KGCyclist.org Terlahir Kembali (Reborn)

“Dit, situs KGC diaktifkan kembali dong, sayang nih ada event BaliBike dan Komodo“, begitulah kira-kira permintaan  salah satu teman gowes di sebuah posting jejaring sosial.
kgcyclist.orgBeberapa tahun lalu, komunitas pengayuh sepeda (goweser) Kompas Gramedia sudah memiliki situs di KGCyclist.Com. Pada saat itu , sudah banyak sekali blog post dan image set (gallery) yang diunggah teman-teman Kompas Gramedia Cyclist (KGC). Setiap ada event sepeda yang diadakan oleh kantor ataupun cerita gowes bareng, seringkali teman-teman di KGC menuliskannya di situs (blog) tersebut.

Sayangnya, hosting BlueHost tempat KGCyclist.Com bersemayam mendapatkan serangan dan menyebabkan kerusakan (hilangnya) semua konten KGCyclist. Serangan ke server BlueHost saat itu sangat hebat, sehinggan banyak sekali situs yang hancur lebur tak berbekas, tidak hanya situs KGC, blog pribadi teman-teman juga banyak yang luluh lantah dan tidak berbekas lagi.

Saat ini, situs komunitas sudah diaktifkan kembali dengan penanganan yang lebih baik. Dikarenakan penggunaan domain .Com belum memungkinkan, akhirnya kami putuskan untuk menggunakan domain baru, KGCyclist.Org.

Penanganan lebih baik artinya selain menggunakan hosting paket Unlimited di Hostgator, konten situs yang baru ini juga dibackup secara berkala. Satu kelalaian ‘kecil’ situs KGCyclist sebelumnya yaitu tidak adanya backup konten berkala.

Selamat terlahir kembali KGCyclist.Org!

Goweslah dengan Rendah Hati

15-speed monkDi masa jarang gowes seperti sekarang ini, ternyata beberapa orang yang saya temui seringkali masih mengenali saya sebagai salah satu pemilik blog yang mengulas tentang sepeda. Hemm, saya berterimakasih atas atensinya .. wkkk. 🙂

Mungkin karena jarang gowes itu saya malah bisa sedikit melakukan kontenplasi suitt..suitt… :-”  Saat saya ingat , seringkali saya merasa tidak nyaman  bertemu dengan kenalan baru yang punya aktivitas bersepeda dan langsung menggunakan topik bersepeda gunung sebagai bahan pembicaraan saat itu.

Beberapa kali saya coba renungkan , ternyata saya merasa tidak nyaman ketika ada seseorang yang memulai pembicaraan mengenai aktivitas sepeda yang didahului dengan membanggakan (baca:menyombongkan)  ‘prestasi’nya menaklukkan tanjakan curam nan panjang.

Ini cukup menggelikan, sebagian besar pembicaraan pasti mengenai rute menanjak!

Saya rasa orang-orang tersebut salah dalam memulai pembicaraan, hehehe… pertama, saya pribadi nggak begitu mahir melahap tanjakan, kedua saya tidak begitu suka orang tak dikenal (baru dikenal) meyombongkan dirinya sedemikian rupa.  Dan kemungkinan besar , hal ini dirasakan juga oleh goweser lainnya.

Tidak jarang, pada saat ngobrol tersebut , terdapat rekan lain yang belum tertarik bersepeda atau sebenarnya tertarik tetapi belum begitu tahu cara memulainya. Saya tahu, dari beberapa kali kejadian, dari ekspresi rekan lain tersebut juga menunjukkan rasa ‘malas’ dan kemungkinan besar malah menciutkan tekadnya untuk bersepeda.

Jadi, untuk para goweser , walapun segala tindakan kita biasanya berasal dari alam bawah sadar, tetaplah berusaha untuk rendah hati , racunilah orang lain untuk bersepeda dengan cerita yang tidak self sentris. 🙂  Berceritalah mengenai komunitasnya, kebersamaannya atau betapa indahnya pemandangan yang bisa didapatkan.

Happy Gowes…

Fun Bike itu seharusnya ……

KOMPAS - Fun Bike 2011

Beberapa tahun belakangan ini (2011-2009) kegiatan sepeda dalam bentuk fun bike (sepeda santai) sepertinya telah menemukan momentumnya. Saya tidak menghitung ada berapa kegiatan fun bike tiap bulannya untuk di wilayah Jabotabek saja, yang jelas, paling tidak sedikitnya ada satu kegiatan untuk tiap bulannya, CMIIW. Momentum bersepeda juga bisa kita lihat dari makin maraknya iklan produk yang menggunakan sepeda (aktivitas bersepeda) sebagai salah satu komponen iklan tersebut.

Banyak perusahaan juga berlomba menciptakan event fun bike untuk memperkenalkan produk baru atau memperkuat image produk yang sudah ada.

Makin sering fun bike seharusnya membawa keuntungan bagi pihak penyelanggara dan peserta, jangan satu pihak saja yang diuntungkan dan lainnya merasa dirugikan (dimanfaaatkan). Penyelenggara punya kepeentingan menyampaikan ‘pesan’ sedangkan peserta punya kepentingan bersenang senang bersama keluarga dan bila beruntung bisa dapat door prize.

Jadi, menurut saya, untuk mendapakan iklim yang baik antara peserta, penyelenggara dan ekosistem bersepeda secara umum, fun bike itu seharusnya…

1. Menyediakan kaos (T-Shirt) atau Jersey Sepeda  yang layak

Jersey City Ward Tour

“Yaah….dapat saringan tahu…”, begitulah celetukan beberapa teman yang ikut funbike. Saringan tahu = kaos yang jelek deh pokoknya, tipis banget, sekali pake, habis itu kalo nggak jadi lap meja, saringan membuat tahu, ya dibuang saja.

Dibanding jersey sepeda, menurut saya lebih baik kaos t-shirt yang layak saja sebagai seragam peserta dan panitia, peluang bisa digunakan kemudian hari di berbagai waktu dan tempat lebih besar, sehingga logo yang disablon di kaos bisa lebih sering terlihat.

Lagipula, berdasar survey kecil-kecilan, kaos t-shirt lebih sangat diminiati dibanding jersey sepeda.

Tapi, ingat! kaos t-shirt yang layak loh…. bukan kelas ‘saringan tahu’ atau kampanye partai politik!

Dengan attribute yang layak, peserta senang, sponsor dan panitia pun girang!

2. Meneyediakan Makanan dan Minuman yang pantas (layak) untuk ganjel perut

california burger

Bersepeda, apakah itu santai, jarak pendek atau cuma beberapa menit tetaplah merupakan kegiatan yang menyita waktu, pikiran dan fisik.

Untuk mencapai kesenangan bersepeda tersebut, peserta tetaplah harus bangun pagi, menyiapkan sepeda, mengurusi anggota keluarga dan juga berkendara atau bersepeda ke tempat acara. Bayangkan bila snack yang disajikan panitia tidak sesuai harapan (bayangan) bila dibandingkan dengan uang yang dikeluarkan untuk membeli tiket/karcis. Peserta pastinya kecewa dan percayalah… kabar buruk lebih cepat menyebar …..

Panitia penyelenggara sebaiknya mencari sponsorship atau kerjasama dalam menyelenggarakan funbike, entah berupa sponsor uang atau kerjasama / barter dengan produsen produk makanan yang dapat diberikan langsung ke peserta.

3. Memiliki Rute pendek ,tidak mendaki dan tempat start-finish yang sama

Keluarga Sepeda

Namanya juga funbike, bersepeda bersenang-senang yang pastinya diikuti peserta dari segala usia dengan berbagai jenis sepeda. Sepeda roda dua, satu atau tiga pasti ikut. Jadi…pastikan rutenya pendek (bisa ditempuh segala jenis sepda), tidak ada tanjakan dan usahakan memilih rute yang memutar.., kembali lagi ke tempat asal (start).

Rute memutar ini sangat penting bagi yang membawa satu keluarga (Bapak,Ibu, Anak atau Cucu) yang pastinya membutuhkan tempat menaruh kendaraan , titik kumpul, kepastian dan rasa aman bagi anggota keluarganya.

4. Memiliki Doorprize dengan nilai premium

H. Eller Music School

Penyelenggara sebaiknya memiliki beberapa doorprize dengan nilai premium. Tidak harus yang terlalu mewah, tetapi dapat disesuaikan dengan tema acara dan cukup premium dimata peserta. Misalnya sepeda gunung kelas premium seperti GIANT Trance (sorry sebut merek) bila temanya tentang lingkungan hidup.

Pastinya, doorprize premium tersebut akan menarik minat peserta yang ditargetkan pihak penyelenggara.

Beberapa doorprise ‘kecil’ yang jumlahnya lebih banyak tentunya juga harus diadakan , karena akan sedikit mengobati kekecewaan peserta yang tidak mendapat doorprize utama dengan nilai premium tersebut.

5.Mengusung tema yang segmented dan dekat dengan kelestarian lingkungan

Pollution

Bersepeda (saat ini) adalah ‘anak kandung’ dari olahraga, kesenangan dan kesadaran lingkungan. Sepeda yang identik dengan ‘kemiskinan’ mungkin sudah tidak relevan lagi untuk saat ini, walalupun masih ada yang bersepeda karena faktor ekonomi, tetapi disengaja atau tidak media massa saat ini telah memposisikan bersepeda sebagai gaya hidup, paling tidak untuk Indonesia.

Pada akhirnya , dengan jangkauan pengunaan sepeda ke kelas menengah keatas maka sebaiknya tema acara sepeda juga dapat lebih dari hanya acara sepeda senang-senang saja. Kesadaran akan pentingnya lingkungan dapat dijadikan tema atau ‘membungkus’ tema utama  acara fun bike, dapat dipastikan selain memiliki citra positif, minat peserta juga akan tetap tinggi.

Funbike juga sebaiknya memiliki tema yang spesifik, dengan sasaran yang segmented tersebut, peserta yang ikut juga akan lebih ‘militan‘ dan sejalan dengan temanya. Sehingga sasaran penyelenggara dapat lebih fokus dan mudah dieksekusi.

6.Jangan gratis, tetapi tiket dengan harga ‘terjangkau’

rockies tickets.1.rm.031609

Walaupun penyelenggara funbike mendapatkan sponsor besar dan banyak, sehingga dari hitungan matematis tidak membutuhkan peserta membeli tiket, sebaiknya peserta tetap diharuskan untuk membeli tiket/karcis.

Dengan membeli tiket, maka kemungkinan peserta untuk tetap datang pada hari H akan tetap besar dibandingkan bila tidak membeli tiket sama sekali. Tiket/karcis dengan harga ‘wajar’ akan memberi ikatan langsung kepada peserta, selain doorprize yang menarik tentunya.

7.Memiliki panitia  penyelenggara yang  responsive dan peduli.

KOMPAS - Fun Bike 2011

Panitia penyelanggara sebaiknya memiliki perangkat lapangan yang berkualitas. Berkualitas dalam arti, proaktif dalam pelaksanaan funbike.

Membantu peserta yang sedang mengalami kesulitan seperti putus rantai, ban bocor sampai dengan mencari sanak kelurga yang hilang-terpisah dari rombongan merupakan contoh bentuk tanggung jawab yang harus dilaksanakan oleh panitia.

Dalam kegiatan bersepeda yang masal, dikenal dengan istilah Marshall (kurang tahu asal-muasal istilah ini). Marshall adalah panitia bersepeda yang ditempatkan bersama rombongan peserta yang berfungsi menjalankan tanggung jawab yang saya sebutkan sebelumnya.

Bila jumlah peserta sangat banyak, panitia hendaknya meminta ‘bantuan’ ke komunitas sepeda untuk menjadi marshall.

 Salam Gowes
note:gambar hanya ilustrasi