Beberapa hari lalu, ritme kerja kami terhenti sejenak karena salah satu rekan mendapat kabar bila salah satu agency rekanan kami akan libur pada hari jumat dan senin.

Kita harus mengatur ulang deliverables salah satu project client.

Menariknya adalah alasan libur tersebut, karena setahu kami tidak ada libur nasional di tanggal 9 dan 12 Oktober 2026.

Wow, keren juga, ternyata agency tersebut libur terkait dengan World Mental Health Day (Hari Kesehatan Jiwa Sedunia) yang jatuh pada tanggal 10 Oktober 2026.

Beberapa tahun lalu, atau satu dekade lalu saya tidak begitu menganggap penting isu kesehatan mental, waktu itu saya hanya melihatnya sebagai sebuah gejala minor saja, istilah baru di masyarakat.

Seiring berjalan waktu dan beberapa kejadian saya alami, saat ini berbeda, saya melihat kesehatan mental bukan lagi sebuah tren sesaat, mengada-ada atau menggambarakan generasi yang lemah atau tidak tahan banting.

Depresi dan kecendrungan orang untuk bunuh diri dan mengakhiri hidup adalah nyata.

Minggu ini begitu banyak ingatan dan informasi terkait dengan isu kesehatan mental ini, sehingga saya sepertinya harus menuangkan dalam tulisan blog.

Pemicunya adalah sebuah konten hiburan fiksi halu Detektif Astral yang membahas mengenai kematian Chester Bennington, vokalis grup band Linkin Park dan juga konser formasi baru mereka (tanpa Chester) di Lisbon, Portugal pada tanggal 21 Juni 2026.

Pada konten tersebut, vokalis baru Linkin Park terlihat begitu emosinal ketika membawakan lagu Waiting For The End.

Dari awal tur Emiliy Armstrong dan Mike Shinoda selalu terlihat emosional ketika membawakan lagu ini, dan ternyata sepertinya saya mendapatkan jawabannya personal dari inspirasi konten halu fiksi Detektif Astral episode TERUNGKAP ALASAN CHESTER BENNINGTON BERADA DI DIMENSI GELAP – PART (2/2) .

Seperti banyak orang yang harus berjuang mengatasi depresi, Chester Benington juga mengalami hal tersebut, mungkin bedanya Chester kalah tetapi karyanya banyak menginspirasi atau menguatkan banyak orang depresi untuk terus berjuang.

Baru tersadar sepertinya lirik lagu Waiting For The End ini

Waiting for the end to come
Wishing I had strength to stand
This is not what I had planned
It’s out of my control

Menggambarkan kondisi jiwanya saat memutuskan bunuh diri alias ‘self checkout’

Beberapa tahun lalu, ketika awal menjabat menjadi manager di sebuah perusahaan media, saya melakukan pertanyaan wawancara yang membuat saya terlihat begitu bodoh dan tidak ingin saya ulangi lagi.

“Orang tua masih ada?” Tanyaku ketika ingin mendalami latar belakang kandidat.

“Masih, tapi bercerai”, jawab kandidat tersebut sambil menahan air mata yang hampir meledak di kantung matanya.

saya langsung terdiam, mulut seperti terkunci dan segala daftar pertanyaan di kepala menguap begitu saja.

Beberapa saat kemudian, kandidat ini diterima dan sangat menggemari grup band Linkin Park, terutama vokalisnya, Chester Benington.

Setiap dia menceritakan kegandurangannya membahas band tersebut seperti ada sebuah energi yang berbeda, saat itu saya tidak begitu mengerti karena hanya mengenal sebagian kecil saja lagu-lagu Linkin Park.

Baru setelah kepergian Chester vokalisnya dan Linkin Park hidup kembali dengam vokalis baru Emily Armstrong, saya mulai menyimak seluruh lagu-lagu lama yang dibawakan kembali oleh Emily dan Mike Shinoda.

Karena beberapa lagu selalu dibawakan dengan emosinal, saya mulai memperhatikan dengan seksama lirik-liriknya.

Akhirnya saya mengerti, Chester Benington dan lagu-lagunya telah banyak membantu dan menginspirasi banyak orang untuk berjuang mengatasi depresi.

…

Saat ini saya yakin depresi dan sampai ingin menghadari hidup terjadi hampir ke semua orang ke semua lapisan, dan pastinya banyak kejadian bisikan yang mendorong tersebut.

Hal saat kecil yang saya selalu ingat adalah ketika suatu sore di rumah saya melihat gantungan baju dan dasi, entah dari mana ada pikirian.

“Didit, coba kamu ikat dasi ke leher dan gantungkan ke tiang baju itu”.

Itu kecil dan belum mengenal arti depresi, tetapi ingatan akan suara tersebut membekas sampai sekarang.

Bayangkan bila suara dorongan bunuh diri atau ‘self checkout’ tersebut terjadi pada orang-orang yang depresi, pasti magnitudenya luar biasa besar.

Semenjak berbagai kejadian beberapa tahun terakhir, termasuk juga ketika menyelamatkan seseorang dari keinginan dan tindakan bunuh diri, saya tidak pernah lagi menganggap enteng isu depresi atau kesehatan mental.

Bagi para perjuang depresi dan kehidupan, semoga berkat Sang Khalik selalu menyertai perjalanan hidup, hari kesehatan mental sedunia sebagai pengingat, kita hanya menjalani perjalanan kecil di dunia fana ini.

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.