yaitu tempat observasi tertinggi di daerah Bekol.

Meskipun jalan semen menuju bukit sudah tersedia, terkadang CB malah memilih jalan sendiri, yaitu dengan mendaki tanah terjal yang masih ditumbuhi rumput liar. Begitu pula saat berjalan menuruni bukit, CB lebih suka turun dengan bokongnya seperti layaknya main perosotan hingga tak tampak lagi warna asli celananya karena sudah terkotori tanah. Ternyata, dia menemukan cara berpetualangnya sendiri yang lebih mengasyikkan!

Sampai di atas, sejauh memandang di ketinggian sekitar 64 meter, mata hanya melihat warna hijau-nya hutan dan pegunungan, coklat kekuningan-nya savana, biru-nya laut, dan biru-putih-nya langit. Yes… terbayang, kan, betapa luasnya TN Baluran itu? Dua puluh lima ribu hektar! Tak heran ketika penjaga pesanggrahan kami bilang, jika ingin menjelajahi seluruh trek hiking di TN Baluran bisa membutuhkan waktu lebih dari satu bulan.

Dan memang benar TN Baluran tak pernah berhenti menerima kunjungan dari para pecinta lingkungan dan peneliti. Betapa tidak, tipe-tipe hutan yang ada di Indonesia dapat ditemukan di TN Baluran ini. Sebut saja, hutan pantai, hutan mangrove dan rawa asin, hutan payau, hutan hujan pegunungan, padang rumput savana, hutan musim (baik dataran rendah maupun dataran tinggi, termasuk di dalamnya ada evergreen forest, yaitu hutan yang selalu hijau di setiap musim), padang lamun (tersebar pada pantai-pantai dengan kelerengan landai yang tidak memiliki gelombang air terlalu ekstrim, sehingga banyak ikan berkumpul di sana), serta terumbu karang.

Tanggung Jawab Bersama

Bekol Area , Taman Nasional Baluran
Alam nusantara nan cantik ini sungguh ternoda jika manusia tidak sadar akan tanggung jawabnya untuk menjaga dan melestarikan anugerah ini. Menurut penjaga hutan, pencurian kayu, hasil hutan, serta penangkapan satwa liar tetap saja ada, meskipun jelas-jelas terpampang bahwa TN Baluran itu merupakan area yang dilindungi.

Ah, tak usah susah-susah membayangkan soal pencurian kayu… hal yang paling sederhana saja yang bisa dengan mudah kita lakukan: membuang sampah pada tempatnya! Terbukti di kawasan Pesanggrahan Pantai Bama dan sekitar Pesanggrahan Bekol masih saja terlihat sampah di mana-mana.

Nah, kebetulan CB sempat mendapatkan pelajaran dari kami, orang tuanya, ketika dia menjatuhkan tisu bekas membungkus makanan dari kaca mobil. Saat itu, mobil tengah melaju di tengah savana. Tak lama berselang, kami menghentikan mobil dan menyuruh CB keluar untuk mengambil tisu yang dibuangnya. Kalau tidak mau, kami tidak akan melanjutkan perjalanan. Awalnya, dia menangis dan menolak. Kami diamkan saja dan tidak ada tawar-menawar. Akhirnya, dia mau keluar dan minta ditemani untuk mengambil sampah tadi. Dengan langkah gontai dia pun kembali menuju mobil.

“Sudah tahu, kan, konsekuensinya kalau membuang sampah sembarangan?” tanya Poppa kepada CB. Dan CB pun mengangguk.

Kami setuju kalau attitude baik itu terbentuk dari usia dini. Dan pembelajaran itu tak terkecuali, meskipun sedang dalam suasana liburan. (***)

[Christina Happy, Momma-nya Constantine Barindra (CB)]

Tips Penting:

1. Temperatur TN Baluran berkisar antara 27,2ºC-30,9º C. Musim hujan pada bulan
November-April dan musim kemarau pada bulan April-Oktober dengan curah hujan tertinggi pada bulan Desember-Januari. Namun secara faktual, perkiraan tersebut sering berubah sesuai dengan kondisi global yang mempengaruhi.

2. Dalam kawasan TN Baluran disediakan tempat penginapan, yaitu di Pesanggrahan Bekol dan Pesanggrahan Pantai Bama, selain tempat berkemah. Lebih baik reservasi jauh-jauh hari. Usahakan menginap di kawasan ini untuk mendapatkan pengalaman subuh dan pagi yang menakjubkan. Info: www.balurannationalpark.web.id

3. Jangan lupa membawa lotion anti-nyamuk, sarung/kain panjang, makanan siap saji karena kantin cukup jauh. Perhatikan pula apakah Anda alergi terhadap rumput-rumputan dan jangan lupa membawa obat-obatan alergi.

4. Jangan menunjukkan makanan di depan kera-kera. Mereka cukup agresif merebut makanan meskipun berada di pegangan Anda.

5. Kegiatan apa saja yang asyik dilakukan di TN Baluran?
a. Tracking
Waktu : Musim Kemarau (Bulan April – Oktober)
Lokasi : Seluruh kawasan Taman nasional Baluran
b. Mountain Climbing
Waktu : Musim Kemarau (Bulan April – Oktober)
Lokasi : Gunung Baluran
c. Pengamatan Satwa
Waktu : sepanjang tahun
Lokasi : Savana Bekol, sekitar Pantai Bama
d. Bird Watching
Waktu : sepanjang tahun (atraksi satwa Merak bulan September s/d Desember)
Lokasi : Jalan Batangan – Bekol – Bama, savana Bekol, Pantai Bama
e. Snorkling & Diving
Waktu : sepanjang tahun
Lokasi : Pantai Bama, Bilik, dan Sejile
f. Kanoing
Waktu : sepanjang tahun
Lokasi : Pantai Bama
g. Wisata Bahari
Waktu : sepanjang tahun (tergantung cuaca)
Lokasi : kawasan perairan Taman Nasional Baluran
h. Fotografi
Waktu : sepanjang tahun
Lokasi : seluruh kawasan TN Baluran
i. Bersepeda
Waktu : sepanjang tahun (tergantung cuaca)
Lokasi : savana Bekol dan sekitarnya

Selamat bertualang!!!

Note:
1. Artikel ini juga dipublikasikan pada Majalah Parenting Indonesia Edisi Maret 2013
2. Foto lengkapnya bisa anda dapatkan di flickr

BANGKOK (3) – Catatan Perjalanan Traveler Cantik

BANGKOK  (3)
Catatan Perjalanan Traveler Cantik
(dilarang protes, blog-blog gue…hohoho)

HARI IV  —   12 Agst 2012
Tujuan: Sirikit Park – Chatuchak Weekend MarketModa  : BTS sky train dan MRT Subway  

Di bagian ketiga di tulisan ini (ini yang pertama, ini yang kedua) , awalnya, gue merencanakan hari ini adalah hari kereta api untuk CB. Di rencana perjalanan sudah tertulis kalu kami akan naik sky train, lalu MRT subway, lalu pergi ke museum kereta api (Bangkok Railway Hall of Fame), dan berakhir di Children Discovery Museum. Tapi rencana tinggal rencana… .

Pagi-pagi setelah sarapan (penting!!!) kami nebeng shuttle ke BTS terdekat lalu turun di stasiun Sala Daeng  untuk transfer menggunakan MRT subway. Ini juga pengalaman gue pertama kali naik subway. Ajegile ni stasiun subway keren banget ya… rapi dan bersih. Masuk juga harus melalui detektor yang ketika bunyi “tiiiiit…” ya benar-benar diperiksa. Sistem tiketnya pun sama dengan sky train, cuma bedanya di subway bentuk tiketnya seperti koin plastik yang sudah diberi semacam chip.
IMG_0808
Untuk anak-anak di bawah umur ongkosnya setengah dari orang dewasa. Bagi CB ini pengalaman yang mencengangkan.

Dia terheran-heran, kok, bisa ya kereta ada di bawah tanah. Makanya, dia ogah banget beranjak dari stasiun.

Jangankan dia yang gumunan, gue juga gumun, kok (norak yaaa! Hehehe). O ya stasiun subway ini dibuat dua tingkat, lho.

Tujuan akhir kami adalah stasiun Mo Chit di Chatuchak Park. Dari situ bencana deh muter-muter nyari museum kereta api nggak ketemu-ketemu. Tanya sana-sini juga nggak ngerti. Udah nggak ngerti Bahasa Inggris plus nggak ngerti juga kalau Bangkok itu punya museum kereta api. Padahal, tuh museum, menurut webnya, cuma buka setengah hari doang. Sementara kami muter-muter sudah mau jam 12 siang. Give up deh… . Lalu, kami naik tuk-tuk untuk melanjutkan destinasi berikutnya, Children Discovery Museum… yang ternyata tutup karena ada acara… haallaaaahh… nasib. Akhirnya, kami duduk melepas bete dan capek di bangku taman yang ternyata itu adalah Queen Sirikit Park.
IMG_0831
Pas jam 12 teng, air mancur di belakang bangku kolam yang kami duduki menari-nari… yes, it’s dancing fountain. Hati rasanya nyesss deh… apalagi musik pengiringnya adalah musik jazz (gue denger juga Raja Thailand ini pemain musik jazz… kalau nggak salah, sih). Obat mujarab banget buat hati bete.

Jadi, kami pun sepakat menuju Chatuchak Weekend Market yang tinggal menyeberang saja dari Sirikit Park. Sesuai dengan namanya, pasar ini Cuma buka pas weekend doang dan konon termasuk dalam 1 in 1.000 places to see before you die.
IMG_0862
Sangar nggak tuh! Tapi emang, sih, pasar ini unik banget dan luas banget (coba deh ya, tolong di-search berapa luas nih pasar) . Saking luasnya, pengunjung dikasih peta. Meskipun demikian, susah juga untk mencari jalan keluar yang sama dari tempat kami masuk… itu saking luasnya.

Pasar ini dibagi dalam beberapa zona, sesuai dengan jenis dagangannya. Ada zona barang bekas, buku-buku, pakaian, suvenir, pakaian, seni, bunga, perlengkapan hewan, ikan, bunga pelastik, alat sembahyang, kerajinan tangan, dsb (sumpah banyak banget dah tokonya).
IMG_0884
Tahu nggak yang bikin gue seneng dan terharu apa? Kebetulan kami nyasar ke bagian art and design… aduh… bagus banget jualan mereka. Seperti pasar seni Ancol, tapi suasananya lebih groovy dan muda banget.

Gue terkesan banget karena yang jualan di zona itu kebanyakan mahasiswa dan anak muda yang dagangannya itu ya, proyek seni mereka sendiri.

Top ya ada pasar khusus yang mewadahi mereka. Pasar yang punya akses internasional pula. Banyak juga tuh turis-turis ngeborong dan langsung dipak untuk dikirim ke negara mereka via jasa kurir internasional yang berceceran di pasar itu. Kalau punya duit banyak gue borong, deh… (ngayal).

Karena sudah sore, kami bersiap balik ke hotel. Yang lucu adalah peristiwa CB memukuli satpam subway… untung tu bocah nggak dideportasi hehehe… . Seperti biasa, sebelum memasuki stasiun semua pengunjung wajib melewati detektor. Waktu itu CB gue gandeng dan detektor berbunyi nyaring. Satpam nyuruh gue untuk membuka ransel and she found nothing of course. Lalu, dia minta CB menyerahkan tentengannya untuk diperiksa (CB bawa kantong kresek yang berisi suvenir tuk-tuk).
IMG_0872
CB nggak terima dong nangis jerit-jerit, nggak mau tuk-tuknya diambil. Meski sudah dijelasin tetep nggak mau. Akhirnya gue ambil paksa dan gue serahin ke satpam.

Tanpa diduga, CB menghampiri satpam, memukul dan menendang tanpa ampun… bak-buk-bak-buk… sehingga mengagetkan satpam (tuh satpam nggak tahu didikan emaknya CB sih… heuheuheu).

Jadi deh tontonan orang sestasiun L . Untung satpamnya baik cuma cengar-cengir doang… mungkin tengsin dilawan sama bocah empat tahun. Ha!!!

O ya yang menarik itu di stasiun MRT terdapat gerai sepatu pengganti. Jadi, kalau ada perempuan-perempuan Bangkok ber-high heels dan heels-nya patah atau rusak, mereka bisa memakai fasilitas sepatu pengganti.

Tapi bener, lho bok… gue kagum sama perempuan-perempuan Bangkok cantik-cantik — bukan dalam arti fisik yaa… tapi gue kagum karena mereka bisa bebas mengekspresikan dirinya lewat pakaian yang dipakainya yang apabila dipakai di Jakarta pasti bisa “ditembak” oleh para “polisi moral” dan disiul-siulin oleh lelaki bedebah. Dan mereka dengan pede-nya memakai pakaian seksi di angkutan umum dan di jalan, even di malam hari. Gue yakin, mereka berani begitu pasti karena mereka merasa aman. Salut untuk manajemen kota yang bisa bikin suasana sekondusif itu dan acungan jempol untuk para laki-laki yang kalem dan bahagia membiarkan para perempuan tersebut bereksplorasi dengan pilihan busana mereka!!!

HARI  V – 13 Agst 2012

Tujuan: Damnoen Saduak Kanal & Floating Market – Jakarta
Moda  : Taksi, Perahu

Ini adalah hari terakhir kami berpelesiran di Bangkok. Untuk menutup acara, kami memilih mengunjungi Damnoen Saduak floating market dan menyusuri kanal di sekitaran pasar. Sebenernya, sih, ini episode paling bete buat gue di sepanjang liburan singkat ini. Awalnya, kami memang minat banget untuk mengunjungi pasar apung ini. Namun, karena letaknya di luar Kota Bangkok jadi agak mikir, karena aksesnya tak bisa ditempuh oleh kereta, only by bus yang rada males gue naikin (bukan apa-apa, habisnya banyak orang yang nggak bisa bahasa Inggris dan bisa baca tulisan latin… kalau gue tanya mereka nggak mudeng-mudeng repot).
IMG_0988
Melihat brosur di hotel yang menyediakan jasa antar ke floating market itu lumayan juga harganya per orang 850 Bath. Lalu di luar hotel ada taksi yang menawarkan jasa ke sana dengan harga 800 Bath. Gue sih lebih tertarik ikut rombongan hotel karena di buku panduan yang gue baca ada peringatan untuk berhati-hati dengan orang Thai yang sok ramah. Buuuutttt… Didit ngebujuk gue untuk naksi aja karena lebih murah dan meyakinkan gue kalau taksi itu setiap hari ngetem di depan hotel jadi pasti aman. Dan kami pun pergi jam 7 pagi.
Floating Market
Butuh sekitar 2 jam perjalanan untuk menuju pasar apung yang jadi salah satu ikon wisata Bangkok itu. Kami tiba di sebuah lapangan parkir yang luas tapi sepi. Kata si sopir nanti kami akan diantar ke pasar apung itu naik perahu.

Perasaan gue udah nggak enak. Eh, bener deh ternyata kami digetok 5.000 Bath untuk dua orang oleh si empunya perahu. Asssuuuu… . Boookkk, itu kan duit untuk belanja gue di duty free bandara… asssuuuuu… .

Jadi, nih tukang taksi udah komplotan sama pemilik perahu dan pastinya tukang taksi bakal dikasih fee.
IMG_1074
Sebenernya, sih, kalau hati nggak dongkol perjalanan menyusuri kanal dan melihat kehidupan masyarakat tradisional yang hidup di bantaran kanal menyenangkan sekali. Tapi apa daya… cemberut dah gue selama perjalanan itu. Jadi di bawah ini gue akan ceritain apa yang gue lihat di sana tanpa melibatkan perasaan gue (karena hati dan bibir gue masih manyun ):

1. Rumah-rumah di bantaran kanal bentuknya panggung. Meskipun mayoritas rumahnya kumuh, tapi punya akses air bersih (jadi mereka nggak pakai air sungai untuk MCK).

2. Di kanal jarang ketemu sampah.

3. Ada buaya melintasi perahu kami.

4. Di sisi-sisi kanal banyak terdapat toko suvenir.

5. Saat mendekati pasar apung, banyak penduduk dengan perahu bersampannya menjajakan buah-buahan, mie, suvenir, sayur. Jadi transaksi berlangsung dari perahu ke perahu… yah, semacam pasar apung di Kalimantan itu.

6. Dan ternyata kami melewati meeting point yang penuh dengan turis, yaitu tempat di mana seharusnya si tukang taksi itu mengantar kami (jediiggg…).

7. Sebenarnya pasar ini bukan pasar yang riil, tapi oleh pemerintah setempat dikondisikan seperti itu untuk menarik para turis.

Gimana, tulisan di atas nggak berperasaan kan? :p Nah, sepanjang perjalanan pulang (masih dalam keadaan ilfil sama si tukang taksi… padahal udah gatel nih mulut pengen nanya berapa yang dia dapet dari tokai perahu itu) gue menyalurkan energi negatif yang secara khusus gue tujukan ke tukang taksi itu (episode pembalasan Ratu Kidul).

Dan emang yaaa… Tuhan gue itu Maha Adil dan mendengarkan doa orang teraniaya… di perjalanan pulang taksi kami ditilang polisi dan SIM-nya ditahan (nggak tahu juga tuh sebabnya apa)… sedaaap ya, pak… cari rezeki nu halal, geura… bad karma kan jadinya (tertawa memerkan taring… hahahahaha)!!!

Jadi emang bener di setiap perjalanan apa pun kejutan manis selalu disertai dengan kejutan pahit dan itu yang membuat setiap perjalanan mempunyai impresi tersendiri… nggak ada duanya.
IMG_1138
So, that was all my stories… what’s yours? Please kindly comment :p

Bangkok at Flickr
The End

BANGKOK (2) – Catatan Perjalanan Traveler Cantik

BANGKOK  (2)
Catatan Perjalanan Traveler Cantik
(dilarang protes, blog-blog gue…hohoho)

Di bagian kedua dan ketiga dari tulisan ini (ini yag pertama), gue mau menceritakan kilasan kisah perjalanan gue and the gank menuju tempat-tempat wisata. Sekedar tips, selagi masih di Indonesia, lebih baik susun itinerary alias rencana perjalanan yang hendak dituju supaya nggak keder tentunya ;p . O ya apabila di tempat wisata yang dituju menjual tiketnya secara online beli saja sebelum berangkat. Beberapa tiket yang dijual secara online menawarkan harga khusus alias diskon yang lumayan, lho.

Nah, kalau gue menyusun rencana perjalanan berdasarkan jalur, sehingga memudahkan (nggak bolak-balik) dan mengirit biaya transportasi tentunya.

OK, ini dia rincian perjalanan kami:

HARI II – 10 Agst 2012

Tujuan:  Jim Thompson’s House —  Madame Tussauds —  Siam Ocean World

Moda  : Dari hotel naik free shuttle ke stasiun BTS Khrung Thon Buri turun di stasiun National Stadium

Bangkok Skytrain
Naik BTS sky train alias kereta layang merupakan pengalaman pertama buat gue. Terkesan banget deh sama kecanggihan dan bagaimana orang-orang Bangkok menjaga stasiun tetap bersih dan terawat meskipun sudah lebih dari 10 tahun tuh sistem sky train itu berjalan.

Pembelian tiket dilakukan secara komputerisasi dengan memasukkan uang koin ke dalam mesin tiket, dengan layar sentuh kita tinggal memencet stasiun yang kita tuju untuk menentukan ongkos yang harus dibayar.  Anak dengan tinggi di atas 90 cm harus membayar penuh.

Jangan khawatir, kalau tidak punya koin ada loket khusus penukaran uang dan di beberapa stasiun besar ada mesin penukar uang dan money changer. Pertama naik, ya ampun gaptek gitu hihihihi… Sekedar tips, di tiap stasiun sky train disediakan peta khusus bagi para pelancong yang isinya rute sky train, MRT subway, BRT alias bus ala transjakarta-nya sini, kereta bandara, dermaga, dan tempat wisata…gratis lagi. Peta itu selain berfungsi sebagai pemberi informasi juga untuk kartu diskon beberapa tempat wisata, lho… jadi jangan dibuang.

Nah, sesampainya di stasiun National Stadium, cukup berjalan kaki sekitar 10 menit-an ke arah Rama Road I dan masuk ke gang kecil Soi Kasemsan 2 untuk menuju Jim Thompson’s House yang asriiii banget. Dengan biaya 200 Bath per orang (sudah termasuk pemandu dengan pilihan aneka bahasa internasional) kami bisa melihat rumah jati besar tradisional Thailand milik mendiang Jim Thompson, orang Amerika yang menghidupkan kembali seni tenun sutra Thai.
IMG_0127
Pemandu dengan seru menceritakan kisah tiap sudut rumah Mr. Thompson yang kaya dengan benda-benda seni seperti lukisan, keramik dan perabotan kuno, patung, arca, dan alat cetak kain. Wuiiih…buat gue penikmat yang indah-indah berasa betaaah banget di sini.

Tamannya juga rindang dan penuh aneka tanaman tropis pluuuusss…waktu gue ke sana pas banget sama musim kawin kodok…jadi rame banget dah suara kodok bersaut-sautan di kolam. Cuma satu yang kurang, karena rumah ini tepat di samping kanal, ho ho…baunya itu lho lumayan menyengat…tapi teteup sih nggak separah Ciliwung baunya….

Di sini juga ada toko suvenir yang menjual aneka kerajinan dari sutra Thailand dan di teras toko juga ada alat tenun tradisional yang dipakai perajin sutra plus tiga bakul kepompong sutra yang warna-warni plus gulungan benang hasil pintalan kepompong sutra itu.

Sebenarnya sih gue belum mau beranjak dari situ, tapi… berhubung CB dah rempong, kami lanjut ke Madame Tussauds di lantai 6, Siam Discovery Mall. Nggak jauh, kok, cukup berjalan kaki santai kira-kira 15 menit dari rumah Mr. Thompson. Tiket ke Maddame Tussauds ini udah gue beli via online dan dapet harga bundling dengan Siam Ocean World… lumayan lah diskonnya. Tiket online itu berlaku sebulan dari harga pembelian.
IMG_0185
Sebenarnya, ini tujuan wisata yang tidak begitu penting yaaa… nontonin patung-patung lilin tokoh-tokoh dan seleb-seleb dunia itu… tapi ada dorongan dan hasrat yang kuat untuk bertemu Mas  George Clooney dan ingin berpose blow job dengannya… siaaaal bangetttt… ternyata patung lilinnya George Clooney posenya lagi duduk dan depannya ketutupan meja gitu (ini pasti karena doa laki gue deh…) aaaaarrrrrggghhhh… . Tapi di sini lumayan, sih, si CB bisa main Wii agak berkurang deh rempongnya… dan di lantai atas ada workshop bikin hand wax gitu untuk suvenir yang kudu bayar lho….
IMG_0337
Dari Maddame Tussauds, kami jalan lagi selang 3 gedung untuk menuju mall Siam Paragon, tepatnya di lantai basement untuk mengunjungi Siam Ocean World. Dari namanya, kira-kira sudah tahu lah ya… mirip-mirip sea world-nya Ancol. Maklumlah bawa balita yaaa… jadi harus fair memasukkan atraksi untuk bocah juga. Ocean World ini dibangun tiga lantai… besar banget aquariumnya… koleksinya juga lebih variatif yang disebar berdasarkan tema-tema tertentu, seperti satwa aneh, habitat hutan tropis, kutub, habitat sungai, dsb.

Dekornya pun menawan, tapi karena minimnya pencahayaan, foto-foto di sana cuma sedikit. Awalnya CB antusias, eh…begitu dia lihat badut ikan jadi kejer deh badmood.

Atraksi di sana untuk anak-anak sih seru ya… cuma klo untuk orang dewasa mungkin lebih asyik kalau mencoba berjalan di dalam aquarium raksasa… pengennn… tapi gue gak berani di kedalaman hehehehe… di ketinggian sih hayuuu, tapi kalau urusan dengan air hahaha… nggak deh.
IMG_0386
Sudah sore, kami balik lagi ke hotel dengan memakai moda transportasi yang sama ketika berangkat. Saatnya CB berenang… J

HARI  III – 11 Agst 2012

Tujuan: Grand Palace  — Wat Po — Wat Arun  — MBK Centre

Moda  : Boattt menyusuri Chao Phraya River

 So, akhirnya kesampaian juga nih pelesiran naik boat. Sore kemarin, kami sempat berkeliling di seputaran hotel untuk mencari dermaga terdekat. Beberapa hotel berkelas memang punya dermaga sendiri, namun tidak dengan hotel kami. Ternyata hanya sekitar 250 meter dari hotel kami terdapat Central Pier…yeeaayyy… tepat di belakang taman kota (boookk, taman kotanya lengkap dengan sarana olahraganya gitu…futsal, badminton, dan alat-alat fitness…).
IMG_0481
Dengan berbekal sekantung roti-rotian sebagai bekal sarapan di jalan, kami terburu-buru menuju dermaga, takut keduluan matahari. Ternyata ada dua jenis dermaga di sekitaran sungai Chao Phraya, dermaga utama yang menjadi tempat pemberhentian kapal-kapal utama Chao Phraya Express dan dermaga kecil tempat berlabuhnya kapal penyeberangan. Maksudnya kapal penyeberangan adalah kapal tersebut hanya mengantarkan penumpang ke dermaga utama. Nah, si dermaga utama dan dermaga kecil ini letaknya berseberangan. Ngerti nggak maksud gue? Ngerti, kan? Hehehe… .

Awalnya, kami nggak tahu soal pembagian dermaga ini. Kami beli tiket kapal di dermaga kecil dengan terlebih dulu tanya apakah kapal ini menuju Grand Palace dan si penjaja tiket manggut-manggut. Tapi waktu kami nanya ke nahkodanya, dia bilang nggak lewat dan dia menunjuk kapal yang sedang berlabuh di dermaga seberang.  So, kami keluar lah dari kapal itu dan naik dong ke jembatan penyeberangan dan jalan sepanjang 200 meter-an lebih di bawah sinar mentari pagi nan terik untuk menuju dermaga utama Central Pier.

Dan belakangan baru tahu, dong, ternyata kapal yang tadi sudah kami naiki itu kapal penyeberangan menuju Central Pier… dududuh… efek buta bahasa membuat kami berjalan panas-panasan hiiikss… .

Di sana, ada dua pilihan sistem ticketing, one day pass (beli satu tiket, bisa berpelesiran seharian penuh dengan Chao Phraya Express) dan one way trip (tiket sekali jalan yang bisa dibeli di atas kapal). Wuiih… kapalnya ngebut banget dan menyenangkan sekali merasakan angin menghempas wajah dan air sungai yang terciprat ke dalam kapal. Dan kami pun menuju dermaga Tha Chang di dekat Grand Palace.

Di dermaga Tha Chang ternyata terdapat pasar tradisional yang nanti akan gue ceritain. Kemudian, kami berjalan ke arah Grand Palace, kompleks istana Raja dan kuil Wat Phra Kaeo yang mempunyai desain arsitektur yang super indah.

Setiap mengunjungi kuil, pengunjung dituntut untuk berpakaian sopan… no short, no tank top, no you can see sleeves.

Ada tempat penyewaan pakaian, sih di sana… but eeewww bekas siapa gitu kan, ya bajunya…mending bawa kain Bali.
IMG_0574
Begitu sampai di kompleks Grand Palace… ya ampuuunnn puanass banget daaaannn puenuuuuuuh banget dengan lautan manusia dari seluruh penjuru dunia. Sangat nggak nyaman… apalagi buat CB. Padahal, kompleks itu indah banget… stupa-stupa Wat Phra Kaeo yang menjulang tinggi itu dihiasi pecahan kaca mozaik yang berkilau-kilau… entah bagaimana para pekerja di abad ke-17  itu memasangnya hingga ke puncak tertinggi.

Belum lagi detail keramik dan lukisan yang menawan di dinding kuil. Geez… ini tempat yang sempurna untuk editorial fashion photo-spread… just owesome.

Ada 10 area/bangunan di kompleks ini yang zaman dulu dipakai sebagai tempat penobatan raja, sekolah, tempat tinggal raja, tempat tinggal wanita dalam kerajaan, kuil umum, kuil pribadi, aula tempat menerima tamu asing, dan taman yang indah.

Karena kurang nyaman, kami keluar kompleks dan berjalan menuju Wat Pho yang letaknya di belakang kompleks Grand Palace. Jalannya lumayan jauh, book… kirain deket karena di peta letaknya sebelah-sebelahan… ternyata menguras tenaga juga. Better naik tuk-tuk (sejenis bajaj), deh. Tapi, yang asyik dari jalan-jalan di Kota Bangkok adalah trotoarnya lebar dan nggak dijejali oleh kaki lima.
IMG_0593
Yang menarik di Wat Pho adalah ada patung lapis emas Buddha tidur (Reclining Buddha) yang legend itu. Selain ukurannya yang raksasa, yang menarik dari patung ini adalah pada bagian telapak kaki Buddha dihiasi mutiara (mother pearl) yang indah yang menggambarkan 108 lakshana atau lambang suci Buddha. Hal unik lainnya adalah di pintu masuk kuil Buddha tidur terdapat tempat donasi yang dapat ditukar dengan semangkok koin.
IMG_0620
Koin yang jumlahnya random itu dimasukkan satu per satu ke dalam baskom tembaga yang berbaris di depan patung. Menurut kepercayaan, apabila jumlah koin itu pas dengan jumlah baskom tersebut, maka orang tersebut akan mendapatkan keberuntungan.

And… CB did it hehehe lucky boy!! O ya… di Wat Pho itu pusatnya sekolah pijat, lho… dan di sana juga buka paviliun pijat. Jadi kalau kaki pegal-pegal bisa pijat di sana.

Kami naik tuk-tuk menuju dermaga Tha Chang untuk melanjutkan perjalanan. Namun, karena perut keroncongan kami makan dulu di pasar belakang dermaga. Amboiii… jejeran makanan dari mulai aneka sate, buah potong yang segar, kelapa, duren monthong, gorengan, dan lainnya menggoda iman. Kami pilih mie thai alias pad thai, babi goreng kering, dan mie babi sebagai teman makan siang.

Harus diketahui bagi yang tidak boleh makan daging babi, di Thai mayoritas daging yang dikonsumsi adalah daging babi, ayam, dan sea food.

Namun, meskipun Anda memesan ayam atau sea food untuk mie untuk hidangan Anda, mereka akan menggunakan wajan yang sama dengan masakan yang mengandung babi tadi. So, lebih baik cari kedai vegetarian atau kedai halal yang selagi gue di sana, sih, baru nemu satu kedai.
IMG_0674
Untuk ukuran pasar, tempat ini tergolong bersih (dibandingin sama di sini yaaa…), buktinya banyak bule yang higienic freak juga nyaman-nyaman aja nongkrong dan makan di sana. Kalau di sini, pernah lihat nggak bule-bule nongkrong di pasar dan makan hehehe… . Nah, di situ gue juga sempet beli buah-buahan potong yang seger banget… dan emang sih, ya, di Bangkok kan emang pusatnya bibit unggul buah dan sayur… no wonder buah dan sayur di sana seger dan nikmat (fyi, kangkung di sana bisa segede telapak tangan, lho, dan daun kemangi segede daun bayam di sini).
IMG_0689
Nggak lupa beli juga tuh the legend of durian monthong… harga satu pak styroform cuma Rp.12.000. Yang menarik, si pedagang duren itu tanya gue dari negara mana. Gue jawab Indonesia dan dia nunjukin deretan duren yang bisa dipilih. Kata dia, orang Indonesia itu sukanya duren yang lembek, sedangkan orang Thai dan Malaysia suka yang agak keras. Naasnya, ni duren gak boleh masuk ke dalam kereta dan kamar hotel. Lalu makan di mana, ya?

Kami kembali berlayar menuju Central Pier. Karena kaki rasanya sudah mati rasa, pengen banget balik ke hotel, tapi singgah sebentar di taman kota untuk… makan duren! Hahaha… . Emang, ni duren sakti banget. Setelah selesai makan, badan terasa berenergi (haiyaaahh) dan memutuskan untuk lanjut lagi ke Wat Arun yang menjadi ikon Kota Bangkok.

Wat Arun dikenal juga dengan nama Temple of The Dawn (berasal dari nama Aruna, dewa fajar orang India). Meskipun demikian, kuil ini cantik banget di saat senja.

Untuk menuju ke Wat Arun, kami naik Chao Phraya Express dan berhenti di dermaga Tha Thien dan menyeberang ke Wat Arun. Kuil ini berada tepat di pinggir sungai yang pelataran luarnya banyak dikunjungi burung merpati. Kalau melongok ke sungai dekat kuil itu, tampak ikan-ikan (sejenis patin sih gue rasa…) bergerombol merindu roti dari lemparan pengunjung. Ya ampun, kalau di Indonesia udah dijaring kali tuh ikan-ikan.
IMG_0485
Dari ketiga kuil yang hari ini gue kunjungi, Wat Arun yang menurut gue paling indah dan paling magis. Bangunannya tidak semewah Wat Phra Kaeo dan tidak setenar Wat Pho, namun entah mengapa Wat Arun ini begitu romantik.

Bangunannya tua dan keramik yang menutupinya tak lagi mengilat, tapi kuil ini anggun dengan segala kesederhanaannya.Untuk memandang keanggunan kuil, gue rela tiduran di pelatarannya… so, beautiful (*mengusap air mata haru*).

Untung saja waktu itu tangga central prang dibuka jadi para pengunjung bisa naik ke atas dan memandang pemandangan Chao Phraya River menjelang senja. Tangga ini sangat curam yang melambangkan untuk mencapai tingkat kehidupan yang lebih tinggi itu tidak mudah. Ni tangga nggak rekomen deh buat orang yang fobia ketinggian. Sayang, gak ada yang bisa ditanyain apakah pernah ada orang yang jatuh dari tangga itu.
IMG_0729
Sebenernya belum puas sih tiduran memandang kuil ini… namun, perjalanan kudu berlanjut. Dengan naik taksi (kasihan kaki gue, cyiiin) kami menuju Mahboonkrong di Siam. Orang-orang menyebutnya MBK Center. MBK itu semacam ITC tempat jualan apa aja yang bisa dijual. Gue ke sana untuk beli oleh-oleh. Kalau dari segi tempat, menurut gue, sih, masih juara Mall atau ITC di Jakarta yaaa….

Bangkok at Flickr
To be continued

BANGKOK (1) – Catatan Perjalanan Traveler Cantik

BANGKOK  (1)
Catatan Perjalanan Traveler Cantik
(dilarang protes, blog-blog gue…hohoho)

Yak… akhirnya setelah penantian bertahun-tahun kesampaian juga gue, Didit (suami gue),  dan CB (anak gue) traveling ke luar negeri (sumpah, deh, rencana ini kudu kesampaian sebelum “kiamat Desember 2012”). Maklum, cuy… dengan bujet minimalis dan dengan berjuta kepentingan, impian itu tertunda-tunda melulu.

Mengapa Bangkok? Ini alasannya:

1. Dua tahun lalu, ketika gue mengunjungi pameran buku di Istora Senayan, mampirlah ke stand-nya Erlangga. Di situ gue nemuin buku Eyewitness Travel TOP 10 BANGKOK.
IMG_0814
Nah, seri Eyewitness Travel kan banyak nih ada yang Amsterdam, Rome, New York, Beijing, Hong Kong, dsb. Namun, rencana paling realistis adalah tujuan traveling yang dekat dengan bujet rendah dan menarik (lupakan Singapura dan Malaysia… gak tahu kenapa kok gue kurang tertarik, ya dengan dua negara itu :p). So, gue pilihlah Bangkok! Ajegile, ini buku untuk traveler pemula seperti gue menolong bangetttt… lengkap dengan peta.

Layout buku ini pun menarik dan ringkas karena disusun berdasarkan klasifikasi tertentu yang menunjukkan 10 tempat paling OK untuk masing-masing kategori (tempat belanja, atraksi budaya, atraksi untuk anak, dsb). Jadi nggak perlu pusing-pusing browsing via internet (dasar males ajah gueh…). Recommended banget deh pokoknya ni buku.

2.   Biaya penerbangan ke sana bisa dibilang murah.

Gue booking penerbangan Air Asia setahun sebelumnya (biar murah) untuk 3 orang seharga kurang-lebih 3,5 juta rupiah pulang-pergi. Berangkat tanggal 9 Agustus 2012, pulang tanggal 13 Agustus 2012.

3.   Biaya hidup di sana juga murah.

Dengan Rp.10.000,- bisa makan sate babi dan ikan porsi besar di kaki lima kenyang… 1 Bath = Rp.300,- kurang-lebih.

4. Kereta api!!!IMG_0102Alasan ini penting banget karena anak gue, si CB, terkintil-kintil dengan yang namanya kereta api. Nah, di Bangkok ini keren banget… sistem transportasinya, terutama perkereta-apiannya, udah mumpuni. Ada BTS Skytrain alias kereta layang (itu lho, yang di Jakarta baru ada tiang pancangnya di mana-mana… nggak tahu bakal jadi dibangun nggak sama Si Kumis) dan ada MRT Subway alias kereta bawah tanah. Nah, gue pengen nunjukkin ke CB kalau kereta jenis itu ada (gak melulu dia lihat di bukunya).

Setelah dapat tiket pesawat, kami mulai, nih, mengalokasikan dana untuk booking hotel jauh-jauh hari. Jadi, ketika ada rejeki barulah pesen hotel via agoda.com. Kami memilih Ibis Riverside Bangkok,  budget hotel yang jauh dari hiruk-pikuk Kota Bangkok dan yang ada kolam renangnya (itu titipan khusus dari CB).  Harga per malam sekitar Rp.400.000,- (tidak termasuk sarapan… lagipula menu sarapannya tidak istimewa, kok, mending jajan di sekitaran hotel) .
IMG_0389
Yang dahsyat dari nih hotel adalah lokasinya. Meski tidak di pusat keramaian Kota Bangkok (sengaja pilih di pinggiran kota), tetapi dekat sekali dengan dua stasiun BTS Skytrain Saphan Taksin dan stasiun Krung Thon Buri, serta dermaga Central Pier di pinggiran Sungai Chao Phraya sungai utama di negeri itu. Dengan akses skytrain dan perahu, ke mana-mana jadi mudah. Apalagi pihak hotel menyediakan shuttle gratis menuju stasiun BTS Krung Thon Buri yang berangkat setiap 30 menit dari jam 9 pagi sampai jam 8 malam… lumayan, kan, bisa ngirit ongkos transportasi.
IMG_0422
O ya… hotel ini letaknya tepat di pinggir Sungai Chao Phraya. Jadi dari teras restoran, pinggir kolam renang, dan jendela kamar kami bisa melihat aneka bentuk perahu hilir mudik. Dan yang paling syahdu adalah menikmati senja dan malam hari di pinggir sungai…wohoo…lampu-lampu gedung, jalan, dan lampu perahu memantul syahdu di gelapnya air sungai. Recommended!

HARI I – 9 Agst 2012

So, this is the day…!!! Packing tentu saja sudah dilaksanakan two days earlier yaaa…mengingat perjalanan ini membawa anak 4 tahun jadilah harus terorganisir dengan baik. Khusus untuk CB, gue siapin jaket, topi, sepatu nyaman, baju-baju, peralatan renang, obat-obatan (penurun panas anal dan oral…mengingat dia pernah kejang, termometer, minyak kayu putih, balsem, tempat minum, dan tempat bekel beserta sendoknya à ini wajib banget karena CB makannya susah jadi kudu nyiapin bekel sewaktu-waktu kalo dia mau makan).
IMG_0032
Pesawat menuju Bangkok  berangkat sekitar jam 5 sore dan tiba di Bandara Internasional Suvarnabhumi sekitar jam 8.35 malam. Wuiiiihh… dasar norak, gue ternganga-nganga dengan kecanggihan dan kemegahan bandara ini :p . Di bandara berceceran stan resmi penukaran uang dengan rate yang sama di seluruh bandara… jadi nggak usah khawatir jika di Jakarta belum sempat menukar Bath. Kami sendiri dari Jakarta cuma membawa US $.

Ada beberapa cara yang dapat membawa kami menuju hotel (jarak hotel kami kira-kira dari bandara Soetta ke Cibubur):

a. Dengan bus (lupakanlah karena semua bus ditulis dengan tulisan Thai)

b. Dengan Airport Rail Link (City Line)

menuju Stasiun Phaya Thai untuk transfer dengan skytrain koridor Sukhumvit Line dan berhenti di stasiun Siam untuk transfer lagi dengan skytrain koridor Silom Line dan berhenti di stasiun Krung Thon Buri atau Saphan Taksin lalu jalan kaki atau naik Tuk Tuk (semacam bajaj) menuju hotel.

3. Dengan Airport Rail Link (Phaya Thai Express)

Tahapannya sama dengan di atas, bedanya adalah City Line berhenti di tiap stasiun, sementara Phaya Thai Express langsung menuju Stasiun Phaya Thai.

4. Dengan taksi (tentunya…).
IMG_0052
Taksi tersedia jenis sedan maupun family wagon. Untuk mendapatkan jasa taksi harus sabar mengantre karena banyak sekali umat yang mengingkannya. Taksi resmi dari terminal kedatangan umumnya menggunakan argo. Ongkos berikut airport charge (50 Bath) dibayarkan langsung kepada supir taksi setiba di tujuan.

Mengingat kerempongan membawa anak yang superaktif dan koper plus ransel yang berjumlah empat biji ituh, naik taksi merupakan pilihan yang paling praktis (meskipun gue sendiri ingin banget coba-coba naik kereta khusus bandara). Waktu itu, ongkos taksi + tol + airport charge + tips sekitar Rp.150.000,- .

Tips penting yang harus diingat adalah tidak semua warga Bangkok dapat membaca huruf Latin dan bisa berbahasa Indonesia…ya iyalaaahh….bahasa Inggris aja banyak yang gak bisa (ß sok ngelucu). Jadi dari Indonesia lebih baik cari tahu nama dan alamat hotel dalam bahasa/tulisan Thai.

Setiba di hotel sekitar jam 10 malam, setelah check in, kami keluar sebentar mencari amunisi perut. Untung saja, di depan gang hotel (Ibis Riverside posisinya agak masuk ke gang gitu deh…) masih banyak pedagang kaki lima yang berjualan makanan seperti sate, mie, roti bakar, dsb… dan tentu saja 7Eleven. Jangan bayangkan 7Eleven di Bangkok se-fancy yang ada di Jakarta lengkap dengan tempat kongkow. Di Bangkok 7Eleven-nya itu seperti Indomaret (bagusan Indomaret malah…). Kami beli perbekalan pokok, yaitu air seukuran setengah galon (di hotel gak dikasih aiiirrr…) dan ukuran satu liter untuk dibawa-bawa berpelancong.
IMG_0448Dari kolam renang hotel, sebentar kami menikmati view sungai Chao Phraya  berlatarkan gedung tinggi dan jalan layang yang penuh dengan pesona kerlip lampu… maklum, di belakang rumah gue pemandangan Sungai Cikeas nggak begini ;p . Dan akhirnya bobok deh… untuk nge-charge energi untuk besok. Can’t wait for tomorrow

Bangkok at Flickr
To be continued…