Menjadi lebih Indonesia di 7-Eleven

Hampir tiap pulang kerja, saya berjalan kaki melewati 7-Eleven di dekat Mall Senayan City. Beberapa kali mampir untuk sekedar membeli air mineral atau beberapa snack untuk menganjal perut.

Dalam kurun waktu yang beberapa kali itu dan masih berlangsung hingga sekarang, ada satu hal perilaku pengunjung 7-eleven yang sangat mengganggu saya.

Mengenai perilaku mandiri (self-service) dan membuang sampah sisa makanan atau minuman setelah menyantap hidangan tersebut di area yang disediakan 7-Eleven. Seringkali saya menemukan sisa makanan dan minuman berserakan begitu saja….

Perilaku ini mungkin membentuk persepsi mengenai masyarakat Indonesia yang harus ‘selalu dilayani’ danĀ  tidak peduli dengan lingkungan. Tidak heran juga akhirnya kalo rumah-rumah kelas menengah di Indonesia selalu dilengkapi dengan pembantu (asisten rumah tangga) yang seringkali jumlah dan perannya tidak masuk akal. Bila mengenai lingkungan, mungkin karena tanah dan laut kita yang sangat berlimpah, sehingga kita juga tidak sensitif mengenai issue ini.

Menjadi paradoks ketika kita hidup dikota besar seperti Jakarta yang mengadaptasi model layanan makanan cepat saji, convinient store dari negara yang sudah lebih maju dalam paradigma lingkungan, alamnya tidak sekaya Indonesia dan mandiri dalam banyak hal.

Paling tidak harusnya sadar dong, berapa orang sih karyawan di convinient store macam 7-eleven ? dan rata-rata sepertinya mereka konsentrasi di area Kasir. Ini bukan masalah hak karena sudah bayar bisa meninggalkan sampah begitu saja di meja. Ini mengenai culture!

So, untuk ‘menjadi lebih Indonesia’ dalam arti positif please….. buanglah sisa makanan dan minuman anda pada tempat sampah yang sudah disediakan di dekat anda!

Bogor Wushu Kid!

Menyaksikan penampilan anak di sekolah mungkin sudah menjadi hal biasa bagi sebagian orangtua. Pada hari sabtu 27/1, kami beruntung bisa menyaksikan si kecil berani mengeluarkan tiga jurus dasar wushu di hadapan pengunjung dan juri di Botani Square, Bogor.

Let’s watch the vid!

Terimakasih untuk para pelatih di Dojo GogiGoraWushuKids!

The State of Metallica 2013 Indonesia.

Konser band musik Metallica pada tanggal 25 Agustus 2013 di Jakarta kemarin, memang sudah berlalu beberapa waktu. Namun, efeknya masih terasa sampai sekarang. Saya masih membeli dan mengunduh lagu-lagi cadas dari iTunes.

Dari PanterA sampai System Of a Down (SOAD) saya borong dari iTunes. Salah saya juga sih tidak menyimpan kasetnya dengan baik.

Oleh sebab itu tidak salah pula kan bila saya sedikit mengulas kenangan mengenai Metallica. Huekkk!!

Bila dilihat dan diingat sekilas, pembahasan mengenai konser metallica tersebut mayoritas berkisar pada acaranya yang super heboh, kali ini saya hanya ingin sedikit bernostalgia.

Satu hal yang menarik dan membekas dari Metallica adalah pengaruhnya pada saya dan mungkin teman seangkatan saya . Ketika konser kemarin, saya jadi teringat akan kondisi 20 tahun lalu. Bagaimana Metallica membawa nuansa tersendiri pada era 80an dan awal 90an. Itu loh… era dimana komunisme berakhir, breakdance, sepatu roda dan Ikang Fauzi… haah…

Percaya atau tidak, hampir semua teman SMP saya memiliki Album Black. Ini juga album Metallica sata-satunya yang saya beli dari hasil menyisihkan uang saku.

Metallica ini memang berbeda dengan grup band cadas lainnya seperti Sepultura atau Iron Maiden yang bisa dipastikan segmented.

SeingatĀ  saya, Metallica ini adalah satu-satunya band metal yang bisa dicintai anak-anak, tua-muda, ataupun laki-laki perempuan. Penganut Jenis musik apapun saat itu, mayoritas juga ‘menyukai’ metallica.

Penggemar musik Jazz macam musik dari Dave Koz, penikmat klasik sampai dengan pengkoleksi lagu melow macam Air Suply hampir dipastikan juga ‘mendengarkan’ dan ‘membicarakan’ Metallica.

So, tidak heran, konser kemarin sangat masif, besar tetapi juga tertib. Penggemar Metallica sebenarnya bukan hanya penikmat musik cadas, semua orang yang ‘berjuang’ dan ‘besar’ di era tersebut sepertinya membawa ‘metallica’ di dirinya masing-masing.

dah segitu aja.., ini jam 22:32, masih dikantor… , pulang dulu..

 

Belanja Online ala Indonesia

Setelah menabung beberapa bulan untuk membeli komponen sepeda (buset deh sepeda melulu.. :-)), tiba-tiba saja saya putuskan untuk menggunakan tabungan tersebut untuk membeli jam tangan (arloji). Gara-gara arloji yang biasa saya gunakan rusak berulang kali, akhirnya saya putuskan saja membeli yang baru.

Memikirkan membeli arloji di toko membuat saya sakit perut. Kekhawatran akan jaminan keaslian produk dan keharusan untuk menawar membuat saya malas ke toko arloji. Bila membeli di toko resmi memang pasti ada jaminan keaslian, tapi seringkali harganya tidak bisa ditawar. Kalaupun bisa saya harus sudah tahu kisaran harga jual terendahnya.

Continue reading Belanja Online ala Indonesia