Sekitar satu tahun kemarin 5 Januari 2025, saya kehilangan seorang mantan rekan kerja sekaligus sahabat. Kepergiannya merupakan salah satu momen yang sulit untuk diterima, apalagi jika sosok itu telah berbagi begitu banyak perjalanan hidup bersama kita.
Saat itu, saya belum bisa menyelesaikan tulisan ini, seteleh menonton Film Wake Up Dead Man, entah kenapa saya teringat draft tulisan ini.
Ketika memasuki rumah duka melihat sosok yang terbaring dengan baju rapi, bertemu Icha istrinya, anak-anaknya, air mata mengalir deras mengaburkan penglihatan.
Eko Prabowo, “Eko Wustuk” bukan hanya sekadar rekan kerja di Harian Kompas sejak 2005, tetapi juga seorang sahabat yang menjadi salah satu bagian penting dari kisah hidup saya.
Kami dipertemukan dan memulai karir bersama sebagai bagian dari gis team di Harian Kompas. Sebagai satu angkatan di diklat Kompas tahun 2003 – 2004 dan satu tim di bagian unit riset bisnis.
Memulai perjalanan panjang berkarir di kantor Gajah Mada, pindah ke Palmerah selama hampir lima belas (15) tahun kita selalu berkarya dalam rungan yang sama.
Bagi saya, mengenal Eko adalah sebuah perjalanan spiritual dan persahabatan. Melalui kesamaan hobi kegiatan mendaki gunung, kami sama-sama mencintai keindahan dan kegiatan alam Indonesia.
Walaupun kami tidak pernah mendaki gunung bersama, tetapi ‘koleksi’ perjalanan kami hampir sama banyak dan kayanya bila menyangkut urusan naik-turun gunung dan masuk-keluar hutan tropis di nusantara.
Berkenalan di era ketika koneksi internet dan perangkat mobile masih terbatas, kita lebih sering dan lebih punya waktu untuk sharing in-person di kantor, kafe sampai berdiskusi bacaan buku progresif dan new age yang membuka ruang diskusi tanpa batas.
Berdiskusi alias bedah buku buku dengan Eko selalu memiliki sensasi yang unik dan berbeda, seperti mendapatkan teman berdongeng, seperti membicarakan sosok hidup karena dibawakan dengan imajinasi dengan tanpa batas.
Ketika menerima kabar duka tersebut, seketika teringat kembali beberapa momen bersama Eko.
Sembilan belas tahun (19) tahun lalu, ketika saya harus mengambil keputusan yang sulit, dan berada dalam situasi tanpa “atap rumah”, Eko adalah orang yang membuka pintu untuk saya.
Dia menyediakan kamar kostnya agar saya punya tempat berteduh sementara, hingga saya bisa menemukan tempat tinggal sendiri.
Berbagai tindakan dan gesteur yang terekam dalam ingatan saya, bukan hanya menunjukkan kemurahan hatinya, tetapi juga bagaimana ia memandang persahabatan, dengan ketulusan dan tanpa pamrih.
Ketika bertemu dengan kekasih yang saat ini menjadi istrinya pun, dia menceritakan momen pertemuan itu dengan sangat indah, seperti menonton teater mini dari kisah komik anak remaja yang sedang kasmaran.
Kemampuan uniknya melihat keindahan alam dan ciptaan Sang Khalik bisa saya rasakan ketika dia bercerita mengenai kekasihnya tersebut yang ia jumpai ketika bertugas di Kota Medan.

Perbedaan budaya, latar berlakang dan keyakinan tidak menjadi masalah baginya, pacaran selama tujuh tahun dijalaninya dengan penuh keyakinan dan kemantapan.
“Ko, sepertinya perjalanan lo lebih berat dari gue”, ujarku waktu itu.
Ketika suatu hari, saya dan beberapa rekan kerja harus ke terbang ke Sumatra Utara untuk menghadiri proses pernikahannya yang digelar di sebuah lapangan luas, saya hanya bisa berterimakasih ke semesta, karena memiliki teman yang tekun menjalani prinsip dan apa yang dia percaya.
Bagi saya, Eko memiliki peran yang penting untuk orang – orang di sekitarnya, terutama di kantor dimana Eko menganggap kantor adalah keluarga keduanya.
Dia juga yang sedikit banyak yang menyakinkan saya untuk terus berjuang ketika awal pedekate dan juga masalah pacaran dengan Happy, kekasih dan juga istri saya saat ini.
“Udah santai dikit, yang penting kan masih mau terima telepon dari elo, kalo direject noh baru masalah”, ujarnya dengan santai.
Pencapaian terbesar Eko di Harian Kompas adalah ketika ikut mengakselarasi ekosistem Board Game Indonesia melalui Board Game challenge dan juga melahirkan Kompas.id.
Ya, Kompas.id
Banyak yang tidak tahu, betapa Eko yang ikut menyemaikan semangat dan memupuk harapan bagaimana Jurnalisme berkualitas harus dan bisa ditopang dengan model berlangganan berita berbayar.
Melalui narasi, imajinasi dan kekuatan berceritanya, Eko berhasil menanamkan keyakinan bahwa orang akan rela mengeluarkan uang untuk mendapatkan berita berkualitas.
Kompas.id memang tidak di desain bisa diklaim oleh satu atau beberapa orang, konsepnya lahir secara kolektif, tetapi peran Eko sangat besar ketika bentuk dan nama Kompas.id belum ada.
Bila saat itu tidak ada Eko, saya tidak akan berani mengajukan produksi Boardgame Warung Wars, Pagelaran Jogkarta dan Monas Rush ke percetakan Kompas Gramedia dengan biaya ratusan hingga milyaran rupiah.
“Ko, gue bingung, ngga yakin ini bisa dicetak dan ada yang mau beli ? “., Ujarku penuh keraguan.
“Bayangkan Dit, orang sudah tau ada kompetisi itu, mereka senang memainkan, lo ingat kan reaksi orang -orang di event itu, mereka pasti akan beli produk itu.” , ujarnya dengan penuh keyakinan.
“Ok, nanti gue sampaikan ke rapat pimpinan ya, tapi ingat ya ini gue ngga tau hasilnya, bisa jadi ini ide bunuh diri ke pimpinan”.
Ketika pada akkhirnya seri Board Game tersebut dicetak ulang beberapa edisi, menghasilkan gelombang gaya hidup baru dan mengakseleasi Industri Board Game Indonesia, itu adalah hasil dari mimpi dan keyakinan Eko.
Boleh dibilang tahun 2015 adalah milestone besar bertumbuhnya industri board game Indonesia. Kala itu lahir sebuah gebrakan, yaitu kompetisi board game nasional pertama di Indonesia. Kompetisi itu dinamai Board Game Challenge (BGC) 2015, diprakarsai oleh Kummara bersama Harian Kompas.” –Isa R. Akbar
Kepergiannya meninggalkan kekosongan yang besar bagi diri saya, tetapi kenangan tentang kebaikan, prestasi dan pemikiran cemerlangnya akan selalu hidup di hati saya.
Eko, terima kasih untuk semua cerita, tawa, dan momen-momen yang kita bagikan. Sepertinya Sang Khalik sudah mempunyai rencana baru untukmu, semoga engkau menemukan kedamaian di tempatmu yang baru.
Perjalanan baru sudah menantimu, sahabat, suatu hari, kita akan bertemu lagi.
“The night kissed the fading day With a whisper. “I am death, your mother, from me you will get new birth.” ― Deepak Chopra